Unforgettable Bali Trip – 1

Tahun 2012 lalu, aku sempat trip ke Bali. Tapi banyak hal yang sangat nggak sesuai harapan. Jadi, waktu itu aku berikhtiar kalo next ke Bali harus seminggu, biar puas. Eh, kesampean deh di November 2013.

Dan setelah pulang, aku mulai nulis jurnal perjalanan di Bali, tapi nggak selesai-selesai sampe hari ini. Hehe… Nah, daripada jurnal yang udah kubuat nganggur dan cuma untuk baca sendiri, mending di-post di blog aja deh. Next paragraf adalah catatan di jurnal ku.

11 hari sudah aku meninggalkan Bali, tapi masih sering mimpi-in Bali. Haha… Lebai? Mungkin. Tapi lebih mungkin saking berkesannya perjalanan-ku ke Bali kemarin. Gimana nggak? 7 hari 7 malam keliling (yah meskipun keliling-nya hanya beberapa tempat aja sih, belum ke seluruh pelosok) Bali dan melupakan rutinitas harian di Jakarta.

Perjalanan kemarin terbilang nekat sebenarnya. Kenapa? Nekat karena nggak dapat tiket promo tapi tetap berangkat. Nekat, karena seminggu full jalan-jalan cuma ngandalin GPS aja. Secara, aku dan Ike, teman seperjalananku, sama-sama buta soal jalan-jalan di Bali. GPS juga kita berdua nggak ngerti cara pakai-nya, hahaha… Tapi, demi memuaskan hasrat liburan seminggu penuh, aku pun mempelajari cara menggunakan GPS, karena nanti aku lah yang akan jadi pembaca GPS, Ike yang bawa motor.

Nah, gimana serunya perjalanan 7 hari 7 malam kami di Bali? Let’s get started. Tapi dari awal di Jakarta ya, biar tau gimana perjuangan liburan kami. Hehe… 😀

Day 1. Sabtu, 2 November 2013.

Pesawat kami berangkat jam 15.10. Nah jauh hari sebelum berangkat, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aku sudah membuat rundown untuk liburan kami. Ya meskipun rundown nya nggak saklek harus diikuti, minimal kami jadi punya pegangan jadwal harian, nggak luntang-lantung bingung mau kemana. Dan hari pertama, aku sudah menjadwalkan jam 9 berangkat dari rumahku di Parung dan rumah Ike di Pamulang, supaya jam 11.00 sudah naik Bus Damri di terminal Lebak Bulus, dan jam 13.00 sudah sampai bandara Soetta dan bisa langsung check in 2 jam sebelum pesawat take off. Ideal kan perhitunganku? Tentu saja. Tapi…

Ternyata jalanan berkata lain. Lain banget malah. Aku dan Ike yang janjian ketemu di McD Gaplek, baru ketemu jam 10.20 dari jadwal awal 09.15. Jalanan di Pamulang ada yang di-cor, jadi kena macet parah lah Ike. Padahal jam 11.00 seharusnya kami sudah sampai di terminal Lebak Bulus. 40 menit keburu nggak ya? Harusnya sih keburu, wong ga gitu jauh. Eh ternyata jalanan Gaplek arah Lebak Bulus ditutup, jadi harus mutar lewat jalan tikus, itupun tetap kena macet parah di lampu merah Gaplek. Singkat cerita, setelah melewati jalan tikus dan keluar di depan UT Pondok Cabe, jalanan lancar. Sebentar. Nggak sampai 5 menit mobil meluncur mulus, harus berhadapan lagi dengan kemacetan yang lumayan parah. Berharap macet cuma sampai pertigaan, kami ngobrol di mobil papa-nya Ike. Lewat pertigaan, lumayan lancar. Sebentar juga. Ga jauh dari pertigaan, jalanan macet lagi. Kali ini parah, bergeraknya lebih lambat daripada tadi. Jam 11 sudah lewat. Yah, paling nggak ngejar Damri jam 11.30. Eh, jam 11.30 kami masih juga terjebak macet. Mau naik ojek, nggak ada tukang ojek di jalan raya. Jalan ke pertigaan yang mungkin jadi tongkrongan ojek, koperku gede dan berat, itu pun belum tentu ada ojek. Akhirnya setelah melewati pertigaan ke-2, jalanan lumayan lancar, masih agak tersendat di tiap jalan keluar gang-gang yang emang banyak banget di sepanjang Pondok Cabe – Cirendeu. Dan akhirnya jalanan lancar, ngebut lah papa-nya Ike. Belum sampai 5 menit ngebut, mobil diberhentiin DLLAJR! Padahal sudah 11.50!  Setelah Ike yang duduk di sebelah papanya ngoceh-ngoceh ngedumel sama petugas DLLAJR yang memberhentikan kami dengan “Kita lagi ngejar pesawat nih, Pak! Di belakang macet parah banget tuh, Pak. Diurusin dong yang macet!” akhirnya mobil kami boleh jalan lagi. Dan, pertigaan berikut kembali macet. Sudah hampir hopeless kami setelah melewati pertigaan itu, ternyata dekat jalan potong ke terminal Lebak Bulus jalanan masih macet juga. Sudah jam 12.00! Untung cuma karena lampu merah, jadi setelah lampu hijau, mobil bisa bergerak dan masuk ke jalan potong di samping terminal. Sebelum benar-benar keluar di terminal, karena juga tersendat, aku dan Ike langsung turun, pamitan sama papanya Ike dan berlari menenteng tas-tas kami ke Damri. Dan ternyata, Damri nya masih kosong saudara-saudara! Berarti kami sudah ketinggalan Damri jam 12.00! Padahal cuma 5 menit selisihnya, tapi kami harus nunggu Damri berangkat jam 12.30. Mana mungkin jam 13.00 bisa sampai bandara kan? Hix… Sabtu ternyata macetnya jauuuhhh… lebih parah daripada hari kerja. Di hari kerja, dari rumah – Lebak Bulus paling 1 – 1,5 jam, semacet-macetnya 2 jam lah, tapi hari itu 3 jam lebih. Parah!

