UNFORGETTABLE BALI TRIP – 7 (End)

Day 7. 8 November 2013

Kami bangun agak pagi, karena akan dijemput untuk rafting sekitar jam 8. Setelah semua siap sedia, pas jemputan kami datang. We’re coming…

Begitu naik mobil, sudah ada 2 orang di kursi paling belakang, sepasang cowok-cewek. Ike spontan menyapa “good morning” karena dari hari pertama kami lebih banyak ketemu turis asing daripada domestik. Kalo lihat mukanya sih mungkin orang Taiwan. Eh ternyata orang Jakarta yang sama-sama beli paket rafting dari Groupon. Hahaha…

Ngobrol sedikit di perjalanan dengan teman semobil kami yang ternyata newlyweds lagi honeymoon. Seru juga mereka, suami istri sama-sama doyan jalan. Hampir tiap weekend mereka jalan-jalan, dari yang dekat sampai yang jauh. Keren!

Sesampai di tempat tujuan, tas-tas kami langsung dikumpulkan untuk kemudian disimpan dan dibawa ke tempat kami ‘mendarat’ nanti. Ya, sungai mana ada yang memutar toh? Tak lama kami langsung diberi peralatan rafting, helm dan jaket pelampung.

Ditemani seorang guide, kami menyusuri jalan menurun menuju Sungai Ayung. Sambil membawa dayung yang lebih tinggi dari badan. Jauh juga, menyusuri sawah sampai tangga menurun yang nyaris tak berujung. Lebayyy…

Setelah 10-15 menit kami akhirnya sampai di titik pemberangkatan. Lokasi nya bagus, di tengah-tengah pepohonan rimbun khas Ubud. Dan kami pun langsung foto-foto. Haha… Narsis-nya muncul, apalagi begitu tahu kalo teman seperjalanan kami yang akhirnya menjadi teman se-perahu, bawa kamera anti air yang bisa dibawa menyelam hingga kedalaman 12 meter. Wuihhh…

5 menit narsis, langsung kami dikomando untuk masuk perahu. Dengan posisi duduk yang telah ditentukan. Briefing selama beberapa menit, kami diberi pengarahan mengenai istilah yang akan digunakan sebagai petunjuk, hingga gerakan-gerakan yang harus kami lakukan sesuai petunjuk. Karena ini pertama kali aku dan Ike ikut rafting, cukup deg-degan juga sebenarnya. Tapi toh dari awal kami sudah melakukan kegiatan menegangkan seperti parasailing, so rafting is just another thing to do. Hehehe…

IMG-20131114-WA0242

IMG-20131114-WA0241

Mulailah perahu kami bergerak. Dengan memegang dayung masing-masing, kami mengikuti setiap instruksi dari instruktur (ya lebih cocok disebut instruktur daripada guide). Arusnya sih nggak ngeri-ngeri amat, bahkan cenderung aman untuk rafting. Jarang ada arus yang deras sekali, kalaupun ada yang deras masih kategori sedang. Medan sungai-nya nggak terlalu banyak batu-batu tajam dan aliran deras nan curam, aman lah pokoknya. Bahkan ada beberapa tempat yang alirannya tenanggg… banget. Nggak tahu juga apakah sungai Ayung ini memang pas untuk pemula seperti kami, atau semua sungai untuk rafting seperti itu, ada kalanya air tenang menghanyutkan. Hahaha…

IMG-20131205-WA0000

IMG-20131205-WA0002

Yang jelas, di sisi sungai Ayung terdapat beberapa pahatan di batu yang menceritakan kisah Ramayana. Entah bagaimana baca-nya, I’m not a good reader. Instruktur berhenti di beberapa tempat yang terdapat ukiran, menceritakan sekelumit kisahnya, dan membiarkan kami turun (jika ada tempat berpijak) untuk foto-foto disitu, plus difotoin sama dia. Yah, dia tau lah nggak mungkin kami melewatkan kesempatan untuk narsis kan. Apalagi dia lihat kami, eh tepatnya pasutri teman kami itu, bawa kamera yang stand by di tangan dan anti air pula, jadi pasti digunakan buat foto-foto pemandangan dan narsis kan?

