Turis-turis Lain

Selama traveling ke beberapa tempat, tentu banyak juga ketemu sesama traveler ataupun turis lain. Aneka ragam bentuk, penampakan, dan kelakuan, dari yang aneh sampe ajaib kadang buat perjalanan jadi seru. Seru untuk bergosip maksudnya. 😀

Bule tukang tiup

Di boarding lounge bandara Ngurah Rai yang padat karena ada beberapa flight yang delay, aku dan Ike duduk mencar karena nggak ada kursi kosong sebelahan. Eh ada dua orang cowok bule, mungkin umurnya 20-an awal kalo lihat dari tampilannya, satu duduk ngedeprok di lantai, satunya di kursi. Yang satu pakai kacamata dan cakep, yang satu lumayan tapi entah kenapa nggak menarik perhatian. Selama seminggu di Bali, bule berkacamata itulah bule paling cakep yang aku temui. Nggak lama, pemberitahuan pesawat yang akan berangkat terdengar dan beberapa orang pun berdiri dari tempatnya, jadi aku bisa duduk sebelahan dengan Ike. Aku bisik-bisik sama Ike ngomongin si bule cakep. Ike juga bilang tadi dia liat bule cakep, mungkin orang yang sama. Eh pas lagi diomongin, tuh dua bule pindah duduk, di kursi depan kami, berhadap-hadapan dengan kami!

Ternyata bule cakep yang kami omongin beneran orang yang sama. Begitu orangnya duduk di depan dengan muka menghadap kami, rasanya mau ngakak. Kami sih senang aja, cuci mata ngeliatin bule lucu (baca : cakep) sambil nunggu panggilan boarding. Tapi kelakuan tuh bule agak-agak ajaib. Sambil ngobrol-ngobrol, mereka ketawa-ketawa. Yang paling aneh adalah si bule berkacamata ngocok-ngocok kotak wafer Tango yang dikeluarin dari kresek yang dia pegang. Dan sambil ngocok-ngocok, dia ketawa dengan bahagia sambil ngoceh ke temannya. Hmmm…

Habis dikocok-kocok, wafer Tango dikeluarin dari kotaknya. Dan tuh bule ngeliatin ke dalam kotak wafer, trus baca keterangan yang tertulis di luar kotak, habis itu dia tiup-tiup ke dalam kotak. Sambil ketawa-ketawa dengan wajah bahagia. Apa coba yang menarik dan membahagiakan dari sekotak wafer Tango? Trus tiup-tiup lagi, ketawa-ketawa lagi. Selama beberapa waktu. Aku dan Ike jadi ngernyitin jidat ngeliatin kelakuan tuh bule. Cakep sih cakep, tapi aneh!

Panggilan boarding pesawat kami terdengar. Ternyata tuh bule satu pesawat sama kami menuju Jakarta. Tapi mereka duduk di agak depan, sedangkan kami di kursi no 20-an lah. Tau nggak? Di dalam pesawat, suara ketawa dua bule itu terdengar sampai ke tempat duduk kami. Kok tahu suara ketawa-nya? Karena setengah jam mereka duduk di depan kami sambil ketawa terus, ya hafal lah. 😛

Bule dan teman mamanya

Di pulau Nusa Lembongan, aku dan Ike makan siang di Warung Made, yang direkomendasikan di blog traveler yang udah pernah ke situ. Katanya makanan disitu harganya sedang, nggak mahal-mahal amat lah untuk turis lokal. Dan pas keliling-keliling ketemu pula dengan Warung Made, jadi mampirlah kami kesitu.

Sebelum kami datang, hanya ada seorang ibu-ibu bule berumur mungkin 60-an dengan teman semeja ibu-ibu orang Indonesia yang mungkin berumur akhir 40-an tapi bajunya berasa muda dengan tank top ketat. Mereka asik ngobrol dengan bahasa inggris, rupanya si ibu Indonesia lumayan fasih berbahasa Inggris.

