UNFORGETTABLE BALI TRIP – 5

Day 5. 6 November 2013

Rencana awal kami untuk naik ke Gunung Batur untuk liat sunrise, sudah kami batalkan jauh-jauh hari. Berhubung dari info yang kami dapat, untuk naik ke Gunung Batur, harus pakai jasa guide Rp 350.000/pax. Yang benar aja, itu mah sama kayak harga tiket pesawat kami ke Bali. Big no!

Second option, kami mau ke Desa Trunyan untuk liat adat disana, dimana mayat nggak dikubur cuma ditaruh di bawah pohon aja, tapi nggak berbau. Aneh kan? Nah, makanya kami sempat berencana kesana. Tapi lagi-lagi kami batalkan karena untuk kesana harus nyebrang naik perahu, bayar 75.000/orang, itu pun belum termasuk tip guide. Dan yang lebih bikin kami mengurungkan niat adalah hasil googling, banyak yang bilang kalo ke Trunyan sering ‘dipalak’, ya sama guide, ya sama penduduk lokal. Daripada makan hati karena dipalak, mending nggak usah deh.

Tapi karena kami udah terlanjur sampe Batur, sayang kan kalo nggak menikmati pemandangan sekitar. Jadi pagi itu, sekitar jam 6.30, kami memacu motor untuk berkeliling daerah sekitar. Siapa tahu kami nemu kebun kopi atau kebun jeruk Kintamani di daerah situ, jadi bisa jalan-jalan di kebun. Hehe… Kan Batur masih termasuk wilayah Kintamani. 😀

Persis depan hotel kami sih Danau Batur, cuma dipisahkan jalan raya yang lebarnya 5m dan kebun sayur. Tapi tetap nggak memungkinkan buat kami mendekati pinggir Danau Batur dan main air disitu. Dan karena deretan pegunungan ada di sebelah kiri hotel, jadi kami melajukan motor ke arah kiri.

IMG-20131114-WA0114
Itu view Danau Batur dari hotel kami

Pemandangan sih nggak usah ditanya, bagus banget. Danau Batur, deretan pegunungan yang mengelilingi Danau Batur juga nggak kalah bagus. Kami meyusuri sisi Danau Batur dan menikmati pemandangan yang disajikan di depan mata. Pas ada pertigaan, kami memutuskan untuk ambil arah kiri, sedikit mendekat ke Gunung Batur. Sepanjang jalan, banyak truk pasir mondar-mandir, entah mengangkut pasir dari mana dan kemana. Dan di pinggir jalan, banyak gunung-gunung batu kecil berwarna hitam. Aku nggak tahu apa namanya itu. Tapi meskipun ‘hanya’ gunung batu yang warnanya hitam seperti arang, bagi kami itu tetap objek mata yang eksotik. Maklum, di Jakarta dan sekitarnya nggak ada yang kayak gitu. Alhasil, gunung batu hitam itu pun jadi objek foto kami.

IMG-20131114-WA0054

IMG-20131114-WA0101

IMG-20131114-WA0099

Satu hal yang kami kagumi dari Bali, se-pedalaman apapun daerah yang kami datangi, jalan hampir selalu teraspal dengan baik. Pun begitu di jalan yang kami lewati, meskipun jalannya nggak terlalu lebar, tapi aspalnya mulus banget. Dan akhirnya jalan yang kami lewati pun nggak ketinggalan jadi objek foto. Hahaha… Maklum, di Jakarta dan sekitarnya, daerah pedalaman biasanya jalan nggak mulus, kadang malah lebih mirip permukaan bulan dengan segala batu-batuan segala ukuran yang parkir di tengah jalan raya.

IMG-20131114-WA0071

Berhenti beberapa saat untuk foto jalanan menuju Gunung Batur, kami melanjutkan lagi perjalanan kami. Paling nggak sampai kaki Gunung Batur lah, begitu pikir kami. Jadi perjalanan kami jauh-jauh ke Batur nggak rugi-rugi amat lah. Terus kami memacu motor, pelan sih, karena sambil terus celingak-celinguk menikmati pemandangan sepanjang jalan dan sesekali memfoto spot atau objek yang menarik di jalan yang kami lewati.

Dan tibalah kami di suatu tempat dimana kami diberhentikan orang. Sepertinya itu meeting point untuk wisatawan yang mau mendaki Gunung Batur. Banyak mobil yang diparkir. Seorang bapak-bapak pun menghentikan kami dan mengarahkan kami untuk masuk ke area parkir di sisi kanan kami “Come here,” katanya sambil mengarahkan.

Kami menurut saja dan memarkir motor kami di tempat yang ditunjukkan. “Come here,” katanya lagi. Dipikirnya kami turis dari mana kali, dengan celana pendek dan kacamata hitam, padahal cuma turis dari Jakarta. 😀

Kami diarahkan masuk ke kantor kecil disitu. Setelah ngomong sebentar, sadarlah bapak-bapak itu kalau kami turis domestik dari Jakarta. Intinya sih dia menjelaskan kalau mau ke Gunung Batur ada tour-nya, dipandu guide, kemana dan ngapain aja nantinya disana, beserta dengan tarif-nya. Kami menolak dengan halus, alasannya sudah siang nggak bisa liat sunrise lagi. Tapi si bapak agak memaksa sehingga kami beralasan lagi kalo kami masih menunggu teman besok, jadi belum bisa memutuskan.

Nggak lama-lama deh disitu, daripada ditawarin terus. Itu aja si bapak udah minta no handphone, nanti kalo ada apa- apa bisa hubungi dia, begitu katanya. Padahal dia-lah yang akhirnya hubungin nomor Ike yang dikasi, mungkin nawarin lagi.

