Unforgettable Bali Trip -3

Lanjutin cerita tentang trip ke Bali lagi ah. Mengobati kangen travelling.

Day 3. 4 November 2013.

Kami pasang alarm jam 4.30. Tapi benar-benar bangun baru jam 4.45. Aku bangun duluan. Langsung aku mandi, dan begitu selesai Ike kubangunin. Giliran dia mandi. Selesai mandi, beres-beres tas, kami langsung berangkat. Menuju Sanur.

Tujuan utama kami ke Sanur bukan untuk melihat sunrise, sepertinya kebanyakan turis lain. Tapi mau nyeberang pakai boat dari Sanur. Ke Nusa Lembongan. Kami menginap di Nusa Ceningan, pulau di sebelah Nusa Lembongan, yang keduanya masuk dalam kompleks Nusa Penida.

Kami pilih naik fast boat dengan durasi perjalanan 30 menit, dibanding jukung yang perlu ditempuh selama 2,5 – 3 jam. Setelah selesai urusan tiket boat, kami sarapan. Di sana banyak kios-kios makanan dengan harga yang murah. Meskipun porsi nya kecil. Hehe… Ya, sesuai dengan harga lah.

Jam 08.30 boat kami sudah siap berangkat. Kami segera menuju boat dengan menenteng tas-tas kami. Untung setelah baca-baca petunjuk di blog-blog lain, aku jadi tahu kalau mau naik boat sebaiknya pakai celana pendek. Karena boat tidak berhenti sampai di pasir, tapi beberapa meter dari pasir, jadi mau nggak mau kaki kami harus tercebur di air. Dan benar saja, aku sempat melihat beberapa orang turun boat yang celana panjangnya basah sampai paha. Tapi kami sudah siap dengan celana pendek, jadi aman.

Sebelum naik boat, kami minum obat anti mabuk. Karena belum pernah naik fast boat, jadi kami menghindari mabuk dengan minum obat. Tapi ternyata obatnya nggak begitu berguna juga. Karena kami bukannya mabuk di dalam boat, tapi tegang karena fast boat kami benar-benar ngebut. Kadang-kadang terasa seperti terbanting-banting di atas air, naik turun, naik turun, begitu terus. Malah kadang-kadang Ike menjerit kaget karena bantingan badan boat yang lumayan berasa. Boro-boro mabuk, duduk aja harus pegangan. Haha… Norak deh kami dibanding penumpang lain yang sepertinya ibu-ibu pedagang dan bapak-bapak yang duduk santai saja di tempatnya, sepertinya semua sudah biasa naik boat, tidak seperti kami.

IMG00087-20131105-1200

IMG-20131114-WA0131
Selfie di fastboat

Setengah jam di boat, kami sampai di Nusa Lembongan. Tepat jam 9 pagi. Langsung kami jumpai motor berderet siap untuk disewakan. Setelah nego, nggak berhasil turunin harga, 100 ribu per hari. Ya sudahlah, mau nggak mau kami ambil juga, karena kami harus pergi ke pulau Nusa Ceningan di sebelah, nggak mungkin kami kesana berjalan kaki.

IMG00073-20131104-0908

IMG00072-20131104-0908
View dari resto di pelabuhan Nusa Lembongan

Setelah menyelesaikan pembayaran, kami langsung berangkat dengan petunjuk dari Bli Made, yang menyewakan motor pada kami, “ikutin jalan aja, nanti ada pertigaan yang ada pura, belok kiri trus ada pohon beringin lurus terus sampai nanti ketemu jembatan kuning”. Kelihatannya gampang, tapi nyatanya lumayan susah juga. Bukan apa-apa, banyak belokan ke kiri, dan belokan mana yang dimaksud kami nggak tahu. Bangunan mirip pura yang kami lihat pun kami ragu, bener nggak itu pura, atau bangunan apa ya itu? Dan parahnya, GPS kami nggak berfungsi disitu. Sepertinya wilayah Nusa Penida memang belum terjangkau GPS. 😀

