All posts by gihonia

Simply love music and traveling.

Ke luar negeri nggak bawa uang? Bisa…

Pernah keluar negeri tanpa bawa uang sepeser pun? Aku pernah. Sama Meina. Ke Malaysia. Tanpa bawa 1 ringgit pun. Dan bisa hidup, sodara- sodara…

Alkisah, kami dapat tugas dari komunitas rohani untuk ke Malaysia bersama tim. Tapi kami berangkat terakhir karena baru bisa berangkat hari Jumat malam sepulang kantor. Maklum, kami nggak mungkin ajuin cuti lagi karena 2 minggu sebelumnya baru aja cuti untuk jalan-jalan di sekitaran Jawa Timur.

Karena agak mendadak dan uang kami juga sudah habis pada perjalanan 2 minggu sebelumnya, persiapan kami sangat minim. Selain baju sesuai dress code yang sudah ditetapkan, kami hanya bawa baju tidur dan peralatan mandi plus obat-obatan pribadi. Sama sekali nggak bawa ringgit sepeser pun, rupiah aja minim. Maklum, baru pulang traveling jadi masih bokek.

Pokoknya yang kami tahu, makan dan penginapan kami ditanggung. Jadilah kami berangkat ke Kuala Lumpur hanya bawa diri dan baju. Dan kartu kredit, untuk kondisi kepepet.

Jumat malam sepulang kantor, langsung ke bandara Soekarno Hatta untuk flight jam 20.30. Tiba di KLIA 2 jam 23.30. Dan kami akan dijemput disana.

Tunggu punya tunggu, yang menjemput kami nggak muncul-muncul di tempat yang dijanjikan. Modal wifi, kami berusaha menghubungi anggota tim yang lain dan penjemput kami via Whatsapp. Entah kenapa, HP kami berdua connect dengan wifi bandara tapi nggak bisa Whatsapp. Layanan lain pun nyaris nggak bisa.

Akhirnya setelah coba-coba, kami berhasil menghubungi seorang teman di Jakarta via Facebook Messenger, untuk bantu sampaikan pesan ke penjemput kami kalau kami sudah menunggu di TKP. Dan pesan pun tersampaikan, kami akan segera dijemput setelah ybs selesai dengan urusannya di KLIA 1. Ternyata, yang jemput baru datang dari Jakarta juga tapi pakai Malindo Air, bukan Air Asia seperti kami. Hahaha…

Setelah menunggu lebih dari 1 jam, dan bolak-balik menolak tawaran para driver taksi bandara, akhirnya jemputan kami tiba. Ci Kezia, yang menjemput kami, ternyata bermasalah dengan kartu parkirnya, jadi doi agak lama karena harus urus parkiran dulu.

Singkatnya, kami meluncur ke apartemen yang disewa untuk tim. Malam itu kami sampai di apartemen lebih dari jam 2 pagi. Begitu sampai, langsung minum vitamin dan tidur. Karena jam 6 kami harus sudah bangun.

Sabtu pagi, kami bangun jam 6 dan harus siap jam 7. Sarapan di seberang apartemen, kami tinggal pesan dan makan lalu cus ke venue. Snack berlimpah disediakan di venue. Makan siang dan malam disponsori pula.

IMG-20160516-WA0011
Kalo sarapan disini
IMG-20160516-WA0012
Lunchie…
IMG-20160515-WA0007
Seminar di venue

Esok hari, jadwal kami hampir sama. Bangun jam 6, sarapan jam 7, menuju venue untuk acara ibadah sampai siang. Setelah ibadah, kami diajak makan siang oleh panitia. Setelah itu, salah satu donatur mengajak kami pesta makan durian. Durian King yang besar-besar dan menggoda itu dibuka dan dihidangkan di meja panjang. Makan aja, begitu katanya. Kalo ada yang nggak enak, bilang aja, nanti diganti. Beuh, nikmat lah pokoknya!

Siang menjelang sore itu, kekenyangan makan durian kami ditutup dengan air kelapa untuk menetralisir. Malamnya, kami diajak makan ke Jalan Alor di Bukit Bintang, Kuala Lumpur, menempuh 1 jam perjalanan dari Petaling Jaya, lokasi acara dan tempat menginap kami.

img-20160516-wa0015.jpg
Lunchie lagi
IMG-20160516-WA0014
Mamam duren yukkk…
IMG-20160515-WA0029
Pesta duren 😄

Dan karena aku baru pertama kali ke Malaysia, pengen foto di Menara Petronas dunk. Akhirnya selesai makan malam, mobil berbelok ke KLCC. Aku dan anggota tim yang sesama newbie di Malaysia semangat mau foto di depan ikon Kuala Lumpur yang lampunya masih menyala terang benderang itu.

Sampai di lokasi, karena sudah jam 12 malam dan mobil harus kembali jadi kereta labu sudah pada capek, sesi foto pun diwanti-wanti untuk nggak terlalu lama.

Jreng! Begitu kami turun dan siap foto, lampu Menara Petronas mati! Nasib amat yak. Alhasil, kami foto dengan Menara Petronas yang sudah gelap.

IMG-20160516-WA0032
Lampu Menara Petronas nya mati duluan 😂

Selesai sesi foto, kami pulang ke apartemen dan tiba jam 1 pagi. Aku dan Meina kembali cepat-cepat tidur karena kami harus bangun jam 4 pagi dan berangkat jam 04.30 mengejar flight kami jam 07.00. Ya, hari Senin, kami para karyawan swasta harus kembali beraktivitas di kantor.

Lalu, berapa ringgit yang kami keluarkan di Malaysia? 0. Kartu kredit pun nggak terpakai. Haha… Ya namanya juga disponsorin. Tapi nggak enak sih nggak ada uang pegangan sama sekali, karena mau jajan sendiri aja nggak bisa. Untung kebutuhan perut tercukupi sampai berlebih-lebih jadi nggak terlalu pengen jajan.

Moral of the story, keluar negeri nggak bawa uang bisa aja, asal disponsorin. Kalo jalan sendiri, tetap harus bawa uang kalo nggak mau jadi gembel di negeri orang. 😁😁😁

Advertisements

Peduli Politik Indonesia

Sesekali nulis serius boleh lah ya. Nggak melulu soal traveling atau alam, tapi kali ini mau share soal politik Indonesia. Cie elah… Gaya beudh dah, ala-ala pengamat politik. Eh lupa, harus sok serius.

Nggak sih, postingan ini nggak mau berat-berat amat juga, dan nggak mau bergaya pengamat politik dadakan juga. I just want to share how much I love this beautiful country and all its diversities.