Aku dan Ike akhirnya berbalik arah. Gagal sudah rencana untuk sekedar mencapai kaki Gunung Batur, sudah dimonopoli duluan sama komunitas guide. Terpaksa kami putar balik, tetap dengan motor berjalan perlahan, ya kalo ada spot bagus untuk ambil foto, kami berhenti dulu. Di tengah jalan, ada tanah kosong yang yah nggak terlalu luas lah, dengan beberapa pepohonan dan gunung batu di dekatnya. Ike spontan berbelok ke arah tanah kosong itu. Langsung parkir motor dan foto-foto. Mulai dari foto-fotonya di atas motor, menyusuri tanah kosong. Sampai kami nemu gunung batu yang menghalangi matahari, jadi kalo di-foto sinar matahari menyembul gitu, lucu banget. Langsung lah spot itu jadi favorit untuk ambil beberapa foto. Belum lagi, beberapa pohon tinggi yang daunnya berwarna keemasan, tentu jadi objek foto juga. 😀

Sebenarnya tempatnya biasa aja, cuma karena masih alami dan jarang kami temui, kayaknya nemu spot foto begitu aja bahagia nya bukan main. Dan hasil foto-nya emang keren sih. Emang tempatnya fotogenik abis, termasuk kami yang ikutan foto. Hahaha….

IMG-20131114-WA0060

IMG-20131114-WA0083

IMG-20131114-WA0087

IMG-20131114-WA0090

IMG-20131114-WA0091

IMG-20131114-WA0096
Ini foto favorit-ku, lighting alami soalnya hehehe…

IMG-20131114-WA0103
Ini foto favorit Ike, katanya kayak candid

IMG-20131114-WA0100

IMG-20131114-WA0085

Sekitar 15-20 menit kami asik foto-foto disitu, sebelum melanjutkan lagi perjalanan kembali ke hotel. Sudah waktunya sarapan, jadi kami memutuskan untuk sarapan dulu sebelum mandi dan bersiap-siap berangkat ke tujuan berikut. Tapi nggak lupa foto-foto dulu di depan kamar hotel kami.

IMG-20131114-WA0108

Sekitar pukul 10 kami sudah meninggalkan hotel dan memacu motor kami lagi di jalan raya, mengikuti rute GPS menuju Singaraja, tepatnya arah pantai Lovina. Menurut GPS sih perjalanan sekitar 90 menit. Ternyata riil-nya… Nanti aja liat sendiri gimana perjalanannya.

Kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri sisi Danau Batur, mengikuti petunjuk GPS. Sekali waktu kami berhenti untuk foto, karena kami belum ada foto di dekat Danau Batur. Lalu langsung melanjutkan perjalanan kami.

IMG-20131114-WA0107
Foto Danau Batur dari jalan searah hotel kami

IMG-20131114-WA0105
Sebelum lupa, foto dulu dengan latar Danau Batur, meski agak jauh

Setelah kurang lebih setengah jam lamanya mengikuti GPS, kami bingung, kok jalanannya kecil dan mentok, ada sih jalanan menanjak di kanan sesuai petunjuk GPS. Masalahnya, jalanan itu miring hampir 60 derajat. Masa’ kami harus lewat jalanan terjal nan mengerikan itu. Kami menghentikan motor sebentar, mikir sambil kebingungan.

Nggak lama, ada truk datang dan berhenti dekat kami. Spontan Ike tanya, “Pak, mau ke Singaraja bisa lewat jalanan itu?” sambil nunjuk jalanan mengerikan tadi.

“Bisa sih. Tapi saya aja nggak berani lewat situ,” jawab si Bapak. Sedangkan kami takjub ada mobil bak dan motor yang menaiki jalanan itu.

Aku sama Ike liat-liatan. Bapak penduduk lokal aja nggak berani lewatin jalanan itu, masa’ kami turis nekat lewat situ. Sudah jalanannya curam, nggak ada pembatas jalan di pinggirnya, jadi kalo jatuh langsung ke bawah. Ditambah lagi bawaan di motor kami kan cukup banyak. Akhirnya setelah berdiskusi singkat, kami memutuskan mencari jalan lain, jalan raya aja biar aman. Tapi semua jalan yang ditunjukkan GPS mengarah ke jalanan menanjak tadi. Akhirnya kami ‘cuekin’ GPS untuk sementara waktu, mencari jalan dengan insting sendiri, yang jelas kami hanya melewati jalanan yang ‘wajar’ dan aspal-nya mulus.

Setelah beberapa lama putar-putar, GPS pun nggak rerouting ke jalanan tadi, mulai menunjukkan jalur alternatif lain. Tapi kami entah ada di antah berantah mana, sisi kanan dan kiri kami gunung. Malah pernah di sisi kiri kami gunungan pasir yang sudah terkeruk, mungkin tadinya itu gunung aktif yang sudah mati, jadi hanya bersisa pasir dan pasir itulah yang diangkut oleh truk-truk pasir yang kami temui sepanjang jalan.

Kami meneruskan perjalanan. Kali ini sisi kanan dan kiri kami pepohonan bak hutan, tapi nggak rindang sih. Mungkin coba deretan pepohonan di sekitar kaki gunung, entah gunung apa. Kami sudah nggak bisa membedakan mana Gunung Batur, Gunung Agung, Gunung Abang, atau entah ada lagi gunung lain disitu. Kami cuma menyusuri jalanan lurus dan panjang di depan kami. Entah sudah berapa lama kami di jalan, mungkin lebih dari 2 jam dan kami nggak tahu kami dimana.

Ketika di sisi jalan ada warung, langsung aja kami berhenti untuk isi bensin yang dijual eceran disitu, dan Ike pun perlu makan karena tadi pagi sarapan cuma buah-buahan aja. Selain makan, kami juga istirahat sebentar, beli minum untuk di jalan, dan tentunya tanya petunjuk jalan.

Benar saja, sudah 2 jam kami di jalan dan surprisingly, kata ibu warung, kami masih di daerah Batur. Hahaha… Jadi 2 jam kami cuma putar-putar Batur. Meskipun GPS bilang 300 meter di depan kami mesti belok kanan untuk menuju Singaraja.

