JALAN-JALAN KE JOGJA – Oh Paradiso

Karena kerjaan lagi hectic banget, tambah menjadi-jadi deh sakau traveling-ku. Banyak harpitnas pula. Cari-cari tiket, tapi masih mahal. Sampai iseng-iseng cari tiket kereta murah ke Jogja. Kata orang sih bisa puluhan ribu aja.

Bener sih, ada yang 75.000 sama 80.000 untuk kelas Ekonomi, tapi mendekati harpitnas, tiket harga segitu sold out. Akhirnya dapat tiket KA Progo Jakarta – Jogja 75.000 di hari kerja. Cingcay lah. Ike (my nekat traveler partner) pun setuju kami beli tiket Rabu malam, jadi kami cuti 2 hari untuk bisa liburan sampai hari Minggu di Jogja. Done.

Beberapa minggu sebelum berangkat, kami cerita sama salah satu sahabat di komunitas kami, Meina. Dan dia langsung minta ikutan. Singkat cerita, Meina pun beli tiket berangkat yang sama, meskipun nomor kursi beda, ngarep bisa minta tukar sama orang nanti. Hehe…

Tiket pulang kami beli belakangan, barengan sama Meina, jadi dapat kursi berhadapan. Sayangnya tiket pulang nggak dapat yang harga 75.000 maupun 80.000, keburu habis. Jadilah kami beli tiket KA Bogowonto Jogja – Jakarta 220.000.

Tiket berangkat
Tiket berangkat

The day has come. 3 Juni 2015, sepulang kerja kami kumpul di rumah Meina dulu untuk numpang mandi. Eh, karena jalanan macetnya ampun-ampun, sampai rumah Meina udah lewat dari jadwal, jadi nggak sempat mandi. Cuma numpang makan, trus langsung capcus ke Stasiun Senen.

Ternyata Stasiun Senen penuh buanget, sodara-sodara. Untungnya pemeriksaan tiket cukup tertib jadi meskipun penuh dan antrian panjang, nggak makan waktu terlalu lama. And surprisingly, kereta berangkat TEPAT jam 22.30. Wow! Ternyata KA lebih baik daripada maskapai Singa soal jam keberangkatan. Ehehe…

Duduklah kami bertiga bareng, karena Meina berhasil tukeran tempat duduk sama orang di depan kami. Tapi sayangnya, sebelahnya Meina ibu-ibu berbadan subur yang kurang toleran duduknya. Ya udah tahu bodinya besar, tas doi taruh di kursi pula, jadi Meina duduk mentok ujung banget. Mana tuh ibu kayaknya udah gape naik kereta itu, jadi nyantai aja sama kursi tegak lurus kereta ekonomi, malah pas tidur kakinya nyelip dimana aja, kadang di antara kakiku dan kaki Ike, kadang di antara kedua kaki-ku, kadang antara dinding dan kaki Ike. Asli, tuh ibu bisa cari kesempatan dalam kesempitan untuk selonjorin kakinya. Temen si ibu di kursi seberang malah sampai tidur di lantai padahal jelas-jelas ada larangan tidur di lantai. Ampunnn….

Semalaman di kereta dengan kursi tegak lurus gitu emang pegel abis. Udah bawa bantal leher, nggak terlalu ngaruh juga karena punggung tetap nggak istirahat. Jadilah aku cuma tidur-tidur ayam, senasib sama Meina yang lebih susah tidur karena space duduknya yang sempit. Ike lumayan bisa tidur lah, karena dia bisa senderan dinding kereta. Akhirnya subuh-subuh, Ike tukeran tempat duduk sama Meina, supaya Meina bisa tidur. Karena Meina yang bakalan nyetir selama di Jogja nanti. Kalo Meina nggak tidur, kan ngeri juga. Hehe…

Setelah pindah kursi, Meina langsung bisa tidur. Bagus lah, kasihan juga kalo sama sekali nggak tidur dan harus langsung nyetir jarak jauh. Dan tepat jam 7 pagi, kami sampai di stasiun Lempuyangan. Wuih, on time lagi. Keren nih PT KAI.

Pagi-pagi tiba di stasiun Lempuyangan
Pagi-pagi tiba di stasiun Lempuyangan

Karena kami janjian sama penyewaan mobil jam 8, jadi kami bisa santai dulu cari makan pagi. Di depan stasiun berjejer warung-warung makan kecil. Lihat-lihat sebentar, lalu aku tertarik sama warung nasi brongkos. Setelah intip dan tanya nasi brongkos itu apa, aku memilih makan itu saja. Meina pilih nasi kucing. Ike joinan aja makannya sama aku, belum terlalu selera makan kayaknya.

Begitu nasi brongkos yang terdiri dari nasi + 2 potong tahu + telur bulat tersaji, langsung aja kusuap. Dan ternyata… Enak bangetttttttttt!!!!!!

Cicip-ciciplah Ike dan Meina begitu kubilang “enak banget” dan mereka setuju. Akhirnya Meina pesan nasi brongkos juga setengah tanpa telur (karena sudah makan nasi kucing) dan Ike pesan 1 lagi. Kami setuju, nasi brongkos ini enak banget dan harganya murah banget, seporsi lengkap dengan telur HANYA Rp 6.000 aja, sodara-sodara.

Nasi bronkos yang uennakkk buanggettt ituh
Nasi brongkos yang uennakkk buanggettt ituh

Sekitar setengah jam kami makan sambil menunggu mobil sewaan kami datang. Selama kami makan, banyak yang menawarkan jasa, mulai dari mobil sewaan, hotel, becak antar keliling Jogja, dll. Tapi kami tolak dengan halus, karena kami memang sudah sewa mobil dan rute hari itu ke Gunungkidul. Tapi ditolak pun mereka tetap senyum. Awalnya sih agak terganggu dengan banyaknya tawaran, ya dari yang punya warung, tukang-tukang becak yang mangkal di depan warung, belum lagi para marketing mobil sewaan yang berjejer di depan stasiun. Tapi beberapa waktu kemudian aku baru sadar, ini Jogja, yang orang-orangnya terkenal ramah, bukan Jakarta yang mayoritas warga-nya cuek bebek. Ditolak dengan alasan ke Gunungkidul pun mereka malah dengan semangat menjelaskan tentang Gunungkidul. Jadi tersentuh sama keramahan orang-orang Jogja.

Setelah orang yang mengantarkan mobil konfirmasi kalau dia sudah sampai di depan Stasiun Lempuyangan, kami langsung beranjak dan membayar. 2 ½ nasi brongkos, 1 nasi kucing, 3 tempe goreng, 2 teh susu, CUMA habis Rp 21.000. Murahhh!!! Padahal sampe kuenyanggg.