Akhirnya kami terpaksa mengikuti saja jalan yang ada dan insting kami, dan kalau ketemu penduduk local, ya kami tanya arah lagi. Dan hasilnya akhirnya kami ketemu juga jembatan kuning yang dimaksud. Ya, jembatan kuning tersebut adalah satu-satunya penghubung Nusa Lembongan dengan Nusa Ceningan. Jembatan bertulang besi dengan permukaan kayu selebar 1 meter tersebut memang akses langsung tunggal penghubung kedua pulau, jadi ketika beberapa waktu lalu jembatan itu rusak, untuk menyeberang perlu menyewa perahu nelayan kalau nggak mau berenang. Hehe…. Panjang jembatan kuning itu sekitar 50 meter. Dan untuk menyeberang harus bergantian, karena lebarnya cuma 1 meter, jadi kalau ada motor yang sedang menyeberang harus tunggu dulu sampai motor itu turun jembatan, baru motor berikut bisa menyeberang. Dan tidak ada yang menyeberang dengan berjalan kaki lho, semuanya menggunakan motor.

Pemandangan dari jembatan kuning sungguh indah. Nengok ke bawah, dan kanan kiri dan terlihat air hijau kebiruan jernih banget. Depan belakang terlihat pepohonan di pulau Nusa Ceningan dan Lembongan. Indahnya…

Sepanjang perjalanan dari jembatan kuning menuju hotel, kami mengagumi pemandangan di sisi kanan kami. Perairan antara pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan yang hijau berkilau, ditambah barisan perahu nelayan yang berbaris. Oh my God… Benar-benar pemandangan indah yang tidak dapat kami jumpai di Jakarta.

Sambil terus mengagumi pemandangan di depan mata, kami menyusuri jalanan yang terbuat dari semen dan tidak terlalu mulus, berbeda dengan jalan-jalan di Nusa Lembongan yang hampir seluruhnya diaspal dengan kondisi mulus. Karena takut nyasar, hampir setiap kali ketemu orang kami bertanya arah hotel kami, Secret Point. Habisnya disana GPS tidak berfungsi, tidak ada papan penunjuk jalan, pun sedikit orang yang terlihat di jalan. Sedikit petunjuk yang mungkin ada adalah spanduk petunjuk hotel yang kadang ditempel di dinding bangunan tembok sekolah atau pagar rumah penduduk, itu pun kadang-kadang tak terlihat mata karena kami focus mencari bangunan hotel.

Sempat nyasar sekali, akhirnya kami berhasil menemukan hotel yang sudah kami booking. Tentunya dengan bantuan petunjuk warga yang kami tanya. Hehe… Meskipun agak sedikit bingung dengan arah kanan – kiri yang biasa dipakai, sejak di daerah Bali hampir setiap orang yang kami tanya memberikan petunjuk dengan arah barat – timur. Nggak biasa sih, jadi agak sedikit kagok juga mengartikannya. Malah kadang kayaknya penduduk Nusa Ceningan nggak terlalu fasih berbahasa Indonesia, terlihat mereka sedikit mikir sebelum memberikan jawaban, meskipun pada akhirnya jawaban yang diberi selalu disertai dengan dibantu bahasa tubuh. Serasa di negeri asing saja. 😀

Dan sampailah kami di hotel. Finally… Nyaris jam sepuluh.

Disambut dengan welcome drink di meja resepsionis. Kami sempat nunggu 1 jam karena awalnya kami pilih yang 1 tempat tidur, tapi karena kelamaan kalau harus nunggu tamu lain check out, kami ambil kamar dengan 2 tempat tidur saja yang masih available tanpa harus tunggu check out tamu lain. Ike kelihatannya sudah tepar, pusing katanya. Kurang lebih jam 11 kami masuk kamar, dan Ike langsung tergeletak di tempat tidur. Aku ikut tidur saja lah, daripada bengong.

