Unforgettable Bali Trip – 2

Day 2. 3 November 2013.

Jam 8.00 pagi kami dijemput di hotel untuk ibadah hari Minggu bareng Stevie. Uniknya, ibadah ini bukan diadakan di gereja, tapi di arena skateboard, namanya Sunday Skate Bible. Acara ibadahnya juga non formil, duduk lesehan sambil menyanyi dan sharing Alkitab. Sebelum mulai ibadah, pembicara disitu, seorang bule Australia, dan anak-anaknya asik bermain skateboard. Sangat-sangat non formil, tapi unik sih. Pas ibadah selesai, mobil pick up dari watersport yang sudah kami booking di Tanjung Benoa datang. Langsung lah kami meluncur.

IMG00067-20131103-0823

IMG00069-20131103-0912

Karena beli voucher dari Livingsocial.co.id, kami dapat harga lumayan murah untuk watersport. Parasailing 59.000 dan snorkeling 129.000. Lumayan banget, hampir setengah dari harga normal yang tertera di daftar harga. Hehe…

Begitu melihat orang-orang yang pada terbang pake parasut, Ike langsung tanya “Lo berani, Gi?” Dengan pede aku jawab, “Diberani-berani-in.” Haha… Semua temanku tahu, aku bukan tipikal orang yang nekat. Ike aja deg-degan ngeliatin orang-orang yang pada main parasailing naik dan turun bergantian, apalagi aku. Tapi kupikir, liburan kali ini harus puas, permainan yang nggak pernah ditemui di Jakarta, harus dicoba semua. Hehe…

Nah giliran kami. Aku duluan yang main parasailing. Ike foto-fotoin aku sambil menganalisa, se-seram apa kah parasailing. Sebelum aku naik, Ike sempat bertanya pada seorang turis dari Singapura yang dijemput dengan mobil bersama kami, dan dia bilang “it’s really good”. Sedikit tenang lah Ike, dan aku tentu-nya.

“Mbak! Sini!” teriak salah satu petugas disana. That’s my cue. Setelah diberi wejangan untuk perhatikan warna bendera yang dikibarkan sebagai petunjuk tarik sisi parasut ketika mau turun, langsung aku naik tinggi dengan ditarik boat, aku melihat ke bawah, dan… Bagus sih, tapi cukup mengerikan juga, karena aku berada di atas dengan lilitan tali-tali, tanpa pijakan kaki, dan tidak dengan posisi duduk pula. Intinya, aku bergelantungan di parasut di atas air, dan itu tinggiiii… bangettt… Terutama bagi aku yang punya sedikit fobia ketinggian. Mau teriak, aku nggak berani, takut kaitannya kendur dan tiba-tiba aku terlepas (padahal hampir nggak mungkin lah). Jadi aku cuma bergumam “Ooo… Okay…” Aku berharap cepat turun. Tapi… Pas aku mencari petunjuk bendera, aku blank. Yang mana petugas pemberi petunjuk-nya? Karena disitu berderet sejumlah orang dari sejumlah ‘agen’, aku nggak bisa bedain mana petugas Wibisana, ‘agen’ watersport-ku, yang katanya pakai baju putih, sedangkan dari atas semua orang terlihat seperti semut.

Watersport 1-1

Parasailing 10-1

Parasailing 6

Dan… Ternyata boat yang menarik-ku membawaku ke tengah-tengah lagi. That’s when I know that I’ve missed it, aku melewatkan petunjuk untuk menarik turun parasut, dan jadi tambah 1 putaran yang cukup mengerikan lagi. Tapi kali ini aku jadi yakin dimana posisi-ku harus mulai tarik parasut turun. Begitu agak mendekat ke pantai, aku tarik saja sebelah kanan, “Biru! Biru!” begitu teriak petugas di bawah. Yap, tangan kananku diberi sarung tangan biru, dan kiri sarung tangan merah. Jadi sebenarnya aku hanya tinggal mengikuti kibaran bendera saja, tapi apa mau dikata kalau blank di atas kan? Hehe… Tapi kali ini aku berhasil menemukan petugas pemberi petunjuk yang dimaksud. “Dua tangan! Dua tangan! Tarik yang kuat! Jangan ragu-ragu!” begitu terus teriak petugas Wibisana sewaktu aku mau turun. Ternyata, tarik-nya bukan pakai tangan, tapi pakai seluruh badan, seakan-akan bergelantungan pada tali di sisi kanan parasut. Dan akhirnya sampailah aku di darat. 😀

Parasailing 4

Setelah lepas dari tali-tali pengikat parasut, salah seorang petugas Wibisana bertanya, “Gimana, Mbak? Enak ya jadi dua kali putaran?” Aku hanya nyengir “Saya blank, Mas. Nyari-nyari yang kibarin bendera nggak nemu.” Si Mas-nya hanya tertawa sambil menerima sarung tangan dan rompi pelampung yang sudah aku lepaskan dari badan.

