UNFORGETTABLE BALI TRIP – 4

Day 4. 5 November 2013

Kami nggak bangun pagi hari ini. Karena nggak bisa lihat sunrise juga, jadi ya bangun agak siang deh. Tapi nggak siang-siang amat juga sih. Belum jam 7 kami sudah bangun.

Setelah sikat gigi dan cuci muka, langsung saja kami keluar kamar. Menuruni tangga tempat kejadian Mas yang muncul kayak hantu itu, kami masih tertawa-tawa. Di anak tangga bawah, muncul seorang cowok bule tersenyum ramah “Selamat pagi,” katanya. Eh, kami malah menjawab “good morning”. Terbalik. 😀

Kami memutuskan untuk nggak langsung breakfast, tapi ke pantai lagi untuk foto-foto. Karena kemarin sore kami coba foto-foto tapi hasilnya nggak memuaskan karena sudah gelap, jadi semua fotonya suram. Pagi ini kesempatan kami untuk foto-foto lagi. Sayangnya pas mau turun ke pantai, di bawah ramai dengan puluhan bapak-bapak. Katanya sih ngambilin pasir untuk pura. Entah dimana pura-nya, yang jelas puluhan bapak-bapak itu lalu lalang lewat tangga di sisi hotel. Sebenarnya aku agak sungkan turun ke pantai dalam kondisi ramai begitu. Tapi demi foto, ya sudahlah mau nggak mau kami turun juga ke bawah. Meskipun harus mencari sudut-sudut yang agak kosong untuk foto.

Begitu sampai bawah, sedikit nggak nyaman sih karena dilihatin serombongan bapak-bapak. Tapi Ike dengan santai bilang, “Cuek aja. DImana-mana turis emang norak foto-foto mulu.”

Setelah foto-foto di pantai, kami baru sadar kalau air agak surut dibanding kemarin sore. Jadi karang tempat kami berpijak dengan sebagian kaki tercelup di air waktu sore, kini karangnya menyembul di atas air. Dan benar saja, garis air di pantai mundur cukup jauh, jadi  batu karang mendatar yang terbentang lumayan luas.

IMG-20131114-WA0000

Di sisi kanan kami juga, tebing batu yang semalam dihantam gelombang air pasang kini kering kerontang, bahkan dasar pasir putihnya terlihat jelas bisa dilalui. Ike mengajak ke tebing batu, aku sempat nolak karena takut air tiba-tiba naik dan kami terjebak. Tapi kata Ike, kapan lagi, dan benar juga. Kapan lagi kami dapat pemandangan seindah itu?

Akhirnya kami pun berjalan menuju deretan tebing batu yang menjulang. Tinggi bangettt… Rupanya air kalau sedang pasang lumayan tinggi juga naik-nya. Semalam suara air menghantam tebing batu itu terdengar cukup mengerikan. Tapi kini kami asik foto-foto di samping tebing, bahkan di bawah tebing, yang di bagian bawahnya membentuk goa kecil untuk kami bisa duduk-duduk, walaupun nggak bisa berdiri.

IMG-20131114-WA0003

IMG-20131114-WA0008

IMG-20131114-WA0007

IMG-20131114-WA0002

IMG-20131105-WA0000

IMG-20131114-WA0004

IMG-20131114-WA0012

IMG-20131114-WA0188

IMG-20131114-WA0006

IMG-20131114-WA0005

IMG-20131114-WA0018

IMG-20131114-WA0053

IMG-20131114-WA0042

IMG-20131114-WA0013

IMG-20131114-WA0016

Kesana sedikit lagi, ada rangkaian batu karang yang tampak jelas masih sering terkikis air dari bentuknya yang seperti spons, ‘grenjelan’ menurut bahasa-ku. Foto-foto lagi. Tiap menemukan batu karang, kolam di tengah batu karang, spot lucu apapun, kami langsung foto. Malah Ike merekam video dirinya menyemplungkan kakinya di salah satu kolam alami, airnya bening banget kayak kaca. Dengan semangat dia merekam kakinya yang meloncat-loncat di dalam kolam itu. Dan setelah lihat hasil video-nya, memang spot itu worth it banget untuk direkam.

