HUJAN-HUJANAN DI PHUKET (2)

Sebelum tiba di hotel, aku sudah berhasil mengaktifkan BBM-ku untuk menghubungi penyedia tur kami besok pagi, Ms. Ladda. Awalnya dia akan ke hotel bertemu kami, menerima pembayaran dari kami dan memberi tanda terima. Tapi berhubung kami malam banget baru sampai hotel, jadilah besok pagi-pagi baru kami bertemu. Dan malam itu Ms. Ladda bilang ada perubahan, besok akan tur ke James Bond Island dulu karena seharian tadi turun hujan, nggak memungkinkan untuk ke Phiphi Island. Oke lah, nggak masalah dirubah urutan dikit.

Ternyata besok pagi pada jam yang sudah ditentukan untuk dijemput, hujan pun masih turun. Berarti benar cerita agan-agan di kaskus kalau bulan September di Phuket masih termasuk musim hujan yang berlangsung selama April – Oktober, kebalikan dengan di Indonesia April – Oktober termasuk musim panas (meskipun perhitungan musim di Indonesia sudah nggak pakem).

Kami duduk manis di lobby menunggu Ms. Ladda. 5 menit duduk, ada seorang ibu muda berbadan kecil turun dari motor dan masuk ke lobby hotel sambil mencopot jas hujannya. Dia melihatku, aku memandangnya, sama-sama bermuka mikir. Ini bukan ya Ms. Ladda? Ibu itu pun menghampiriku. “Jembon?”

Hah?

“Jembon?”

“Are you Ms. Ladda?”

“Yes. You want to go to Jembon?”

Oo… James Bond. “Yes.”

Lalu dia menunjukkan Blackberry-nya yang sudah ada tempelan selotipe, memintaku menunjukkan yang mana nama-ku. Setelah kutunjuk, dia manggut-manggut.

Aku pun menyerahkan pembayaran untuk paket 2 hari kepadanya. Dia memberiku 1 lembar kwitansi yang tertulis 2 pax, katanya kwitansi itu berlaku untuk hari ini. Dijelaskan bahwa nanti aku dijemput dan menyerahkan kwitansi ini pada penjemput, lalu besok pagi kami kembali dijemput namun tidak perlu menyerahkan kwitansi.

Selesai acara serah terima dan penjelasan singkat, penjemput kami pun datang. Ms. Ladda menyerahkan kwitansi-nya langsung kepada penjemput kami dan mengucapkan selamat tinggal dan selamat bersenang-senang kepada kami.

Kami mengikuti penjemput sekaligus driver yang membawa mobil travel sejenis Elf, muat untuk belasan orang. Kami ditempatkan di depan, sebelah driver. Setelah menjemput kami, mobil masih menjemput di beberapa hotel. Salah satunya Novotel, ada 2 pasangan suami istri yang naik. Begitu memasuki Novotel, betapa irinya kami. Parkiran aja pemandangannya bagus bener. Menghadap laut dengan ombak jebar-jebur. Huhu… Mupeng!

Lalu, setelah Novotel, mobil menjemput lagi di sebuah resort mewah yang aku lupa namanya, masuk dari gerbang ke dalam saja lumayan jauh. Seorang bapak bule dan anak perempuannya yang masih ABG pun naik. Dan satu pasang lagi yang dijemput di hotel yang lumayan bagus meskipun nggak semewah dua hotel tadi. Lalu mobil berisi aneka kebangsaan (kami dari Indonesia, driver Thailand, sepasang bule Aussie yang naik dari Novotel, bapak – anak bule Amerika, sepasang suami istri Arab dari Novotel, dan sekeluarga India yang sudah naik duluan di mobil sebelum kami) pun langsung digeber menuju dermaga.

Perjalanan dari penjemputan terakhir sampai ke dermaga lumayan jauh juga. Mungkin sekitar 1,5 jam. Kurang lebih jam 9 kami sampai di dermaga pemberangkatan big boat menuju James Bond Island. Sepanjang perjalanan, hujan terus turun. Pemandangan berganti dari pantai, bukit, kota, hingga perkebunan, tapi hujan nggak reda-reda juga.

Sampai di dekat dermaga (masih harus jalan lagi ke dermaga) dan kami diturunkan dari mobil, hujan masih turun dengan derasnya. Mau nggak mau kami beli jas hujan yang dijual di beberapa kios disitu. Harganya sudah nggak bisa ditawar, 100 THB. Untuk kantung hp bening anti air 50 THB. Kami membeli jas hujan masing-masing, tapi nggak beli kantung hp karena kayaknya nggak perlu-perlu amat. Beli jas hujan aja sudah di luar rencana toh.

