HUJAN-HUJANAN DI PHUKET (1)

Dua minggu pulang dari Bali, aku udah sakau jalan-jalan lagi. Sebegitu berkesannya deh perjalananku ke Bali November 2013 lalu, sampai mau tidur pun kebayang-bayang air laut biru bening atau jalanan berkelok-kelok dan menanjak menuju Singaraja. Hari pertama ke kantor, ngeliat jalanan Jakarta kayak hal yang baru gitu, padahal tiap hari juga lewat situ. Feels like a tourist karena kebanyakan jalan-jalan kali ya. 😛

Suatu hari di bulan November 2013, 2 minggu sepulangnya aku dari Bali, temanku menawarkan untuk ke Bangkok dengan harga tiket Rp 750.000 pp untuk tahun depan. Lumayan murah sih, tapi entah kenapa aku nggak terlalu tertarik ke Bangkok. Mungkin karena aku lebih suka wisata alam ketimbang wisata kota ataupun wisata belanja ya. Akhirnya aku mengusulkan ke Phuket, yang sudah terkenal keindahan lautnya.

Pucuk dicinta ulam tiba, agen tiket langgananku yang awalnya bilang ada tiket ke Phuket sekitar Rp 780.000 pp, pada menjelang sore mendadak ngabarin kalau ada tiket Rp 412.000 pp untuk September 2014. Langsung lah aku telepon temanku, yang dari tadi pagi masih galau dengan harga sebelumnya. Begitu mendengar cuma 400 ribuan, sikat! Pahit-pahit nggak jadi berangkat, rugi 400 ribu mah cingcay lah.

Untungnya tiket Air Asia nggak minta nomor paspor, jadi pemesanan langsung proses dan selesai. E-tiket pun masuk di email. Senangnya… Dapat tiket ke luar negeri murah begitu, lebih murah daripada tiket sekali jalan ke Bali. 😀

Sebulan sebelum keberangkatan, aku pun menyusun itinerary. Sambil mencari info paket-paket apa saja yang bisa kami ambil selama di Phuket. Setelah hunting, diskusi, dan memilah-milah, kami pun memilih paket standar : tur Phiphi Island dan James Bond Island untuk hari pertama dan kedua, dan city tour di hari terakhir sebelum kembali ke Jakarta. Lalu, kami hunting penyedia tur dan sewa mobil yang paling murah. Setelah banyak cari info di kaskus, akhirnya kami ambil penyedia tour paling beken seantero kaskus, dan sewa mobil yang recommended. Done.

Mendekati hari H, cuti sudah diambil dan persiapan sudah beres, eh muncul problem. Jadwal training kantor temanku baru dirilis, dan ada mandatory training yang harus diikuti pada tanggal kepergian kami. Jiahhh! Temanku pun galau, sedangkan cuti sudah diajukan dari jauh hari. Akhirnya temanku memutuskan tetap berangkat dan bilang ke bos di kantor bahwa ada urusan yang tidak bisa ditunda dan sudah mengajukan cuti beberapa bulan sebelumnya.

Hari H pun tiba. Sebelum ke bandara kami beli roti di bakery untuk bekal di bandara dan di Phuket nanti. Karena hotel yang sudah kami bayar tidak termasuk sarapan, jadi kami harus siap dengan perbekalan andaikata biaya breakfast di hotel ternyata jauh di luar budget kami. Plus nggak ketinggalan pula pop mie dan cemilan-cemilan lainnya. Hehe…

Kami sampai di bandara jam 12 lebih sedikit. Sedangkan flight jam 16.00. Daripada mati gaya, kami cari airport lounge yang bisa disinggahi aja deh. Di salah satu airport lounge, kami ditawari masuk free hanya dengan isi aplikasi kartu kredit Anz Travel Card. Wah, tentu aja nggak nolak. Aku emang lagi pengen punya kartu itu supaya bisa Starbucks gratis di airport dan demi mendukung profesi baru sebagai part time traveler. Hahaha… 😀

Duduk lah kami di dalam lounge sambil mengisi aplikasi dan ngemil-ngemil santai. Eh bujug, lounge nya panas bener. AC nggak gitu berasa. Entah emang AC di terminal 3 lagi nggak dingin, atau karena panas matahari yang terik banget sampai AC nggak berasa. Sesekali aku menyeka keringat, jadi bingung di airport lounge atau sauna. Fiuhhh…

Kami di lounge kira-kira sampai jam 15.15. Sisa waktu kami gunakan untuk ke toilet dan menunggu di boarding room supaya bisa santai.

Jam 16.00 pesawat take off dengan lama penerbangan 2 jam 50 menit. Jam 18.50 kami sampai di Phuket International Airport. There is no time difference between Phuket and Jakarta, begitu kata pilot sebelum pesawat landing. Asik, nggak harus ganti settingan jam.

Sesampai di airport, antrian di imgrasi amit-amit penuhnya. Loket imigrasi yang buka mungkin ada sepuluh, tapi tetap antrian panjang ke belakang. Habislah waktu hampir 1 jam untuk di imigrasi saja. Btw, airport Phuket nggak sebagus perkiraanku, agak jadul dan sedikit lebih baik dari Bandara Ngurah Rai sebelum direnovasi.

Selepas dari imigrasi, kami meminta sim card gratis yang disediakan di salah satu stand. Yup, disana tersedia stand provider True Move yang membagikan sim card gratis untuk turis, berikut petugas yang dengan senang hati memasangkan sim card dan menerangkan pemakaian serta pengisian pulsanya. Tapi isi pulsa nanti di 7 Eleven.