Alkisah, aku tumbuh di Indonesia yang sangat beragam dan didukung dengan semboyan yang keren abis : Bhinneka Tunggal Ika. Tapi keberagaman itu sempat ternoda di tahun 1998 saat kekacauan terjadi di seluruh Indonesia dan menjadi momen yang sangat menakutkan bagi sebagian orang, terutama warga negara Indonesia dengan etnis Tionghoa dan beragama Kristen/Katholik. Begitu banyak cerita yang aku dengar mengenai rumah dibakar, toko dijarah, orang diperkosa dan bahkan dibunuh. Bukan hanya di Jakarta, tapi hampir seluruh Indonesia. Dan nggak sedikit orang yang akhirnya memutuskan untuk lari keluar negeri dengan alasan keselamatan. Sedih.

Waktu itu aku masih abg labil yang belum ngerti apa-apa, cuma tau lagi heboh penjarahan dan sekolah-ku pun diliburkan selama beberapa hari. Nonton tivi pun aku hanya mengerti bahwa situasi negara lagi goyah karena ribuan mahasiswa berdemonstrasi dan menduduki gedung MPR/DPR dan menuntut mundurnya Presiden Soeharto yang sudah menjabat selama 32 tahun, padahal harusnya maksimal 2 periode alias 10 tahun.

Situasi bertambah kacau di kala ada mahasiswa yang menjadi korban penembakan aparat keamanan. Kabarnya anak salah satu tetangga di RT sebelah yang kuliah di Trisakti pun turut menjadi korban kekerasan aparat. Tapi aku sendiri nggak ingat apakah kabar itu terkonfirmasi, maklum aku masih buta urusan gituan. Yang aku ingat, selama beberapa malam, bapak-bapak di gang kami, termasuk papa-ku, sepakat ngeronda untuk menjaga keamanan, karena ada informasi bahwa toko di depan kompleks sudah ikut dijarah massa, setelah supermarket terdekat dari rumah, Ramayana dan Borobudur di Ciputat habis dibakar massa. Syukurlah sampai kondisi normal, kompleks kami aman.

Beberapa hari kemudian, Presiden Soeharto mundur dan digantikan sementara oleh Wakil Presiden saat itu, Bapak BJ Habibie. Namun, ekonomi negara sudah terlanjur hancur oleh kejadian-kejadian mengerikan selama beberapa hari, ditambah pula krisis moneter sedang melanda dunia.

Singkat cerita, hingga aku dewasa, aku nggak peduli sama sekali dengan negara maupun politik. Punya hak pilih di usia 17 tahun pun nggak berpengaruh karena aku nggak tertarik untuk memilih orang yang katanya akan menjadi wakil rakyat. Apalagi semakin lama, setelah era reformasi tahun 1998, kondisi politik negara semakin kacau. Gus Dur yang menjadi Presiden terpilih secara legal saja digulingkan oleh oknum-oknum politik. Sudah lah, mungkin memang nasib Indonesia hanya memiliki pejabat busuk dan korup di pemerintahan. Orang baik macam Gus Dur malah disingkirkan.

Apatis. Mungkin itu kata yang tepat buat-ku, dan mungkin buat sebagian besar orang yang juga cuek bebek dengan kondisi Indonesia yang sepertinya tanpa harapan. Gonta-ganti Presiden, hanya sekedar berganti penguasa, nggak ada manfaatnya buat rakyat jelata macam aku. Yang ada, kerabat dan golongan penguasa ikut berkuasa pula dan sibuk bagi-bagi dana pemerintahan untuk masuk kantong.

Hingga tiba saat itu. 2012. Aku yang sudah bekerja di Jakarta mendengar kabar-kabar tentang pemilihan Gubernur Jakarta. Konon ada calon yang punya latar belakang bagus, tapi aku nggak tahu siapa namanya. Setelah beberapa lama, barulah aku mendengar berita, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur itu no. 3, yang sebelumnya sukses menjadi kepala daerah di tempat lain. Setelah aku tahu orangnya, aku agak kaget, ternyata calon wakil gubernur nya orang keturunan Tionghoa dan beragama Kristen. Tumben amat.

Dan semakin mendekati hari H pemilihan, semakin banyak berita tentang mereka, pasangan no. 3, Jokowi dan Ahok. Ditambah lagi, banyak pula seniman yang berkreasi untuk mendukung kampanye Jokowi – Ahok. Mulai dari buat video klip, hingga penyebaran berita latar belakang dan prestasi mereka di media sosial. Akhirnya aku mengikuti perkembangan kabar Jokowi – Ahok dan mulai melihat sesuatu yang sudah lama nggak aku lihat. Harapan.

Singkatnya, setelah berjuang selama 2 putaran dan mempopulerkan baju kotak-kotak ke seantero Jakarta, pasangan Jokowi – Ahok pun menang. Dan kemenangan itu pun terasa spesial, karena banyaknya orang yang selama ini apatis ikut berubah pandangan dan turun gunung memlih pasangan ini. Aku yakin mereka melihat apa yang aku lihat juga.

Setelah dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI yang sah, rasanya Jakarta lebih cerah. Bukan karena mereka bisa menyulap Jakarta menjadi nggak banjir dan nggak macet, toh mengatasi banjir dan macet perlu proses tahunan. Tapi ada warna dan aroma baru yang mereka bawa ke arena pemerintahan dan perpolitikan di Jakarta dan Indonesia.

Aku mulai berpikir, ternyata di Indonesia masih ada juga pejabat bersih dan niat membangun bangsa. Mungkin selama ini mereka tertutup oleh banyaknya pejabat-pejabat ngaco dan ignorant di penjuru tanah air. Ternyata, Indonesia masih punya harapan! Itulah yang menyebabkan kini aku peduli untuk mengikuti perkembangan di dunia pemerintahan dan politik Indonesia. Karena aku yakin, harapan ada dan akan terus ada hingga mengubah wajah Indonesia.

Dan terbukti, setelah fenomena kemunculan Jokowi – Ahok di Jakarta, daerah-daerah lain pun mulai menampilkan putra-putri terbaiknya, seperti Ibu Risma di Surabaya, Pak Ganjar di Jawa Tengah, Pak Ridwan Kamil di Bandung.

Kemudian, tahun 2014 Jokowi berhasil memenangkan pertarungan menjadi RI 1 dengan mengalahkan Prabowo Subianto. Lalu muncullah sosok Ibu Susi Pudjiastuti yang fenomenal, menteri lulusan SD dan bertato yang mendobrak stigma pejabat, dan membawa sistem kelautan dan perikanan Indonesia naik level dengan keberaniannya melawan kapal-kapal asing yang selama ini “menjajah” wilayah kelautan Indonesia.

Kini yang terbaru, ada Kang Dedy Mulyadi, Bupati Purwakarta yang merubah wajah daerahnya hingga mulai dikenal dan membuatku penasaran mau kesana. #hasratjalanjalanmuncul

Nggak salah kalau aku bilang Jokowi – Ahok adalah fenomena. Mereka bukan pejabat pada umumnya, buat-ku mereka adalah brand. Brand dari sebuah harapan.

