PULAU HARAPAN YANG TIDAK SESUAI HARAPAN

Cerita dimulai dari ide liburan ke Dieng, pas ada long weekend di tgl 1 – 3 Mei 2015. Sudah hitung budget, kumpulin orang, tapi karena banyak yang nggak bisa, akhirnya cancel dan ganti tujuan. Yang gampang aja dari Jakarta deh. Kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Harapan.

Menghubungi tour guide yang dulu pernah mengurus kami di Pulau Pramuka, sudah deal harga, eh tiba-tiba orangnya nggak bisa dihubungi, ya lewat BBM maupun telepon. Mungkin handphone-nya kecemplung di laut kali ya. Daripada batal, cari lagi deh paket dari tur lain di internet. Akhirnya deal untuk 2 hari 1 malam dan tinggal berangkat. Cuz!

Kami berangkat 11 orang. 10 orang termasuk aku adalah teman sekantor dan satu divisi. Ditambah Ike, my ‘nekat traveler’ partner yang H-2 mendadak minta ikut. 😀

Tanggal 1 Mei kami diminta sampai di dermaga Muara Angke jam 5.30. Bujug pagi banget, padahal kapal baru bakal berangkat jam 7. Karena katanya bakal rame banget jadi kami diminta ready jam segitu. Ya udahlah ikutin aja.

Sesampai di Muara Angke, emang bener sih puenuuuhhh buangettt… Lautan orang banget itu sih, ya turis, guide, pedagang, semua tumplek blek. Dan setelah kumpul semua anggota rombongan kami, langsung menuju kapal Harapan Angke (namanya nggak enak banget didengar yak :P) yang perlu perjuangan melewati (baca : meloncati dan memanjat) beberapa kapal sebelum sampai.

Di dalam sudah lumayan penuh dan kami dapat spot lumayan sempit tapi masih muat di lantai atas. Di bawah masih kosong sih, tapi kami nggak minat karena di bawah bau mesin dan goncangan kapal bakalan lebih berasa.

Perjalanan menuju Pulau Harapan ditempuh selama 3 jam. Pulau Harapan termasuk Kepulauan Seribu bagian utara, jadi cukup makan waktu untuk kesana.

3 jam di kapal merupakan perjuangan. Ya untuk duduk maupun tidur dengan posisi benar aja susah, apalagi pas mau ke toilet, harus berjuang melewati tas, kaki, badan, sampai kepala orang. Fiuhhh…

Duduk umplek-umplekan di atas kapal
Duduk umplek-umplekan di atas kapal

Dan aku kesal banget, beberapa orang dari rombongan yang duduk di jendela seberang kami merokok dengan santainya. Nggak sadar diri banget sih, udah tahu di sekeliling penuh orang yang cuma dapat udara dari jendela, mereka cuek aja kasi polusi asap. Hih! Merokok sih hak situ, tapi ya lihat sikon juga donk. Kalau nyuruh puluhan orang menghirup buangan nafas situ sih namanya cupu!

1 jam terakhir, duduk semakin nggak benar bentuknya. Entah gimana, di dekat kami duduk orang-orang lain yang nggak tahu datang dari mana. Boro-boro selonjoran, kaki bersila aja nggak muat. Pegel, bo!

Setelah sampai di tujuan, penderitaan turun kapal nggak kalah rempong dari naik kapal. Sampai di dermaga, kami mencari guide kami, yang ternyata bukan guide yang kami hubungi. Pas pulang baru kami tahu, guide yang kami hubungi ternyata cuma calo karena dia guide Pulau Tidung bukan Pulau Harapan, jadilah kami dilempar ke guide yang Pulau Harapan. Hhh…

Lalu, untuk menuju homestay, kami seharusnya naik perahu kecil. Katanya cuma 3 menit aja. Selama perahu disiapin, kami nunggu di pos sekitar 10 menit. Dan sesudah di atas perahu, eh mesin perahu-nya nggak nyala-nyala. Mana knek perahu-nya agak nggak nyambung pas disuruh ngarahin perahu. Hadehhh…

Capek panas-panasan tanpa hasil sekitar 10 menit (lagi) dan belum ada tanda-tanda perahu akan jalan, kami minta jalan kaki aja ke homestay. 15 menit jalan kaki sih katanya. Ya kalo jalan kaki dari tadi, kami sudah sampai harusnya.