Oke. Sekarang kami cuma bisa berharap tetap bisa berangkat dengan tiket pesawat yang kami sudah beli. Karena 2 jam 40 menit sejak Bus Damri kami bergerak dari terminal Lebak Bulus, pesawat kami berangkat. Dan mengingat kemacetan parah yang tadi kami hadapi, sedikit pesimis kami keburu ngejar jam keberangkatan itu. Pahit-pahitnya kami mesti beli tiket penerbangan berikut. Hix…

Di Bus Damri, kami ngobrol sih seperti biasa, tapi pikiran kami terbagi dengan sedikit-sedikit lihat jam. Sambil berharap mukjizat terjadi dan kami keburu ngejar pesawat. Apa daya, jam 13.15 kami masih terjebak macet di daerah Kebayoran Lama. Ya sudah, kami hanya bisa pasrah.

Dan akhirnya kami sampai di Terminal 3 Bandara Soetta. Jam berapa? Jam 14.05 saudara-saudara! Turun Damri, kami langsung lari secepat yang kami bisa dengan bawaan seabrek-abrek. Langsung menuju counter check in dan drop bagasi. Ternyata masih keburu, tapi kami nggak dapat kursi sebelahan karena mepet, jadi dapat sisa kursi. Ya nggak masalah banget lah, ketimbang harus ketinggalan pesawat.

Setelah check in, kami langsung ke ruang tunggu saja. Dengan kondisi lapar karena nggak sempat makan selama terjebak macet di jalan tadi. Nggak lama kami di ruang tunggu, panggilan untuk boarding terdengar. Okay. Here we come, Bali!

Jam 19.00 WITA akhirnya kami menginjakkan kaki di tanah Bali. Terlambat 1 jam dari seharusnya. Nggak delay sih, cuma pesawat antri take off sampai 1 jam. 😀

Untungnya kami dijemput pihak hotel dan ternyata hotel kami nggak terlalu jauh dari bandara, paling 5-10 menit naik mobil. Setelah check in, tibalah kami di kamar setelah perjalanan seharian. Dan akhirnya kami bisa makan nasi, lapar dari siang cuma disumpal roti saja. Untung juga sih sehari sebelumnya aku ngeborong roti di kantor. Hehe…

Malam ini setelah makan, kami dijemput teman untuk main ke ruko-nya. Eh di jalan, kami disambut dengan hujan. Menurut Stevie, teman kami, itu hujan pertama di Bali lho. Sepertinya kedatangan kami membawa berkat buat Bali. Hahaha… Lebaiii… 😛

Tadinya sih mau langsung ke Legian, tapi keasikan ngobrol sampai malam, akhirnya kami langsung pulang ke hotel untuk istirahat. Jadwal besok cukup padat soalnya. Ke Gereja, watersport di Tanjung Benoa, Uluwatu, GWK, Jimbaran. Dan rencana untuk main di kolam renang hotel sebelum tidur pun pupus, begitu melihat kolam renangnya kurang menggiurkan seperti di foto waktu kami booking hotel. Penampakannya sih sama, ukurannya yang nggak sesuai harapan. Meluncur sebentar, bisa kepentok tembok kolam sisi lain. Ya, segitulah kecilnya kolam renangnya. Lebih cocok untuk berendam ketimbang berenang.

Ya sudahlah, akhirnya kami hanya minum hot chocolate (bawa sendiri coklat sachet dari Jakarta) dan ngobrol sebentar sebelum tidur.

peta-pulau-bali

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s