Kami pun tanya sama si ibu, mau ke Singaraja ke arah mana. Jawaban si ibu sama dengan GPS, dibilang di depan ada belokan ke kanan, lewat situ. “Jalannya curam nggak, bu?” tanya Ike, mungkin takut jalanannya securam tadi.

“Iya, curam ,” jawab si ibu menciutkan nyali kami. Tapi nggak lama berselang, suami si ibu malah bilang “Nggak terlalu curam kok, motor masih bisa lewat.”

Akhirnya kami menceritakan tadi ada belokan yang harus kami lewati dan curam banget sampai kami harus putar balik. Namun si bapak meyakinkan kami dengan bilang, “Nggak kok, nggak curam.” Begitu katanya sembari menegaskan, kalau mau ke Singaraja memang harus lewat jalan itu.

Setelah beristirahat 1 jam dan meyakinkan diri kami kalau kami harus bisa lewatin jalanan di depan kami, perjalanan pun dilanjutkan. Kata-kata si bapak tadi rupanya jadi penyemangat untuk kami. Waktu kami belok di belokan yang dimaksud, sebenarnya jalannya cukup curam, meskipun tidak securam yang tadi. Tapi karena kami yakin bisa lewat, apalagi sudah dipertegas sama si bapak tadi, kami jadi melalui jalan itu dengan pede. Padahal kalo diingat-ingat lagi, jalanan itu kecil, miring ke atas dan berkelok-kelok, plus banyak truk pasir naik turun. Tapi kami bisa melewati jalanan itu dengan cukup mulus, meskipun harus selalu membunyikan klakson setiap kelokan, dan sesekali menyalip truk pasir yang berjalan sangat pelan.

Gas sudah pol, tapi kecepatan hanya bisa 20 km/jam, karena jalanan yang curam dan bawaan kami yang banyak, itu kecepatan maksimal yang bisa kami geber. Jalanan itu mungkin mirip jalanan ke Puncak, tapi jauh lebih kecil dan sepi. Sepanjang jalan, sama sekali nggak ada bangunan. Pegal juga menyusuri jalan itu, belok-beloknya cukup bikin pegal karena badan terdorong ke kanan dan ke kiri. Mungkin sekitar 30 menit kami di jalan itu, sampai akhirnya kami menemukan jalan raya, sodara-sodara…

Astaga, dari tadi inilah yang kami cari : peradaban. Dari tadi selain truk pasir dan pohon-pohon, kami nyaris nggak menemukan bentuk peradaban dunia modern. Bahkan warung kecil yang kami temui itu sudah bagai mata air di gurun, menyusup di tengah-tengah hutan.

Ternyata peradaban itu namanya : Desa Kintamani. Dan ternyata kami benar-benar ada di puncak gunung, sodara-sodara. Pas kami melewati jalan, di kanan dan kiri kami terbentang pohon-pohon di sebelah bawah. Atas kami, langit. Nggak ada gunung lagi di dekat kami, ada sih tapi jauh di seberang sana. Itu pun terlihat sejajar dengan tempat kami berada. Berarti kami benar-benar ada di atas gunung. Ya ampun…

Dan itu artinya kami menaiki gunung dengan sebuah motor Vario dan bawaan bejubel. Astaga… Bahkan di Jakarta aja kami nggak pernah ke Puncak naik motor, eh ini di tanah orang kami malah naik-naik ke puncak gunung, pake motor, sewaan pula.

Kami menepi sebentar untuk mengabadikan bukti kalau kami benar-benar ada di puncak gunung di Bali. Ike memilih 1 spot untuk ambil foto, tapi sayangnya pas di foto nggak terlalu kelihatan jelas kalau kami foto dari puncak, yang terlihat cuma jajaran pohon lebat, tapi nggak kelihatan kalau pohon-pohon itu ketaknya jauh di bawah posisi kami. Tapi gak papa lah, yang penting kami punya bukti untuk kenang-kenangan kami sendiri.

IMG-20131114-WA0110

IMG-20131114-WA0109

IMG-20131114-WA0111
Pura di Kintamani yang nggak sempat kami singgahi

Lanjut lagi… Perjalanan kami baru setengah nih, masih jauh jarak ke Lovina. Untungnya sekarang kami berada di dunia nyata, di peradaban, bukan di antah berantah lagi. Seenggaknya  kalo nyasar banyak orang yang bisa ditanya.

Desa Kintamani ini, karena berada di atas gunung, benar-benar mirip daerah Puncak kalo di Jakarta. Hawa dingin dekat gunung dan jalan yang berkelok-kelok. Dan setelah melewati Desa Kintamani, kami menyusuri jalanan yang kini menurun. Rupanya desa itu adalah Puncak Pas-nya. Haha…

Awan mulai menggelap dan berkumpul. Secara kami di lagi atas gunung, berasa awan dekat banget. Dan nggak lama turunlah hujan, di saat kami masih harus menempuh jarak lumayan jauh, nggak punya jas hujan, dan harus mengandalkan GPS di tangan supaya bisa sampai tempat tujuan dengan selamat. Untungnya hujannya nggak deras, hanya gerimis banyak. Jadi HP pun masih selamat karena nggak terlalu banyak terkena air hujan. Dan untungnya hujannya nggak terlalu lama pula, entah karena awannya bergeser atau karena kami terus bergerak menjauhi awan hujan itu. Tapi yang jelas, kami nggak bisa berlama-lama karena takut diduluin hujan lagi dan bakal repot banget kalo sampe kehujanan.