Dan saat ini, beberapa hari setelah demo besar untuk memproses hukum Ahok yang katanya menista agama, aku hanya berdoa buat Indonesia supaya nggak kalah oleh tekanan kelompok-kelompok tertentu yang memaksakan kehendaknya. Indonesia tetap Indonesia. Yang akan terjadi atas Indonesia bukanlah kehendak golongan tertentu, tetapi apa yang sudah digariskan oleh Dia yang disebut pada sila pertama Pancasila. Dia-lah yang berdaulat atas bumi Indonesia. So, keep calm aja deh. Mau jungkir balik kayak apapun, kehendak Dia-lah yang akan terjadi. Manusia mah apalah apalah, cuma butiran debu.

Penutup, tiba-tiba mau nyanyi lagu nasional. Ini dia :

Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau
Sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia
Indonesia tanah air-ku, aku berjanji padamu
Menjunjung tanah air-ku, tanah air-ku Indonesia
Selamat Hari Pahlawan!
Salam Bhinneka Tunggal Ika!

JADI BACKPACKER GEMBEL

Aku dan Meina berniat camping di Pantai Gatra. Berhubung pagi hari berikutnya kami sudah reservasi akan ke Pantai Tiga Warna jam 7 pagi, daripada repot mending dari malam kami sudah menginap disana. Hasil googling dan blogwalking, katanya di Pantai Gatra bisa camping dan tersedia sewa tenda Rp 25.000/tenda dan sewa lahan juga Rp 25.000/tenda. Jadi cuma Rp 50.000 semalam untuk berdua. Murah banget!

Begitu tiba di parkiran mobil Pantai Gatra, hari sudah gelap. Sekitar jam 18.30. Untuk ke pos 1, kami harus naik ojek. Murah sih cuma Rp 5.000. Dari pos 1 yang kosong, kami jalan sedikit ke pos 2 dan mendaftarkan diri kami disitu. Dan kami pun mendapat kabar buruk, tenda yang biasa disewakan RUSAK SEMUA!

Jreng!!! Padahal kami sudah berencana mau hunting foto Milkyway disana gara-gara liat postingan foto Milkyway kak @amrazing yang kece-kece.

IMG-20160811-WA0000
Bikin mupeng nggak sih foto Milkyway nya?

Para petugas menyarankan kami untuk cari homestay di sekitar situ, tapi adanya di jalan utama dan harus keluar parkiran pula. Kami keukeuh mencari tenda atau apa saja yang bisa dipinjam, asalkan tetap di area pantai Gatra. Awalnya petugas-petugas nggak menyarankan kami kesana, selain karena kami nggak bawa tenda, juga karena kami hanya cewek berdua.

Tapi karena kami ngotot maunya di area pantai dan mau ngirit nggak mau homestay, akhirnya salah satu petugas bilang, ada sih warung disana yang dijaga ibu-ibu. Tapi warungnya terbuka gitu. Kalo emang kami mau tetap di area pantai, mungkin bisa disana. Tapi kami disuruh lihat dulu aja, kalo emang berani tidur di warung, ya silakan aja. Kalo nggak, ya nanti balik lagi dan cari homestay di luar.

IMG-20160811-WA0011
Pengecekan barang di pos 2

Berhubung jarak dari pos 2 ke warung lumayan jauh, melewati kebun-kebun dan TANPA penerangan sama sekali, para abang ojek yang tadi mengantar kami dari parkiran sampai pos 2, disuruh antar kami sampai warung. Dan bener dong, kami berjalan  gelap-gelapan sekitar 15 menit di tanah berbatu dan pasir dengan sisi kanan kiri kami pepohonan. Untungnya aku dan Meina bawa senter.

Setelah tiba di warung yang dimaksud dan melihat kondisinya, tanpa harus berdiskusi panjang lebar, aku dan Meina sepakat untuk : Hajar, bleh! Masih manusiawi kok bentuknya. Meskipun nggak ada tembok tapi masih ada atap dan ditemani oleh 2 ibu baik hati yang begitu mendengar cerita kami langsung mengijinkan kami menumpang tidur di warung berbentuk pendopo sederhana dari kayu dan bambu itu.

Haduh, maap ya Bu jadi merepotkan. Bu Yatmi dan Bu Pangestu jadi harus beberes sajadah dll yang ada di mushola berukuran 2 x 1 m yang malam itu akan jadi tempat tidur kami.

Oya, 2 abang ojek yang mengantarkan kami, sempat mengantar kami ke pantai Gatra yang berjarak sekitar 20 m dari warung. Ceritanya kami tetap mau ambil foto Milkyway. Kan tujuan utamanya itu. Ada sih Milkyway nya dan lumayan jelas terlihat. Tapi… Kami nggak bisa-bisa foto Milkyway-nya. Pakai smartphone, sama sekali nggak ketangkap. Pakai DSLR, nggak ngerti setting-nya padahal udah coba macam-macam. Maklum, Meina sudah lama nggak pakai DSLR itu. Dan jarang pula dibuat foto di gelap-gelapan untuk nangkap objek cahaya kecil-kecil yang jaraknya ribuan mil gitu.

Dan hanya 5 menit di Pantai Gatra, awan pun datang. Halah… Tertutup lah semua titik-titik kecil cahaya bintang. Padahal kami belum berhasil dapat foto Milkyway. Jadi, misi kami memfoto Milkyway gagal total!

Balik lah kami ke warung. Dan setelah kami membayar ongkos ojek dan tip, 2 abang ojek kembali ke pos 1 dengan berjalan kaki tanpa senter! Katanya, bulan aja yang jadi penerang. Haha… Sok puitis!

Saat itu untung kami bawa kain Bali yang bisa dijadikan alas tidur. Handuk juga kami sampirkan di dinding pendopo yang terbuat dari papan kayu berjejer dengan sela sekitar 1-2 cm di antara setiap kayunya dan tingginya nggak sampai semeter. Untuk menahan angin yang berembus dari sela-sela kayu. Trus selimutan pakai selimut hasil pinjam teman.Ransel jadi bantal.

Baru jam 8 malam sih. Kami sudah siap tidur, sambil sesekali mengobrol. Bu Yatmi dan Bu Pangestu pun sudah menggelar kasur yang memang mereka gunakan untuk istirahat setiap malam.

IMG-20160811-WA0006
Bu Yatmi dan warungnya, kami bobo di pojok kanan (photo by Meina)

Oya, warung itu berjarak 3 meter dari deretan toilet yang hanya ada disitu di kawasan 5 pantai termasuk Gatra dan Tiga Warna. Untunglah, mau ke toilet nggak usah jauh-jauh. Tapi…

Lama-lama berasa nggak enak-nya berada dekat toilet. Aroma tak sedap segera menyerang hidung. Meskipun semua toilet dalam kondisi kosong. Meina langsung minta parfum untuk disemprot ke badan dan selimut, untuk menghalau aroma toilet. Tapi hanya bertahan 10 menit paling lama. Aku pun punya ide, tisu basah ditempel di hidung. At least aroma tisu basah akan lebih kuat daripada toilet.