Seisi mobil pun langsung memakai jas hujan masing-masing, yang ternyata bahannya tipis dan mudah robek. Hadeh! Untung cuma untuk dipakai sementara. Kami pun memakai stiker yang diberikan dan menempelnya pada baju masing-masing, dan sampai pulang aku nggak ngerti apa fungsi stiker itu yang pada akhirnya copot entah kapan dan dimana. Setelah itu kami mengikuti pemandu yang memimpin kami ke dermaga. Berjalan hujan-hujanan lah kami semua.

Sampai dermaga, kami berbaris menaiki big boat. Memang besar kapalnya, 2 tingkat, di bawah untuk keperluan kru dan perabotan kapal, semua penumpang ditaruh di tingkat 2. Tapi di atas, sisi-sisi kapal terbuka sebagian, sedangkan sebagian lagi ditutup terpal, jadi tiupan angin bakal berasa sepanjang perjalanan, nggak ketinggalan cipratan air hujan. Hhh…

Nggak lama setelah semua penumpang naik, kapal pun berangkat. Penumpang di kapal mungkin 30-40 orang, dengan belasan kru. Sambil kapal mulai bergerak, penumpang pun di-breafing mengenai rundown perjalanan, kapan memberi tip pada guide, dan dimana letak toilet.

Dan nggak lama setelah kapal berangkat, mulai dipasang musik. Kok lagu-nya kayaknya pernah dengar ya, nadanya familiar gitu? Eh ternyata yang dipasang lagu Indonesia! Lupa lagu siapa, yang jelas lagu bernada Melayu, kalau nggak salah lagu-nya Wali. Luar biasa, di tengah laut masih bisa dengar lagu Indonesia. Jangan-jangan ada kru kapal yang orang Indonesia lagi. Who knows?

Ber-jas hujan di atas big boat
Ber-jas hujan di atas big boat

Sepanjang perjalanan menuju pemberhentian pertama, pulau Hong, hujan terus mengguyur dari langit. Meskipun nggak deras-deras amat, tapi tetap aja membuat udara jadi dingin dan kami nggak bisa melepas jas hujan. Begitu kami berhenti, hujan masih turun meskipun nggak terlalu deras.

View sepanjang perjalanan, hujan dan berkabut
View sepanjang perjalanan, hujan dan berkabut

Aktivitas di pulau Hong adalah canoe-ing (baca : naik kano). Kami memilih salah satu canoe yang didayung oleh kru merangkap guide, 1 kano untuk 2-3 orang. Karena kami cuma berdua, jadi lebih leluasa. Hujan yang turun terus membuat kami agak mati gaya, nggak bisa foto-foto. Padahal view-nya minta banget difoto. Kami agak menyesal nggak beli kantong hp anti air tadi. Huhuhu…

Karena nggak mau rugi, jauh-jauh ke negeri orang masa nggak punya dokumentasi, akhirnya otak ku pun bekerja. Pocket camera yang kupinjam dari teman kantor, nggak anti air sih, tapi lebih memungkinkan untuk ambil foto ketimbang smartphone kami. Jadi kamera kutaruh di depan muka, supaya ketutupan topi, baru jepret. Meskipun hasilnya nggak maksimal karena nggak bisa pilih angle, tapi lebih baik dari nggak ada kan?

Di pulau Hong, kami memasuki goa kelelawar yang di jalan masuk dan keluar harus tiduran dengan tangan menempel di dalam kano. Karena rendah banget bagian atas jalan masuknya, jadi waktu melintas pun rasanya ‘grenjelan’ nya hampir kena muka. Tapi di dalam, goa-nya sendiri lumayan besar meskipun gelap gulita dan penerangan hanya dari senter yang dibawa guide kami. Keluar goa, kami harus tiduran lagi sebelum memasuki sebuah laguna berwarna hijau muda. Kerennn…

Aku jepret-jepret sana-sini sambil melihat berkeliling. Laguna ini terkurung di tengah pulau Hong yang lumayan tinggi, mau lihat ke bagian atas harus mendongak penuh. Dan di tengah laguna ada sebuah pohon yang terlihat seperti mengapung, yang tentu saja jadi objek foto kami. Kata guide kami, hari itu kami beruntung masih bisa masuk laguna Hong Island meskipun air sedang tinggi, kalau air lagi tinggi-tingginya, jalan masuk lewat bat cave nggak akan bisa dilalui. Puji Tuhan!