Setelah hampir 1 jam meneruskan perjalanan, sampailah kami di daerah Singaraja. Keramaian kini di depan mata. Tapi pant*t lumayan tepos juga, duduk di atas motor selama beberapa jam. Rasanya pengen berdiri aja, kalo duduk bawaannya pegal. 😀

Aku sempat minta berhenti sebentar, nggak tahan dengan sakit di bokong karena kebanyakan duduk. Herannya Ike santai aja. Setelah berhenti 3 menit, kami lanjut lagi perjalanan. Sepertinya udah nggak terlalu jauh, karena kami tinggal mencari arah pantai. Dan terjadilah tragedy itu…

Ike yang jagoan bawa motor di Jakarta, kadang lupa kalau kami nggak lagi di Jakarta. Gaya bawa motornya itu Jakarta banget. Kalo dibandingkan pemotor lain, agak sedikit brutal gaya-nya. Buktinya, kalo lampu merah, Ike nyalip motor lain dari pinggir sampai tiba di paling depan. Sudah sempat kuingatkan “Ke, ini bukan Jakarta lho,” pada saat nyelip di lampu merah. Tapi di lampu merah berikut, Ike masih nyalip dari kiri dan tiba-tiba berhenti di depan garis putih. Dan bagusnya, di situ ada pos polisi. Langsung saja kami dipriwitin untuk berhenti.

Yah… Aku dan Ike lemas seketika. Terutama Ike, dia ada trauma dengan polisi. Apalagi wajah tuh polisi dengan tulang muka kaku, terlihat seram. Kami disuruh masuk ke dalam pos jaga-nya, ternyata di dalam ada seorang bapak polisi lagi.

Kami manut aja masuk pos polisi berukuran 1,5 x 2 m itu. Kami berdua sudah sepakat untuk berakting kalem dan pasrah, supaya nggak dipersulit. Disambut oleh pak polisi 2 yang di dalam dengan senyum, entah apa arti senyumnya. Dimintalah SIM, Ike bilang ketinggalan di Jakarta. Jreng!  Padahal lagi ditahan sama polisi Jakarta. Trus ditanya STNK, dikeluarin lah kantong kulit tipis tempat STNK dari rental, ternyata isinya copy STNK. Biasanya rental ada surat rental-nya, kata pak polisi.

“Saya nggak tahu, Pak. Dikasi nya kayak begitu aja,” jelas Ike pasrah. Ternyata belakangan baru kami tahu, kwitansi rental bisa dianggap sebagai surat bukti rental motor.

Karena melihat aku bawa-bawa tablet dalam kondisi GPS nyala, ditanyalah sama si pak polisi. “Mau kemana?”

“Ke jalan … (maaf lupa nama jalannya), dekat Lovina,” jawabku.

“Oo… Sudah dekat, jalannya tinggal lurus aja. Tapi biarpun jalannya lurus aja, mesti hati-hati karena sering kecelakaan,” kata pak polisi 1, yang menghentikan kami.

Lalu mulailah kami diinterogasi, asalnya dari mana, kuliah atau kerja, datang dari mana (maksudnya tempat berangkat) dan tujuan. Pas ditanya kerja, bingung deh. Kalo jawab pekerjaan riil kami, bisa-bisa dipalak gede nih. Aku bilang kerja di Bank M, si pak polisi nggak pernah dengar. Haha… Giliran Ike jawab, distributor alat-alat musik, lebih nggak nyambung lagi para pak polisi.

Akhirnya Ike mengambil inisiatif untuk ‘damai’. “Ya udah Pak, damai aja yah?” kata Ike.

Pak polisi 2 yang mengaku dari Bandung, malah menakut-nakuti. “Kalo diproses, kena pasal nya banyak nih.  Nggak ada SIM, STNK cuma fotokopi, melanggar rambu-rambu lalu lintas.”

“Maaf, Pak. Habisnya kalo di Jakarta begitu boleh (baca : biasa, meskipun sebenarnya juga nggak boleh :D),” begitu alasan Ike. “Maaf Pak, damai aja ya.”

“Iya, Pak. Maaf ya,” timpalku.

Ike buka resleting tas pinggang nya, mau ngeluarin uang. Tapi tiba-tiba pak polisi 1 yang asli Bali bilang “Udah nggak usah.”

Spontan aku dan Ike nengok kaget.

“Udah nggak papa,” katanya menegaskan.

“Beneran, Pak?” Ike nggak percaya. “Makasih.”

“Iya. Tapi jangan diulangin ya.”

“Iya, Pak. Makasih ya, Pak.”

“Sudah kalian lanjutkan saja perjalanan, tapi hati-hati ya. Meskipun jalannya lurus, harus hati-hati karena sering kecelakaan,” ulang pak polisi 1. “Dari sini sudah nggak jauh kok, tinggal beberapa kilometer.”

“Iya, Pak. Makasih.” Kami sumringah. Untung nggak jadi keluar biaya tak terduga.

Saking senangnya, Ike sampe keder. Masukin kunci motor kok ga bisa-bisa. Eh, ternyata motor yang mau dimasukin kunci adalah motor pak polisi. Sama-sama Vario. Hahaha…

“Eh maaf, salah Pak,” kata Ike cengengesan setelah menyadari kesalahannya. Si pak polisi asli Bali dan bergaris muka kaku itu senyum-senyum. Mungkin pikirnya, nih anak abis dilepasin malah mau ngambil motor gua.

Aku tertawa saja. Ike emang suka gitu. Motor sendiri aja susah carinya kalo di parkiran, apalagi motor sewaan yang belum familiar. 😛

Langsung kami melanjutkan perjalanan. Dibantu pak polisi 1 yang membantu menghalangi kendaraan waktu kami mau keluar dari pos.

“Makasih, Pak,” seruku dan Ike.

Lanjut  perjalanan beberapa menit, kami akhirnya menemukan hotel tujuan kami. Segera lah kami check in karena sudah lelah banget di perjalanan yang makan waktu sekitar 5 jam.

Sambil disambut welcome drink, kami tanya-tanya untuk perjalanan melihat lumba-lumba besok pagi. Ternyata bayarnya Rp 100.000 per orang, dijemput jam 05.30. Kami pikir-pikir dulu.

Setelah diantar ke kamar, kami menata barang-barang kami dulu, supaya nggak berantakan. Secara bawaan kami buanyakkk banget.

