Category Archives: travel

Ke luar negeri nggak bawa uang? Bisa…

Pernah keluar negeri tanpa bawa uang sepeser pun? Aku pernah. Sama Meina. Ke Malaysia. Tanpa bawa 1 ringgit pun. Dan bisa hidup, sodara- sodara…

Alkisah, kami dapat tugas dari komunitas rohani untuk ke Malaysia bersama tim. Tapi kami berangkat terakhir karena baru bisa berangkat hari Jumat malam sepulang kantor. Maklum, kami nggak mungkin ajuin cuti lagi karena 2 minggu sebelumnya baru aja cuti untuk jalan-jalan di sekitaran Jawa Timur.

Karena agak mendadak dan uang kami juga sudah habis pada perjalanan 2 minggu sebelumnya, persiapan kami sangat minim. Selain baju sesuai dress code yang sudah ditetapkan, kami hanya bawa baju tidur dan peralatan mandi plus obat-obatan pribadi. Sama sekali nggak bawa ringgit sepeser pun, rupiah aja minim. Maklum, baru pulang traveling jadi masih bokek.

Pokoknya yang kami tahu, makan dan penginapan kami ditanggung. Jadilah kami berangkat ke Kuala Lumpur hanya bawa diri dan baju. Dan kartu kredit, untuk kondisi kepepet.

Jumat malam sepulang kantor, langsung ke bandara Soekarno Hatta untuk flight jam 20.30. Tiba di KLIA 2 jam 23.30. Dan kami akan dijemput disana.

Tunggu punya tunggu, yang menjemput kami nggak muncul-muncul di tempat yang dijanjikan. Modal wifi, kami berusaha menghubungi anggota tim yang lain dan penjemput kami via Whatsapp. Entah kenapa, HP kami berdua connect dengan wifi bandara tapi nggak bisa Whatsapp. Layanan lain pun nyaris nggak bisa.

Akhirnya setelah coba-coba, kami berhasil menghubungi seorang teman di Jakarta via Facebook Messenger, untuk bantu sampaikan pesan ke penjemput kami kalau kami sudah menunggu di TKP. Dan pesan pun tersampaikan, kami akan segera dijemput setelah ybs selesai dengan urusannya di KLIA 1. Ternyata, yang jemput baru datang dari Jakarta juga tapi pakai Malindo Air, bukan Air Asia seperti kami. Hahaha…

Setelah menunggu lebih dari 1 jam, dan bolak-balik menolak tawaran para driver taksi bandara, akhirnya jemputan kami tiba. Ci Kezia, yang menjemput kami, ternyata bermasalah dengan kartu parkirnya, jadi doi agak lama karena harus urus parkiran dulu.

Singkatnya, kami meluncur ke apartemen yang disewa untuk tim. Malam itu kami sampai di apartemen lebih dari jam 2 pagi. Begitu sampai, langsung minum vitamin dan tidur. Karena jam 6 kami harus sudah bangun.

Sabtu pagi, kami bangun jam 6 dan harus siap jam 7. Sarapan di seberang apartemen, kami tinggal pesan dan makan lalu cus ke venue. Snack berlimpah disediakan di venue. Makan siang dan malam disponsori pula.

IMG-20160516-WA0011
Kalo sarapan disini
IMG-20160516-WA0012
Lunchie…
IMG-20160515-WA0007
Seminar di venue

Esok hari, jadwal kami hampir sama. Bangun jam 6, sarapan jam 7, menuju venue untuk acara ibadah sampai siang. Setelah ibadah, kami diajak makan siang oleh panitia. Setelah itu, salah satu donatur mengajak kami pesta makan durian. Durian King yang besar-besar dan menggoda itu dibuka dan dihidangkan di meja panjang. Makan aja, begitu katanya. Kalo ada yang nggak enak, bilang aja, nanti diganti. Beuh, nikmat lah pokoknya!