CANON IXUS Theo 508

CANON IXUS Theo 478

Dari dalam laguna, dongak ke atas, kelihatan tingginya Hong Island
Dari dalam laguna, dongak ke atas, kelihatan tingginya Hong Island

Selesai dari pulau Hong, kapal meluncur lagi. Kali ini tujuannya pulau Lawa. Aktivitas canoe-ing lagi. Tapi bentuk pulau dan laguna-nya sedikit berbeda. Pulau Lawa nggak sendirian, di sekitarnya ada pulau-pulau karang kecil. Kalau pulau Hong tadi, pulau-pulau sekitar jaraknya agak jauh dan ukurannya besar-besar.

Di pulau Lawa, hujan masih turun tapi nggak sederas tadi. Menuju ke laguna-nya hampir sama dengan pulau Hong tadi, melalui goa kelelawar tapi lebih lebar dan agak berkelok-kelok. Tapi di pulau Lawa, kami bisa lebih banyak ambil foto, karena banyak obyek foto selain laguna. Dan juga ada karang yang membentuk goa besar sehingga kami bisa sedikit berteduh saat ambil foto atau difotoin sama guide. Hehehe…

Sedikit berkabut di Lawa Island
Sedikit berkabut di Lawa Island
Di dalam batcave
Di dalam batcave
Menuju laguna Lawa Island
Menuju laguna Lawa Island
Di antara pulau sekitar Lawa Island
Di antara pulau sekitar Lawa Island

Selesai dari pulau Lawa inilah waktunya kami memberi tip pada guide. Nggak wajib sih, tapi dikasi angka minimal sama leader guide-nya 50 THB per orang. Hahaha… Karena kami merasa terbantu dengan guide yang bersedia foto-fotoin kami, akhirnya masing-masing kasih tip 100 THB yang setelah dipikir-pikir (baca : gen pelit muncul) lumayan gede juga. Ya sudahlah, sekali kasih tip ini lah.

Setelah dari Lawa Island, kapal kami bergerak lagi menuju James Bond Island yang tersohor itu. Karena dipakai untuk syuting film James Bond : The Man With The Golden Gun tahun 1974 dulu. Hebat, 40 tahun kemudian, objek wisata nya masih bisa dijual dengan brand James Bond.

Sembari turun dari kapal, kami lihat-lihat sekeliling. Ternyata penuh buangettt nih pulau. Buset dah, dimana-mana orang. Mau foto aja susah dapat spot saking padat-nya. Kalo mau foto, ya mesti gantian. Udah gitu, baru mau menuju ikon James Bond Island, eh hujan turun deras-ras. Terpaksa kami menepi di gua-guaan yang hanya 5 meter mentok batu.

Mati gaya di gua setelah foto-foto sebentar, kami menuju luar. Berhubung hujan juga sudah tinggal gerimis. Mau foto dengan background sang ikon. Eh bujug, ramenyooo… Banyak yang udah duluan sampai di spot paling pinggir laut, alias paling dekat ke sang ikon. Dan di spot lain yang masih bisa dapat angle bagus untuk foto pun, penuhhh…

Aku melihat sekeliling dengan lemes, lah jauh-jauh kesini nggak dapat foto ikon-nya mah rugi bandar. Akhirnya dengan sedikit jeli, aku bisa ambil foto temanku di sudut yang memungkinkan dapat foto ikon secara full dan nggak terganggu orang, meskipun dari jauh. Iya, orang-orang lain di pinggir dan bisa di-crop. Tapi… Giliran ngambil foto-ku, temanku nggak dapat angle sebagus tadi, karena dia nggak ngeh sang ikon itu focus foto-nya, jadilah foto-ku dengan setengah ikon James Bond di pinggir. Haha…

My friend with the icon
My friend with the icon

Di pulau itu kami hanya sebentar. Nggak sampai 1 jam, sampai kami dijemput lagi dengan kapal kecil yang akan mengangkut kami ke big boat di agak tengah laut. Sebelum waktu yang diberitahu guide leader tadi sebelum turun, aku dan sebagian besar penumpang sudah berjejer rapi di pinggir dermaga. Bersama dengan rombongan-rombongan lain. Iya, nunggu kapal aja penuh orang. Ampunnnn…