Hepi dengan makan pagi kami, dengan senyum lebar kami menuju mobil sewaan. Agya Matic putih. Setelah cek dan ricek kondisi mobil, isi kwitansi, membayar, yang semua kami lakukan di dalam mobil supaya aman. Kami pun meluncur menuju… pom bensin. Iya, bensinnya cuma 1 strip. Ngeri nya tuh bensin keburu habis sebelum kami sampai pom. Haha…

Mari berpetualang!
Mari berpetualang!

Setelah sempat mutar-mutar, akhirnya kami nemu juga pom bensin. Setelah isi, baru deh meluncur ke destinasi pertama kami : pantai di Gunungkidul dan langsung ke hotel, karena kami pengen taruh barang-barang biar nggak ribet. Sebenarnya kami belum dapat hotel disana, meskipun sudah booking by phone. Soalnya cari-cari info di internet, semua penginapan di sekitar pantai Gunungkidul nggak ada gambarnya. Daripada beli kucing dalam karung, kami berencana lihat langsung baru memutuskan mau nginap dimana.

Perjalanan dari kota menuju Gunungkidul lumayan jauh. Karena kami semua turis, tentu saja kami hanya mengandalkan GPS untuk rute ke Gunungkidul. Eh di tengah jalan, kami melewati salah satu tujuan wisata kami, Gua Pindul. Akhirnya kami memutuskan merubah itinerary, dan langsung menuju Gua Pindul untuk cave tubing disana.

Mobil kami diarahkan dengan motor oleh seorang bapak yang pakai badge “Marketing”. Katanya nggak begitu jauh. Tapi kami mengikuti di belakang dan rasanya nggak jauh nya itu kok kayaknya lebih dari 10 km ya? Mana jalanannya masuk ke dalam jalanan yang kecil.

Ada kali setengah jam kami mengekor si bapak hingga akhirnya sampai di tujuan. Cukup ramai (kata pengelola sih itu termasuk sepi), tapi nggak seramai waktu hari libur di awal Mei lalu, pas foto Gua Pindul yang beredar di media sosial terlihat lautan orang sampai air nya nggak kelihatan. Katanya 2.000 orang datang ke Gua Pindul waktu itu. Gilingan daging itu mah.

Karena kasihan sama si bapak yang mengantar kami demikian jauh, kami kasih tip Rp 20.000. Later we know, yang antar dapat tip juga dari pengelola, Rp 10.000/orang. Ya sudahlah, amal nggak ada salahnya. Lagipula si bapak dengan sabar nungguin kami yang ribet bongkar tas, berganti baju, pakai sunblock, dll sebelum memilih paket. Maklum lah, dadakan dan barang kami semua masih di dalam tas ransel yang melembung.

Akhirnya kami memilih 2 paket, cave tubing di Gua Pindul dan body rafting di Sungai Oyo. Ada 1 paket lagi ke gua kering, tapi kami nggak ambil karena mau agak ngirit. Hahaha… Ya iya dong, masa baru beberapa jam sampai mau langsung boros-borosan, kalo nanti uang nggak cukup gimenong cyin?

Setelah menitipkan tas dan bawaan di meeting point, kami langsung ambil rompi pelampung dan ban, lalu menuju starting point. Jadi masuk ke dalam gua-nya dibikin grup 8-12 orang yang disuruh saling pegang ban orang di sebelah kanan supaya nggak lepas dan akan di-lead oleh 1 orang guide.

IMG-20150605-WA0013

IMG-20150605-WA0007

IMG-20150605-WA0006

Setelah semua anggota grup saling memegang ban, guide mulai berjalan sambil menarik kami sambil menjelaskan mengenai Gua Pindul, dari sejarah, bagian-bagiannya dan apa saja yang terdapat di dalamnya. Si guide kami orangnya cukup kocak, dan sering membuat kami tertawa karena di sela-sela penjelasan serius, dia nyelipin guyon. Gayung bersambut sama Ike. Makin diajak bercanda sama Ike, dan aku juga Meina jadi ikutan. Sampai-sampai tuh guide lebih sering beredar di dekat kami bertiga.

Mendekati ujung gua, ada spot yang bisa untuk loncat ke dalam sungai. Karena penasaran, Meina dan Ike langsung turun dari ban, dan naik ke atas batu yang jadi jumping point. Dan si guide kami beri tugas, megangin handphone Meina untuk ambil foto atau video loncatan kami. Plus, kepalanya jadi penitipan sementara topi kami bertiga. Hehe…

IMG-20150605-WA0016

Di dalam gua, cahaya matahari menyusup dari lubang di sisi lain gua
Di dalam gua, cahaya matahari menyusup dari lubang di sisi lain gua
Lubang matahari
Lubang untuk cahaya matahari

IMG-20150605-WA0026

Meina udah siap loncat di atas, sedangkan aku baru berusaha turun dari ban. Maklum, nggak bisa berenang. Dan daerah sungai sekitar situ cukup berbatu, jadi kaki harus berhati-hati melangkah, supaya nggak menginjak ataupun menabrak batu.

Meina yang bisa berenang aja ragu-ragu mau loncat. Sampai datang grup berikut yang malah rame-rame menghitung mundur untuk menyemangati Meina untuk loncat. Bukannya semangat, malah jadi ragu-ragu dia. Setelah mikir dan ragu beberapa waktu, Meina pun loncat. Byurrr!!!

Nggak sampai sedetik kemudian, Meina muncul di permukaan air. Asik kak, gitu katanya. Sementara Ike masih menguatkan diri untuk loncat, Meina sudah manjat batu lagi untuk loncat kedua kali. Dan nggak lama setelah loncat ke air, Ike pun langsung naik ke jumping point untuk loncat lagi. Luar biasa! Dan aku cuma bisa memandangi mereka sambil berusaha mengumpulkan nyali. Pengen loncat juga, tapi aku nggak bisa berenang dan takut tinggi.

Melihat beberapa orang lain juga bergantian loncat, aku jadi penasaran. Udah deh, coba aja. Tapi… Sampai di atas jumping point, nyali-ku langsung ciut. Itu airnya dalam nggak ya, kena batu nggak ya, nanti kemasukan air nggak ya pas sampai di air, dll dsb pertanyaan di dalam pikiran. Dan aku pun maju mundur selama 5 menit. Hampir saja turun lagi, tapi ternyata turun dari batu lebih susah daripada naiknya. Lebih gampang loncat daripada turun biasa. Hadehhh…

Setelah membiarkan beberapa orang lain loncat mendului aku, akhirnya aku pun memantapkan diri untuk loncat. Meskipun takut. Sempat maju mundur lagi sebentar, sampai akhirnya aku capek dengan diri sendiri. Ribet bener mau loncat aja. Padahal cuma beberapa detik aja. Akhirnya setelah memastikan di spot loncat nggak kena batu dan airnya nggak terlalu cetek, dan meminta Meina stand by dekat situ (tetap aja rempong ya? Haha…), aku loncat juga.