Puas berfoto-foto di sisi kanan bawah hotel, kami pindah ke sisi kiri hotel. Di sebelah situ, batu karangnya sebagian masih tergenang air, mungkin lebih rendah dibanding sisi kanan. Tapi agak jauh di sisi kiri hotel, ada tebing batu yang di tengah-tengahnya berlubang. Ya, lubang membentuk pintu, jadi kalau ada ombak, sebagian air masuk melalui lubang itu. Susah dijelaskan dengan kata-kata sih, tapi lubang itu pemandangan eksotik yang aku nggak yakin bisa ditemui di tempat lain. Sebenarnya sih seluruh pemandangan yang kami lihat pagi itu, serasa kami ada di negeri orang. Semua pantai yang pernah aku kunjungi, tidak ada yang punya view seindah itu. Dan belum pernah juga kami lihat pemandangan seindah itu seumur hidup kami, dan semuanya dengan mata kepala kami sendiri pula, bukan lewat layar tivi.

IMG-20131114-WA0041

IMG-20131114-WA0014

IMG-20131114-WA0023

Kami cuma bisa mengagumi setiap keindahan yang ditangkap lensa mata dan lensa kamera kami. Betapa indahnya ciptaan Tuhan.

Belum terlalu puas berfoto-foto, kami segera naik ke hotel. Sudah jam 8 lewat. Rencana kami sih check out antara jam 9-10 pagi. Kami langsung pesan breakfast, yang memang sudah termasuk dalam paket booking-an hotel. Meja makan juga menghadap pantai, jadi sambil sarapan kami menikmati pemandangan laut yang terus menerus menghasilkan ombak. Selama kami makan, ada beberapa surfer yang menjajal ombak. Memang lautan disitu cocok untuk surfing, pun dari kemarin beberapa kali kami berpapasan dengan bule-bule yang membawa papan seluncur di motornya. Begitu juga keterangan staf hotel, dibilang mayoritas bule-bule yang menginap disitu juga sekalian surfing.

IMG-20131114-WA0040

Selesai sarapan, kami langsung menuju kamar untuk mandi dan beres-beres sebelum check out. Karena kami harus ngejar boat jam 12.00, jam 11 kami harus sudah check out. Dan tepat jam 11.00 kami check out. Sempat nyariin Mas yang semalam ngagetin kami untuk kasi sedikit tip, tapi nggak ketemu juga. Akhirnya kami check out dan memacu motor menuju Nusa Lembongan. Bye, Secret Point Huts hotel, we’ll be back soon.

IMG-20131114-WA0025

IMG-20131114-WA0036

IMG-20131114-WA0037

IMG-20131114-WA0026

IMG-20131114-WA0039

Sesekali kami berhenti untuk mengambil foto pemandangan di spot-spot yang bagus. Sepertinya nggak pernah kehabisan spot untuk mengabadikan indahnya Nusa Ceningan.

IMG-20131114-WA0072

IMG-20131114-WA0044

IMG-20131114-WA0043

IMG-20131114-WA0031

Jam 12 kurang 15 kami sampai di pelabuhan Nusa Lembongan. Setelah mengembalikan motor, kami mencari petugas fast boat yang akan kami tumpangi untuk kembali ke Sanur. Eh ternyata bapak ‘knek’ kapalnya orang yang sama dengan kapal kami berangkat kemarin. Haha…

Sambil menunggu jam 12.00 kami berjalan-jalan sedikit di pantai Lembongan. Banyak hotel berbaris disana, akses langsung ke pantai. Tapi ya pantainya banyak kapal, jadi kurang asyik menurutku, meskipun pasirnya putih juga. Cukup banyak turis asing juga, tapi lebih banyak turis asal Taiwan atau Hongkong dibanding turis bule.