Bangun-bangun sudah jam 1 siang. Kami tidur lama juga 2 jam. Kata Ike, mungkin karena efek antimo tuh sampe tepar begitu. Kalo dipikir-pikir bisa jadi, karena kami kan cuma di kapal setengah jam, nggak capek-capek amat tapi bisa lemes sampe mesti tidur gitu. Dan begitu bangun, lapar deh. Udah lewat jam makan siang, tapi kami nggak berniat makan siang di hotel, sudah ketebak harganya bakal mencekik. Jadi kami minta air panas, untuk kami nyeduh Pop Mie dan mie gelas. Haha…

IMG00077-20131105-1027

IMG00079-20131105-1031
View dari kamar aja keliatan laut

IMG-20131114-WA0172

IMG-20131114-WA0171

Selesai makan, kami beres-beres dan ganti baju sedikit. Sebelum kami keluar hotel dan jalan-jalan sekitaran Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

Kami menuju jembatan kuning lagi. Kali ini nggak nyasar. Dan kami langsung ambil jalan kanan setelah melewati jembatan kuning, bukan jalan kami datang tadi. Supaya kami bisa menyusuri sisi lain Nusa Lembongan.

IMG-20131114-WA0200

Jembatan Ceningan 2-1
Jembatan Lembongan – Ceningan

Jembatan Ceningan-1
Gaya dikit di jembatan ngejreng

Lurus terus mengikuti jalan, yang ketemu Cuma deretan pepohonan, mangrove. Sampai akhirnya kami menemukan peradaban. Haha, bahasanya. Ya, kami akhirnya menemukan keramaian, karena sepanjang jalan di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, kami hanya melihat rumah penduduk dengan jarak yang lumayan jauh. Kali ini kami menemukan deretan rumah penduduk, pura, warung, hotel, semua berjejer. Desa Lembongan, mungkin itu adalah daerah paling ‘kota’ di pulau itu.

Dan kami juga menemukan rumah makan Warung Made, yang pernah direferensikan di salah satu blog. Akhirnya kami mampir disana untuk ngemil-ngemil sambil ngobrol. Harga di Warung Made tergolong sedang, masih terjangkau lah. Setelah ngemil dan ngobrol sebentar, kami berfoto dengan salah satu anak penduduk lokal yang mengantarkan topi-ku yang terjatuh waktu jalan ke arah Warung Made. Sambil memberi Ratna, nama anak kecil tadi, sedikit uang sebagai tanda terimakasih, kami berpose di depan pintu masuk hotel berciri Bali. Dan langsung melanjutkan perjalanan.

IMG-20131114-WA0145
Warung Made

IMG-20131114-WA0149
Ratna, anak lokal yang cantik

Ceritanya sih aku mau cari Dream Beach, Devil’s Tear, yang menurut rekomendasi, pemandangannya indah. Tapi jam sudah menunjukkan jam 16.30. Coba saja deh kami menyusuri jalan lain yang tidak kami lewati tadi, mungkin kami akan menemukan jalan kesana.

Bukannya Dream Beach yang kami temukan, kami malah menemukan mangrove forest , yang kalau pagi bisa disusuri dengan jukung, tapi kalau siang air surut jadi tidak bisa disusuri. Setelah foto sebentar dengan latar mangrove forest, kami melanjutkan perjalanan, kali in arah balik. Karena setelah mangrove forest, jalan buntu. Dan menurut penduduk sekitar, Dream Beach ada di sisi lain pulau Nusa Lembongan, lumayan jauh jaraknya dari tempat kami saat itu. Sedangkan sudah cukup sore, jam 5 lewat. Dan kami sudah berencana untuk sampai di hotel sebelum gelap. Bukan apa-apa, Nusa Ceningan lebih sepi daripada Nusa Lembongan, dan sepanjang jalan hanya pepohonan kering, kalau keburu gelap, kami agak ngeri juga. Setelah berputar, tapi berbelok tiap menemukan jalan yang belum kami lewati, akhirnya kami memutuskan untuk nggak jadi ke Dream Beach. Daripada harus menyusuri jalanan Nusa Ceningan yang naik turun dan nggak mulus dalam kondisi gelap.