Giliran Ike yang naik. Dan gantian aku yang bertugas foto-fotoin. Meskipun sebenarnya kami sudah beli paket untuk foto-foto selama ikutan watersport disitu, tapi lebih seru kalo punya foto-foto juga di handphone sendiri kan? Hehe… “Gue takut nggak bisa turun, kuat nggak ya gue narik?” begitu pikir Ike menyadari bodi-nya yang sangat langsing. Tapi aku bilang “Pasti bisa lah, tuh anak kecil aja bisa.”

Dasar Ike, jauh sebelum naik dia sudah bilang, “Kayaknya gue bakalan teriak-teriak di atas”, tapi baru aja diikat di parasut dan naik sedikit, dia sudah teriak “Aaaa….”. Padahal Ike biasanya jauh lebih berani daripada aku, ternyata dia takut juga. Bedanya Ike dan aku adalah, dia ekspresif, takut-nya terlihat dari teriakan-teriakan-nya. Sedangkan aku yang juga takut, malah mingkem, nggak berani teriak. Ike akhirnya turun. “Asik, Gi!” begitu kata-nya. Turun-turun malah segar dia. 😀

IMG-20140619-WA0006

IMG-20140619-WA0004

Lalu kami akan lanjut ke snorkeling. Setelah dirayu-rayu oleh petugas Wibisana untuk diving aja (tentunya harganya lebih tinggi), kami memutuskan untuk tetap snorkeling saja. Sebenarnya Ike mau diving, tapi dia bilang terserah aku. Aku mikir takut overbudget karena itu baru hari kedua kami disana, masih ada 6 hari lagi liburan kami. Dan akhirnya kami tetap snorkeling, meskipun petugas salah dengan memberi kami baju untuk diving dan sudah kami pakai, kirain emang snorkeling juga dikasi baju. 😛

Kami berdelapan berangkat dengan perahu, enam peserta dan dua instruktur. Aku dan Ike, bersama dengan 4 orang cewek yang dijemput bersama mobil kami. Mereka berempat diving, aku dan Ike snorkeling. Lucu juga sih dengan rombongan kami, karena ada salah satu peserta yang badannya besar dan diledek sama instruktur-instrukturnya. Belum lagi ada yang mendadak sakit perut sebelum turun ke air. Aku baru sekali snorkeling sebelum ini, itu pun selama snorkeling aku pegang erat-erat tangan instruktur. Ike sama sekali belum penah snorkeling. Dan kami berdua nggak bisa berenang. Jadi kami semua sama-sama takut sebenarnya. 😀

Satu jam kurang lebih kami ber-snorkeling ria. Untungnya udah sewa kamera untuk foto di bawah air, lumayan lah bisa foto sama ikan-ikan yang berkerumun pas kami kasi makan. Tapi sayangnya kami nggak bisa menikmati cora-coral indah disana. Menurutku sih airnya agak butek, jadi coral pun entah masih ada atau nggak. Lagipula karena ramai, kami jadi nggak bisa bebas bergerak kemana-mana, takut tabrakan sama peserta dari grup lain, selain factor kami masih pemula ya. 😀

Setelah selesai snorkeling, mandi, kami langsung duduk di meja yang sudah disediakan dan pesan menu yang ditawarkan I*domie plus telur. Aku, Ike, dan 2 orang cewek yang sama-sama dari Jakarta pesan mie kuah, sedangkan 2 cewek turis SIngapura yang satu rombongan pesan mie goreng. Plus teh manis hangat. Menu yang pas setelah berbasah-basah sampai rasanya kayak masuk angin. Tapi langsung nggak pas begitu tagihan datang, seporsi mie instant + telur Rp 25.000. Hellowww??? Ini masih di Indonesia kan? Setauku, harga mie instant mentah di minimarket dan supermarket nggak lebih dari kisaran Rp 2.000. Dengan berat hati, kami bayar juga sih. Tapi agak nyesak, kalo di Jakarta aku bisa makan 1 paket di McD dengan harga segitu. Tapi itu cuma mie kuah, mie instant pake kuah. Hhh…

Selesai makan, kami meluncur pulang. Diantar dengan mobil, syukurnya. Dan tanpa biaya tambahan. Lumayan deh, setelah capek ber-snorkeling dan tangan pegal karena narik parasut waktu parasailing.