Sesampai di homestay yang ternyata terletak di Pulau Kelapa, bukan Pulau Harapan (bagian belakang Pulau Harapan disebut Pulau Kelapa), kejutan belum selesai. Kami hanya mendapat 1 kamar dengan spring bed Queen size. Lah kami kan 11 orang, mana mungkin tumpuk-tumpukan di 1 kamar?

Untungnya rumah yang kami tempati boleh dijajah selain kamar-kamar yang dikunci. Rumahnya sih lumayan besar, tapi hanya ada 1 spring bed dan busa tipis untuk tidur-tiduran di ruang tv. Tentu aja kami minta extra bed, yang katanya nanti akan disediakan.

Selesai jam makan siang, kami berangkat snorkeling. Dengan perahu bermasalah tadi, yang katanya udah nggak bermasalah. Haduhhh…

Berangkat snorkeling yukkk...
Berangkat snorkeling yukkk…

Akhirnya perahu bisa nyala juga meskipun dengan perjuangan. Dan setelah menempuh perjalanan dan melewati pulau-pulau di sekitar selama hampir 1 jam, kami sampai lokasi snorkeling pertama. Ternyata nggak dalam, di bawah hanya pasir dan karang-karang mati. Jadi disitu untuk latihan dulu. Tapi jalan aja susah karena karangnya tajam-tajam.

Yang lain udah berenang-renang kemana-mana tanpa pelampung, aku jalan pelan-pelan dan pakai pelampung. Aku memang nggak bisa berenang. Dan mau latihan snorkeling juga susah karena terlalu cetek airnya, takut kaki kena karang kayak sebelumnya. Akhirnya aku jalan-jalan aja sambil meringis sesekali waktu kena karang tajam.

Eh temanku yang asik berenang ngejar ikan tiba-tiba mendekati karang yang ada bulu babi-nya. Langsung guide yang di sebelahku buru-buru narik temanku yang kaget berat. Dia nggak sadar ada bulu babi karena keasikan perhatiin ikan lucu. Untung nggak sampai kena bulu babi.

IMG-20150503-WA0111

Setelah bosan di spot yang nggak bisa buat ngapa-ngapain itu, kami cabut ke spot berikut yang memang lokasi snorkeling. Ternyata arusnya lumayan kencang. Plus banyak banget bulu babi. Hiii…

Akhirnya kapal digeser ke spot yang nggak ada bulu babi. Tapi sebenarnya karang-karangnya lebih bagus yang banyak bulu babi-nya. Aku sih tetap berencana nyemplung ke air. Sayang kan udah jauh-jauh masa nggak nyemplung.

Salah satu temanku memutuskan untuk nggak nyebur karena arusnya kencang. Aku turun terakhir sih, tapi tetap dengan niat penuh untuk snorkeling melawan arus kencang. Nekat mode on.

Tapi… Begitu nyemplung, I suddenly changed my mind. Peralatan yang kupakai nggak safe rasanya. Pelampung nya kegedean banget, jadi rasanya kepalaku hampir masuk air. Trus snorkel-nya juga nggak rapat, jadi sekalinya kepalaku masuk air, hidungku langsung kemasukan air juga. Karena aku nggak bisa berenang, pasti panik begitu hidung kemasukan air. Apalagi arus juga lebih kuat dari dugaanku. Daripada udah keburu jauh dari kapal dan panik pas nggak ada orang di sekitar kan.

Aku langsung memutuskan untuk naik ke kapal. Niat snorkeling mendadak luntur karena merasa safety nggak terjamin. Naik kapal pun penuh perjuangan karena nggak disediain tangga, tapi cuma ban yang digantung di sisi kapal. Ampunnn…

Setelah aku naik, yang lain satu per satu ikut naik. Dan kami pun bertolak ke gosong, pulau pasir di dekat situ. Ya udah yang aman aja lah.

Di gosong kami habiskan dengan foto-foto dan main pasir sebentar. Gosong nya juga penuh orang. Cari spot untuk foto pun harus pintar-pintar supaya nggak ada figuran lewat. Hehehe…

IMG-20150503-WA0112 IMG-20150503-WA0118 IMG-20150503-WA0088 IMG-20150503-WA0097 IMG-20150503-WA0068

Setelah dipanggil untuk balik ke kapal, aku dan Ike minta difotoin berdua dulu karena dari tadi foto rame-rame atau sendiri-sendiri. Eh ternyata, temanku yang dimintain tolong untuk foto melihat ikan pari kecil di pasir. Entah masih hidup atau nggak, aku nggak berani sentuh karena takut menyengat atau gelepak-gelepak. Kecil banget sih, panjang badan sama ekornya paling 10 cm.