Eh tapi, disana aku melihat seorang bule wanita, masih muda, paling belum umur 20 tahun, cantiknyaaa… Kayak film dengan setting Yunani gitu, mukanya kayak dewi atau bangsawan Yunani. Pinjam istilah temen kantorku, muka aristokrat. Seumur hidupku, itu bule paling cantik yang pernah kulihat. Aku yang sesama cewek aja sampai bengong lihat mukanya yang sempurna dengan hidung mancung dan lancip, mata hijau kebiruan dan tatapan tajam, dagu belah, garis bibir tegas, dan pipi tirus. OMG…

Setelah kapal kami menjemput, tujuan terakhir adalah kembali ke Phuket. Perjalanan kapal akan makan waktu hampir 2 jam. Di tengah perjalanan, hujan kembali turun. Deras. Banget. Sampai semua pakai lagi jas hujan masing-masing. Dan…

Leader guide mengumumkan bahwa hujan yang deras membuat perjalanan akan sedikit terganggu karena ada badai di depan. Lalu, kami diminta untuk menggunakan pelampung masing-masing dan membawa seluruh barang bawaan kami turun ke lantai 1, tempat para kru. Alhasil, dengan sedikit panik dan parno kami buru-buru mengikuti perintah. Badai, cong!

Sampai bawah, karena memang nggak diperuntukkan bagi banyak orang, tempat yang tersedia hanya meja dan kursi panjang untuk makan kru, dan bale bambu di pojokan. Aku dan temanku duduk mojok di bale, bersama beberapa orang lain. Deg-degan juga. Badai, di tengah laut, di negeri orang pula. Hiii…

Tapi ternyata, the so called “badai” nggak se-mengerikan yang aku bayangkan. Maklum, bayangan badai ala aku itu kayak di film Pirates of The Carribean atau Narnia : The Dawn Treader. Hehe… Ternyata badai-nya cuma (gaya banget ya, CUMA) angin kencang yang membuat kapal sedikit tergoncang-goncang. Di lantai bawah juga goyangannya nggak begitu dashyat sih, masih lebih dashyat goyang ngebor Inul. #eh?

Entah berapa lama kami terombang-ambing di atas kapal. Aku sendiri duduk sambil terkantuk-kantuk, jadi nggak perhatiin jam. Dan akhirnya kami sampai juga di dermaga. Cuaca di dermaga sudah cerah. Dan kami pun langsung berjalan menuju tempat kami turun mobil tadi pagi, sambil mencari driver yang akan mengantar kami.

Setelah hampir semua (dengar-dengar sih ada 2 penumpang mobil yang tadi salah naik kapal, entah penumpang yang mana, aku sendiri nggak ngeh) penumpang duduk di mobil, langsung bergerak lah menuju hotel. Kali ini aku dan temanku duduk di kursi agak belakang, baris ke-2 dari belakang. Sambil perjalanan pulang, tentulah kami ngobrol. Eh…

Di kursi sebelah, seorang cowok berwajah oriental ngeluarin tissue basah yang kemasannya familiar. Jangan-jangan orang Indonesia.Setelah setengah perjalanan ngobrol, cowok itu akhirnya bertanya, “orang Indonesia ya?” Hahaha… Benar dugaan kami. 😀

Akhirnya kami jadi ngobrol bertiga. Ternyata cowok itu naik pesawat yang sama dengan kami, pulang-pergi. Ya tentu saja karena harga tiket promo yang murah, ditambah lagi dia dapat extra diskon 10 % dari promo kartu kredit. Wuihhh…

Kami ngobrol terus sampai akhirnya kami harus turun. Sudah sampai hotel. So, til we meet again, bro. Mungkin nanti ketemu di perjalanan ke Jakarta.

Sampai hotel, rencananya kami pengen berenang di kolam renang hotel yang tampak oke di foto website. As always, kolam renang jadi salah satu faktor pemilihan hotel buatku. Padahal jarang benar-benar bisa dinikmati tuh kolam. Hehe…

Kami ke atap, karena kolam renangnya ada di atap. Kolamnya beneran oke sesuai foto, tapi… Cuaca gerimis, jangankan berenang, merendam kaki di kolam aja kami nggak berani. Daripada tepar sakit karena kehujanan, mending cari aman aja deh. Paling kalo sempat dan nggak hujan, malam-malam kami nongkrong di pinggir kolam sambil minum coklat panas.