Bergumul untuk loncat 😃
Bergumul untuk loncat 😃

Byurrr!!! Done! Finally I can face my fear!

Setalah acara loncat-meloncat kelar, kami pun beranjak dari jumping spot pertama. Persis di depan pintu keluar gua, ada jumping spot kedua yang lebih tinggi. Beberapa orang berloncatan disitu. Kami berenang sampai ke pinggir dan langsung naik ke daratan. Secara, grup kami yang tadi belasan orang sudah bubar jalan entah kapan. Yang tersisa hanya guide, kami bertiga dan sepasang cewek cowok yang loncat-loncatan juga tadi.

Setelah berbasah-basah ria di Gua Pindul
Setelah berbasah-basah ria di Gua Pindul
Exit area cave tubing Gua Pindul
Exit area cave tubing Gua Pindul

Selesai dari Gua Pindul, kami langsung menuju mobil bak yang akan membawa kami ke area body rafting di Sungai Oyo. Ngakak banget waktu Meina nyeletuk kami udah kayak kambing diangkut pakai mobil gituan.

Di mobil udah tersedia ban-ban seperti yang tadi kami pakai cave tubing dan langsung dikembalikan. Guide untuk body rafting pun beda dengan guide di Gua Pindul. Setelah kumpul yang akan body rafting, yang ternyata hanya kami yang emang dari tadi sibuk loncat-loncatan, mobil berangkat.

Di atas mobil pengangkut kambing
Di atas mobil pengangkut kambing

20150604_115521

Perjalanan nggak lama, cuma 5 menit aja. Melewati jalan aspal sedikit, lalu area tanah lapang berumput tinggi dengan jalan berbatu untuk kendaraan. Turun dari mobil, kami jalan sedikit menuju sungai yang dimaksud. Selama si bapak guide menyiapkan perabotan kami, foto-foto lah kami. Dan ternyata cuma kami berlima aja yang ambil paket rafting, jadi di sungai nggak ada orang selain kami. Puas deh.

IMG-20150605-WA0030

IMG-20150605-WA0043

IMG-20150605-WA0032

IMG-20150605-WA0031

IMG-20150605-WA0046

Sungai Oyo ini hijau agak gelap, di sisi kanan kami airnya tenang banget dan dari depan ke kiri mulai berarus, layaknya sungai untuk rafting. Ternyata untuk body rafting ini, dilakukan berdua-dua. Jadi 2 ban diikatkan baru meluncur sama-sama. Si pasangan cewek-cowok itu duluan. Lalu Meina dan Ike diikatkan bersama. Aku? Sama si bapak? Eh ternyata nggak, aku dibiarkan meluncur sendirian. Buset deh.

Nggak ada helm maupun alat pengaman apapun, nggak ada teman pula. Huaaa… Aku meluncur sendiri menuju arus deras sambil berharap nggak kenapa-kenapa. Dan memang aman-aman saja karena arus deras nya cuma sedikit banget, sekitar 50 meter saja sisanya air tenang lagi.

Dan memasuki wilayah air tenang, aku terkagum-kagum dengan batuan di sekeliling sungai. Entah batuan apa, bentuknya lucu dan unik, minta difoto banget deh. Dan saking tenangnya air, si pasangan yang meluncur duluan malah mandek di tempat dan aku salip.

IMG-20150605-WA0004

IMG-20150605-WA0005

DSCN0844

Ternyata body rafting nya benar-benar singkat, jeram nya ya segitu aja tadi. Sisanya sungai tenang banget dan membuat kami harus sambil dayung-dayung pakai tangan dikit kalau mau maju. Sekitar 300 meter setelah jeram, ada air terjun yang namanya Air Terjun Pengantin, tapi bukan yang di film nya Tamara Blezynski lho.

Sebelum air terjun, ada jumping spot lagi. Kali ini tinggi nya sekitar 8 meter. Ike sama Meina mau coba loncat. Aku? No! Nggak berani cyin, daripada setengah jam nungguin aku perang batin antara loncat atau nggak, mending nggak usah.

Jadi di saat mereka berdua manjat ke atas dan berdiskusi gimana loncat-nya, aku duduk-duduk aja di batu. Tapi duduk di batu aja aku kepanasan banget karena waktu sekitar jam 1 siang dan matahari terik abis.

Berhubung Ike dan Meina masih diskusi dan mempertimbangkan safety loncat ke bapak guide, aku berjalan ke air terjun aja. Dan main-main air sambil mandi plus keramas di air terjun, maksudnya berasa mandi plus keramas. Hehe…

DSCN0860

Dan datanglah rombongan lain yang jumlahnya lebih banyak daripada kami. Sebagian menuju jumping spot juga. Dan dua orang langsung loncat. Ike sama Meina? Masih asik diskusi. Hehe…

Menimbang-nimbang, mau loncat nggak ya?
Menimbang-nimbang, mau loncat nggak ya?

Entah mengapa akhirnya mereka berdua memutuskan untuk turun alias nggak jadi loncat. Mungkin merasa nggak yakin. Apalagi setelah itu mereka bilang satu dari 2 orang yang loncat tadi malah mual-mual. Tambah bikin mereka mundur. Mungkin tuh orang keminum banyak air sungai pas nyebur kali. Dan akhirnya Ike sama Meina pun main-main di air terjun. Nggak lama sih sekitar 10 menit aja. Karena sudah ada rombongan lain juga, jadi kami melanjutkan perjalanan kami.

DSCN0871

DSCN0872

DSCN0848-1

DSCN0847

Sisa perjalanan kami hanya sungai berarus tenang seperti tadi, hanya di kanan- kiri sudah nggak berbatu-batu seperti sebelumnya. Hanya pohon-pohon saja. Dan 300 meter di depan juga sudah pick up point kami.

Kami main di Sungai Oyo sekitar 1,5 jam. Di tengah panas matahari terik. Kayaknya begitu naik sekitar jam 2-an tingkat kehitaman kulit sudah meningkat 20 %. Hehe…

Kembali lagi ke area penitipan barang di dekat Gua Pindul. Kami mengambil barang-barang kami, juga beberapa barang di mobil. Kami sekalian langsung mandi dan berganti baju disana. Setelah itu langsung makan in**mie kuah pakai telor. Nyammm… Badan langsung terasa hangat.