Lalu di jalanan, lewatlah seorang bule cowok naik motor agak pelan dan menengok ke arah warung. Ganteng euy bule-nya. Sayangnya dia nggak mampir sih, terus aja motornya. Tapi sekitar 15 menit kemudian, bule ganteng itu masuk warung. Perkiraanku sih umurnya akhir 20-an atau awal 30. Lalu bule itu nyamperin si ibu bule yang dari tadi nongkrong sebelum kami itu. “Mom,” katanya.

Oo… Ternyata itu mama-nya. Si ibu bule yang makanannya sudah habis kayaknya emang nunggu anaknya karena nggak lama setelah si bule ganteng datang, mereka langsung cabut. Tapi, sebelum capcus, si bule cipika ibu Indonesia teman mama-nya sambil bilang “Honey”. What??? Aiuhuvjbpjwerbtbagsugugerutgbugubutuasworjh…

Hongkong teenage couple

Di Singapura, guesthouse kami punya beberapa kamar yang disewakan. Salah satu-nya adalah kamar di samping dapur yang harganya lebih murah daripada kamar kami di atas. Untung kami pilih kamar di atas yang ada jendela-nya menghadap luar, kalau di bawah jendela nya menghadap kamar mandi.

Suatu malam, sepulang dari jalan-jalan, kami turun ke dapur mau nyeduh minuman coklat. Eh di dapur ada seorang cewek muda. Berhubung host kami bilang ada tamu cewek dari Jakarta juga, kami pikir dia orangnya. Begitu diajak ngomong, ternyata bukan. Dari Hongkong, dengan teman cowok-nya yang masih ada di kamar, terlihat dari pintu yang sedikit terbuka.

Niatnya cuma sedikit beramah-tamah, akhirnya cewek Hongkong itu ngajakin foto berempat. Abis foto pakai smartphone-nya (semua handphone kami di kamar, kan niatnya cuma nyeduh minuman), kami ajak ngobrol sedikit. Ternyata pikiran kami kalau orang Hongkong jago bahasa Inggris salah total. Cewek itu bahasa Inggris-nya minim dan nyebut-nya juga nggak jelas. Chinglish, istilah temanku.

Setelah cerita singkat dari mana asal, ngapain ke Singapura, baru kami tahu kalo mereka baru lulus SMA dan ambil liburan berdua. Pantas muka-nya masih muda banget. Eh habis itu si cewek malah cerita panjang lebar sudah kemana aja dan mau kemana aja, sambil ngeluarin buku travel guide Singapore, catatan-nya dalam tulisan Mandarin, dan foto-foto di smartphone-nya. Udah gitu, ngomongnya dalam bahasa Inggris patah-patah pula. Lamaaa…

Begitu nemu celah, kami potong omongannya dengan halus dan naik ke kamar. Dan si cewek yang pake daster tanpa dalaman itu akhirnya juga masuk ke kamar, si cowok (katanya sih temannya) udah nunggu disana. Temanku langsung bilang, jangan tanya mereka ngapain aja di kamar ya. Oops…

Ramenya turis asal Cina

Waktu ke Phuket, sering banget kami ketemu rombongan turis asal Cina alias Tiongkok. Dari yang rombongan keluarga yang satu mobil, sampai rombongan nini-nini di tur ke Phiphi Islands. Yang sangat identik dari para turis asal negeri Panda ini adalah cara bicaranya. Bayangkan, dalam satu mobil ada sekeluarga berisi 6 orang, mereka ngobrol berdua-dua dengan volume kencang kayak orang berantem. Lalu dalam 1 speedboat besar berkapasitas 100-an orang menuju Phiphi Islands, 3/4 nya adalah turis dari Tiongkok yang mayoritas ibu-ibu tua (baca : nenek-nenek). Selama kapal terombang-ambing di tengah laut sih mereka diem aja (baca : mabok), tapi begitu kapal berhenti untuk snorkeling, mulai lagi lah suara-suara nyaring terdengar dimana-mana. Hadehhh…

Udah gitu, mereka sering banget buang riak di depan umum. Haduhhh… Kadang sampe jijay sendiri liat para turis Cina itu berbunyi “Hoek… Cuih…” di sana-sini. Eww… Jadi ingat cerita mbak Trinity (author The Naked Traveler) tentang joroknya negeri Cina.