Siang menjelang sore itu, kekenyangan makan durian kami ditutup dengan air kelapa untuk menetralisir. Malamnya, kami diajak makan ke Jalan Alor di Bukit Bintang, Kuala Lumpur, menempuh 1 jam perjalanan dari Petaling Jaya, lokasi acara dan tempat menginap kami.

img-20160516-wa0015.jpg
Lunchie lagi
IMG-20160516-WA0014
Mamam duren yukkk…
IMG-20160515-WA0029
Pesta duren 😄

Dan karena aku baru pertama kali ke Malaysia, pengen foto di Menara Petronas dunk. Akhirnya selesai makan malam, mobil berbelok ke KLCC. Aku dan anggota tim yang sesama newbie di Malaysia semangat mau foto di depan ikon Kuala Lumpur yang lampunya masih menyala terang benderang itu.

Sampai di lokasi, karena sudah jam 12 malam dan mobil harus kembali jadi kereta labu sudah pada capek, sesi foto pun diwanti-wanti untuk nggak terlalu lama.

Jreng! Begitu kami turun dan siap foto, lampu Menara Petronas mati! Nasib amat yak. Alhasil, kami foto dengan Menara Petronas yang sudah gelap.

IMG-20160516-WA0032
Lampu Menara Petronas nya mati duluan 😂

Selesai sesi foto, kami pulang ke apartemen dan tiba jam 1 pagi. Aku dan Meina kembali cepat-cepat tidur karena kami harus bangun jam 4 pagi dan berangkat jam 04.30 mengejar flight kami jam 07.00. Ya, hari Senin, kami para karyawan swasta harus kembali beraktivitas di kantor.

Lalu, berapa ringgit yang kami keluarkan di Malaysia? 0. Kartu kredit pun nggak terpakai. Haha… Ya namanya juga disponsorin. Tapi nggak enak sih nggak ada uang pegangan sama sekali, karena mau jajan sendiri aja nggak bisa. Untung kebutuhan perut tercukupi sampai berlebih-lebih jadi nggak terlalu pengen jajan.

Moral of the story, keluar negeri nggak bawa uang bisa aja, asal disponsorin. Kalo jalan sendiri, tetap harus bawa uang kalo nggak mau jadi gembel di negeri orang. 😁😁😁

JADI BACKPACKER GEMBEL

Aku dan Meina berniat camping di Pantai Gatra. Berhubung pagi hari berikutnya kami sudah reservasi akan ke Pantai Tiga Warna jam 7 pagi, daripada repot mending dari malam kami sudah menginap disana. Hasil googling dan blogwalking, katanya di Pantai Gatra bisa camping dan tersedia sewa tenda Rp 25.000/tenda dan sewa lahan juga Rp 25.000/tenda. Jadi cuma Rp 50.000 semalam untuk berdua. Murah banget!

Begitu tiba di parkiran mobil Pantai Gatra, hari sudah gelap. Sekitar jam 18.30. Untuk ke pos 1, kami harus naik ojek. Murah sih cuma Rp 5.000. Dari pos 1 yang kosong, kami jalan sedikit ke pos 2 dan mendaftarkan diri kami disitu. Dan kami pun mendapat kabar buruk, tenda yang biasa disewakan RUSAK SEMUA!

Jreng!!! Padahal kami sudah berencana mau hunting foto Milkyway disana gara-gara liat postingan foto Milkyway kak @amrazing yang kece-kece.

IMG-20160811-WA0000
Bikin mupeng nggak sih foto Milkyway nya?

Para petugas menyarankan kami untuk cari homestay di sekitar situ, tapi adanya di jalan utama dan harus keluar parkiran pula. Kami keukeuh mencari tenda atau apa saja yang bisa dipinjam, asalkan tetap di area pantai Gatra. Awalnya petugas-petugas nggak menyarankan kami kesana, selain karena kami nggak bawa tenda, juga karena kami hanya cewek berdua.