Selesai dari stand sim card, kami langsung ke area penjemputan dan mencari Mr. Aek, yang akan mengantar jemput kami dari dan ke bandara serta city tour nanti. Ternyata di luar hujan deras-ras-ras… Plus angin lumayan kencang. Untungnya pas pesawat mau landing, mulus-mulus aja. Hujan besar gitu bikin kebayang awan comulonimbus yang jadi salah satu penyebab jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501.

Setelah ketemu Mr. Aek (baca Ek, bukan Aek), kami langsung menaiki mobilnya sambil memasang sim card karena aku janjian via bbm dengan penyedia paket tour ke Phiphi Island untuk besok pagi. Kami meminta untuk mampir ke Weekend Night Market di kota Phuket dengan menambah 100 THB (1 THB = Rp 378) saja karena rencana awal cuma jemput bandara dan drop hotel.

Di perjalanan kami merasa ‘aneh’. Ini negeri orang tapi rasanya kayak negeri sendiri. Ya, bangunan dan bentuk jalannya mirip dengan di Indonesia. Entah kenapa rasanya kayak di pinggiran Jakarta gitu, jalanan besar tanpa gedung bertingkat tinggi. Haha…

Weekend Night Market nggak seramai yang kami bayangkan. Mungkin karena hujan yang baru berhenti dan masih menyisakan gerimis, jadi orang malas mampir. Kami pun cuma akan mampir sebentar saja, berhubung sudah malam dan besok pagi kami akan ikut tur. Berkeliling-keliling, banyak juga barang-barang yang bisa dibeli, masalahnya kami nggak tahu harga pasaran disana jadi ragu-ragu mau beli. Info dari blog orang-orang sih, kalo ke Phuket wajib belanja di Weekend Night Market karena murah. Tapi sepanjang yang kami lihat, nggak murah-murah amat kok. Akhirnya kami melewatkan jejeran kios yang menjual aneka produk, mulai dari souvenir sampai underwear.

Kami mencari area makanan. Eh tarnyata di area makanan ramai, beda jauh dengan area yang tadi kami lewati. Mata kami tertuju pada kios yang menjual sate-satean, ada sate sosis, sate udang, dll. Harga nya pun murah, 20 THB satu tusuk dengan ukuran lumayan besar, plus diberi saus. Rasanya enak bangetttt… Sausnya pedas asam manis, pas deh buat lidah orang Indonesia. Sosisnya pun enak, ada rasanya, nggak plain. Udangnya 1 tusuk isi 3 dengan ukutan lumayan besar, dan rasa udangnya manis. Nyam…

Selain sate-satean, banyak makanan dan minuman yang dijajakan. Mulai dari yang halal, sampai haram, juga dari makanan yang umum sampai yang nggak umum macam serangga. Disitu ada beberapa kios yang menjual ANEKA serangga. Hiii… Dari jauh saja warnanya hitam-hitam kayak kecoa gitu. Boro-boro beli, lihatnya saja sudah ngeri.

Food area di Weekend Night Market
Food area di Weekend Night Market

IMG-20150406-WA0049

Stand aneka serangga. Hii...
Stand aneka serangga. Hii…

Kami hanya setengah jam di Weekend Night Market, berhubung kami masih harus menempuh perjalanan lebih dari 1 jam untuk menuju hotel dan jam sudah menunjukan angka 9. Wewww… Jadi kami cuma jajan-jajan kecil aja dan nggak sempat beli souvenir lain.

Setelah menempuh perjalanan yang makin dekat hotel makin berbukit, kami pun akhirnya sampai di hotel sekitar jam 22.30 malam. Udah teler dan ngantuk. Dan kami adalah tamu terakhir yang check in. Akhirnya kamar kami di-upgrade dari standard room di bangunan hotel yang lain, jadi superior atau deluxe room di bangunan utama. Temanku memilih superior room dengan twin bed. Alasannya kalo tempat tidur besar, kita nggak tahu siapa yang nempatin sebelumnya dan dipakai ngapain aja. Oops, iya juga sih.

Oya, hotel kami namanya Aspery Hotel (Mr. Aek nyebutnya : Aperi), di daerah Patong. Nggak terlalu jauh dari Patong Beach, sekitar 100 m, menurut Agoda. Dan kami dapat harga lumayan murah, semalam 621 THB (sekitar Rp 230 ribu). Sebenarnya ada sih hotel lain yang harga nya sekitar Rp 150 ribu, tapi jauh dari pantai dan agak sepi. Jadi pilihan kami ke hotel Aspery yang penampakannya lumayan bagus dan ada di daerah ramai juga, jadi kalo mau cari makan or jajan nggak susah. Hotelnya sih kayak ada di kompleks ruko gitu, yang sekitarnya juga hotel-hotel sejenis, tapi memang Aspery paling bagus dan di pinggir jalan raya. Interior kamar pun nggak jauh beda sama penampakan di Agoda, cuma pemandangan keluar jendela nya ya hotel lain yang lebih jadul. 😛

Nah, karena sudah malam dan besok harus bangun dan siap-siap ikut tur dari pagi, kami cuma beres-beres sebentar dan langsung tidur. Supaya besok fit untuk ikut tur sampe maksimal.

Note : sedih nggak bisa banyak masukin foto, karena hari pertama lelah banget jadi lupa foto dan beberapa foto hilang entah kemana. Hix…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s