Ikan pari mini
Ikan pari mini

Kami langsung kembali ke kapal. Dan ternyata agak jauh dari pantai, banyak bulu babi juga. Astaga… Seharian itu aku melihat ratusan bulu babi saking banyaknya. Untung knek yang agak ‘kurang connect’ itu pakai sandal pas narik kapal, jadi nggak kena bulu babi.

Yang hitam-hitam adalah para bulu babi
Yang hitam-hitam adalah para bulu babi

Perjalanan balik ke pulau lumayan panjang. Dan matahari sudah mau tenggelam. Niat mau ambil foto-foto di kapal pun hampir gagal. Laut lumayan berombak jadi kapal cukup terombang-ambing dan aku yang duduk di depan, kecipratan air terus-terusan sampai mata perih dan mulut asin. Serasa rafting deh. Akhirnya aku pindah duduk sedikit demi bisa ambil foto sunset di tengah laut.

IMG-20150503-WA0054

IMG-20150503-WA0058

Sampai di dermaga persis pas sunset. Badan udah lemas dan capek banget. Dan lapar tentunya. Begitu sampai homestay, sambil menunggu giliran mandi, semua stok makanan dan cemilan dikeluarin dan ludes seketika.

Sesudah 11 orang selesai bergantian mandi di satu-satunya kamar mandi di homestay, kami makan malam. Dan kami dapat info kalau angin  di luar kencang, jadi dikasi option mau tetap barbeque-an dengan angin kencang atau dibakarin dan nanti dibawain ke homestay. Kami memilih option 2, dibakarin aja dan tunggu dibawain.

Karena nggak ada acara lagi, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke pinggir pantai. Satu-satunya jalan yang kami temukan adalah ke dermaga tempat kapal kecil kami merapat tadi. Tapi disitu gelap dan nggak ada apa-apa. Alhasil, kami cuma jalan santai sambil ngobrol-ngobrol aja.

Foto ala Meteor Garden :D
Foto ala Meteor Garden 😀

Kembali ke homestay, aku langsung tepar. Waktu diajak makan barbeque yang diantar jam 10.30 malam (kata teman-teman), aku sudah nggak sanggup bangun. Hehehe…

Keesokan hari, aku dan Ike bangun pagi-pagi. Rencananya kami mau mengejar sunrise, sebelum melanjutkan kegiatan island hopping ke beberapa pulau sekitar setelah mandi. Apa daya kami baru bangun jam 5.45 dan hari sudah lumayan terang.

Buru-buru kami bangun dan berangkat. 2 orang teman kami ikut, sedangkan yang lain masih tidur nyenyak.

Kami mencoba mencari jalan yang belum kami lewati semalam. Soalnya waktu perjalanan menuju homestay pertama kali, aku melihat taman di pinggir laut dan deretan mangrove nggak jauh dari situ. Spot itu lah yang kami tuju.

Pucuk dicinta ulam tiba. Kami melihat deretan mangrove dari jauh. Kami susuri terus jalan itu sampai kami menemukan apa yang dicari. Taman kecil, lalu ada jalan menuju dermaga kecil, di sekitarnya air laut berwarna hijau muda membentang dengan beberapa pulau di sekitar. Di sisi jalan ada beberapa pondok kecil yang bisa digunakan untuk duduk-duduk.

IMG-20150503-WA0030

Kami susuri terus sampai ujung. Sambil mengambil foto sunrise, meskipun matahari-nya tertutup awan dan hanya pendar sinar oranye menyembul dari balik awan yang bisa kami foto.

IMG-20150503-WA0041 IMG-20150503-WA0037 IMG-20150503-WA0017 IMG-20150504-WA0002 IMG-20150504-WA0001

Pagi itu langit sangat berawan. Angin pun lumayan kencang. Lama-kelamaan awan abu-abu datang. Mendung. Kami pun segera kembali ke homestay, sudah jam 7 juga. Perkiraan jam 8 kami sudah berangkat island hopping.