Tapi karena kami ngotot maunya di area pantai dan mau ngirit nggak mau homestay, akhirnya salah satu petugas bilang, ada sih warung disana yang dijaga ibu-ibu. Tapi warungnya terbuka gitu. Kalo emang kami mau tetap di area pantai, mungkin bisa disana. Tapi kami disuruh lihat dulu aja, kalo emang berani tidur di warung, ya silakan aja. Kalo nggak, ya nanti balik lagi dan cari homestay di luar.

IMG-20160811-WA0011
Pengecekan barang di pos 2

Berhubung jarak dari pos 2 ke warung lumayan jauh, melewati kebun-kebun dan TANPA penerangan sama sekali, para abang ojek yang tadi mengantar kami dari parkiran sampai pos 2, disuruh antar kami sampai warung. Dan bener dong, kami berjalan  gelap-gelapan sekitar 15 menit di tanah berbatu dan pasir dengan sisi kanan kiri kami pepohonan. Untungnya aku dan Meina bawa senter.

Setelah tiba di warung yang dimaksud dan melihat kondisinya, tanpa harus berdiskusi panjang lebar, aku dan Meina sepakat untuk : Hajar, bleh! Masih manusiawi kok bentuknya. Meskipun nggak ada tembok tapi masih ada atap dan ditemani oleh 2 ibu baik hati yang begitu mendengar cerita kami langsung mengijinkan kami menumpang tidur di warung berbentuk pendopo sederhana dari kayu dan bambu itu.

Haduh, maap ya Bu jadi merepotkan. Bu Yatmi dan Bu Pangestu jadi harus beberes sajadah dll yang ada di mushola berukuran 2 x 1 m yang malam itu akan jadi tempat tidur kami.

Oya, 2 abang ojek yang mengantarkan kami, sempat mengantar kami ke pantai Gatra yang berjarak sekitar 20 m dari warung. Ceritanya kami tetap mau ambil foto Milkyway. Kan tujuan utamanya itu. Ada sih Milkyway nya dan lumayan jelas terlihat. Tapi… Kami nggak bisa-bisa foto Milkyway-nya. Pakai smartphone, sama sekali nggak ketangkap. Pakai DSLR, nggak ngerti setting-nya padahal udah coba macam-macam. Maklum, Meina sudah lama nggak pakai DSLR itu. Dan jarang pula dibuat foto di gelap-gelapan untuk nangkap objek cahaya kecil-kecil yang jaraknya ribuan mil gitu.

Dan hanya 5 menit di Pantai Gatra, awan pun datang. Halah… Tertutup lah semua titik-titik kecil cahaya bintang. Padahal kami belum berhasil dapat foto Milkyway. Jadi, misi kami memfoto Milkyway gagal total!

Balik lah kami ke warung. Dan setelah kami membayar ongkos ojek dan tip, 2 abang ojek kembali ke pos 1 dengan berjalan kaki tanpa senter! Katanya, bulan aja yang jadi penerang. Haha… Sok puitis!

Saat itu untung kami bawa kain Bali yang bisa dijadikan alas tidur. Handuk juga kami sampirkan di dinding pendopo yang terbuat dari papan kayu berjejer dengan sela sekitar 1-2 cm di antara setiap kayunya dan tingginya nggak sampai semeter. Untuk menahan angin yang berembus dari sela-sela kayu. Trus selimutan pakai selimut hasil pinjam teman.Ransel jadi bantal.

Baru jam 8 malam sih. Kami sudah siap tidur, sambil sesekali mengobrol. Bu Yatmi dan Bu Pangestu pun sudah menggelar kasur yang memang mereka gunakan untuk istirahat setiap malam.

IMG-20160811-WA0006
Bu Yatmi dan warungnya, kami bobo di pojok kanan (photo by Meina)

Oya, warung itu berjarak 3 meter dari deretan toilet yang hanya ada disitu di kawasan 5 pantai termasuk Gatra dan Tiga Warna. Untunglah, mau ke toilet nggak usah jauh-jauh. Tapi…

Lama-lama berasa nggak enak-nya berada dekat toilet. Aroma tak sedap segera menyerang hidung. Meskipun semua toilet dalam kondisi kosong. Meina langsung minta parfum untuk disemprot ke badan dan selimut, untuk menghalau aroma toilet. Tapi hanya bertahan 10 menit paling lama. Aku pun punya ide, tisu basah ditempel di hidung. At least aroma tisu basah akan lebih kuat daripada toilet.