Eh, kami lihat papan Goa Gala-gala, salah satu objek wisata di Nusa Lembongan. Mumpung belum gelap dan masih keburu kembali ke hotel sebelum gelap, kami masuk saja ke rumah bawah tanah itu. Tiket masuk hanya 10.000 per orang. Turun ke bawah, Ike sambil merekam video dengan handphone-nya. Ternyata gelap banget di dalam, walaupun ada lampu yang sekaligus berfungsi sebagai penunjuk jalan, kami nggak terbiasa terbungkuk-bungkuk di tempat asing nan gelap, dan begitu menemukan tangga naik terdekat, kami langsung naik aja. Nggak betah berlama-lama di kegelapan goa.

Langsung lanjut lagi. Kami berhenti sebentar di dekat salah satu jejeran rumput laut yang sedang dijemur. Karena penasaran, Ike sedikit icip-icip rumput laut yang lagi dijemur. Nggak ada rasa, katanya. Tanya-tanya sedikit pada ibu petani rumput laut, turun ke bawah sedikit melihat darimana rumput lautnya dipanen. Tapi cuma sebentar, karena sudah sore. Jam 6 kurang 5 menit kami sampai di hotel. Tepat banget, persis sebelum gelap. 😀

IMG-20131114-WA0061

IMG-20131114-WA0165

IMG-20131114-WA0170
Hmm… Rumput laut

IMG-20131114-WA0166

Ganti baju sebentar, kami langsung menuju private beach hotel kami. Yup, hotel kami punya private beach. Itulah yang membuat kami memilih hotel itu. Meskipun private beach nya tidak terlalu luas, tapi lumayan banget deh untuk menikmati suasana pantai. Dan bagusnya lagi, pasir pantainya putih banget.

Sore-sore kami main air sedikit di pinggir pantai. Tadi siang kami nggak turun ke pantai karena puanase poll… Takut langsung hitam legam terkena panas matahari menyengat, jadi tunggu nggak terlalu panas baru turun, ya sore deh jadinya. Dan cuma ada kami berdua di pantai itu. Serasa pantai milik sendiri deh. Hahaha…

Selepas dari pantai, Ike mau langsung berenang, karena dia emang sudah siap dengan baju renang waktu turun ke pantai. Yup, langsung nyemplung lah Ike. Aku duduk di pinggir kolam dulu. Karena ada sepasang bule yang juga lagi berenang, aku agak sungkan. Maklum, aku nggak bisa berenang, kalo ketahuan cuma jalan-jalan aja di kolam kan malu. Hehe…

Sudah agak lama Ike berenang, barulah aku ikutan. Enak juga berenang malam-malam. Secara, 2 malam terakhir rencana berenang di hotel gagal karena kolamnya kurang menggairahkan. 😛

Satu jam aku jalan-jalan di kolam renang dan main air. Ike sih berenang sedikit-sedikit lah, masih lebih bisa berenang dibanding aku. Tapi karena terlalu nekat, sebelum aku masuk ke air, Ike sempat sedikit tenggelam di tengah kolam. Ternyata kolamnya berundak di tengah, kedalaman langsung bertambah sekitar 20-30 cm. biasanya kan kolam renang untuk ke bagian yang lebih dalam dibuat melandai, kolam ini dibuat kayak tangga. Ike kaget dan kecipak-kecipak. Aku yang masih di atas awalnya heran, kok dia berenang di 1 titik, eh pas dia kecipak-kecipak aku baru sadar Ike kayaknya tenggelam. Tapi mau nolong gimana, aku lebih nggak bisa berenang. Baru jalan ke arahnya, Ike sudah muncul di permukaan sambil ketawa-ketawa. “Gile, kolamnya dalem langsung. Haha…” Dan bule di sisi seberang pun sempat ketawa “she fell off,” katanya sebelum Ike muncul.