Sesampai di homestay, sarapan sudah tersedia dan sebagian teman sudah mandi dan sedang bergiliran mandi. Lalu guide kami datang dengan berita buruk : karena cuaca kurang baik dan angin kencang, kapal ke Jakarta yang di jadwal berangkat jam 12, dimajukan jadi jam 10 pagi. Jreng!

Praktis, kami nggak bisa island hopping. Guide bilang, kami bisa ke penangkaran penyu di pulau dekat situ, sekalian bawa barang-barang kami, lalu langsung ke kapal ke Jakarta. Secara itu sudah jam 7.45 dan separuh dari kami belum mandi, akhirnya setelah berdiskusi kami tidak berangkat ke penangkaran penyu.

Karena guide bilang pulau-nya hanya berjarak 3 menit naik kapal dan berada di seberang dermaga, kami berubah pikiran. Tapi… Acara mandi baru selesai jam 8.30, nggak keburu ke penangkaran penyu. Jadi kami langsung ke dermaga, supaya bisa naik kapal duluan dan dapat tempat yang enak. Ya sudah lah.

Sesampai di dermaga, kapal belum datang. Kami menunggu sambil duduk dan mengobrol sampai jajan-jajan. Jam 10.30 baru kapalnya datang. Dan setelah kami naik, dengan penuh perjuangan lagi, termasuk melawan arus penumpang turun, kapal ternyata sudah lumayan penuh juga.

Kami dapat tempat lumayan deh, dekat pintu depan dan jendela. Nggak pengap-pengap amat. Tapi… lama-lama sempit juga dengan masuknya penumpang lain. Sampai penuh-nuh… Dan sisi pinggir dan luar kapal pun dipenuhi orang. Bahkan di atap! OMG!

Kapal baru berangkat mendekati jam 12 (buang waktu 3 jam hanya untuk nunggu kapal). Selama 3 jam perjalanan kembali ke Jakarta aku mikir, trip kali ini bisa dibilang gagal. Semua nggak sesuai harapan. Dari mulai ganti guide karena yang kami hubungi ternyata calo, jadwal yang berubah semua, kapal kecil yang kami pakai bermasalah mesinnya, homestay ala kadar, makanan kurang oke, snorkeling nggak di spot yang bagus dan cuma 1 spot, nggak ke pulau lain kecuali gosong (pulau pasir), transportasi yang bikin kapok karena selain umpel-umpelan juga nggak ada jaminan keselamatan, wong life jacket aja cuma setumpuk (paling 10 buah) di dekat tangga.

Sampai akhirnya kami bertekad, next trip kalau ke pulau, mendingan naik speed boat. Biar deh biaya 2x lipat, yang penting aman, nyaman, cepat, dan nggak buang waktu tunggu-menunggu. Toh, dengan tambah biaya sekitar 300.000 pp, kami mengirit waktu 5 jam perjalanan pp, dan 3-5 jam waktu menunggu kapal. Total 8-10 jam bisa kami save, jadi bisa untuk kegiatan lain seperti snorkeling atau island hopping kan.

So, lesson learned. 

1. Kalau mau trip pulau, mending hubungi guide lokal.

2. Demi keamanan, kenyamanan dan irit waktu, speedboat is much better.

3. Bikin rundown sendiri dulu, jadi bisa kasi patokan buat guide.

4. Negosiasi paket harus berani agak galak, tapi tetap friendly.

5. Jangan ambil tanggal merah, membludak orang dimana-mana

Trip ke Pulau Harapan ini memang nggak sesuai ekspektasi. But, traveling is not just about going somewhere, it’s about the journey, right? So, here it is, my journey to Hope Island that’s not as hopeful as the name. 

IMG-20150503-WA0005

Advertisements

One thought on “PULAU HARAPAN YANG TIDAK SESUAI HARAPAN”

  1. Sy baru akan melakukan pernjalan ke pulau harapan… uda dp mau prg dengan speedboat uda deal dengan hrga 760.000,- per org kami rencana berenam… uda transfer DP sebesar 360.000 kami cb pke yg ad di internet pakai tour Queenharapantour… ats nama sahdan.. katanya h-1 bakal dikasih kontak org sana tp ternyata pas di wa di telpon hp nya sudah tdk aktif, parah!! Itu ada websitenya, namanya QueenHarapanTour transfer ke BRI an Ika Susiyanti, so Guys be careful yaa website nya yg QUEENHARAPANTOUR.COM… jdi trauma nih… anw kejadian baru hari ini tgl 3/ februari 2017—

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s