Perjalanan berhenti di beberapa tempat, selain yang ada pahatan, juga beberapa tempat yang unik, seperti air terjun mini. Jadilah kami difoto dengan dihujani air dari atas. Percaya deh, udah pakai helm aja, berasa sakit ketimpa aliran air deras di atas kepala.

IMG-20131205-WA0005

IMG-20131205-WA0006

Kami melanjutkan perjalanan. Instruktur menceritakan bahwa kami mendapat rute terjauh dari paket rafting sungai Ayung itu. 12 km. Jadi kami turun ke sungai duluan, dan naik belakangan. Pantas saja di perjalanan, banyak kami temukan perahu-perahu, baik yang masih parkir, ataupun sudah berangkat dari perusahaan rafting lain. Dan di tengah perjalanan, banyak berpapasan dengan perahu-perahu lain juga.

Yang paling lucu adalah perahu di belakang kami yang diisi 1 keluarga bule : ayah, ibu, dan 2 orang anak. Anak yang besar cowok umur sekitar 9-10 tahun, mendayung dengan penuh semangat. Sementara si kecil yang berumur kurang lebih 3 tahun, duduk di antara orang tuanya dengan helm kebesaran dan muka ketakutan, tak ketinggalan pula jeritan melengking yang membuat kami beberapa kali nengok. Anak kecil itu lucu bak boneka, tapi badannya tegang dan mukanya mengkerut tanda stress berat dengan situasi sekelilingnya, sementara orang tua nya malah tersenyum lebar melihat kami beberapa kali menertawakan anaknya. Dasar orang bule, anak balita gitu udah dibawa-bawa berpetualang. Pantas saja orang bule nyali nya tinggi, dari kecil sudah dibiasakan sih sama orang tuanya.

Perjalanan kami di sungai Ayung mungkin berlangsung sekitar 1,5 jam, termasuk stop di beberapa titik. Salah satunya adalah di warung pinggir sungai, yang menjual aneka minuman. Aku dan Ike sih sudah sepakat nggak beli apa-apa karena tahu harganya pasti mahal. Eh pasutri itu iseng-iseng tanya harga, air mineral botol isi 600 ml aja harganya 20.000. Jreng! Lebih mahal dari bayangan kami. Batallah niat mereka membeli minuman. Alasannya harga semahal itu sih karena turun dari daratan ke titik itu tuh jauh banget. Yeah, we know. Tapi untuk kami harga segitu nggak worth it lah.

Tanpa membeli apa-apa, kami melanjutkan lagi perjalanan. Setelah dari ‘warung’ itu, kami berpisah dengan perahu si anak bule lucu tadi. Sayang banget, padahal hiburan juga melihat anak tadi berteriak ketakutan waktu melewati jeram dengan helm kebesaran yang bergoyang-goyang di atas kepalanya. Bahkan instruktur kami pun kadang meledek anak itu dan orang tuanya malah nyengir aja.

Setelah hampir sampai di perhentian terakhir, instruktur menyuruh kami loncat ke sungai. Aku yang nggak bisa berenang tentu saja takut. Dia bilang, tenang aja ada pelampung, dan nggak usah berenang juga bakal kebawa arus. Lah kalo bablas? Karena semua kecuali instruktur sudah nyebur, terpaksa lah aku ikutan nyebur. Airnya enak, dingin. Dan benar saja, tanpa harus berenang pun badan sudah kebawa air. Masalahnya adalah gimana menepi nya? Aku di tengah-tengah menjorok ke sisi lain sungai. Ternyata airnya cuma sedada, jadi aku berdiri sekokoh mungkin dan berusaha berjalan ke pinggir tempat perahu menepi. Fiuhhh…
Dan perjuangan baru pun segera dimulai. Perjalanan menanjak tangga yang jumlahnya ratusan. Welehhh…

Tergempor-gemporlah kami menaiki tangga demi mencapai meeting point berikutnya. Disana kami akan mandi, berganti baju, dan makan siang, yang sudah termasuk dalam paket rafting kami. Dan harganya hanya Rp 165.000/orang. Murah kan? Bayangkan, setahun lalu aja rombonganku nggak jadi rafting karena katanya rafting bisa sampai Rp 500.000/orang., kini dengan harga sepertiganya aku sudah dapat paket rafting + buffet lunch (antar jemput bayar sendiri, cuma Rp 50.000/orang pp). Kuncinya : rajin-rajinlah searching paket di website macam Livingsocial atau Groupon dan sejenisnya.