Selain itu, seiring dengan jumlah penduduknya yang terbanyak di dunia, pergi kemana pun, pasti ketemu turis asal Cina. Mau di Nusa Lembongan Bali, Singapura, sampai Phuket Thailand, they’re everywhere. And everywhere they’re loud. 😀

Sebagian kecil turis RRC di speedboat
Sebagian kecil turis RRC di speedboat

Cowok traveling berdua = gay ?

Menurut teori temanku, kalo cewek pergi traveling berdua itu wajar, karena cewek lebih senang ada temannya. Lihat aja kalo cewek mau ke toilet, pasti ajak teman kan? Tapi kalo cowok traveling berduaan sesama cowok, kemungkinan besar mereka gay. Aku sih awalnya nggak begitu percaya teori itu, sampai aku lihat sendiri sepasang cowok di rombongan tur kami.

Dua cowok bule, yang 1 tinggi, yang 1 agak pendek. They seem nice, cukup murah senyum juga sama peserta tur lain. Temanku yakin banget mereka gay, tapi aku nggak. Akhirnya aku memperhatikan mereka selama beberapa lama. Dan sepertinya temanku benar. Gesture si bule pendek agak lemah lembut alias gemulai, trus kalo ngomong agak halus. Ternyata, mereka berdua pakai gelang couple!

Ada lagi 2 orang cowok di tur yang sama, 1 bule 1 hitam. Kan mereka berdua juga tuh. Aku jadi ikut mengamati mereka berdua yang kalo dari logat bicaranya sih tebakanku orang Australia atau Inggris. Tapi gesture, gerak-gerik, sampai cara bicara mereka maskulin. Kami sempat foto dan ngobrol juga sama mereka yang ternyata asal London, waktu mampir di pulai Khai yang hari itu super sepi karena tur lain banyak yang batal akibat ombak tinggi, and they are very manly. Kesimpulanku, mereka berdua bukan gay.

So, cowok traveling berdua nggak selalu gay. Some of them yes, we can see it from their gestures and acts. Selebihnya, mereka cuma dua cowok yang punya hobi sama : traveling.

Ini duo asal London yang bukan gay
Ini duo asal London yang bukan gay

Sesama Indonesia

Kalo lagi jalan-jalan di negeri orang trus ketemu saudara sebangsa, rasanya tuh gimana gitu deh. Kayak ketemu teman lama, padahal belum kenal. Iya nggak sih? Itu sih yang aku pikir.

DI Phuket, aku ambil tur 2 hari, ke James Bond Island dan Phiphi Island. Ternyata selain kami berdua, ada trio cewek asal Indonesia juga, sebut saja si manis, si gempal, dan si hijab, ambil paket yang sama dengan kami. Aku baru ngeh waktu dengar mereka ngobrol pas makan siang di atas kapal di hari pertama tur ke James Bond Island. Tapi aku nggak nyapa, entah kenapa rasanya mereka kurang friendly padahal aku yakin mereka juga tahu kami orang Indonesia, wong kami ngobrol bahasa Indonesia dekat mereka kok. Ya sudahlah, aku ngobrol sama temanku saja.