Setelah puas berenang dan agak kedinginan, kami kembali ke kamar dan langsung mandi. Oya, sekedar info, kamar mandi di hotel ini cukup unik. Tidak beratap. Ya, kamar mandi nya terbuka gitu. Jadi selain kamar yang berbentuk bungalow, pintu belakang kamar adalah pintu menuju kamar mandi, dikelilingi tembok setinggi kurang lebih 3 meter, tersedia shower dan lain sebagainya, tapi nggak ada atap. Mirip rumah di Jakarta yang punya space untuk jemuran di belakang rumah, tapi kalo ini space nya lumayan besar dan jadi kamar mandi. Untungnya jarak antar kamar yang berbentuk lumbung berjauhan. Jadi nggak ada kemungkinan untuk tamu kamar lain mengintip, kecuali naik pohon kelapa sampe atas. Hehe…

Beres mandi, kami langsung menuju ke restoran hotel. Tadi sore kami memutuskan untuk sekali-sekali makan di hotel, karena kebetulan hotel kami ada restoran juga. Walaupun sudah bisa ditebak berapa harga-harga yang tertera di daftar menu.

Lagi makan, seorang bapak-bapak menyapa kami dengan ramahnya “Hello…” sambil tersenyum lebar. “Hi,” jawabku sedikit kaget. Bukan apa-apa, sejak hari pertama di Bali, kami bertemu bule-bule yang cenderung cuek, kecuali bule di Sunday Skate Bible. Pun begitu di hotel kami, semua tamunya bule, hanya kami tamu local disana. Tapi ya begitu, semua bule-nya cuek makanya pas ada bule yang nyapa sedikit kagok.

Selesai makan, kami langsung kembali ke kamar, ngobrol-ngobrol sebentar sebelum tidur. Karena lampu kamar berwarna kuning membuat bawaannya pengen tidur. Lagipula fasilitas kamar emang minimalis, nggak ada TV.

Nah, lagi ngobrol-ngobrol itu, terjadilah suatu kejadian tak terduga. Lagi asyik ngobrol, ada suara kresek-kresek dari salah satu sudut ruangan. Waktu aku tanya Ike, dia bilang, “paling cicak.” Nggak sampai 5 menit kemudian, terbanglah seekor serangga besar. Gede-nya sejempol kaki. Ike langsung menjerit ketakutan. Ya, walaupun  Ike yang dijuluki Lady Rocker itu sebenarnya wanita perkasa, tapi kelemahan terbesarnya adalah pada kecoa dan sebangsanya. Ngeliat kecoa aja bisa langsung lemas dia. Apalagi serangga besar itu, entah kecoa atau bukan, ukurannya gede banget dan nemplok di tirai pintu.

Ike langsung memohon-mohon sambil menyembunyikan diri di dalam selimut, “Gi, pukul dong. Gw takut.” Aku sih nggak takut-takut amat, masih berani untuk sekedar mukul. Yang aku takut, serangga itu tiba-tiba terbang ke arahku. Hiii… Nah, aku sih berani mukul serangga itu, asal ada alatnya. Tapi di kamar kami nggak ada sapu lidi, peralatan standar memukul kecoa, sandal pun di depan.

“Pukul pake kotak tisu aja,” pinta Ike memelas. Aku berusaha mendekati kotak tisu yang ada di atas meja yang jaraknya semester dari serangga yang nemplok itu, sambil melilit badan dengan selimut, mengantisipasi kalau serangga itu terbang mendadak. Baru mau dipukul, eh ternyata bagian bawah kotak tisu yang terbuat dari anyaman itu sudah agak rusak, pretel sedikit anyamannya. Boro-boro untuk mukul serangga sampai mati, semaput aja mungkin nggak.

Waktu kubilang kotak tisu nya rusak, Ike masih meringkuk ketakutan sambil memohon aku untuk membunuh serangga itu. Akhirnya setelah kupikir, lebih baik minta tolong petugas hotel untuk mengatasi serangan serangga itu. Tapi di hotel kami, kamar nggak dilengkapi dengan telepon untuk menghubungi resepsionis, jadi harus jalan sendiri. Sambil berlilitkan selimut, pelan-pelan aku mendorong pintu kamar ke samping, supaya serangga itu nggak terlalu kaget lalu terbang. Aku selamat sampai pintu depan. Begitu mau jalan ke resepsionis, ternyata semua lampu taman yang menerangi jalan dari kamar ke counter resepsionis mati, begitu juga counter resepsionis sudah gelap, karena jam pelayanan emang cuma sampai jam 10 malam, sedangkan itu sudah sekitar jam 11.