Selesai mandi, kami langsung menuju restoran tempat makan siang kami tersedia. Menunya sih nggak terlalu spesial, tapi lumayan lah. Ada nasi goreng, salad, sup, sayur, ayam masak apa gitu (maap lupa :D), buah-buahan. Sayangnya minuman yang tersedia cuma air putih. Sedangkan habis rafting gitu, rasanya dehidrasi kurang terpuaskan dengan air putih. Jadilah aku nambah pesan chocolate milkshake yang harganya “cuma” Rp 25.000 berikut pajak. Bandingkan dengan air mineral di pinggir sungai tadi.

Karena lokasi kami di Ubud, tentunya pemandangan yang disuguhkan adalah hamparan sawah. Begitu pula view dari restoran kami, dari agak jauh terlihat sawah menghijau dengan beberapa pepohonan di sisinya. Segar juga lihat hijau-hijau begitu setelah beberapa waktu lihatnya pantai terus.

IMG00131-20131108-1303

Selesai makan, aku dan Ike memutuskan untuk patungan beli CD berisi foto-foto kami waktu rafting. Lumayan lah untuk perbendaharaan. Lalu kami berempat patungan untuk kasih tip ke instruktur kami yang selain membantu di perahu, juga banyak ambil foto-foto yang surprisingly hasilnya oke banget.

IMG-20140621-WA0003

Lalu kami meluncur pulang ke hotel masing-masing. Karena capek, akhirnya aku sempat tertidur entah berapa lama. Maklum, sore hari kami masih akan berkeliling lagi.

Sore hari kami memutuskan untuk memakai voucher terakhir kami. Semacam waterpark gitu, lokasinya masih di Kuta. Begitu kesana, ternyata waterpark nya biasa aja. Nggak seperti bayanganku. Dan banyakan anak kecil pula, jadi agak malas. Tapi karena voucher udah dibeli, ya mau nggak mau dipakai toh. Dari awalnya mau menghabiskan waktu sampai agak malam disana, jadi hanya 2 jam saja. Itupun banyak bengong jalan-jalan di dalam air aja. Maklum, aku nggak bisa berenang, tapi doyan main air.

Sebelum gelap, kami sudah cabut dari situ. Dan mampir ke pusat oleh-oleh yang letaknya nggak jauh dari situ. Belanja-belanji. Bukan beli oleh-oleh sih, kebanyakan buat keperluan sendiri, dari body scrub sampai kripik aneh-aneh kesukaan Ike. 😀

Dan malam terakhir kami di Bali dihabiskan dengan kongkow-kongkow di pojok lantai 2 hotel, yang kalau pagi digunakan untuk sarapan. Meja kursi anyaman rotan tinggal pakai, tentu saja kami gunakan untuk ngobrol sampai menjelang pagi dengan 3 teman kami. Hingga akhirnya kami harus tidur beberapa jam karena besok sebelum tengah hari kami harus sudah check out dan kembali ke Jakarta.

Tidak banyak yang kami lakukan di hari terakhir, selain beres-beres bawaan kami yang menggunung. Dan pada akhirnya kami menuju bandara Ngurah Rai menggunakan taksi. Oya, sekarang bandara Ngurah Rai udah keren abis. Terminal keberangkatan domestik sudah kayak di luar negeri aja, full karpet. Tapi belakangan terminal domestik dan internasional ditukar, jadi yang berkarpet untuk internasional. Yahh… Untungnya terminal domestik terkini juga nggak kalah keren sih.

So, that’s it. That’s the unforgettable trip that change my perspective forever. Aku, yang nggak pernah berpikir kalau travelling adalah kebutuhan, kini sedikit-sedikit bawaannya pengen travelling, hunting tiket murah, buka-buka travel blog, baca buku-buku travelling, dll untuk mengobati keinginan travelling yang belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Now for me, travelling is a must, at least twice a year. Let’s see where my next trip will be.

Advertisements

2 thoughts on “UNFORGETTABLE BALI TRIP – 7 (End)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s