IMG-20131114-WA0055

IMG-20131114-WA0068

Tepat jam 12.00 fast boat kami meluncur menuju Sanur. Agak sedih juga harus meninggalkan Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan, surga kecil di seberang dataran utama Bali. Aku dan Ike bertekad untuk kembali ke Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan lagi suatu hari nanti, yang ternyata hanya selang sebulan sejak perjalanan kesana, kami sudah benar-benar pengen kembali kesana dan tinggal di tengah-tengah indahnya pulau itu. Hahaha…

Kembali ke Sanur, kembali ke keramaian pulau Bali. kembali pula kami ke rundown yang sudah disusun. Tujuan pertama kami setelah sampai Sanur adalah cari makan. Sudah jam makan siang dan kami sudah mulai lapar karena sarapan hanya roti, buah, jus dan teh. Tadinya kami mau lunch di Denpasar, tapi daripada terlalu sore, kami memutuskan untuk menuju Celuk dan Sukawati.

Waktu membayangkan Celuk, desa pengrajin perak, aku membayangkan sebuah kompleks kecil tempat berkumpulnya para pengrajin perak dan membuat dan menjajakan perhiasan perak hasil karyanya. Tapi yang terjadi malah, oleh penduduk local yang kami tanya petunjuk arah, kami dibawa ke tempat kerajinan perak milik kakaknya. Begitu lihat tempatnya, jauh banget dari bayanganku. Yang kulihat adalah sebuah toko perhiasan, memang sih di bagian belakang toko kami bisa melihat beberapa pengrajin yang sedang membentuk perhiasan ataupun menghias.

Alhasil, setelah melihat-lihat dan sedikit shock dengan harganya yang hampir sama atau malah ngalahin emas, tiga penjaga toko laki-laki yang mengikuti kami dan mengajak ngobrol bilang, “Tenang aja mbak, itu harga buat bule, harga local beda kok, bisa ditawar.”

Ike yang memang suka mengobrol dan gampang dekat dengan orang, tak lama sudah asyik bercanda dengan para penjaga toko itu sampai ketawa-ketawa heboh. Sambil melihat-lihat, akhirnya kami bercanda-bercanda dengan 3 penjaga toko yang tambah ramai ngeguyon. Setelah cukup lama berguyon dan memilih-milih, akhirnya kami menentukan pilihan yang akan kami beli. Lalu kami segera berangkat menuju Sukawati.

Sampai Sukawati, kami khilaf belanja untuk oleh-oleh. Niatnya sih nggak belanja sebanyak itu, tapi mengingat banyak orang yang tahu perjalanan kami dan sudah menodong oleh-oleh sebelumnya, kami harus pikirkan juga sekedar buah tangan buat teman-teman kami. Akhirnya membengkak lah pengeluaran dan bawaan kami. Hanya sekitar 1 jam kami di Pasar Seni Sukawati, tapi keluar kami membawa 4 kantong plastic besar. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyusun plastic-plastik tersebut supaya tidak terlalu banyak. Dan setelah dimasukkan di tas2, akhirnya sisa 2 kantong plastic saja yang harus digantungkan di motor.

Tujuan berikutnya : Nuri’s Restaurant. Ini dia yang dari tadi kami incar, bahkan sebelum kami memulai perjalanan kami di Bali. Ike sudah diwanti-wanti oleh temannya untuk jangan lupa mampir di Nuri’s Ubud, ada Iga Babi (maaf ya, ini makanan nggak halal :D) Bakar enak banget disana. Kembali mengandalkan GPS, kami meluncur lagi ke arah Ubud. Setelah beberapa kali bertanya pada orang, akhirnya kami sampai juga di Nuri’s. Untungnya kami sampai sana sore jam 4, jadi nggak banyak pengunjung di Nuri’s. Kabarnya, kalau jam makan siang atau malam, ramai banget bisa sampai antri pakai nomor.