“Ke, gelap banget, gue nggak berani sendirian kesana, nggak ada lampu sama sekali. Udah dimatiin semua lampu-nya” Tapi dia terlalu takut untuk keluar dari selimut. “Gw ga berani, Gi. Lo aja panggil Mas-nya.” Setelah beberapa lama kubujuk untuk mengikuti caraku keluar kamar, akhirnya Ike mau juga. Dengan sedikit kupaksa. “Bawa hp lo buat nerangin jalan,” pesanku sebelum Ike bermanuver keluar kamar.

Ike manut pasrah tapi terpaksa. Nggak ada pilihan lain, kecuali dia mau terus sembunyi di dalam selimut dan aku berangin-angin di luar kamar.

Sambil membawa salah satu smartphone nya yang ada blitz waktu memotret, Ike keluar kamar. Tanpa pake sandal, kami berjalan pelan-pelan ke arah meja resepsionis, sambil sesekali Ike menekan hp touchscreen-nya supaya ada cahaya blitz untuk sedikit penerangan kami berjalan.

Meja resepsionis kosong, tentunya. Di sebelah kiri meja resepsionis, ada pintu, sepertinya di dalam ada ruangan untuk tinggal staf hotel. Aku ketok-ketok sambil panggil “Mas… Mas…” selama hampir 5 menit tapi nggak ada tanggapan. Kecewa, tidak ada bala bantuan untuk pengusir serangga. Tapi aku nemu spray pembasmi serangga di belakang counter resepsionis. Langsung saja kubawa, kalau terpaksa ya disemprot saja tuh serangga sampai mati.

Pelan-pelan kami berjalan lagi ke arah kamar. Suara yang terdengar hanya deburan kencang ombak menerpa batu karang di bawah sana. Aku dan Ike hampir nggak bersuara sama sekali. Tinggal sedikit anak tangga di tengah taman yang mengarah ke kamar kami. Tiba-tiba… Lampu blitz Ike menampakkan sesosok bentuk badan orang. “Ada apa, Mbak?” tanyanya dengan nada rendah dan datar.

Aku dan Ike terlonjak kaget. Bayangkan saja, gelap-gelapan, nggak ada lampu, nggak ada suara, muncul bayangan di depan kami dengan suara datar begitu. Siapa juga yang nggak kaget. Ternyata itu salah satu staf hotel.

“Astaga, Masss…” kataku setelah beberapa detik shock.

“Ada apa, Mbak?” ulang Mas-nya.

“Itu… Itu…” kata Ike terbata-bata, antara kaget dan takut.

“Ada serangga di kamar, Mas. Gede banget, seukuran jempol. Tolong dibuang dong, Mas,” ucapku menyambung Ike.

Setelah kusodori sandal-ku, Mas-nya langsung beraksi mengambil serangga itu dari balik pintu, lalu menginjak serangga itu hingga mati.

“Sudah, mbak,” katanya masih dengan nada datar.

“Makasih, Mas,” kataku sepenuh hati. “Mas, tadi muncul darimana?”

“Dari samping,” jawabnya singkat.

“Emang Mas dengar suara kita? Tadi kita manggil-manggil disana nggak ada yang nyahut, jadi bingung.”

“Iya dengar, Mbak,” begitu katanya. “Ada lagi, Mbak?”

“Nggak, Mas. Makasih ya.”

“Mas penyelamat kita malam ini. Makasih ya, Mas,” ucap Ike setelah bisa berkata-kata dengan tenang.

Aku dan Ike segera kembali ke kamar dan membereskan sedikit kamar yang agak berantakan karena selimut yang tadi dipakai untuk penghalang serangga, kini terserak di lantai. Setelah berada di tempat tidur masing-masing, spontan kami tertawa. Ada-ada saja kejadian malam ini. Serangan serangga tengah malam, ditambah kemunculan si Mas staf hotel yang bagai hantu. Hahaha… 😀

Setengah jam mungkin kami masih membahas kejadian hari itu sambil tertawa-tawa, sebelum kemudian terlelap.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s