Sepanjang perjalanan di atas kapal, mereka ambil spot di paling belakang kapal, dan foto-foto narsis alias selfie. Terus-terusan. Dan selama aku lihat, foto-foto yang mereka ambil adalah foto mereka sendiri, dengan background laut. Nggak doyan foto pemandangan kali ya. 😛

Begitu juga besoknya, di pulau Khai, mereka bertiga sibuk foto-foto sampai hampir ketinggalan kapal balik ke Phuket. Bujug dah narsis-nya, selfie meluluuu… Padahal dari jauh aku sudah kasi kode ke si hijab kalo udah pada balik ke kapal, dan dia ngangguk tanda ngeh. Sampai diteriakin sama guide (tapi kayaknya guide nggak tahu aku dan temanku juga orang Indonesia, karena dia teriak di samping kami sambil sedikit ngedumel soal mereka bertiga), “Hey, Indonesia!” Dan mereka masih asik selfie! Ampunnn… Lalu waktu di pesawat kembali ke Jakarta, kami satu pesawat dengan trio itu, si manis duduk di deretan seberang, 1 baris di depanku. Di tengah penerbangan, dia ngeliat foto-foto di smartphone-nya. Nggak heran, mayoritas foto penuh dengan wajah mereka, bukan pemandangan. Hehe…

Salah satu kejadian nggak enak antara kami dan mereka di hari ke-2 tur, di Phiphi Island. Kan ada waktu snorkeling, aku tentu saja nyebur dunk, udah sewa fin juga. Tapi aku nggak lama snorkeling karena pemandangan bawah laut-nya kurang nafsuin. Pas aku mau naik, temanku udah naik duluan dan dia nungguin aku di pinggir kapal untuk bantu aku naik. Tapi si manis naik duluan sebelum aku, dan akhirnya sekalian dibantuin sama temanku. Eh, dia langsung melengos pergi tanpa bilang terimakasih sama temanku dan dengan muka jutek. Grrr… Even if you can’t say thank you, at least don’t just throw away your face like that.

Tapi, di tur hari pertama kami juga ketemu orang Indonesia, kali ini cowok sendirian, yang awalnya kami kira turis dari Cina atau Taiwan. Hehe… Eh ternyata pas dia ngeluarin tissue basah, temanku ngeh merk dan kemasan plastiknya kayak kalo beli di Indom***t. Tapi kami nggak enak nyapa, takutnya salah, mungkin aja merk tissue itu memang begitu kemasannya di negara-negara lain. Di tengah perjalanan, dia yang nanya kami, “orang Indonesia juga?”

Akhirnya kami bertiga ngobrol di sisa perjalanan. Orangnya ternyata ramah. And surprise, kami juga satu pesawat dari dan ke Jakarta, berhubung sama-sama dapat harga tiket promo, Rp 412.000 Jakarta – Phuket PP (murah banget kan??? 😉). Dan kami ketemu lagi pas antri waktu mau boarding di bandara, dia di depanku. Meskipun nggak tahu nama dan lain-lain, rasa sebangsa buat kami cukup nyaman untuk ngobrol.

Anyway, 2 bulan setelah kejadian di Phuket, aku bertemu si manis di rest area Tol Cipularang. Karena aku ngenalin mukanya, hampir aja aku mau nyapa, “Hai, mbak yang di Phuket ya?” Tapi ngeliat mukanya yang jutek, aku mengurungkan niat. Daripada aku tampak culun, sok akrab sama orang yang belum tentu akan nanggapin sapaanku. Sepertinya, orang Indonesia yang pribadinya ramah tamah kini hanya ada di buku pelajaran anak SD ya? Hehe…

Penampakan

Sepulang dari Bali, keesokan harinya kami harus kembali ke rutinitas lagi. Jadi, selama belum sampai Jakarta, kami menikmati setiap momen dengan foto-foto ada apa yang bisa dijadikan objek foto, dan tentu saja selfie.

Di bandara Ngurah Rai, September 2014, sambil menunggu panggilan boarding kami foto-foto di beberapa spot. Termasuk di boarding lounge, kami selfie, pake pocket camera. Berhubung handphone kami kurang bagus untuk selfie, jadilah kami pake pocket camera dengan mengira-ngira posisi yang pas.