Lalu… Tak lama kemudian, gerimis mulai turun dan makin lama makin deras, disertai hembusan angin pula. Kami pun kena tampias air hujan. Plus angin membawa aroma toilet semakin kencang. Dan suara kresek-kresek di belakang warung, kata Bu Yatmi, “Palingan tikus.” Haduh… Semoga tuh tikus nggak sampai merambat di ‘tempat tidur’ kami.

Aku pun mulai tak betah. Pakai selimut gerah, buka selimut kena tampias hujan dan digigitin nyamuk. Punggung juga pegal karena langsung berhadapan dengan kayu. Haduh… Sepanjang malam tidur nggak pulas dan sedikit-sedikit bangun. Hingga pagi pun tiba. Akhirnya…

Pagi hari kami berkeliling area 5 pantai di sekitar. Ditemani seorang guide, Pak Darman, kegembelan kami pun bertambah. Kami menyusuri area 5 pantai dengan nyeker. Awalnya sih pakai sandal jepit, tapi karena habis hujan semalam jadi tanah lengket dan menempel di sandal kami, membentuk sandal jepit kami seperti wedges berlapis tanah. Daripada sedikit-sedikit bersihin tanah, dan harus super hati-hati karena lebih licin, Pak Darman menyarankan kami untuk nyeker seperti beliau. Ya sudahlah ya.

IMG-20160811-WA0012
Tebak kaki siapa ini?

IMG-20160811-WA0002

IMG-20160811-WA0009

Selesai menyusuri 5 pantai, beliau pun berbagi bekal makan siangnya dengan kami yang sudah tampak kelaparan kelelahan. Jadi bekal yang disiapkan istrinya, nasi jagung dengan lauk ayam kecap, dituang di daun pisang untuk dimakan bertiga. Masih kurang gembel, sis?

IMG-20160811-WA0007

IMG-20160811-WA0015

IMG-20160811-WA0003

Menjelang siang kami mandi dan beberes di warung untuk kembali ke Malang. Kami pun pamitan dengan kedua ibu yang sudah rela memberikan tempatnya untuk kami jajah semalam, dan juga Pak Darman. Dan tahu nggak, kami benar-benar nggak bayar lho tidur di warung itu. Kami cuma bayar pemakaian toilet berapa kali bolak-balik dan sarapan serta jajan-jajan yang lumayan banyak.

Terimakasih Bu Yatmi dan Bu Pangestu, sudah mengijinkan kami merasakan jadi backpacker gembel semalam. Terimakasih Pak Darman, sudah membantu menambah tingkat kegembelan kami. 😀😁😂

IMG-20160811-WA0005

IMG-20160811-WA0014

All photos credit to Meina. Berhubung kesalahan teknis waktu mindahin foto dari handphone-ku, nyaris semua foto di handphone hilang. Jadi, pakai foto-foto yang diambil Meina deh. 😅

Note : Kalau mau camping di Pantai Gatra, lebih baik bawa tenda sendiri. Atau, kalau nggak punya tenda, bisa memesan tenda saat pesan tempat di Pantai Tiga Warna, supaya disiapkan tenda yang masih berfungsi oleh petugas. Jangan sampai kayak kami ya, terpaksa ngegembel semalaman. 😅😁

SI CANTIK DARI LAMPUNG : PAHAWANG

Waktu bilang mau ke Lampung, kebanyakan orang tanya, “emang di Lampung ada apa?” Aku sendiri pun belum tau ada apa saja di Lampung. Tapi mulai sering dengar kalau Lampung itu indah. Salah satu yang kini sudah terkenal : Pahawang.

Traveling ke Pahawang kali ini ramai-ramai dengan teman kantor plus teman-teman lainnya. Awalnya sih mau rombongan teman-teman kantor, tapi karena kurang kuota dan banyak yang batal mendadak, akhirnya jadilah open trip dengan teman-teman lainnya. My fellow traveler, Meina, yang 2 bulan sebelumnya berpetualang bersamaku ke Bromo, Ijen, dan Malang, ikut juga setelah aku mengeluarkan jurus rayuan pulau kelapa, padahal sebelumnya sempat galau menerima ajakanku atau tidak.

Trip kali ini ala backpacker dan tidak menggunakan jasa agen manapun. Itinerary, budgeting, dan nego-nego semua diurus oleh teman kantorku, Jessieca. Kami hanya mengeluarkan uang Rp 400.000 all in dari Bakauheni dengan peserta 16 orang. Jadi tinggal mengeluarkan biaya dari dan ke Merak dan fery Merak – Bakauheni pp aja. Sesampai di Bakauheni, kami sudah dijemput oleh mobil sewaan, diantar ke dermaga Ketapang, dan ditunggu oleh kapal nelayan sewaan yang akan mengantar kami keliling Pahawang dan sekitarnya selama 2 hari, juga homestay dan makan 5 x.

P_20160625_081110_1

IMG-20160807-WA0018
Dermaga Ketapang

IMG-20160807-WA0019

Dari Dermaga Ketapang, kami langsung ke pulau Kelagian Kecil. Setelah itu snorkeling, mampir makan siang di Pahawang Kecil, snorkeling dua kali lagi, baru sore hari menuju homestay di pulau Tanjung Putus.

1466989773691
Pulau Kelagian Kecil (photo by Jessieca)
1466989764489
View dari Kelagian Kecil (photo by Jessieca)
IMG-20160807-WA0020
Suka banget foto ini!

IMG-20160807-WA0040

IMG-20160807-WA0041
Pahawang Kecil
IMG-20160807-WA0039
Cottage orang tuh
IMG-20160808-WA0010
Cottage milik orang Perancis di Pahawang Kecil (photo by Sasa)
IMG-20160807-WA0023
Sisi Pahawang Kecil
IMG-20160807-WA0008
Office mates

Hari pertama kami full snorkeling supaya di hari kedua sudah nggak basah-basahan lagi. Untunglah guide kami, Mas Yanto, orangnya asik. Saat snorkeling, dia banyak membantu kami yang nggak bisa berenang ataupun bisa berenang tapi takut-takut. Bahkan saat snorkeling di spot ke-3, doi lah yang setengah memaksa kami yang sudah lelah dan sebagian besar nggak bisa berenang untuk tetap masuk ke air demi berfoto dengan tulisan “Pulau Pahawang Wisataku” dibantu oleh doi. Dan aku pun memberanikan diri mengikuti sarannya, padahal aku nggak bisa berenang, snorkeling aja kadang galau, apalagi diving ataupun freedive. Maklum, waktu kecil aku pernah 2 kali tenggelam : di empang dan sungai, jadi agak sedikit ngeri berada di dalam air. Tapi berkat dorongan doi lah, aku bisa mengalahkan ‘takut tenggelam’ dan ternyata di dalam air nggak semenakutkan bayanganku. Maklum, waktu kecil aku pernah 2 kali tenggelam : di empang dan sungai, jadi agak sedikit ngeri berada di dalam air. Malah asik juga rasanya masuk ke dalam air, and without doing anything I can still come to the surface.