Nggak bisa berlama-lama disitu karena kami masih harus menuju area pantai di Gunung Kidul dan mencari hotel, berhubung kami belum dapat hotel yang pasti untuk menginap. Sekitar jam 2.30 kami meluncur dari Gua Pindul.

Tujuan kami : Pantai Krakal. Dari hasil googling, kayaknya asik nginep di Pantai Krakal. View nya bagus. Meskipun kami belum menemukan hotel untuk diinapi di sekitar situ, tapi bisa nanti on the spot aja lah.

Jalan menuju Pantai Krakal lumayan jauh, berkelok-kelok, dan banyak pepohonan serta perbukitan di sekeliling. Lihat dari lingkungan sekitarnya, nggak bakal nyangka kalau daerah situ dekat pantai. Wong sekeliling serba hijau gitu. Dan kebanyakan area pantai tersembunyi di balik bukit.

Jalanan di Gunungkidul menuju Pantai Krakal
Jalanan di Gunungkidul menuju Pantai Krakal

Pun begitu dengan tujuan kami pantai Krakal. Mengikuti papan petunjuk jalan, kami belok kanan di dekat arena balap motor offroad yang lagi ramai di sisi sebuah bukit. Setelah belok kanan, tinggal lurus sekitar 150 meter dan kami memasuki area pantai.

Pantai Krakal ini bagusss… Batu karang besar yang berdiri kokoh di sisi laut membuat eksotik pantai ini. Dan di sisi kanan terdapat beberapa bukit yang tidak terlalu tinggi, mungkin nanti kami bisa hiking kesana.

Kami pun menyusuri pantai pakai mobil. Agak jauh di kanan, kami memarkir mobil. Ceritanya mau menikmati angin pantai sambil santai sejenak setelah menempuh perjalanan jauh. Baru turun mobil, rambut kami sudah beterbangan kemana-mana. Anginnya dashyat bo!

Sibuk megangin rambut supaya nggak berantakan diterpa angin 😃
Megangin rambut supaya nggak berantakan diterpa angin 😃

IMG-20150605-WA0082

IMG-20150605-WA0080

Santai sejenak dan mengambil beberapa foto, sekitar 15 menit saja, dan kami harus kembali ke mobil. Ya, kami harus segera mencari penginapan. Di pantai ini tadi kami lihat bangunan kecil bertuliskan hostel, tapi karena bentuknya nggak meyakinkan, kami nggak niat untuk bermalam disitu.

Tadi sebelum parkir, kami melihat semacam vila agak tinggi gitu posisinya. Mungkin aja ada kamar yang disewakan. Kami datangi lah tempat tersebut, dan bertemu seorang ibu yang menjaga tempat tersebut. Tanya-tanya, ternyata itu semacam hall yang disewakan, biasa buat rombongan dan sekalian tidur juga di aula yang sama dengan tempat tidur yang nanti disediakan. Tarifnya 2,5 juta kalo nggak salah. Beuh, sama sekali bukan yang kami butuhkan. Si ibu sih bilang, ada kamar yang disewakan seharga Rp 300.000 non AC, tapi…

Hall nya di belakang kami tuh
Hall nya di belakang kami tuh

Uhm… Waktu menuju kawasan 12 pantai Gunungkidul, kami lupa ambil uang di ATM. Dengan pikiran, nanti ambil ATM di dekat hotel aja. Eh ternyata, kata bapak penjaga pintu masuk kawasan 12 pantai, dia area situ nggak ada ATM, adanya sana jauh di kota. Indom***t? Pikir kami kan bisa tarik tunai juga kalau belanja disitu. Udah lewat, Indom***t nya 5 km di belakang kami. Ya ampiun… nggak mungkin kami putar balik jauh demi ambil uang kan. Ya udah, nanti cari hotel yang bisa bayar dengan gesek credit or debit card aja. Lagian hari gini, masa iya hotel nggak bisa pake kartu bayarnya? Begitu logika kami, meskipun akhirnya ragu-ragu juga, secara ATM aja nggak ada, masa’ ada mesin EDC?

Dan ternyata benar, penginapan yang ditawarkan ibu tadi seharga Rp 300.000, nggak bisa bayar pake kartu, harus cash. Lha wong bayarnya ke si ibu yang udah berumur paling sedikit 50 tahun itu, masa iya dia punya mesin EDC sendiri? Mundur lah kami. Nggak punya cash, lagipula harga segitu jauh di luar budget kami.

Meluncur lagi. Kami coba cari hotel yang sudah kami hubungi kemarin. Bukan di area pantai Krakal, tapi nggak jauh dari situ. Tanya-tanya orang, 2 hotel yang kami cari lokasi nya nggak sampai 5 menit naik mobil kok. Malah kami sempat ditawarkan menginap oleh warga di salah satu bangunan bertingkat semacam ruko yang posisinya di pojokan alias hook. Tapi karena namanya cuma “penginapan” kami nggak langsung mengiyakan, tapi jadi alternatif kalau 2 hotel yang kami tuju nggak oke.

Hotel pertama yang jadi tujuan kami : Hotel Paradiso. Kata bapak yang tadi kami tanya, begitu keluar area pantai Krakal, dari jalan utama menanjak, nanti di atas pas ada tanah datar langsung masuk ke kiri. Mengikuti petunjuk si bapak, kami menemukan tanah datar dan jalan masuk ke sebelah kiri. Jalan masuknya penuh pohon di kanan kiri nya. A bit spooky.

Tapi kami tetap masuk juga, meskipun dalam hati ragu-ragu banget. Begitu terlihat bangunan, ada seorang ibu-ibu disitu. Langsung kami buka jendela dan tanya, “Bu, ini hotel Paradiso?”

“Iya,” jawab si ibu singkat. Dan terlintas di pikiranku, si ibu itu beneran manusia bukan ya? Mengingat lokasi yang suram.

“Ada kamar, bu? Harga berapa?” Meina lanjut bertanya.

“Ada. Harga 60-80 ribu. Lihat dulu aja.”

Murah sih. Tapi… Ya udah, kami parkir dulu di sudut yang lumayan sempit dan agak curam. Lalu turun dan mengikuti si ibu tadi yang ternyata manusia beneran. 😃

Si ibu membuka salah 1 kamar. “Ini yang harga nya 60 ribu.” Kamarnya kecil, dengan 2 tempat tidur kecil dan kamar mandi yang berbau pengap. Hmm… Nggak mungkin buat bertiga sih.