Lalu… Tak lama kemudian, gerimis mulai turun dan makin lama makin deras, disertai hembusan angin pula. Kami pun kena tampias air hujan. Plus angin membawa aroma toilet semakin kencang. Dan suara kresek-kresek di belakang warung, kata Bu Yatmi, “Palingan tikus.” Haduh… Semoga tuh tikus nggak sampai merambat di ‘tempat tidur’ kami.

Aku pun mulai tak betah. Pakai selimut gerah, buka selimut kena tampias hujan dan digigitin nyamuk. Punggung juga pegal karena langsung berhadapan dengan kayu. Haduh… Sepanjang malam tidur nggak pulas dan sedikit-sedikit bangun. Hingga pagi pun tiba. Akhirnya…

Pagi hari kami berkeliling area 5 pantai di sekitar. Ditemani seorang guide, Pak Darman, kegembelan kami pun bertambah. Kami menyusuri area 5 pantai dengan nyeker. Awalnya sih pakai sandal jepit, tapi karena habis hujan semalam jadi tanah lengket dan menempel di sandal kami, membentuk sandal jepit kami seperti wedges berlapis tanah. Daripada sedikit-sedikit bersihin tanah, dan harus super hati-hati karena lebih licin, Pak Darman menyarankan kami untuk nyeker seperti beliau. Ya sudahlah ya.

IMG-20160811-WA0012
Tebak kaki siapa ini?

IMG-20160811-WA0002

IMG-20160811-WA0009

Selesai menyusuri 5 pantai, beliau pun berbagi bekal makan siangnya dengan kami yang sudah tampak kelaparan kelelahan. Jadi bekal yang disiapkan istrinya, nasi jagung dengan lauk ayam kecap, dituang di daun pisang untuk dimakan bertiga. Masih kurang gembel, sis?

IMG-20160811-WA0007

IMG-20160811-WA0015

IMG-20160811-WA0003

Menjelang siang kami mandi dan beberes di warung untuk kembali ke Malang. Kami pun pamitan dengan kedua ibu yang sudah rela memberikan tempatnya untuk kami jajah semalam, dan juga Pak Darman. Dan tahu nggak, kami benar-benar nggak bayar lho tidur di warung itu. Kami cuma bayar pemakaian toilet berapa kali bolak-balik dan sarapan serta jajan-jajan yang lumayan banyak.

Terimakasih Bu Yatmi dan Bu Pangestu, sudah mengijinkan kami merasakan jadi backpacker gembel semalam. Terimakasih Pak Darman, sudah membantu menambah tingkat kegembelan kami. 😀😁😂

IMG-20160811-WA0005

IMG-20160811-WA0014

All photos credit to Meina. Berhubung kesalahan teknis waktu mindahin foto dari handphone-ku, nyaris semua foto di handphone hilang. Jadi, pakai foto-foto yang diambil Meina deh. 😅

Note : Kalau mau camping di Pantai Gatra, lebih baik bawa tenda sendiri. Atau, kalau nggak punya tenda, bisa memesan tenda saat pesan tempat di Pantai Tiga Warna, supaya disiapkan tenda yang masih berfungsi oleh petugas. Jangan sampai kayak kami ya, terpaksa ngegembel semalaman. 😅😁

SI CANTIK DARI LAMPUNG : PAHAWANG

Waktu bilang mau ke Lampung, kebanyakan orang tanya, “emang di Lampung ada apa?” Aku sendiri pun belum tau ada apa saja di Lampung. Tapi mulai sering dengar kalau Lampung itu indah. Salah satu yang kini sudah terkenal : Pahawang.