20160625_113401

20160625_152548

IMG-20160807-WA0038

IMG-20160807-WA0043

IMG-20160807-WA0011

1466989934476

IMG-20160807-WA0030

IMG-20160807-WA0015

Malam hari kami makan ikan bakar yang ditangkap sendiri oleh guide kedua kami, Mas Dani. Hebat tuh orang, di tengah-tengah kami snorkeling, doi ditinggal di tengah laut untuk spear fishing dan melanjutkan berenang ke Tanjung Putus. Mungkin sekitar 3-4 jam doi berenang dari lokasi ditinggal di laut sampai tiba di homestay kami dengan membawa ikan-ikan hasil tangkapan yang jumlahnya nggak sedikit.

P_20160625_174835
Menikmati sunset
IMG-20160807-WA0007-1
Ikan bakar endeuz…

Esok pagi, kami island hopping ke beberapa pulau sebelum kembali ke dermaga Ketapang. Tapi karena air sedang tinggi, kami hanya bisa mampir ke 1 pulau dari rencana 3 pulau. Itupun kapal nggak bisa merapat ke pantai karena sebagian besar pantai sudah terendam air. Tapi, karena pantai di pulau Balak itu BAGUS BANGET, kami jadi sedikit berbasahan lagi demi bisa mengambil foto di situ.

IMG-20160807-WA0016
Menanti sunrise
IMG-20160807-WA0010
Ternyata matahari tertutup awan

IMG-20160807-WA0026

IMG-20160807-WA0033

IMG-20160807-WA0048
Pulau Balak dari jauh

IMG-20160808-WA0008

IMG-20160807-WA0034

P_20160626_092147_HDR
Ini bukan floating lho

IMG-20160807-WA0005

IMG-20160807-WA0014

Setelah itu kami hanya bisa melewati pulau Lunik yang nyaris seluruh pantainya terendam air, dan kembali ke dermaga Ketapang. Sepanjang perjalanan, aku melihat pulau-pulau yang kami lewati sebagian besar terendam air sampai tinggi, bahkan sebagian pohon di pantai ikut terendam.

IMG-20160808-WA0001
Pulau Lunik yang hanya dilèwati
IMG-20160808-WA0004
Pantainya lenyap terendam air

Padahal pas kemarin kami lewati dalam perjalanan menuju spot snorkeling ataupun homestay, pulau-pulau itu masih terlihat pantainya. Well, air memang lagi tinggi-tingginya. Makanya kemarin kami juga nggak bisa mampir ke beberapa spot snorkeling dan gosong (pasir timbul). Untunglah pantai-pantai yang masih sempat kami kunjungi pun bagusnya nggak kira-kira, jadi terbayarlah semua perjuangan ala backpacker kami menemukan salah satu serpihan surga di Lampung.

See you next time, Pahawang! We’re happy having you here in Indonesia!

IMG-20160808-WA0000

IMG-20160807-WA0006

Jalan-jalan ke Jogja (End)

Menurut salah satu blog yang aku baca, kalau mau ke Bukit Punthuk Setumbu, sebuah bukit yang kini jadi tambah terkenal setelah jadi salah satu lokasi syuting AADC 2, sebaiknya jam 3 pagi sudah jalan. Karena lokasinya sekitar 2 jam perjalanan dari kota Yogyakarta, tepatnya di dekat Candi Borobudur, kota Magelang. Ya, paling nggak jam 5 pagi kami sudah sampai parkiran Bukit Punthuk Setumbu supaya bisa naik dengan santai dan tiba di puncak bukit tepat waktu untuk menyaksikan pemandangan sunrise yang menakjubkan.

Apa daya? Meskipun kami sudah mandi di malam hari sebelum tidur supaya pagi nggak telat berangkat karena mandi, kami baru bangun jam 03.00. Mengumpulkan nyawa, cuci muka, gosok gigi, dan siap-siap lainnya. Jadinya jam 3.30 kami baru berangkat.

Jam 5.40 kami tiba di persimpangan Borobudur. Banyak ojek yang menawarkan diri mengantar kami ke Punthuk Setumbu, begitu melihat arah belokan kami. Harga yang ditawarkan dari 100.000, turun jadi 75.000 beberapa menit kemudian, hingga waktu kami meneruskan jalan, seorang bapak ojek memberi harga 40.000 saja. Karena kami sudah nggak punya waktu untuk nyasar, meskipun pakai GPS, kami memakai jasa bapak itu. Maklum, GPS kan kadang suka kasi petunjuk arah yang ‘ajaib’.

Ternyata arah yang ditunjukkan si bapak sama persis dengan GPS. Rugi deh. Ya, at least kami nggak perlu berhenti karena ragu sama arahan GPS. 10 menit kemudian kami tiba di parkiran. Jam 05.50. Sudah lumayan terang.

Kami pun bergegas membayar bapak ojek, berjalan menuju loket pembayaran tiket masuk. Rp 15.000/orang. Dan bersegera mungkin menaiki tangga ke puncak. Sudah jam 05.55.

Baru menapaki anak tangga pertama menuju puncak, seorang ibu yang berjualan disitu bilang, “Cepat mbak, sudah terbit matahari-nya.”

Kami pun jadi sedikit panik. Sudah jauh-jauh, malah telat sampe pula. Halah…

Tapi, semangat kami berjalan ngebut bahkan setengah berlari hanya bertahan kurang dari 5 menit. Kami bukan hanya menaiki tangga yang jaraknya lebar dan tinggi, tapi juga mendaki bukit. Napas kami cepat habis dan kami sesekali berhenti sejenak untuk mengambil napas. Perjalanan menuju puncak nggak lama sih, 15 menit saja. Tapi tetap saja menguras tenaga.

Hampir tiba di puncak, kami berpapasan dengan beberapa orang yang turun. Lah, kami belum sampai, mereka udah pada turun. Ya karena itu sudah jam 06.10. Matahari sudah terbit dari tadi.

Setiba di puncak yang cukup ramai, kami langsung mencari spot agak kosong yang asik untuk melihat magis-nya pemandangan sunrise dari Bukit Punthuk Setumbu. Meskipun hanya kebagian sisa-sisa pesona magis-nya aja.