Dibanding restoran, Nuri’s lebih mirip warung sih. Berada tepat di pinggir jalan raya, tempatnya seperti pondokan kayu terbuka. Nah karena sedang sepi, kami bisa memilih duduk dimana saja. Kami pilih duduk di meja besar di pinggir, dekat jalan raya, dan dekat pula dengan panggangan. Iga yang sudah dibumbui akan dimasak di dekat kami, jadi kami bisa melihat prosesnya. Tapi karena sudah sangat lelah menempuh perjalanan dari tadi, ditambah sebenarnya kami sudah lapar dari tadi siang, selesai duduk dan memesan, kami malah santai-santai sambil membuka gadget masing-masing, lupa memperhatikan proses pembakaran pork ribs pesanan kami. Dan lupa pula foto-foto disana. 😀

Sekitar 10 menit setelah kami memesan, datanglah pesanan kami : 1 pork ribs (ukurannya besar, jadi cukup untuk berdua), 2 nasi, 1 mashed potato. Segera saja kami santap hidangan menggiurkan itu. Dan ternyata, rasa pork ribs nya emang juara, sodara-sodara. Manis dan garing-nya pas, ditambah sambal yang disediakan di meja dan bisa diambil sesuka hati, juga uenak tenan. Paduan yang sangat memanjakan lidah. Mashed potato sebenarnya pesanan ‘salah’ karena kami masing-masing telah memesan 1 porsi nasi. Tapi karena aku membaca referensi di blog orang lain kalau mashed potato-nya harus banget dicoba, alhasil tetap saja kami pesan. Dan ternyata rasanya emang luas biasa enyakkk… Rasa kentang alami ditambah sentuhan keju (entah keju mozzarella atau parmesan) yang benar-benar bikin nagih. Meskipun sudah kenyang, tapi rasanya sayang jika menyisakan mashed potato seenak itu.

Setelah kenyang, kami nggak langsung berangkat lagi. Duduk dulu sebentar, sambil menunggu makanan tersebut turun. Nggak enak juga duduk lama di motor dengan perut begah kan? Tak lama, Nuri’s mulai ramai pengujung. Saking ramai-nya, meja kami pun akhirnya share dengan 3 turis lain yang ternyata dari Singapore. Sedikit ngobrol-ngobrol dengan bahasa Inggris sebisanya, turis itu sampai kaget begitu tahu rute perjalanan kami selama seminggu. Lebih kaget lagi karena kami hanya berdua, wanita, dan naik motor. Haha…

Oke, sudah cukup ngobrol-ngobrol. Sudah jam 5.20, dan kami harus segera berangkat menuju destinasi berikut di Danau Batur. Kalau menurut GPS sih hanya 30-an km, paling 1 jam perjalanan, pikirku. Dan mulailah GPS beraksi lagi.

Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, aku heran, kok belum masuk wilayah Kintamani atau Batur ya? Dari langit masih terang, kami masih menikmati sedikit pemandangan (nggak bisa banyak-banyak karena takut kemalamam di jalan), hingga matahari terbenam dan langit sudah gelap. Peta di GPS menunjukkan jarak yang masih cukup jauh, entah berapa km. Ike sampai tanya “Masih jauh, Gi?” dan aku hanya bilang “Lumayan.” Padahal GPS menunjukkan jalan yang sedang kami lalui masih lurus selama 8 km, setelah ganti nama jalan di GPS lurus lagi 9 km. Aku nggak tega kasih tahu Ike km-nya, takut dia shock. Jalanan entah apa itu namanya, aku sudah lupa, ternyata lurus dan panjang banget, jauh lebih panjang daripada jalan Panjang di Jakarta.

Karena gelap, dan dingin, Ike sempat merasa nggak nyaman (sama sih, aku juga) dan sempet berpikir dalam hati, yang baru diceritakan setelah kami sampai tujuan, kalau sampai malam kami nggak menemukan hotel tujuan kami, Segara Hotel & Resto, mungkin kami akan menginap di rumah warga saja. Secara sudah jam 7 malam, dan kami nggak tahu kami ada dimana. Biar deh, biaya pemesanan hotel kami hangus, daripada kami tersesat di antah berantah.

Sesudah cukup jauh, dan kami menemukan warung yang menjual bensin, kami berhenti untuk isi bensin sekaligus tanya arah pada orang. Soalnya di jalanan yang panjang banget tadi, ada sih beberapa rumah warga, tapi di jalanannya sudah sepi sekali, hampir nggak ada orang di luar rumah. Puji Tuhan, kata penjaga warung itu, kami sudah nggak terlalu jauh dari tujuan. “Pertigaan depan ini belok kanan, trus turun ke bawah ke arah danau Batur, nanti hotelnya dekat kantor polisi”.