Traveling ke Pahawang kali ini ramai-ramai dengan teman kantor plus teman-teman lainnya. Awalnya sih mau rombongan teman-teman kantor, tapi karena kurang kuota dan banyak yang batal mendadak, akhirnya jadilah open trip dengan teman-teman lainnya. My fellow traveler, Meina, yang 2 bulan sebelumnya berpetualang bersamaku ke Bromo, Ijen, dan Malang, ikut juga setelah aku mengeluarkan jurus rayuan pulau kelapa, padahal sebelumnya sempat galau menerima ajakanku atau tidak.

Trip kali ini ala backpacker dan tidak menggunakan jasa agen manapun. Itinerary, budgeting, dan nego-nego semua diurus oleh teman kantorku, Jessieca. Kami hanya mengeluarkan uang Rp 400.000 all in dari Bakauheni dengan peserta 16 orang. Jadi tinggal mengeluarkan biaya dari dan ke Merak dan fery Merak – Bakauheni pp aja. Sesampai di Bakauheni, kami sudah dijemput oleh mobil sewaan, diantar ke dermaga Ketapang, dan ditunggu oleh kapal nelayan sewaan yang akan mengantar kami keliling Pahawang dan sekitarnya selama 2 hari, juga homestay dan makan 5 x.

P_20160625_081110_1

IMG-20160807-WA0018
Dermaga Ketapang

IMG-20160807-WA0019

Dari Dermaga Ketapang, kami langsung ke pulau Kelagian Kecil. Setelah itu snorkeling, mampir makan siang di Pahawang Kecil, snorkeling dua kali lagi, baru sore hari menuju homestay di pulau Tanjung Putus.

1466989773691
Pulau Kelagian Kecil (photo by Jessieca)
1466989764489
View dari Kelagian Kecil (photo by Jessieca)
IMG-20160807-WA0020
Suka banget foto ini!

IMG-20160807-WA0040

IMG-20160807-WA0041
Pahawang Kecil
IMG-20160807-WA0039
Cottage orang tuh
IMG-20160808-WA0010
Cottage milik orang Perancis di Pahawang Kecil (photo by Sasa)
IMG-20160807-WA0023
Sisi Pahawang Kecil
IMG-20160807-WA0008
Office mates

Hari pertama kami full snorkeling supaya di hari kedua sudah nggak basah-basahan lagi. Untunglah guide kami, Mas Yanto, orangnya asik. Saat snorkeling, dia banyak membantu kami yang nggak bisa berenang ataupun bisa berenang tapi takut-takut. Bahkan saat snorkeling di spot ke-3, doi lah yang setengah memaksa kami yang sudah lelah dan sebagian besar nggak bisa berenang untuk tetap masuk ke air demi berfoto dengan tulisan “Pulau Pahawang Wisataku” dibantu oleh doi. Dan aku pun memberanikan diri mengikuti sarannya, padahal aku nggak bisa berenang, snorkeling aja kadang galau, apalagi diving ataupun freedive. Maklum, waktu kecil aku pernah 2 kali tenggelam : di empang dan sungai, jadi agak sedikit ngeri berada di dalam air. Tapi berkat dorongan doi lah, aku bisa mengalahkan ‘takut tenggelam’ dan ternyata di dalam air nggak semenakutkan bayanganku. Maklum, waktu kecil aku pernah 2 kali tenggelam : di empang dan sungai, jadi agak sedikit ngeri berada di dalam air. Malah asik juga rasanya masuk ke dalam air, and without doing anything I can still come to the surface.

20160625_113401

20160625_152548

IMG-20160807-WA0038

IMG-20160807-WA0043

IMG-20160807-WA0011

1466989934476

IMG-20160807-WA0030

IMG-20160807-WA0015

Malam hari kami makan ikan bakar yang ditangkap sendiri oleh guide kedua kami, Mas Dani. Hebat tuh orang, di tengah-tengah kami snorkeling, doi ditinggal di tengah laut untuk spear fishing dan melanjutkan berenang ke Tanjung Putus. Mungkin sekitar 3-4 jam doi berenang dari lokasi ditinggal di laut sampai tiba di homestay kami dengan membawa ikan-ikan hasil tangkapan yang jumlahnya nggak sedikit.