Sudah lah, emang kami kesiangan. Kami santai-santai aja, yang penting dapat view-nya dengan lensa mata dan kamera. Juga beberapa foto yang proper. Hehehe…

DSCN1134

 

DSCN1158

20150606_060806

DSCN1151

IMG-20150607-WA0020

IMG-20150607-WA0009

IMG-20150607-WA0011

Setelah agak sepi, kami pun turun dan mencari sarapan. Lapar bo. Pagi-pagi berlari mendaki bukit dengan perut kosong. Alhasil, sarapan kami agak membabi buta. Mie instan (lagi) dengan gorengan dan kopi panas. Nikmat!

Sambil makan lesehan, kami ngobrol dengan suami istri pemilik warung. Mereka kaget begitu tahu grup kami (cewek semua) jalan bertiga tanpa cowok dan guide. “Hati-hati ya, Mbak” begitu pesan si bapak pada saat kami akan meninggalkan warungnya.

Menuju Candi Borobudur, hanya 15 menit saja dari Bukit Punthuk Setumbu. Dan kami langsung diserbu para pedagang di parkiran, dari pedagang minuman, topi, sampai souvenir, yang dagangannya kami tolak dengan halus.

Ternyata hari itu, Borobudur penuh banget. Belakangan kami baru ingat, itu hari Sabtu. Pantas saja banyak bus membawa rombongan anak sekolah. Fiuhhh…

Kami memutuskan untuk naik sampai puncak Borobudur. Tapi melihat tangga Borobudur yang tinggi-tinggi, kami menghela napas. Naik lagi, setelah tadi pagi berjuang naik bukit. Haha…

IMG-20150607-WA0046

IMG-20150607-WA0058

IMG-20150607-WA0057

IMG-20150607-WA0049

IMG-20150607-WA0037

IMG-20150607-WA0052

Candi Borobudur dikelilingi pemandangan asri. Membuat kami betah berkeliling sembari menaikinya. Biar nggak terlalu lelah mendaki terus, kami pun menjelajahi sudut-sudut Borobudur yang agak sepi.

Selepas dari Borobudur, kami kembali ke kota Yogyakarta. Tujuan kami beli bakpia terenak seantero Yogyakarta, versi-ku. Melipir di salah 1 cabang, bakpia yang tersedia hanya isi kacang hijau. Sedangkan kami mau-nya rasa keju dan coklat. Akhirnya kami disarankan untuk ke cabang utama nya, dan hasilnya sama. Pun di cabang toko terakhir yang hanya berjarak 30 m dari toko utama. Katanya 2 jam lagi baru akan datang stok dari pabrik.

Sambil menunggu, kami mampir ke museum 3D yang sedang ‘in‘, De Mata Trick Eye Museum yang lokasinya nggak jauh dari toko bakpia itu. Sesampai disana, Meina dan Ike asik foto-foto sambil mengikuti petunjuk posisi supaya hasilnya maksimal. Aku, karena nggak terlalu suka difoto dan perutku sedang tak enak, hanya ambil beberapa foto dan selebihnya keliling-keliling.

IMG-20150607-WA0059

IMG-20150607-WA0043

Mendekati jam 15.30 sore, yang kata pegawai toko bakpia adalah jam datang stok bakpia, kami kembali ke toko bakpia. Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, datanglah stok bakpia yang ditunggu-tunggu. Dan langsung aku mendekati pegawai yang mencatat orderan, berseru-seru demi mengalahkan suara para ibu-ibu yang sudah ramai menyebutkan orderan masing-masing. Perjuangan banget nggak sih, cuma demi beberapa kotak bakpia aja? Haha…

Setelah perjuangan panjang untuk bakpia, kami menuju ke Keraton. Niat hati mau wisata keraton, tapi gagal karena lupa cek jam buka wisata keraton. Waktu kami tiba, jam wisata keraton sudah habis. Karena udah tanggung sampai plus bayar parkir (nggak resmi) termahal sepanjang perjalanan, kami mengiyakan tawaran bapak pengemudi becak untuk berkeliling di area abdi dalem keraton. Naik bentor.

IMG-20150607-WA0083

Mampir di 2 toko batik milik siapa-nya Sultan gitu, lalu ke galeri lukisan abdi dalem. Di galeri lukisan itu lah kami menghabiskan banyak waktu. Selain melihat-lihat lukisan jadi dan setengah jadi, ngobrol dengan si pelukis yang juga abdi dalem keraton, plus tawar-menawar lukisan yang akan dibawa pulang Meina. Jadilah sore udah gelap dan kami langsung kembali ke mobil.

IMG-20150607-WA0089

IMG-20150607-WA0068

Sebelum kembali ke penginapan, kami mampir di toko gelato yang direkomendasikan seorang teman. Konsep toko nya cozy and cute, dan harga gelato dan snack yang dijual pun cukup bersahabat dengan dompet.

IMG-20150607-WA0116

IMG-20150607-WA0105

IMG-20150607-WA0108

IMG-20150607-WA0111

IMG-20150607-WA0093

IMG-20150607-WA0092

IMG-20150607-WA0041

Selesai menikmati gelato kami menuju Malioboro. Kan katanya belum ke Jogja kalo belum ke Malioboro. Aku pun penasaran, kayak apa sih Malioboro yang jadi pusat daerah touristy di Jogja. Dan karena itu malam minggu, jalan menuju Malioboro pun macet lah. Pun sulit cari parkiran.

Hasratku berkeliling lenyap sudah melihat padatnya Malioboro. Entahlah, aku nggak menemukan sesuatu yang menarik untuk dikunjungi. Yang kulihat hanyalah orang, bus, mobil, motor, becak, delman, yang lalu lalang. Pusing eike cyin…

Akhirnya aku hanya masuk di beberapa toko batik, menemani Ike yang mencari entah oleh-oleh atau titipan teman. Sampai tokonya hampir tutup, dan akhirnya pindah toko. Setelah belanja, kami langsung kembali ke mobil. Meina dan aku sudah ngantuk luar biasa.

Kembali ke penginapan, makan malam di kedai nasi kucing depan penginapan, beres-beres bawaan, lalu tidur. Besok pagi kami harus berangkat jam 06.30 menuju stasiun Lempuyangan. Mengembalikan mobil dan sarapan juga akan kami lakukan disana.

07.00 kami tiba di stasiun Lempuyangan. Langsung lemas melihat kedai nasi brongkos yang kami idamkan untuk sarapan ternyata tutup pada hari Minggu. Yahhh… Jadilah kami sarapan yang lain. Dan langsung bersiap-siap menunggu kereta ke Jakarta.

Bye, Jogja. See you again next time.

Para Penambang di Kawah Ijen

Badannya coklat kehitaman. Cukup berotot. Tapi di belakang pundak kiri dan kanannya terdapat memar kehitaman, hampir menyerupai kapalan.