Lalu, si ibu menunjukkan lagi 1 kamar lain dari total 8 kamar disitu yang seluruh bangunannya terbuat dari kayu. Kamar yang 80 ribu, tempat tidurnya besar, bisa sih bertiga. Tapi gelap dan suram. “Bu, ini bisa dinyalain nggak lampunya?” Meina tanya dan kami bertiga kaget pas nengok si ibu nggak ada disitu. Udah mau merinding, tapi tiba-tiba lampu menyala dan si ibu muncul dari luar, ternyata dia habis nyalain lampu dari bangunan sebelah. Bujug, nyalain lampu aja jauh bener.

Pas si ibu tanya, kami cuma bisa bilang, “Kita lihat dulu ya Bu. Masih mau lihat 1 tempat lagi. Kalo disana nggak oke, kita balik kesini.” Si ibu hanya mengiyakan.

Kami kembali ke mobil dan langsung mengambil keputusan. Ogah ah nginep disitu. Serasa di tempat syuting film horor. Mana nggak ada tamu yang nginep pula. Dan mendadak aku ingat judul film Hollywood “Cabin In The Woods”. Bangunan kayu di tengah hutan, ya meskipun itu bukan hutan tapi banyak pepohonan rindang yang bikin suasana tambah seram. Paradiso, namanya nggak sesuai sama bentuknya. Dan hotel itu benar-benar jadi highlight di perjalanan kami kali ini.

Kami menuju hotel berikutnya. Lupa nama hotelnya, tapi letaknya persis di pinggir pantai Sadranan. Dan hotel itu sudah kami booking lewat sms, untuk 3 orang. Beberapa menit saja sudah sampai. Pantai Sadranan ini ramai, jauh dibandingkan pantak Krakal yang tergolong sepi. Dan kami langsung minta ditunjukkan kamar seharga 150 ribu untuk bertiga.

Kamarnya berjejer dan berhadapan dengan jejeran kamar lain yang dipisahkan tanah kosong dengan lebar sekitar 6 meter. Kami diperlihatkan salah satu kamar yang masih kosong. Kamarnya bernuansa kayu, lebih luas sih daripada kamar di Paradiso tadi. Tapi suasana nya agak suram, ditambah lampu kamar nya bukan neon, tapi lampu kuning.

Memang hotel itu dekat pantai sih, berjalan ke dalam sedikit dan melewati beberapa pondokan kayu, tibalah kami di pantai Sadranan. Disitu ramai karena bisa dipakai untuk snorkeling. Jadi dari pantai, ada area yang seperti dipagari bebatuan sehingga airnya tidak langsung terkena hempasan ombak besar dari laut lepas, sehingga bisa digunakan untuk snorkeling.

Setelah melihat area pantai sebentar, kami berjalan kembali ke mobil. Dan memutuskan, kami nggak nginap disitu juga. Nggak sreg, apalagi pas penjaga nya bilang hotel itu masih 1 grup sama Paradiso yang tadi kami datangi. Hehe…

Akhirnya kami kembali ke pantai Krakal. Dan memutuskan menginap di penginapan yang di hook tadi. At least disana area terbuka langsung pantai, nggak suram atau sepi.

Begitu masuk area pantai Krakal lagi, langsung juga ketemu penginapan tadi. Mayasari namanya. Berharap dapat kamar yang ujung karena langsung menghadap laut. Dan setelah bilang sama ibu penjaga penginapan, kami langsung diantar melihat kamar. Yang ujung. Persis keinginan kami. Kamarnya nggak terlalu besar, tapi tempat tidurnya queen size, bisa untuk bertiga. Kamar mandi nya juga lumayan bersih, nggak pengap. Dan ada TV, yang nggak tersedia di 2 hotel tadi.

Tanpa pikir panjang, kami langsung ambil. Harganya 200 ribu/malam. Dan setelah nego dapat 150 ribu. Tapi… “Bu, bayarnya bisa debet nggak? Atau transfer rekening?”

“Yah, nggak bisa mbak. Saya kan cuma jaga aja.”

Lalu kami menceritakan garis besar keadaan kami yang nyaris nggak pegang uang cash. Lalu si ibu bilang, ada kok ATM di area pantai, 7 km dari situ. Kalo mau, besok kami diantar ambil uang ke ATM, tinggal bayar ongkos ojek aja. Deal.

Setelah mengangkut barang-barang kami dari mobil ke kamar dan sedikit berberes santai, kami turun dan cari makan malam. Maklum aja, kami baru masuk kamar mendekati jam 6 sore. Rencana untuk mencari sunset spot gagal karena langit mendung dan matahari sudah nggak kelihatan. Dan sekitar jam 6.45 kami berkeliling mencari rumah makan.

Ternyata, kalau malam begitu area situ gelap banget. Tetap sih ada warung dan rumah makan yang buka, tapi sepi dan gelap. Untung saja penginapan kami ada di area paling depan dan ramai. Coba kayak tadi di Paradiso. Mau cari makan aja jauh, baliknya gelap. Hiii…

Setelah berkeliling dan tanya beberapa ibu penjaga, kami memutuskan makan di salah satu rumah makan sederhana yang jaraknya hanya beberapa meter dari penginapan. Selang beberapa ruko aja. Kami memesan paket ikan bakar seharga 60 ribu, yang terdiri dari 5 ekor ikan bakar dan goreng, kangkung cah, dan cumi saus padang. Minum teh tawar hangat udah paling pas.

Makan malam kami pun datang, setelah nunggu lamaaaaa… Nasi sebakul, dan lauk-lauk yang disebutkan tadi. 5 ekor ikan yang kami kira bakal kecil-kecil, ternyata lumayan besar, seperti ikan mujair berukuran sedang. Dan sebanyak itu untuk kami bertiga aja. Dan rasanya… Juara! Ikan bakar, ikan goreng, kangkung, cumi, bahkan sambal, semuanya enak. Kami sampai nambah nasi saking lahapnya. Kebayar deh nunggu makanan hampir 1 jam. Enak banget!!!

Makan malam kami yang dashyat
Makan malam kami yang dashyat

Setelah kenyang dan puas dengan makan malam kami, juga leha-leha sampai makanan turun semua ke perut, tibalah waktu membayar. Berikut minum trh tawar hangat hanya 66 ribu aja untuk bertiga. Padahal makan sampai perut penuh, cuma bayar 22 ribu masing-masing. Kalau di DC**t, 66 ribu mungkin untuk 1 orang aja dan belum tentu rasanya seenak dan ikannya sesegar yang kami makan. Haha…

Puas banget dengan makan malam, kami pun kembali ke kamar untuk segera tidur. Berhubung semalam tidur kami nggak jelas di kereta, dan besok pun kami harus bangun pagi untuk mengejar sunrise, juga akan menempuh perjalanan jauh lagi kembali ke kota Jogjakarta, maka kami pengen cepat tidur saja. Jam 8.30 kami sudah siap tidur, ngobrol-ngobrol sebentar lalu tidur. Zzzz…. Btw, nggak kebayang kalo kami nginap di Paradiso, bakalan bisa tidur nggak ya? Hehe…

Advertisements

HUJAN-HUJANAN DI PHUKET (3)

Pagi-pagi kami bangun dan langsung bersiap-siap tur ke Phiphi Island. Ngarep nggak hujan kayak kemarin, tapi ternyata hujan tetap turun. Dan sampai mobil penjemput kami tiba pun, kami menaiki mobil dengan buru-buru supaya nggak terlalu basah kena hujan.