Karena di perjalanan tadi Ike banyak liat tulisan “babi guling”, jadi pengen makan itu. Dan nggak lama setelah menyusun barang-barang kami yang banyak itu, kami pun meluncur lagi. Nggak lupa kami mampir ke resepsionis untuk mengambil paket tour lumba-lumba besok pagi-nya. Lalu mencari warung babi guling yang kami lihat tadi pas isi bensin di dekat hotel. Eh, ternyata warung nya tutup.

Akhirnya kami mencari makanan jenis lain. Dan masuk lah di warung nasi yang menyediakan aneka masakan ikan-ikanan. Ike langsung memesan menu yang paling nggak pernah dijumpai di Jakarta. Haha… Ya, begitulah dia. Petualang makanan. Sedangkan aku yang perutnya sedang bermasalah dari tadi pagi, hanya memesan teh manis panas dan icip-icip jus pepaya-nya Ike. Yah, kalo perut lagi nggak bersahabat, bawaannya emang malas makan.

Selesai makan, kami langsung kembali ke hotel, yang sebenarnya ngesot juga sampe kalo lewat pantai. Tapi karena bawa motor dan mesti lewat jalan raya, ya jadi 5 menit deh. Dan sesampai di kamar, Ike langsung tidur. Badannya kurang enak katanya, mungkin karena perjalanan yang jauh banget dari kemarin. Aku nggak tidur sih, karena harus bolak-balik toilet berurusan dengan perutku. Sepertinya aku terserang diare. Pantas dari tadi pagi perutku melilit hingga aku harus seduh jamu kupu-kupu waktu mampir di warung tadi. Dan toilet di hotel kering pulak, nggak ada semprotan air nya cuy! Untung sebelahnya ada wastafel. Hehe…

Sayangnya kami nggak sempat menikmati kolam renang hotel. Sebenarnya kolam renangnya asik. Dan salah satu alasan kami, tepatnya aku, memilih hotel-hotel kami selama di Bali adalah kolam renangnya. Meskipun kami nggak bisa berenang, minimal bisa celup-celup badan lah. 😀

IMG-20131114-WA0116

Malam hari, aku kelaparan. Karena sore tadi aku nggak makan dan Ike masih tergeletak tidur, aku terpaksa makan di hotel. Sebenarnya sih aku malas makan, bukan hanya karena soal harga yang pasti cukup mencekik, tapi juga perutku tidak enak rasanya. Tapi harus makan daripada bertambah sakit maag. Hadehhh….

Benar saja, sudah harga nya mahal. Makanan yang kupesan hanya kuhabiskan setengah. Selain karena tuh soto ayam, yang paling murah diantara yang lain, rasanya asin banget, perutku memang nggak bisa diisi terlalu banyak. Ditambah lagi dengan hembusan angin pantai malam-malam begitu, benar-benar bikin badan yang kurang fit jadi tambah nggak enak. Selesai makan, aku langsung kembali ke kamar. Padahal baru jam 19:30.

Ike akhirnya terbangun. Mungkin efek obat flu yang diminum akhirnya membuat dia lelap sekitar 2 jam. Begitu bangun, karena di kamar nggak ada TV, akhirnya kami hanya buka youtube untuk lihat video-video musik. Haha… Nggak lama sih, Sebelum jam 11 malam kami sudah tidur karena keesokan pagi kami harus siap jam 5.30.

Advertisements

UNFORGETTABLE BALI TRIP – 4

Day 4. 5 November 2013

Kami nggak bangun pagi hari ini. Karena nggak bisa lihat sunrise juga, jadi ya bangun agak siang deh. Tapi nggak siang-siang amat juga sih. Belum jam 7 kami sudah bangun.

Setelah sikat gigi dan cuci muka, langsung saja kami keluar kamar. Menuruni tangga tempat kejadian Mas yang muncul kayak hantu itu, kami masih tertawa-tawa. Di anak tangga bawah, muncul seorang cowok bule tersenyum ramah “Selamat pagi,” katanya. Eh, kami malah menjawab “good morning”. Terbalik. 😀

Kami memutuskan untuk nggak langsung breakfast, tapi ke pantai lagi untuk foto-foto. Karena kemarin sore kami coba foto-foto tapi hasilnya nggak memuaskan karena sudah gelap, jadi semua fotonya suram. Pagi ini kesempatan kami untuk foto-foto lagi. Sayangnya pas mau turun ke pantai, di bawah ramai dengan puluhan bapak-bapak. Katanya sih ngambilin pasir untuk pura. Entah dimana pura-nya, yang jelas puluhan bapak-bapak itu lalu lalang lewat tangga di sisi hotel. Sebenarnya aku agak sungkan turun ke pantai dalam kondisi ramai begitu. Tapi demi foto, ya sudahlah mau nggak mau kami turun juga ke bawah. Meskipun harus mencari sudut-sudut yang agak kosong untuk foto.

Begitu sampai bawah, sedikit nggak nyaman sih karena dilihatin serombongan bapak-bapak. Tapi Ike dengan santai bilang, “Cuek aja. DImana-mana turis emang norak foto-foto mulu.”

Setelah foto-foto di pantai, kami baru sadar kalau air agak surut dibanding kemarin sore. Jadi karang tempat kami berpijak dengan sebagian kaki tercelup di air waktu sore, kini karangnya menyembul di atas air. Dan benar saja, garis air di pantai mundur cukup jauh, jadi  batu karang mendatar yang terbentang lumayan luas.

IMG-20131114-WA0000

Di sisi kanan kami juga, tebing batu yang semalam dihantam gelombang air pasang kini kering kerontang, bahkan dasar pasir putihnya terlihat jelas bisa dilalui. Ike mengajak ke tebing batu, aku sempat nolak karena takut air tiba-tiba naik dan kami terjebak. Tapi kata Ike, kapan lagi, dan benar juga. Kapan lagi kami dapat pemandangan seindah itu?