P_20160625_174835
Menikmati sunset
IMG-20160807-WA0007-1
Ikan bakar endeuz…

Esok pagi, kami island hopping ke beberapa pulau sebelum kembali ke dermaga Ketapang. Tapi karena air sedang tinggi, kami hanya bisa mampir ke 1 pulau dari rencana 3 pulau. Itupun kapal nggak bisa merapat ke pantai karena sebagian besar pantai sudah terendam air. Tapi, karena pantai di pulau Balak itu BAGUS BANGET, kami jadi sedikit berbasahan lagi demi bisa mengambil foto di situ.

IMG-20160807-WA0016
Menanti sunrise
IMG-20160807-WA0010
Ternyata matahari tertutup awan

IMG-20160807-WA0026

IMG-20160807-WA0033

IMG-20160807-WA0048
Pulau Balak dari jauh

IMG-20160808-WA0008

IMG-20160807-WA0034

P_20160626_092147_HDR
Ini bukan floating lho

IMG-20160807-WA0005

IMG-20160807-WA0014

Setelah itu kami hanya bisa melewati pulau Lunik yang nyaris seluruh pantainya terendam air, dan kembali ke dermaga Ketapang. Sepanjang perjalanan, aku melihat pulau-pulau yang kami lewati sebagian besar terendam air sampai tinggi, bahkan sebagian pohon di pantai ikut terendam.

IMG-20160808-WA0001
Pulau Lunik yang hanya dilèwati
IMG-20160808-WA0004
Pantainya lenyap terendam air

Padahal pas kemarin kami lewati dalam perjalanan menuju spot snorkeling ataupun homestay, pulau-pulau itu masih terlihat pantainya. Well, air memang lagi tinggi-tingginya. Makanya kemarin kami juga nggak bisa mampir ke beberapa spot snorkeling dan gosong (pasir timbul). Untunglah pantai-pantai yang masih sempat kami kunjungi pun bagusnya nggak kira-kira, jadi terbayarlah semua perjuangan ala backpacker kami menemukan salah satu serpihan surga di Lampung.

See you next time, Pahawang! We’re happy having you here in Indonesia!

IMG-20160808-WA0000

IMG-20160807-WA0006

Jalan-jalan ke Jogja (End)

Menurut salah satu blog yang aku baca, kalau mau ke Bukit Punthuk Setumbu, sebuah bukit yang kini jadi tambah terkenal setelah jadi salah satu lokasi syuting AADC 2, sebaiknya jam 3 pagi sudah jalan. Karena lokasinya sekitar 2 jam perjalanan dari kota Yogyakarta, tepatnya di dekat Candi Borobudur, kota Magelang. Ya, paling nggak jam 5 pagi kami sudah sampai parkiran Bukit Punthuk Setumbu supaya bisa naik dengan santai dan tiba di puncak bukit tepat waktu untuk menyaksikan pemandangan sunrise yang menakjubkan.

Apa daya? Meskipun kami sudah mandi di malam hari sebelum tidur supaya pagi nggak telat berangkat karena mandi, kami baru bangun jam 03.00. Mengumpulkan nyawa, cuci muka, gosok gigi, dan siap-siap lainnya. Jadinya jam 3.30 kami baru berangkat.

Jam 5.40 kami tiba di persimpangan Borobudur. Banyak ojek yang menawarkan diri mengantar kami ke Punthuk Setumbu, begitu melihat arah belokan kami. Harga yang ditawarkan dari 100.000, turun jadi 75.000 beberapa menit kemudian, hingga waktu kami meneruskan jalan, seorang bapak ojek memberi harga 40.000 saja. Karena kami sudah nggak punya waktu untuk nyasar, meskipun pakai GPS, kami memakai jasa bapak itu. Maklum, GPS kan kadang suka kasi petunjuk arah yang ‘ajaib’.