Kali ini mobil kami diisi dengan sekeluarga orang Tiongkok, yang ngobrol dengan nyaringnya padahal orang yang diajak ngobrol di depan muka. Dan sepanjang perjalanan, kuping kami lumayan capek juga dengar beberapa obrolan bersuara nyaring dari beberapa sumber. Iya, tuh keluarga aja ada 5 orang, ayah ibu, 2 anak dan 1 pacar anaknya, jadi mereka bikin 2 grup obrolan yang sama-sama nyaring. Berikutnya naik juga rombongan keluarga dari Tiongkok, yang juga sama cara bicaranya, tapi mendingan karena ada anak kecil jadi mereka nggak selalu ngoceh ngegrup, tapi kadang harus ngurusin anak kecil itu.

Perjalanan ke dermaga memakan waktu sekitar 2 jam juga, seperti kemarin. Kali ini kami naik speed boat, jadi lebih ngebut. Di pinggir dermaga ada kapal seukuran big boat tapi lebih bagus. Karena orangnya lebih banyak daripada kemarin di big boat, kupikir speed boat nya itu, ukuran sebesar big boat tapi lebih cepat.

Eh ternyata aku tertipu, speed boat kami adanya di balik kapal yang besar dan bagus itu. Ukurannya kecil, seperempat big boat kemarin, padahal orangnya 3x lipat kemarin. Jadi di tengah tersedia beberapa puluh kursi, tapi di sekeliling pinggir juga tersedia tempat duduk menempel ke dinding kapal. Dan seluruh kursi full bahkan nggak muat, dan ada yang terpaksa berdiri. Weleh… Ini sih jauh dari bayanganku soal speed boat, kupikir kayak speed boat dari Sanur ke Nusa Lembongan Bali yang kursinya jelas, bukan kursi tambahan kayak begitu.

Ada turis Tiongkok, bapak-bapak berumur 50-an yang komplain karena dia dan pasangannya (entah istri atau pacar, hehehe…) yang masih muda nggak dapat kursi dan disuruh duduk di belakang kapal tapi wilayah belakang kapal nggak kebagian atap. Eh malah diocehin sama leader guide, kalo nggak suka ya nggak usah ikut, karena ikut tur di musim hujan gini, harusnya tahu resikonya. Tapi kalo nggak jadi ikut, uang nggak kembali karena bayarnya kan ke agen masing-masing. Dan seperti bisa diduga, mana ada yang mau rugi. Jadi, sambil ngedumel, tetap aja tuh bapak ikut, dan pasangannya akhirnya bisa duduk, entah siapa yang mengalah kasih kursi.

Bagian belakang speed boat full sampai ada yang berdiri
Bagian belakang speed boat full sampai ada yang berdiri

Lalu speed boat pun berangkat. Dalam kondisi hujan deras. Lagi. Jadi hampir seisi kapal pakai jas hujan. Dan kami kebagian duduk di pinggir, jadilah kena cipratan air hujan dan air laut sepanjang perjalanan.

Sebelumnya, leader guide umumin kalau cuaca hujan begini, ombak bakal besar dan perjalanan selama sekitar 2,5 jam untuk mencapai spot pertama bakal tergoncang-goncang, jadi kalau ada yang mual dan butuh obat anti mabuk dan kantung plastik untuk you-know-what, sudah disediain sama mereka.

Dan benar aja, guncangan kapal lumayan kencang sampai aku dan temanku yang merasa duduknya nggak safe, jadi harus saling pegangan tangan. Karena nggak ada lagi yang bisa dipegang, tiang kapal pun jauh dari jangkauan kami.

Terguncang-guncang keras di satu jam pertama, aku dan temanku malah ketawa-ketawa. Seru aja. Lagian aku udah beberapa kali naik speed boat jadi nggak kaget dengan guncangannya. Temanku juga nggak mual-an. Tapi, penumpang lain yang mayoritas nini-nini dari Tiongkok yang duduk di area tengah kapal, sudah pada pucat. Ada yang memaksakan diri untuk tidur, ada yang sudah sibuk oles-oles minyak angin di sekitaran leher, ada yang sudah minta kantung plastik. Dan begitu satu menggunakan kantung plastik, menular lah ke yang lain. Hadehhh…

Karena sudah mulai bosan, aku berusaha untuk tidur. Tapi nggak berhasil. 2,5 jam cuy tergoncang-goncang dengan pemandangan orang pada mabuk laut. Duhhh…

Akhirnya speed boat menurunkan kecepatan, kami tiba di Viking Cave. Berhenti sekitar 5 menit disitu, kata guide sih buat ambil foto. Berhubung kapal sangat penuh dan hampir semua orang sudah ambil spot di sebelah kiri kapal untuk foto-foto, aku dan temanku nggak sempat ambil foto sampai kapal bergerak meninggalkan spot itu. Cedihhh…

Lalu, leader guide mengumumkan bahwa hari itu kami nggak bisa mampir ke Maya Beach, yang dipakai untuk syuting film The Beach-nya Leonardo Dicaprio waktu masih abege, yang sebenarnya spot utama di paket hari itu. Karena hujan deras banget, jadi air naik dan menutupi Maya Beach. Kami cuma diperlihatkan posisi Maya Beach yang cuma bisa kami lewati aja. Cedihhh lagi.

CANON IXUS Theo 619

Akhirnya kami menepi di Monkey Beach. Dinamakan Monkey Beach karena banyak monyet disitu. Leader guide mewanti-wanti kami semua, kalo kasih makan monyet, jangan terlalu dekat sama monyet-nya karena kadang suka nyakar. Oke sip!

CANON IXUS Theo 626

CANON IXUS Theo 627

Karena Monkey Beach nggak terlalu luas dan kapal kami banyak orang, jadi berasa sempit. Ditambah dengan puluhan monyet yang berkeliaran. Dan di sela-sela keramaian, tiba-tiba terdengar teriakan. Seorang cewek ketakutan karena tiba-tiba dikelilingi beberapa monyet dalam jarak sangat dekat. Padahal udah dibilangi sama guide, kasih makan monyet jangan terlalu dekat. Beuhhh… Entah siapa yang akhirnya ngebantuin tuh cewek, aku nggak perhatiin lagi.