Akhirnya kami pun berjalan menuju deretan tebing batu yang menjulang. Tinggi bangettt… Rupanya air kalau sedang pasang lumayan tinggi juga naik-nya. Semalam suara air menghantam tebing batu itu terdengar cukup mengerikan. Tapi kini kami asik foto-foto di samping tebing, bahkan di bawah tebing, yang di bagian bawahnya membentuk goa kecil untuk kami bisa duduk-duduk, walaupun nggak bisa berdiri.

IMG-20131114-WA0003

IMG-20131114-WA0008

IMG-20131114-WA0007

IMG-20131114-WA0002

IMG-20131105-WA0000

IMG-20131114-WA0004

IMG-20131114-WA0012

IMG-20131114-WA0188

IMG-20131114-WA0006

IMG-20131114-WA0005

IMG-20131114-WA0018

IMG-20131114-WA0053

IMG-20131114-WA0042

IMG-20131114-WA0013

IMG-20131114-WA0016

Kesana sedikit lagi, ada rangkaian batu karang yang tampak jelas masih sering terkikis air dari bentuknya yang seperti spons, ‘grenjelan’ menurut bahasa-ku. Foto-foto lagi. Tiap menemukan batu karang, kolam di tengah batu karang, spot lucu apapun, kami langsung foto. Malah Ike merekam video dirinya menyemplungkan kakinya di salah satu kolam alami, airnya bening banget kayak kaca. Dengan semangat dia merekam kakinya yang meloncat-loncat di dalam kolam itu. Dan setelah lihat hasil video-nya, memang spot itu worth it banget untuk direkam.

Puas berfoto-foto di sisi kanan bawah hotel, kami pindah ke sisi kiri hotel. Di sebelah situ, batu karangnya sebagian masih tergenang air, mungkin lebih rendah dibanding sisi kanan. Tapi agak jauh di sisi kiri hotel, ada tebing batu yang di tengah-tengahnya berlubang. Ya, lubang membentuk pintu, jadi kalau ada ombak, sebagian air masuk melalui lubang itu. Susah dijelaskan dengan kata-kata sih, tapi lubang itu pemandangan eksotik yang aku nggak yakin bisa ditemui di tempat lain. Sebenarnya sih seluruh pemandangan yang kami lihat pagi itu, serasa kami ada di negeri orang. Semua pantai yang pernah aku kunjungi, tidak ada yang punya view seindah itu. Dan belum pernah juga kami lihat pemandangan seindah itu seumur hidup kami, dan semuanya dengan mata kepala kami sendiri pula, bukan lewat layar tivi.

IMG-20131114-WA0041

IMG-20131114-WA0014

IMG-20131114-WA0023

Kami cuma bisa mengagumi setiap keindahan yang ditangkap lensa mata dan lensa kamera kami. Betapa indahnya ciptaan Tuhan.

Belum terlalu puas berfoto-foto, kami segera naik ke hotel. Sudah jam 8 lewat. Rencana kami sih check out antara jam 9-10 pagi. Kami langsung pesan breakfast, yang memang sudah termasuk dalam paket booking-an hotel. Meja makan juga menghadap pantai, jadi sambil sarapan kami menikmati pemandangan laut yang terus menerus menghasilkan ombak. Selama kami makan, ada beberapa surfer yang menjajal ombak. Memang lautan disitu cocok untuk surfing, pun dari kemarin beberapa kali kami berpapasan dengan bule-bule yang membawa papan seluncur di motornya. Begitu juga keterangan staf hotel, dibilang mayoritas bule-bule yang menginap disitu juga sekalian surfing.

IMG-20131114-WA0040

Selesai sarapan, kami langsung menuju kamar untuk mandi dan beres-beres sebelum check out. Karena kami harus ngejar boat jam 12.00, jam 11 kami harus sudah check out. Dan tepat jam 11.00 kami check out. Sempat nyariin Mas yang semalam ngagetin kami untuk kasi sedikit tip, tapi nggak ketemu juga. Akhirnya kami check out dan memacu motor menuju Nusa Lembongan. Bye, Secret Point Huts hotel, we’ll be back soon.

IMG-20131114-WA0025

IMG-20131114-WA0036

IMG-20131114-WA0037

IMG-20131114-WA0026

IMG-20131114-WA0039

Sesekali kami berhenti untuk mengambil foto pemandangan di spot-spot yang bagus. Sepertinya nggak pernah kehabisan spot untuk mengabadikan indahnya Nusa Ceningan.

IMG-20131114-WA0072

IMG-20131114-WA0044

IMG-20131114-WA0043

IMG-20131114-WA0031

Jam 12 kurang 15 kami sampai di pelabuhan Nusa Lembongan. Setelah mengembalikan motor, kami mencari petugas fast boat yang akan kami tumpangi untuk kembali ke Sanur. Eh ternyata bapak ‘knek’ kapalnya orang yang sama dengan kapal kami berangkat kemarin. Haha…

Sambil menunggu jam 12.00 kami berjalan-jalan sedikit di pantai Lembongan. Banyak hotel berbaris disana, akses langsung ke pantai. Tapi ya pantainya banyak kapal, jadi kurang asyik menurutku, meskipun pasirnya putih juga. Cukup banyak turis asing juga, tapi lebih banyak turis asal Taiwan atau Hongkong dibanding turis bule.

IMG-20131114-WA0055

IMG-20131114-WA0068

Tepat jam 12.00 fast boat kami meluncur menuju Sanur. Agak sedih juga harus meninggalkan Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan, surga kecil di seberang dataran utama Bali. Aku dan Ike bertekad untuk kembali ke Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan lagi suatu hari nanti, yang ternyata hanya selang sebulan sejak perjalanan kesana, kami sudah benar-benar pengen kembali kesana dan tinggal di tengah-tengah indahnya pulau itu. Hahaha…

Kembali ke Sanur, kembali ke keramaian pulau Bali. kembali pula kami ke rundown yang sudah disusun. Tujuan pertama kami setelah sampai Sanur adalah cari makan. Sudah jam makan siang dan kami sudah mulai lapar karena sarapan hanya roti, buah, jus dan teh. Tadinya kami mau lunch di Denpasar, tapi daripada terlalu sore, kami memutuskan untuk menuju Celuk dan Sukawati.