Dia berhenti. Beberapa detik. Ternyata ada yang mengambil foto dirinya. Ia berjalan lagi, menaiki bebatuan di depannya. Beberapa menit kemudian, dia berhenti lagi.

“Kalau capek, istirahat aja, Mbak,” katanya sambil menoleh pada kami dan meletakkan bawaan di pundaknya. Sepertinya dia yang lebih capek daripada kami.

Kami pun ikut berhenti dan beristirahat. Beberapa menit. Kemudian berjalan lagi mengikuti pergerakannya, si bapak yang saat itu tampak begitu fotogenik bagi para turis asing yang melihatnya. Buktinya, beberapa kali dia harus berhenti untuk difoto. Bukan, bukan berpose. Gerakan alaminya sudah melebihi pose model profesional.

2 keranjang kayu berukuran sedang, diikat dan disatukan dengan kayu panjang, dipikul di pundaknya. Sambil terus berjalan menaiki bebatuan yang sudah menjadi jalan bagi dia dan teman-temannya para penambang.

Rupanya kayu yang dipikulnya itulah yang meninggalkan bekas di bagian belakang pundaknya. Tidak, kayu dan keranjang itu tidak berat. Isi di atasnya lah yang berat. Bongkahan belerang.

Kira- kira 75 kilo, kata Pak Subeno, salah satu dari sekian banyak penambang belerang di Kawah Ijen, yang pagi itu merangkap menjadi guide kami menuruni dan menaiki Kawah Ijen.

75 kg? Hampir 1,5 berat badanku. Setiap hari beban seberat itu dipikul di pundaknya yang agak membungkuk. Eh bukan. Dalam sehari, Pak Subeno 2 kali mengangkut, jadi kurang lebih 150 kg belerang yang dipikul. Wow!

Berapa sih harga belerang itu?

“Murah, Mbak,” jawab Pak Subeno singkat tanpa memberikan angka persis. Sepertinya segan menyebutkan nominal.

“Bapak bawa turun belerangnya pakai troli?”

“Nggak, Mbak. Saya belum punya troli. Mahal.”

“Emang berapa harganya, Pak?”

“1 juta-an, Mbak. 1.500.000.”

Jadi, karena belum punya troli itulah, Pak Subeno harus 2 kali bolak- balik mengangkut belerang. Naik ke puncak 2 km, turun ke kawah 800 m, naik dari kawah 800 m, turun ke parkiran 2 km. Hampir 6 km yang harus ditempuh untuk sekali angkut.

Rute harian para penambang
Rute harian para penambang
Perjalanan yang harus ditempuh dari kawah ke puncak
Perjalanan yang harus ditempuh dari kawah ke puncak
Baru setengah perjalanan menuju puncak
Baru setengah perjalanan menuju puncak
Sebagian penambang di puncak
Sebagian penambang di puncak

“Kok bapak kuat sih?”

“Kekuatan saya datangnya dari Yang Maha Kuasa, Mbak.”

Speechless. Bukan kalimat pesimis yang keluar dari mulutnya. Bukan pula keluhan. That words, I called it FAITH.

Untuk menghidupi istri dan kedua anaknya yang bersekolah tingkat SD, Pak Subeno melakukan pekerjaan berat nan beresiko tinggi itu. Setiap hari memacu motor dari rumahnya di Banyuwangi ke Paltuding, titik masuk Gunung Ijen. Naik ke puncak Ijen dan menuruni bebatuan terjal menuju kawah berasap penuh bau belerang adalah rute sehari-hari sebagai penambang belerang.

Rp 1.025 sekilo. Begitu kata penambang belerang lain yang kami temui pada saat perjalanan turun.

Hah? Hanya Rp 1.025? Untuk perjalanan sejauh itu, waktu sebanyak itu, pekerjaan seberat itu dan resiko hingga menantang maut, yang diperoleh hanya nominal itu?

Pak Subeno hanya membawa pulang sekitar Rp 153.750 per hari. Padahal pekerjaan yang dilakukan sedemikian sulit dan menguras tenaga.

Lalu, bagaimana dengan penambang lain yang sudah lebih tua? Yang fisiknya sudah tidak sekuat Pak Subeno yang sanggup membawa beban 75 kg sekali angkut? Yang harus lebih sering istirahat karena nafas sudah lebih pendek? Yang tidak mampu menempuh 2 perjalanan bolak- balik setiap hari?

IMG-20160501-WA0002

Bandingkan dengan kita. Mungkin Rp 150.000 adalah uang jajan yang kita keluarkan sekali nongkrong. Harga troli Rp 1.500.000 mungkin hanya sepersekian harga gadget canggih yang kita miliki. Itupun terkadang kita masih mengeluhkan keadaan.

Salut dengan Pak Subeno, dan para penambang lain. Bertemu dengan banyak penambang, tidak sekalipun kami mendengar keluh kesah mereka. Sebaliknya, mereka yang melihat kami lelah mendaki, terus mendorong dan menyemangati kami.

“2 belokan lagi,” begitu kata para penambang yang menemani perjalanan kami naik Gunung Ijen. Dari pendakian dimulai hingga pos terakhir sebelum puncak, kalimat itu terus yang mereka ucapkan.

Benar juga, hanya ada 2 belokan, ke kanan dan ke kiri. Hanya butuh 2 belokan untuk tiba di puncak.

Hari itu, aku belajar banyak dari para penambang belerang di Ijen. Iman, mengucap syukur, tidak mudah mengeluh, pantang menyerah. Dan untuk mencapai puncak, hanya butuh 2 belokan.

Terimakasih, para bapak yang luar biasa!

Ctrl+C
Kami dan Pak Subeno

Journey to Jerusalem

Sebagai penganut agama Kristen, salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah Yerusalem, or what we called “The Promise Land”. Sama halnya dengan umat muslim dengan Mekkah sebagai tujuan wajibnya.

Tapi, buat aku, Yerusalem bukanlah tempat untuk dikunjungi seperti wisata pada umumnya. Bukan pula sekedar ziarah rohani, mengunjungi situs-situs yang pernah dikunjungi Yesus. Bagiku, perlu ada ‘panggilan’ untuk datang ke tempat tersebut. Makanya aku sebut perjalanan rohani, bukan ziarah rohani. Karena di dalam perjalanan, pasti akan menemukan sesuatu yang baru, berbeda dengan ziarah yang hanya mengenang masa lalu.

Dan akhirnya ‘panggilan’ itu datang di tahun 2015. Komunitas-ku kembali mengadakan perjalanan ke Yerusalem untuk ke-3 kalinya. Kali pertama dan kedua, aku biasa-biasa saja. Tapi waktu diumumkan perjalanan kali ketiga ini, entah mengapa ada suatu dorongan yang kuat di dalam diriku. “I have to be there!”