Di Monkey Beach hanya sekitar 15 menit, dan aku pun bosan. There’s nothing much to do. Dan kami pun kembali ke kapal. Setelah semua penumpang yang turun (ada juga penumpang yang malas turun lho) kembali naik kapal, leader guide mengumumkan bahwa setelah ini kami akan snorkeling yang lokasinya hanya sekitar 10 menit dari situ. Lanjuttt…

Dan tiba-lah kami di dekat spot snorkeling. Ditawarin paket diving lengkap oleh guide, tapi kudu bayar ekstra (lupa persisnya berapa THB) dan migrasi ke kapal lain yang kayaknya kerjasama dengan kapal kami. Karena nggak ada yang mau diving, kapal dibawa sedikit menjauh dari kapal untuk diving tadi.

Spot snorkeling. Semua dipersilahkan turun. Yang mau berenang, snorkeling, bebas. Asal perabotannya diperhatiin aja. Berhubung aku udah pinjam fin seharga 100 THB tadi, rugi kan kalo nggak dipake, ya sudah turun aja. Temanku sih santai aja nggak sewa fin, jago renang doi. Ngiri.

Dan turunlah kami ke laut. Byur… Dan di laut sudah pada berenang bergerombol nini-nini dari Tiongkok itu. Hebat juga tuh para nini, berani nyemplung di laut padahal abis mabok berjemaah. Hehe…

Waktu snorkeling, aku berpisah sama temanku. Karena dia nggak pakai fin, jadi lebih gampang turunnya. Ditambah lagi, sekitaran situ ramai banget sama orang, jadi aku nggak tau temanku yang mana. Ya kali, bisa nemuin doi di antara seratusan orang yang mengambang di sekitar kapal.

Aku berenang-renang sedikit. Snorkeling pun nggak jelas apa yang dilihat. Nggak kelihatan coral, ikan pun sedikit. Air juga nggak jernih. Yang kelihatan malah kaki-kaki rombongan nini-nini yang bergerombol. Aku pun berenang sendiri mengitari kapal, sambil mencari temanku. Nggak ketemu juga sampai di dekat tangga naik, jadi aku memutuskan untuk naik saja. Nggak menikmati snorkeling-nya.

Begitu mau naik, eh ternyata temanku sudah nungguin di dekat tangga naik. Rupanya dia sudah naik duluan dan nungguin aku disitu. Ya sudahlah aku naik saja. Tapi di depanku ada yang lagi naik juga, sesama orang Indo yang nggak asik (baca di : Turis-turis Lain). Dan pas aku naik di tangga, tali kapal menjepit kaki-ku. Sudah aku usahakan tarik, malah makin kencang terjepit. Rupanya tali itu ditarik salah satu penumpang yang lagi snorkeling, sampai aku dan orang lain teriak-teriak pun tuh orang nggak dengar karena telinganya di bawah air.

Setelah berusaha narik tali itu sambil teriak-teriak, tali pun mengendur. Dilepas sama orang yang lagi snorkeling tadi. Buru-buru lah aku naik sebelum terjepit lagi. Cuma agak malu aja karena beberapa orang yang sudah naik jadi ngeliatin aku karena teriakan-ku tadi. Ehmm…

Setelah naik, aku langsung pake cardigan. Biar nggak terlalu dingin. Dan temanku bilang, tau nggak siapa yang tadi snorkeling sambil narik tali kapal? Si gempal, temannya si manis, sesama orang Indo yang nggak asik tadi. Setelah sadar diteriakin dan lepas tali pun, mukanya lempeng aja. Duhhh… Heran juga, orang Indonesia sekarang udah nggak kayak dulu yang terkenal ramah tamah.

Selesai ber-snorkeling ria sekitar 30 menit (cuma dikasi waktu segitu sama guide), dan semua penumpang sudah naik, kapal meluncur lagi. Kali ini kami menepi di pulau Phi Phi Don, yang sudah ada bangunannya karena disitu digunakan untuk makan siang kami.

Sambil menuju Phi Phi Don, leader guide menjelaskan, karena ombak makin tinggi, jadi untuk kembali ke Phuket, penumpang diberi 2 pilihan : ikut sama doi naik big boat yang nanti akan mampir ke Phi Phi Don atau tetap naik speed boat bersama kru yang lain dengan kondisi ombak akan lebih besar dan goyangan kapal bakal lebih yahud, diperkirakan ombak sampai 10 meter. Sebagai pembanding, waktu kami berangkat tafi ombak sampai 6 meter aja udah terbantong-banting di kapal.

Aku dan temanku berdiskusi dan memilih big boat, sama seperti kebanyakan penumpang. Sisa beberapa orang saja, termasuk para bule, yang memilih tetap di speed boat untuk perjalanan pulang ke Phuket.

Setelah makan siang yang cukup mengenyangkan sekitar jam 12.50, kami berkumpul di dermaga. Leader guide mengumumkan perubahan lagi. Tetap 2 pilihan : pulang ke Phuket naik big boat dijemput sekitar jam 2 tapi doi nggak jadi ikut disitu nemenin penumpangnya yang migrasi, atau ikut speed boat cabut sekarang dan mampir dulu di Khai Island bersama doi. Spontan aku dan temanku berubah pilihan, ada yang mampir pulau lain dulu, ya tentu aja kami memilih itu. Sudah bayar mahal-mahal untuk ikut tur tapi karena cuaca buruk jadi banyak yang ‘hilang’, masa kami pulang begitu saja? Nggak mau rugi, dan kami pun nggak masalah tergoncang-goncang di speed boat, kami memilih option 2.

Our lunch at Phi Phi Don
Our lunch at Phi Phi Don
Lokasi makan siang di Phi Phi Don
Lokasi makan siang di Phi Phi Don

Nggak lama setelah rombongan terbagi 2, kami yang memilih speed boat langsung berangkat. Ternyata yang akhirnya memilih speed boat lumayan banyak juga, sekitar 30 orang.

Perjalanan menuju pulau Khai tetap penuh guncangan. Tapi cuaca sudah nggak hujan, malah matahari bersinar terang benderang. Dan kali ini lebih bisa menikmati karena kapal nggak sepadat tadi pagi dan nggak sibuk mengalihkan pandangan dari para mabok-ers. Hehe…

Karena aku dan temanku tetap duduk di pinggir dan nggak ada pegangan, sedangkan kapal terus berguncang keras, temanku berpegangan (ijin dulu lho 😄) pada pundak salah satu turis asing yang ramah di sebelahnya. Dia ngerti lah kondisi duduk kami.