Waktu membayangkan Celuk, desa pengrajin perak, aku membayangkan sebuah kompleks kecil tempat berkumpulnya para pengrajin perak dan membuat dan menjajakan perhiasan perak hasil karyanya. Tapi yang terjadi malah, oleh penduduk local yang kami tanya petunjuk arah, kami dibawa ke tempat kerajinan perak milik kakaknya. Begitu lihat tempatnya, jauh banget dari bayanganku. Yang kulihat adalah sebuah toko perhiasan, memang sih di bagian belakang toko kami bisa melihat beberapa pengrajin yang sedang membentuk perhiasan ataupun menghias.

Alhasil, setelah melihat-lihat dan sedikit shock dengan harganya yang hampir sama atau malah ngalahin emas, tiga penjaga toko laki-laki yang mengikuti kami dan mengajak ngobrol bilang, “Tenang aja mbak, itu harga buat bule, harga local beda kok, bisa ditawar.”

Ike yang memang suka mengobrol dan gampang dekat dengan orang, tak lama sudah asyik bercanda dengan para penjaga toko itu sampai ketawa-ketawa heboh. Sambil melihat-lihat, akhirnya kami bercanda-bercanda dengan 3 penjaga toko yang tambah ramai ngeguyon. Setelah cukup lama berguyon dan memilih-milih, akhirnya kami menentukan pilihan yang akan kami beli. Lalu kami segera berangkat menuju Sukawati.

Sampai Sukawati, kami khilaf belanja untuk oleh-oleh. Niatnya sih nggak belanja sebanyak itu, tapi mengingat banyak orang yang tahu perjalanan kami dan sudah menodong oleh-oleh sebelumnya, kami harus pikirkan juga sekedar buah tangan buat teman-teman kami. Akhirnya membengkak lah pengeluaran dan bawaan kami. Hanya sekitar 1 jam kami di Pasar Seni Sukawati, tapi keluar kami membawa 4 kantong plastic besar. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyusun plastic-plastik tersebut supaya tidak terlalu banyak. Dan setelah dimasukkan di tas2, akhirnya sisa 2 kantong plastic saja yang harus digantungkan di motor.

Tujuan berikutnya : Nuri’s Restaurant. Ini dia yang dari tadi kami incar, bahkan sebelum kami memulai perjalanan kami di Bali. Ike sudah diwanti-wanti oleh temannya untuk jangan lupa mampir di Nuri’s Ubud, ada Iga Babi (maaf ya, ini makanan nggak halal :D) Bakar enak banget disana. Kembali mengandalkan GPS, kami meluncur lagi ke arah Ubud. Setelah beberapa kali bertanya pada orang, akhirnya kami sampai juga di Nuri’s. Untungnya kami sampai sana sore jam 4, jadi nggak banyak pengunjung di Nuri’s. Kabarnya, kalau jam makan siang atau malam, ramai banget bisa sampai antri pakai nomor.

Dibanding restoran, Nuri’s lebih mirip warung sih. Berada tepat di pinggir jalan raya, tempatnya seperti pondokan kayu terbuka. Nah karena sedang sepi, kami bisa memilih duduk dimana saja. Kami pilih duduk di meja besar di pinggir, dekat jalan raya, dan dekat pula dengan panggangan. Iga yang sudah dibumbui akan dimasak di dekat kami, jadi kami bisa melihat prosesnya. Tapi karena sudah sangat lelah menempuh perjalanan dari tadi, ditambah sebenarnya kami sudah lapar dari tadi siang, selesai duduk dan memesan, kami malah santai-santai sambil membuka gadget masing-masing, lupa memperhatikan proses pembakaran pork ribs pesanan kami. Dan lupa pula foto-foto disana. 😀

Sekitar 10 menit setelah kami memesan, datanglah pesanan kami : 1 pork ribs (ukurannya besar, jadi cukup untuk berdua), 2 nasi, 1 mashed potato. Segera saja kami santap hidangan menggiurkan itu. Dan ternyata, rasa pork ribs nya emang juara, sodara-sodara. Manis dan garing-nya pas, ditambah sambal yang disediakan di meja dan bisa diambil sesuka hati, juga uenak tenan. Paduan yang sangat memanjakan lidah. Mashed potato sebenarnya pesanan ‘salah’ karena kami masing-masing telah memesan 1 porsi nasi. Tapi karena aku membaca referensi di blog orang lain kalau mashed potato-nya harus banget dicoba, alhasil tetap saja kami pesan. Dan ternyata rasanya emang luas biasa enyakkk… Rasa kentang alami ditambah sentuhan keju (entah keju mozzarella atau parmesan) yang benar-benar bikin nagih. Meskipun sudah kenyang, tapi rasanya sayang jika menyisakan mashed potato seenak itu.

Setelah kenyang, kami nggak langsung berangkat lagi. Duduk dulu sebentar, sambil menunggu makanan tersebut turun. Nggak enak juga duduk lama di motor dengan perut begah kan? Tak lama, Nuri’s mulai ramai pengujung. Saking ramai-nya, meja kami pun akhirnya share dengan 3 turis lain yang ternyata dari Singapore. Sedikit ngobrol-ngobrol dengan bahasa Inggris sebisanya, turis itu sampai kaget begitu tahu rute perjalanan kami selama seminggu. Lebih kaget lagi karena kami hanya berdua, wanita, dan naik motor. Haha…

Oke, sudah cukup ngobrol-ngobrol. Sudah jam 5.20, dan kami harus segera berangkat menuju destinasi berikut di Danau Batur. Kalau menurut GPS sih hanya 30-an km, paling 1 jam perjalanan, pikirku. Dan mulailah GPS beraksi lagi.

Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, aku heran, kok belum masuk wilayah Kintamani atau Batur ya? Dari langit masih terang, kami masih menikmati sedikit pemandangan (nggak bisa banyak-banyak karena takut kemalamam di jalan), hingga matahari terbenam dan langit sudah gelap. Peta di GPS menunjukkan jarak yang masih cukup jauh, entah berapa km. Ike sampai tanya “Masih jauh, Gi?” dan aku hanya bilang “Lumayan.” Padahal GPS menunjukkan jalan yang sedang kami lalui masih lurus selama 8 km, setelah ganti nama jalan di GPS lurus lagi 9 km. Aku nggak tega kasih tahu Ike km-nya, takut dia shock. Jalanan entah apa itu namanya, aku sudah lupa, ternyata lurus dan panjang banget, jauh lebih panjang daripada jalan Panjang di Jakarta.

Karena gelap, dan dingin, Ike sempat merasa nggak nyaman (sama sih, aku juga) dan sempet berpikir dalam hati, yang baru diceritakan setelah kami sampai tujuan, kalau sampai malam kami nggak menemukan hotel tujuan kami, Segara Hotel & Resto, mungkin kami akan menginap di rumah warga saja. Secara sudah jam 7 malam, dan kami nggak tahu kami ada dimana. Biar deh, biaya pemesanan hotel kami hangus, daripada kami tersesat di antah berantah.

Sesudah cukup jauh, dan kami menemukan warung yang menjual bensin, kami berhenti untuk isi bensin sekaligus tanya arah pada orang. Soalnya di jalanan yang panjang banget tadi, ada sih beberapa rumah warga, tapi di jalanannya sudah sepi sekali, hampir nggak ada orang di luar rumah. Puji Tuhan, kata penjaga warung itu, kami sudah nggak terlalu jauh dari tujuan. “Pertigaan depan ini belok kanan, trus turun ke bawah ke arah danau Batur, nanti hotelnya dekat kantor polisi”.

Kami melanjutkan lagi perjalanan kami, setelah belok kanan, ternyata jalanan sangat gelap dan sepi. Ada sih beberapa mobil, tapi tetap saja sepi. Pas jalanan di depan kami terpecah dua, serong kiri ke arah bawah, ke kanan lurus, kami mengambil kanan. Tapi GPS langsung berisik “turn left, turn left”. Oia, kan kata penjaga warung tadi, turun ke bawah, berarti harusnya kami ambil serong kiri yang agak curam ke bawah. “Yakin, Gi?” tanya Ike ragu-ragu mengingat medan jalanan yang sedikit beresiko.

“Iya, yakin,” kataku pede, meskipun sedikit takut juga. Soalnya aku yakin penjaga warung tadi benar.

Akhirnya kami putar balik dan menyusuri jalanan yang curam turun ke bawah. Beneran, itu curam. Dan gelap. Untungnya di depan kami ada mobil, jadi kami bisa melihat jalanan agak jauh ke depan. Aku bilang ke Ike untuk pelan-pelan saja, mengikuti mobil di depan aja, jadi kami nggak berasa sendirian di jalan gitu. Setelah mengikuti mobil itu, sampailah kami di pertigaan. Kalo mencari kelurahannya, papan penunjuk jalan menunjukkan kanan. Ya sudah kami mengikuti papan penunjuk jalan ke kanan, tapi lama-lama jalanan tambah sepi dan gelap. Kami jadi ragu-ragu dan beberapa kali putar-putar. Hingga kami melihat warung dan ada beberapa bapak-bapak duduk disana. Langsung saja kami bertanya dimana hotel kami.

Rupanya bapak-bapak itu semua tahu dimana hotel kami. Dan salah satu dari mereka berbaik hati mengantarkan kami ke hotel. Ternyata dari pertigaan tadi harusnya kami ke kiri, dekat banget dari pertigaan itu, mungkin hanya 50 meter. Setelah sampai, kami mengucapkan terimakasih dan langsung check in. Di restoran di bagian depan hotel  cukup ramai dengan beberapa tamu bule. Tapi saking capeknya, kami langsung ke kamar dengan membawa barang-barang kami yang sebarek-abrek itu : tas baju Ike, 2 kantong plastik belanjaan, 1 tas tenteng punyaku, tas ransel Ike, tas kain isi belanjaan, dan tas selempang punyaku.

Masuk kamar, lega rasanya akhirnya perjalanan kami sepanjang hari ini berakhir. Meskipun kamarnya nggak asyik karena fasilitas sangat minim. Bayangkan, nggak ada tempat sampah! Bahkan di toilet juga nggak ada. Nggak ada keset juga, akhirnya kami memutuskan untuk tetap memakai sandal kami di kamar, karena nggak yakin lantainya bersih.

Karena udara dingin, dan di hotel ada restoran, kami memutuskan untuk mencari minuman hangat, dan mungkin cemilan. Setelah melihat-lihat menu, sepertinya tidak ada makanan yang menarik. Lagipula kami masih agak kenyang karena baru jam 5 sore tadi makan kenyang di Nuri’s. Kami hanya memesan susu hangat dan jeruk hangat. Tapi ternyata hanya susu kental manis dan sirup jeruk yang diberi air panas. Dan setelah kami memesan pun, restoran akan segera tutup. Ya sudahlah, hanya sebentar kami di restoran, mungkin hanya 10-15 menit, dan kami masuk ke kamar.

Karena sudah kecapekan di perjalanan yang jauh banget hari ini, di kamar kami langsung tiduran di tempat tidur masing-masing. Tetap ngobrol sih seperti biasa, tapi hanya sebentar trus aku ketiduran karena cuaca dingin enak untuk tidur. Kupikir Ike juga langsung tidur, eh besok paginya dia bilang kalo dia susah tidur karena suasana kamar yang agak creepy creepy gimana gitu.