Singkat cerita, aku nekat mendaftar dan berangkat. Dengan segala keterbatasan dari seorang part time traveler and mostly backpacker. You know what I mean, right?

Karena keberangkatan dengan komunitas, jadi kami menggunakan jasa tur, dimana semua sudah disediakan dan kami hanya tinggal menyiapkan paspor dan tentu saja dana sebesar 2.700 USD. Mahal? Yes. Karena waktu keberangkatan kami adalah peak season, di saat musim perayaan tahun baru di Israel, juga masa Idul Adha bagi umat muslim.

Perjalanan rohani kali ini memakan waktu 10 hari, termasuk di perjalanan. Dan keberangkatan kami dimulai dinihari jam 01.30 menuju Abu Dhabi, transit beberapa jam untuk kemudian melanjutkan penerbangan ke Amman. Tiba di Amman, kami akan menuju Yerusalem lewat jalan darat dengan melalui lembah Yordan.

IMG-20160410-WA0043

Kota Amman, Yordania
Kota Amman, Yordania
Lembah Yordan
Lembah Yordan

IMG-20160410-WA0042

Sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya aku bersyukur pada Tuhan. Karena akhirnya mataku bisa melihat langsung tempat-tempat yang sering kubaca dan kudengar di Alkitab. Menginjakkan kaki di tempat yang disebut tanah perjanjian bukanlah hal yang sepele buatku. Thank you, Lord.

Perjalanan pergi memakan waktu hampir 22 jam. Berangkat 01.30 dan tiba sekitar 19.00 (waktu di Yerusalem 4 jam lebih lama dari waktu di Jakarta). What a day kan? Dan malam itu setelah makan malam, kami langsung mengadakan ibadah. Begitu pula dengan keesokan pagi dan malamnya. Setiap pagi dan malam kami mengadakan ibadah, betapapun capek dan ngantuknya kami. Yup, that’s part of the journey.

Kemana saja kami? Seperti rombongan tur pada umumnya, kami mengunjungi lokasi touristy, but with a purpose. Kami mengunjungi sungai Yordan dan sebagian besar dari kami merasakan dibaptis di sungai tersebut. Kami juga menyaksikan fenomena Blood Moon terakhir dari rangkaian tetrad (google aja ya, kalo dijelasin bakal panjanggg…). Kami juga ke Kana, tempat mujizat pertama yang dilakukan Yesus di sebuah pernikahan. Juga kami mampir ke Succat Haleel, rumah doa di Yerusalem, dimana tim kami diundang untuk mengisi 1 sesi doa disana. Lalu ke Danau Galilea, Kapernaum, Bukit Tabor, Lembah Karmel, Padang Gembala, City of David, Haifa (this city is a total beauty), Garden Tomb (kubur Yesus), Qumran, Jericho, Holocaust Museum, Upper Room, Old City of Jerusalem, Wailing Wall.

Yardenit, The Baptismal Site
Yardenit, The Baptismal Site

IMG-20160410-WA0048

The Blood Moon
The Blood Moon
Menanti Blood Moon
Menanti Blood Moon
Our team at Succat Haleel
Our team at Succat Haleel
Salah satu sudut Gereja Kana
Salah satu sudut Gereja Kana
Danau Galilea
Danau Galilea
Di atas perahu menyeberangi Danau Galilea
Di atas perahu menyeberangi Danau Galilea
Kapernaum
Kapernaum
Lembah Karmel
Lembah Karmel
The beautiful Haifa
The beautiful Haifa
Qumran, near Dead Sea
Qumran, near Dead Sea
Mount Temptation
Mount Temptation
Old City of Jerusalem
Old City of Jerusalem

IMG-20160410-WA0035

Keramaian di sekitar Wailing Wall
Keramaian di sekitar Wailing Wall

IMG-20160410-WA0034

Persis di tanggal 1 Oktober, kami mengikuti parade yang diadakan di jalan-jalan utama Yerusalem. Parade tersebut diikuti oleh rombongan dari bangsa-bangsa di seluruh dunia yang datang ke Yerusalem. Starting point hingga finish point berjarak sekitar 5 km, dan karena parade dilakukan dengan berjalan kaki, jarak tersebut ditempuh dalam 3 jam. Dan selama parade, kami membagikan souvenir yang kami bawa dari Indonesia kepada warga yang menonton parade. Mulai dari membagi ke anak-anak kecil di sekeliling kami, hingga melemparkan ke arah warga yang berdiri menyaksikan parade dari balkon rumahnya. Juga sepanjang 3 jam, rombongan kami terus bernyanyi penuh semangat dan tanpa henti, hingga keriuhan tim kami mengalahkan rombongan negara lain yang bawa speaker. And a new song came out that time, membuat orang-orang di pinggir jalan maupun rombongan lain mengikuti nyanyian kami yang cuma terdiri dari 4 kata diulang-ulang. Seru abis!

Siap untuk parade
Siap untuk parade

IMG-20160410-WA0050

Keramaian di parade
Keramaian di parade

Seminggu kami di Yerusalem, menginap 2 malam di Tiberias, dekat Danau Galilea, dan 4 malam di Bethlehem. Malam berikutnya kami menginap di Dubai, karena perjalanan pulang kami singgah di Dubai dan Abu Dhabi untuk sightseeing dan ‘main’ di Ferrari World.

Burj Al Arab
Burj Al Arab
Burj Khalifa
Burj Khalifa
The Atlantis Hotel
The Atlantis Hotel

IMG-20160410-WA0010

This is Rossa Coaster, 240 km/jam
This is Rossa Coaster, 240 km/jam

Heading home, penerbangan dari Abu Dhabi menuju Jakarta memakan waktu 8,5 jam. Aku yang sudah sangat lelah langsung tertidur sesaat setelah pesawat take off.

Eh, yang nggak kalah seru dari perjalanan kali ini adalah… Aku bertemu seorang teman SMP-ku disana! Pas lagi belanja di suatu toko, tiba-tiba ada seorang dari rombongan lain yang menyebut namaku waktu papasan. Lah, ternyata temanku yang sudah lama banget nggak ketemu. Dia bersama istri dan rombongan gereja-nya juga mengambil rute yang hampir sama dengan kami. Makanya disana aku beberapa kali bertemu dengan temanku itu. Haha… Siapa sangka bertemu teman lama di tempat yang jaraknya ribuan kilometer.

Perjalanan rohani-ku ke Yerusalem memang sudah berlalu. Tapi, perjalanan rohani-ku sebagai makhluk ciptaan Tuhan belum berakhir. Semua pencerahan dan pewahyuan yang kudapat selama perjalanan itu, menjadi bekal untuk aku terus menjalani hidup sebagai manusia yang mengandalkan Tuhan dalam segala hal.