Ternyata arah yang ditunjukkan si bapak sama persis dengan GPS. Rugi deh. Ya, at least kami nggak perlu berhenti karena ragu sama arahan GPS. 10 menit kemudian kami tiba di parkiran. Jam 05.50. Sudah lumayan terang.

Kami pun bergegas membayar bapak ojek, berjalan menuju loket pembayaran tiket masuk. Rp 15.000/orang. Dan bersegera mungkin menaiki tangga ke puncak. Sudah jam 05.55.

Baru menapaki anak tangga pertama menuju puncak, seorang ibu yang berjualan disitu bilang, “Cepat mbak, sudah terbit matahari-nya.”

Kami pun jadi sedikit panik. Sudah jauh-jauh, malah telat sampe pula. Halah…

Tapi, semangat kami berjalan ngebut bahkan setengah berlari hanya bertahan kurang dari 5 menit. Kami bukan hanya menaiki tangga yang jaraknya lebar dan tinggi, tapi juga mendaki bukit. Napas kami cepat habis dan kami sesekali berhenti sejenak untuk mengambil napas. Perjalanan menuju puncak nggak lama sih, 15 menit saja. Tapi tetap saja menguras tenaga.

Hampir tiba di puncak, kami berpapasan dengan beberapa orang yang turun. Lah, kami belum sampai, mereka udah pada turun. Ya karena itu sudah jam 06.10. Matahari sudah terbit dari tadi.

Setiba di puncak yang cukup ramai, kami langsung mencari spot agak kosong yang asik untuk melihat magis-nya pemandangan sunrise dari Bukit Punthuk Setumbu. Meskipun hanya kebagian sisa-sisa pesona magis-nya aja.

Sudah lah, emang kami kesiangan. Kami santai-santai aja, yang penting dapat view-nya dengan lensa mata dan kamera. Juga beberapa foto yang proper. Hehehe…

DSCN1134

 

DSCN1158

20150606_060806

DSCN1151

IMG-20150607-WA0020

IMG-20150607-WA0009

IMG-20150607-WA0011

Setelah agak sepi, kami pun turun dan mencari sarapan. Lapar bo. Pagi-pagi berlari mendaki bukit dengan perut kosong. Alhasil, sarapan kami agak membabi buta. Mie instan (lagi) dengan gorengan dan kopi panas. Nikmat!

Sambil makan lesehan, kami ngobrol dengan suami istri pemilik warung. Mereka kaget begitu tahu grup kami (cewek semua) jalan bertiga tanpa cowok dan guide. “Hati-hati ya, Mbak” begitu pesan si bapak pada saat kami akan meninggalkan warungnya.

Menuju Candi Borobudur, hanya 15 menit saja dari Bukit Punthuk Setumbu. Dan kami langsung diserbu para pedagang di parkiran, dari pedagang minuman, topi, sampai souvenir, yang dagangannya kami tolak dengan halus.

Ternyata hari itu, Borobudur penuh banget. Belakangan kami baru ingat, itu hari Sabtu. Pantas saja banyak bus membawa rombongan anak sekolah. Fiuhhh…

Kami memutuskan untuk naik sampai puncak Borobudur. Tapi melihat tangga Borobudur yang tinggi-tinggi, kami menghela napas. Naik lagi, setelah tadi pagi berjuang naik bukit. Haha…

IMG-20150607-WA0046

IMG-20150607-WA0058

IMG-20150607-WA0057

IMG-20150607-WA0049

IMG-20150607-WA0037

IMG-20150607-WA0052

Candi Borobudur dikelilingi pemandangan asri. Membuat kami betah berkeliling sembari menaikinya. Biar nggak terlalu lelah mendaki terus, kami pun menjelajahi sudut-sudut Borobudur yang agak sepi.