Perjalanan ke pulau Khai hanya sekitar 1 jam. Dan cuaca tetap cerah ceria. Finally. Kami nggak perlu tampak aneh pakai jas hujan di pantai. Hahaha…

Pulau Khai pas kami datang sepi banget. Hanya ada 1 speed boat lain selain kapal kami. Kata leader guide kami beruntung bisa dapat pulau Khai yang sepi begitu karena biasanya ada ribuan orang disitu. Bujug dah.

Di pantai sudah berjejer puluhan kursi malas dengan payung warna-warni yang bisa disewa. Harga sewa nya150 THB untuk 2 kursi. Awalnya kami malas untuk sewa (tepatnya sayang ngeluarin uang 😃) tapi karena kami perlu tempat untuk taruh barang dan sedikit duduk santai ya terpaksa kami sewa juga. Tapi kami memutuskan nggak beli apa-apa karena semua mahal di pulau itu. Maklum aja, kata leader guide, pulau Khai ini sebenarnya tidak berpenghuni, tapi sejak jadi tempat wisata pulau itu dibangun restoran dll dan jadi sumber pendapatan untuk penduduk pulau sekitar.

Kami punya waktu 2,5 jam untuk dihabiskan di pulau Khai. Asyik… Setengah jam pertama kami habiskan dengan duduk-duduk santai dan ngemil. Kami juga ngobrol sedikit dengan 2 orang turis asal London yang salah satu nya jadi tempat pegangan waktu di kapal tadi. Mereka ramah banget. Dan mereka senang banget bisa jalan-jalan di Phuket, yang menurut mereka indah banget. Hmm… Aku jadi gatal mau promosi Indonesia yang nggak kalah (bahkan menurutku lebih) indah. Kami menyebut Bali dan mereka kayak nggak pernah dengar gitu. Hah? Hari gini nggak tau Bali? Sayang aku nggak bawa tablet-ku yang kupakai untuk menyimpan foto-foto traveling-ku. Kalo aku bawa, langsung aku perlihatkan betapa cantiknya Indonesia-ku.

Setelah santai-santai, 2 bule tadi ber-snorkeling ria. Dan kami hanya jalan-jalan santai sambil foto-foto. Pulau Khai ini pasirnya putih dan airnya tosca hingga biru muda. Di ujung-ujung terdapat batu-batuan dan pepohonan. Tapi pulau ini nggak terlalu luas, sebentar saja kami sudah mentok dari ujung ke ujung. Untungnya sepi jadi kami bisa jalan sambil ambil foto dengan slow motion, nggak takut mengganggu atau diganggu banyak orang. Baru berasa istilah ‘santai kayak di pantai, selow kayak di pulau’. Hehe…

CANON IXUS Theo 672

CANON IXUS Theo 679

CANON IXUS Theo 645

CANON IXUS Theo 658

CANON IXUS Theo 668

CANON IXUS Theo 674

IMG-20141104-WA0014

CANON IXUS Theo 684

Sekitar jam 16.30 kami sudah diteriakin leader guide untuk kembali ke kapal. Dan setelah semua penumpang kembali ke kapal, leader guide baru kasitau, ternyata dari pulau Khai untuk kembali ke Phuket hanya butuh waktu 10 menit saja, sodara-sodara. Betapa rugi nya rombongan yang ikut big boat. Apalagi kedua kapal sampai di dermaga di waktu yang bersamaan. Beruntung lah kami nggak salah pilih jadi nggak terlalu rugi.

Setelah semua penumpang yang kembali ke Phuket, baik yang naik speed boat maupun big boat, sudah kumpul semua, langsung dijemput oleh driver mobil yang mengantar tadi pagi. Kami kembali menaiki mobil yang sama untuk diantar ke hotel.

Karena sampai hotel sudah agak malam, kami hanya beres-beres dan mandi sebentar. Malam terakhir mau kami habiskan dengan hunting makanan dan sate barbeque. Haha…

Hasil googling, katanya kalo malam ada pasar jajanan di dekat Jungceylon mall. Jadilah kami kesana berniat ngemil-ngemil jajanan khas Thailand. Setelah menelusuri jalan, Jungceylon nya ketemu, tapi pasar yang dimaksud nggak ketemu. Tanya orang malah bilang pasar nya udah ditutup. Haduhhh…

Jungceylon Mall
Jungceylon Mall

Nggak putus asa dan penasaran, karena yakin di sekitar situ ada pasar, dan kayaknya orang yang kami tanya nggak ngerti maksud kami, jadi kami susurin sekitaran Jungceylon mall. Di salah satu sisi nya, seberang nya ada semacam komplek pertokoan yang mirip pasar. Terang pula. Mungkin itu pasar. Coba kesana deh.

Menyeberang jalanan yang agak berantakan karena ada galian di pinggir jalan dekat pertigaan, kami sampai di tempat yang kami maksud. Benar saja, bentuknya kayak pasar yang sudah pada tutup. Tapi di area parkiran banyak kios-kios jajanan. Ini dia nih! We found it!

Langsung hunting yang kami cari. Ada 1 stand sate barbeque tapi udah ludes. Melipir terus sampai ke dalam, stand sate barbeque yang kami cari nggak ada lagi. Hix… Akhirnya kami jajan yang lain aja, sambil celingak-celinguk mungkin ada stand sate barbeque nyempil. Hehe…

CANON IXUS Theo 698

CANON IXUS Theo 697

Setelah keliling sekitar selama setengah jam dan nggak menemukan tujuan utama kami padahal udah disusuri dari ujung ke ujung, kami memutuskan untuk pindah lokasi. Masuk sebentar ke Jungceylon mall, dan ternyata ada pertunjukan dancing fountain sebentar lagi. Yah, nunggu 20 menit cingcay lah.

Setelah menunggu dancing fountain mulai dan menonton sekitar 15 menit, kami pun beranjak dari situ. Mengarah kembali ke hotel, sambil berharap menemukan yang kami cari di tengah jalan.

The dancing fountain
The dancing fountain

CANON IXUS Theo 692

IMG-20150406-WA0030

Benar saja, di jalan kami menemukan kedai mie yang di samping nya juga menyediakan sate barbeque. Karena kami lapar, kami pesan makan berat dulu, setelah itu kami berniat ngemil sate barbeque. Tapi… Sayangnya kami nggak berhasil juga menyantap sate barbeque karena sesuatu hal (baca juga di Turis-turis Lain).

Selesai makan, sekitar jam 10.20, kami pun pulang ke hotel. Besok pagi kami akan dijemput jam 8 oleh Mr. Aek untuk city tour selama setengah hari sebelum  kembali ke Jakarta.