Setelah ambil foto, kami langsung cek hasilnya. Eh, di salah satu foto, di belakang kami yang sedang duduk, ada penampakan cowok kearab-araban nyempil di atas dan persis tengah-tengah kepala kami berdua sambil nyengir lebar. Kami kaget. Langsung nengok. Nggak ada orang. Lho?

Tenang, bukan hantu kok. Si cowok kearab-araban itu dan pasangannya tadinya memang duduk di deretan bangku yang membelakangi kami. Sekarang dia pindah duduk agak jauh dari kami, mendekat ke jendela. Entah gimana, dia bisa ngeh pas kami mau foto dan tepat waktu memunculkan wajahnya yang sumringah disitu. 😀

Pede abis tuh orang ikutan nimbrung foto orang yang nggak dikenal :D
Pede abis tuh orang ikutan nimbrung foto orang yang nggak dikenal 😀
Nah tuh dia pelaku penampakan dari jarak jauh
Nah tuh dia pelaku penampakan dari jarak jauh

Pasutri traveler

Di Bali tahun 2013, aku dan Ike bertemu sepasang pasutri muda di paket rafting yang kami beli di Grou**n. Mereka ternyata lagi bulan madu. Cerita punya cerita, ternyata pasutri ini doyan jalan-jalan. Tiap weekend, ya SETIAP weekend, mereka pasti jalan-jalan, entah ke pulau atau ke pantai, kemana aja yang memungkinkan deh.

Karena mereka udah jagoan dalam hal jalan-jalan, perabotan yang mereka punya lumayan oke lah. Mereka bawa waterproof pocket camera yang bisa dibawa nyelam sampe 12 meter. Wuihhh… Mantap kan? Akhirnya kami bisa nebeng foto-foto ria pakai kamera mereka, nanti kan tinggal minta foto-fotonya. Haha… Nggak juga deng, aku dan Ike beli CD foto kami berempat yang dijual setelah rafting, jadi kami punya foto-foto yang bisa dikirim ke mereka juga. Take and give lah. 😛

Kami pun tukeran pin BBM untuk memudahkan komunikasi perihal kirim-kiriman foto. Dan sampai hari ini, kalau kebetulan lihat status BBM si istri, kebanyakan jadwal trip mereka berdua. Ngirinya…

IMG-20131205-WA0005

Ditraktir!

Malam terakhir di Phuket, aku dan temanku keliling cari gerobak yang jual sate sosis barbekyu. Sampai di salah satu pasar, satu-satunya gerobak penjual barbekyu yang kami mau sudah kosong. Hix… Hunting lagi deh sekalian arah balik ke hotel. Siapa tahu nemu.

Eh, di jalan yang kami lewatin ada tuh. Gerobak pake tenda gitu dan ada meja-kursi. Sekalian juga ada bakmi dan teman-temannya. Kami akhirnya makan bakmi dulu, baru nanti dessert nya sosis barbekyu.

Lagi narik kursi, ternyata berbarengan dengan seorang bapak bule narik kursi persis di depan kami. Mau pindah duduk nggak enak. Tapi makan hadap-hadapan sama orang nggak kenal canggung juga kan. Akhirnya kami tetap duduk disitu, di depan bapak bule yang pesan 3 pcs ayam goreng.

“Coke or beer? What do you think?” Si bapak bule tanya kami.

Aku kaget, si bapak ramah bener. “It’s up to you,” kataku.

“I think Coke is better,” kata temenku.

“Okay. Three Cokes then,” katanya sama mbak-mbak pelayan warung itu sambil nunjuk kami. Waduh, kami dibeliin. Untung Coke, kalo bir kan repot, wong kami nggak minum bir.