Sampai hotel sudah agak sore. Rencana awal kami, setelah watersport kami mau ke pantai-pantai di Uluwatu yang recommended. Menurut temanku yang tinggal di Bali, pantai di Uluwatu indah-indah dan masih sepi. Makanya, sebelum pergi aku sudah searching di internet, pantai-pantai di daerah Uluwatu dan Pecatu yang dapat kami kunjungi. Mulai dari Dreamland (yang aku taruh di paling bawah karena terakhir aku kesana tahun lalu, Dreamland padat dengan manusia jadi nggak indah), Padang-padang, Suluban, Nyang-nyang. Gambar pantai-pantai itu di internet indah banget, jadi pengen banget kesana. Tapi… Karena sudah sore, jam 15.30 kami sampai hotel di Kuta, mau ke Uluwatu, GWK, trus makan malam di Jimbaran, kayaknya nggak keburu. Akhirnya kami memutuskan untuk ke GWK, nonton tari Kecak disana, trus dinner di Jimbaran pakai voucher yang sudah kami beli.

Sekitar jam 16.30 kami berangkat dari hotel. Menuju ke GWK. Dan mulailah GPS beraksi. Perjalanan menuju GWK itu adalah OJT buatku dalam membaca GPS. Dan hasilnya, kami nyasar beberapa kali. Hahaha… Karena aku belum paham benar gimana membaca GPS, ditambah lagi sinyal yang kadang lenyap membuat tambah bingung karena panah di peta nggak bergerak. Dan setelah mengandalkan petunjuk GPS dan orang-orang yang kami tanya di jalan, sampai juga kami di GWK. Sudah hampir jam 6 sore.

Begitu kami sampai GWK, masih ramai rupanya. Dan loket pun masih antri, di belakang rombongan berisi 40-an orang. Langsung saja kami ke area untuk nonton tari Kecak, ternyata penuh banget. Pindah ke atas, lebih penuh lagi. Akhirnya kami kembali ke pintu samping, nyelip masuk begitu ada beberapa orang yang keluar. Sampai akhirnya kami duduk di tangga panggung, karena semua kursi sudah full. Lumayan lah, daripada cuma ngeliatin punggung orang. 😛

Tari Kecak nya ternyata hanya sebentar. Mungkin sekitar setengah jam. Kami sendiri terlambat nonton, pertunjukan sudah dimulai beberapa menit ketika kami sampai. Dan setelah pertunjukan berakhir, Ike sempat minta foto sama pemeran di pertunjukan tersebut. Sebentar saja, karena langsung dikerubuti orang-orang yang juga berniat sama.

Selesai nonton tari Kecak, kami putar-putar di sekitar. Karena sudah malam, gelap dan tidak banyak yang bisa kami lakukan. Foto-foto sejenak di beberapa spot, lalu keluar. Saatnya menuju Jimbaran untuk makan malam.

Kembali menggunakan GPS. Kali ini aku sudah lumayan ngerti cara kerja GPS. Meskipun sempet beberapa kali putar balik karena petunjuk GPS kadang-kadang terlambat, seperti belok kiri 40m, padahal belokan yang dimaksud sedang kami lewati. Tapi lebih berhasil ketimbang waktu menuju GWK tadi. Dan akhirnya kami sampai di restoran yang dituju dengan selamat.

What a coincidence. Restoran yang kami tuju ternyata restoran yang sama yang aku kunjungi tahun lalu. Bedanya tahun lalu, rombongan diantar driver kesana, kali ini kami pergi sendiri berbekal voucher dan smartphone. Langsung saja kami serahkan voucher makan malam kami, dengan catatan : “nggak mau kerang, kalau bisa ganti yang lain, kalau nggak bisa ya sudah yang penting nggak pakai kerang”. Berhubung aku nggak doyan kerang, sedangkan Ike lagi agak “sensitif’ badannya sama seafood, jadi harus hati-hati.

Suasana makan malam di Jimbaran memang enak. Makanan enak ditambah suara deburan ombak, lengkap deh. Sayangnya kami sudah kecapekan watersport tadi, jadi badan sedikit kurang enak, kayak agak masuk angin, ditambah angin pantai jadi semriwing-semriwing gimana gitu. Alhasil, kami nggak lama-lama disana. Hanya beberapa menit setelah selesai makan, kami langsung meluncur pulang ke hotel.

Supaya badan tetap fit dan gejala-gejala masuk angin pergi, kami minum vitamin C dosis tinggi dan obat masuk angin cair. Bukan apa-apa, masih ada 6 hari ke depan kami Bali, jadi sebisa mungkin badan dijaga supaya tetap fit. Sesampai hotel, kami langsung minum vitamin dan obat, trus ngobrol-ngobrol sebentar sebelum tidur. Sengaja kami tidur agak cepat, supaya bisa bangun pagi sesuai jadwal, karena besok pagi kami harus berangkat jam 5.30.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s