Kami melanjutkan lagi perjalanan kami, setelah belok kanan, ternyata jalanan sangat gelap dan sepi. Ada sih beberapa mobil, tapi tetap saja sepi. Pas jalanan di depan kami terpecah dua, serong kiri ke arah bawah, ke kanan lurus, kami mengambil kanan. Tapi GPS langsung berisik “turn left, turn left”. Oia, kan kata penjaga warung tadi, turun ke bawah, berarti harusnya kami ambil serong kiri yang agak curam ke bawah. “Yakin, Gi?” tanya Ike ragu-ragu mengingat medan jalanan yang sedikit beresiko.

“Iya, yakin,” kataku pede, meskipun sedikit takut juga. Soalnya aku yakin penjaga warung tadi benar.

Akhirnya kami putar balik dan menyusuri jalanan yang curam turun ke bawah. Beneran, itu curam. Dan gelap. Untungnya di depan kami ada mobil, jadi kami bisa melihat jalanan agak jauh ke depan. Aku bilang ke Ike untuk pelan-pelan saja, mengikuti mobil di depan aja, jadi kami nggak berasa sendirian di jalan gitu. Setelah mengikuti mobil itu, sampailah kami di pertigaan. Kalo mencari kelurahannya, papan penunjuk jalan menunjukkan kanan. Ya sudah kami mengikuti papan penunjuk jalan ke kanan, tapi lama-lama jalanan tambah sepi dan gelap. Kami jadi ragu-ragu dan beberapa kali putar-putar. Hingga kami melihat warung dan ada beberapa bapak-bapak duduk disana. Langsung saja kami bertanya dimana hotel kami.

Rupanya bapak-bapak itu semua tahu dimana hotel kami. Dan salah satu dari mereka berbaik hati mengantarkan kami ke hotel. Ternyata dari pertigaan tadi harusnya kami ke kiri, dekat banget dari pertigaan itu, mungkin hanya 50 meter. Setelah sampai, kami mengucapkan terimakasih dan langsung check in. Di restoran di bagian depan hotel  cukup ramai dengan beberapa tamu bule. Tapi saking capeknya, kami langsung ke kamar dengan membawa barang-barang kami yang sebarek-abrek itu : tas baju Ike, 2 kantong plastik belanjaan, 1 tas tenteng punyaku, tas ransel Ike, tas kain isi belanjaan, dan tas selempang punyaku.

Masuk kamar, lega rasanya akhirnya perjalanan kami sepanjang hari ini berakhir. Meskipun kamarnya nggak asyik karena fasilitas sangat minim. Bayangkan, nggak ada tempat sampah! Bahkan di toilet juga nggak ada. Nggak ada keset juga, akhirnya kami memutuskan untuk tetap memakai sandal kami di kamar, karena nggak yakin lantainya bersih.

Karena udara dingin, dan di hotel ada restoran, kami memutuskan untuk mencari minuman hangat, dan mungkin cemilan. Setelah melihat-lihat menu, sepertinya tidak ada makanan yang menarik. Lagipula kami masih agak kenyang karena baru jam 5 sore tadi makan kenyang di Nuri’s. Kami hanya memesan susu hangat dan jeruk hangat. Tapi ternyata hanya susu kental manis dan sirup jeruk yang diberi air panas. Dan setelah kami memesan pun, restoran akan segera tutup. Ya sudahlah, hanya sebentar kami di restoran, mungkin hanya 10-15 menit, dan kami masuk ke kamar.

Karena sudah kecapekan di perjalanan yang jauh banget hari ini, di kamar kami langsung tiduran di tempat tidur masing-masing. Tetap ngobrol sih seperti biasa, tapi hanya sebentar trus aku ketiduran karena cuaca dingin enak untuk tidur. Kupikir Ike juga langsung tidur, eh besok paginya dia bilang kalo dia susah tidur karena suasana kamar yang agak creepy creepy gimana gitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s