Setelah itu, si bapak bule tanya-tanya asal kami. Katanya dia keinget 2 anak ceweknya yang seumur kami, 19 dan 20 tahun. Kami langsung nyengir. Asik, berasa 10 tahun lebih muda. 😀

Lama-lama si bapak cerita panjang lebar tentang dirinya. Asli Yunani, tapi sekeluarga tinggal di Australia dan jarang pulang Yunani. Katanya di Aussie emang penghasilan gede, tapi biaya hidup juga gila-gilaan. Dia aja ke Phuket untuk pijat syaraf, itupun dibayarin kantor. Nginep dan makan yang murah-murah aja lah, toh yang mahal udah cukup kaya, makanya dia lebih suka makan di warung pinggiran gitu ketimbang resto.

Tapi… Si bapak yang kelewat ramah ini nyerocos terus. Kami sampe susah makan, bingung gituh antara makan sama nanggepin ceritanya. Aku sih cuek aja makan dan minum sampe habis. Trus abis itu bingung gimana nyudahin nya. 😞

Eh belakangan dia sadar kayaknya kalo kami udah nggak ngunyah lagi. Dia bilang, nggak usah segan kalo udah mau pulang. Udah malem juga. Tapi abis itu, dia masih lanjut cerita juga. Hahaha… Kasian, mungkin dia lagi kepengen curhat.

Abis itu, begitu kami beneran mau cabut, kami bingung itu Coke tadi yang dipesenin dibayarin atau gimana? Eh si bapak minta pelayan warung hitungin total makanan dan minuman punya kami sekalian, dia yang bayar. Katanya dia senang ada teman ngobrol. Haha…

Tentu aja kami mengucapkan terimakasih. Dan foto sama dia. Mungkin nanti dia bisa liat mukanya sendiri di internet, begitu katanya. Of course, now I’m posting about you, Sir. 😊

Tapi… Karena dibayarin sama si bapak bule, kami nggak jadi beli sosis barbekyu. Takut dikira kami minta dibeliin sosis juga, padahal yang diincar awalnya emang sosis. Hix… Gagal maning. Harus merelakan sosis yang udah di depan mata, disitu kadang saya merasa sedih. 😢

Ini dia bapak bule ramah yang mentraktir kami
Ini dia bapak bule ramah yang mentraktir kami

Ketemu artis

Ceritanya sih aku dan Ike mau liat cliff jumping di Nusa Ceningan, Bali. Meskipun kami nggak bakal ikut loncat karena nggak bisa berenang.

Eh begitu ketemu tempatnya, ada yang lagi didandanin gitu. Kirain mau dipake syuting, jadi kami permisi. “Silakan,” kata yang lagi ngedandanin.

Setelah tiba di tempat tujuan yang lagi nggak ada orang cliff jumping (kayaknya karena air lagi agak surut), akhirnya foto-foto sampe puas. Trus aku mikir, itu yang lagi didandanin artis deh kayaknya. Mukanya familiar. Di belakang mereka ada 1 cowok gondrong yang kayaknya artis juga.

Eh, aku baru ngeh. X Factor! Itu Novita Dewi sama Alex Rudiart. Pantesan mukanya familiar. Hahaha… Jauh-jauh ke pulau terpencil ketemu artis. Minta foto ah.

Selesai Novita didandanin dan pas kami mau balik hotel, aku dan Ike minta foto. Diladenin sih, sama make up artist nya yang agak ngondek. Tapi kami nggak minta foto sama Alex, yang selama kami foto-foto sama Novita, nutupin mukanya pake kipas. Mungkin dia kepanasan atau nggak pede karena belum di-make up. *positivethinking

“Makasih ya, Mbak Novita. Sukses buat album baru-nya. God bless you.” Itu kira-kira rangkuman salam perpisahan dari kami berdua untuk Novita yang waktu itu mau syuting video klip.

CANON IXUS Theo 1091

Itu sebagian cerita dari turis atau traveler lain yang aku temui selama traveling. Nggak penting sih sebenarnya. Tapi lumayan juga kan buat bahan nulis di blog. Hahaha…

Advertisements

One thought on “Turis-turis Lain”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s