Ini penampakan kamar kami
Ini penampakan kamar kami
Kolam renangnya lumayan kan?
Kolam renangnya lumayan kan?

Setelah melihat kolam, kami langsung mandi dan rapi-rapi. Malam ini kami mau keliling di sekitaran Patong Beach dan Bangla Road. Tapi ternyata selama kami siap-siap, hujan sempat turun lumayan. Untungnya begitu kami keluar, hujan sudah berhenti. Jam 7 malam.

Setelah mencari-cari jalan dengan tanya orang, kami menyusuri jalan menuju Bangla Road yang tersohor. Tersohor sama wisata lady boy. Hehe…

Sebelum sampai Bangla, kami makan malam dulu di salah satu rumah makan yang menjual nasi campur babi (maaf ya, nggak halal nih. Hehe…) dengan harga 50 THB aja, termasuk murah banget, bahkan jika dibandingkan dengan Jakarta. Berdua makan cuma habis 140 THB termasuk minum. Rasanya pun sesuai selera. Pas banget deh pokoknya. Kendalanya cuma satu, yang ngerti bahasa Inggris cuma 1 orang pegawai yang teriak-teriak marketing-in rumah makannya di luar. Jadi waktu kami minta apa-apa, termasuk mau bayar, si pegawai berbahasa Inggris itu dipanggil. Rempong deh. 😛

Our dinner
Our dinner

Perut kenyang, kami pun lanjut jalan. Kaki juga udah nggak seberapa pegal. Jalanan menuju Bangla emang rame banget. Kayaknya emang disana pusat keramaian-nya. Sepanjang jalan ada mobil yang teriak-teriak menawarkan thai boxing, dan mobil itu bolak-balik terus. Makin mendekati Bangla, makin warna-warni pemandangan di depan kami. Klub dengan lampu aneka warna menghiasi sepanjang jalan.

CANON IXUS Theo 580

Sampai di Bangla, emang benar pusat lady boy. Di ujung pintu masuk, sudah berkumpul belasan ‘sales‘ yang menawarkan klub dengan aneka atraksi lady boy. Karena kami berdua cewek, nggak ada yang nawarin apa-apa. Tapi turis lain, baik yang cowok-cowok maupun berpasangan cewek-cowok, ditawarin sama para sales itu.

The famous Bangla Road
The famous Bangla Road

Kami berjalan pelan memperhatikan suasana. Di tengah jalan (fyi, Bangla Road ini khusus untuk pejalan kaki, karena letaknya bukan di jalan raya, tapi kompleks klub yang di tengah-tengahnya dibuat jalan dan posisinya membelah dua jalan raya) ada beberapa lady boy yang penampilannya cantik dan aduhai, berpakaian heboh kayak mau main kabaret. Banyak yang foto-foto sama mereka, tapi kami nggak, karena katanya sih foto aja dimintain bayaran. Ogah deh.

Aku perhatiin, bujug tuh lady boy cantiknya kayak cewek beneran. Kalo orang nggak tahu, pasti ya dikira cewek beneran. Mana bodi-nya pun udah dipermak jadi persis cewek. Gokil emang para lady boy Thailand! Pantesan aja mereka punya kontes lady boy setiap tahunnya.

CANON IXUS Theo 589

CANON IXUS Theo 588

CANON IXUS Theo 586

CANON IXUS Theo 591

Di ujung Bangla Road, kami menemukan pantai Patong. Yang seharusnya menurut peta, nggak jauh dari hotel, tapi tetap aja gempor jalannya. Pantai Patong di malam hari lumayan ramai juga. Kami cuma sebentar menikmati pasir putih lembut menyentuh kaki, dan foto-foto sedikit saja, berhubung gelap nggak ada lampu.

CANON IXUS Theo 605

Sebentar berkeliling di area Patong, kami menyadari satu hal. Kenapa di Phuket ini banyak ‘banana‘ ya? Mulai dari pancake banana yang ada dimana-mana, termasuk di depan hotel kami. Lalu ada Banana Club, Cafe Banana, Banana Walk. What’s up with all this Banana ya? Sampai sekarang aku belum tahu jawabannya.

Setelah capek berkeliling, kami kembali ke hotel. Nggak lewat jalan kami datang tadi, tapi menyusuri jalan raya yang sejajar pantai Patong. Untung aja kami nggak nyasar, meskipun jalan yang kami lewati agak sepi dan gelap.

Dan sampai hotel kami langsung siap-siap tidur. Besok masih lanjut tur ke Phiphi Island.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s