Selepas dari Borobudur, kami kembali ke kota Yogyakarta. Tujuan kami beli bakpia terenak seantero Yogyakarta, versi-ku. Melipir di salah 1 cabang, bakpia yang tersedia hanya isi kacang hijau. Sedangkan kami mau-nya rasa keju dan coklat. Akhirnya kami disarankan untuk ke cabang utama nya, dan hasilnya sama. Pun di cabang toko terakhir yang hanya berjarak 30 m dari toko utama. Katanya 2 jam lagi baru akan datang stok dari pabrik.

Sambil menunggu, kami mampir ke museum 3D yang sedang ‘in‘, De Mata Trick Eye Museum yang lokasinya nggak jauh dari toko bakpia itu. Sesampai disana, Meina dan Ike asik foto-foto sambil mengikuti petunjuk posisi supaya hasilnya maksimal. Aku, karena nggak terlalu suka difoto dan perutku sedang tak enak, hanya ambil beberapa foto dan selebihnya keliling-keliling.

IMG-20150607-WA0059

IMG-20150607-WA0043

Mendekati jam 15.30 sore, yang kata pegawai toko bakpia adalah jam datang stok bakpia, kami kembali ke toko bakpia. Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, datanglah stok bakpia yang ditunggu-tunggu. Dan langsung aku mendekati pegawai yang mencatat orderan, berseru-seru demi mengalahkan suara para ibu-ibu yang sudah ramai menyebutkan orderan masing-masing. Perjuangan banget nggak sih, cuma demi beberapa kotak bakpia aja? Haha…

Setelah perjuangan panjang untuk bakpia, kami menuju ke Keraton. Niat hati mau wisata keraton, tapi gagal karena lupa cek jam buka wisata keraton. Waktu kami tiba, jam wisata keraton sudah habis. Karena udah tanggung sampai plus bayar parkir (nggak resmi) termahal sepanjang perjalanan, kami mengiyakan tawaran bapak pengemudi becak untuk berkeliling di area abdi dalem keraton. Naik bentor.

IMG-20150607-WA0083

Mampir di 2 toko batik milik siapa-nya Sultan gitu, lalu ke galeri lukisan abdi dalem. Di galeri lukisan itu lah kami menghabiskan banyak waktu. Selain melihat-lihat lukisan jadi dan setengah jadi, ngobrol dengan si pelukis yang juga abdi dalem keraton, plus tawar-menawar lukisan yang akan dibawa pulang Meina. Jadilah sore udah gelap dan kami langsung kembali ke mobil.

IMG-20150607-WA0089

IMG-20150607-WA0068

Sebelum kembali ke penginapan, kami mampir di toko gelato yang direkomendasikan seorang teman. Konsep toko nya cozy and cute, dan harga gelato dan snack yang dijual pun cukup bersahabat dengan dompet.

IMG-20150607-WA0116

IMG-20150607-WA0105

IMG-20150607-WA0108

IMG-20150607-WA0111

IMG-20150607-WA0093

IMG-20150607-WA0092

IMG-20150607-WA0041

Selesai menikmati gelato kami menuju Malioboro. Kan katanya belum ke Jogja kalo belum ke Malioboro. Aku pun penasaran, kayak apa sih Malioboro yang jadi pusat daerah touristy di Jogja. Dan karena itu malam minggu, jalan menuju Malioboro pun macet lah. Pun sulit cari parkiran.

Hasratku berkeliling lenyap sudah melihat padatnya Malioboro. Entahlah, aku nggak menemukan sesuatu yang menarik untuk dikunjungi. Yang kulihat hanyalah orang, bus, mobil, motor, becak, delman, yang lalu lalang. Pusing eike cyin…

Akhirnya aku hanya masuk di beberapa toko batik, menemani Ike yang mencari entah oleh-oleh atau titipan teman. Sampai tokonya hampir tutup, dan akhirnya pindah toko. Setelah belanja, kami langsung kembali ke mobil. Meina dan aku sudah ngantuk luar biasa.

Kembali ke penginapan, makan malam di kedai nasi kucing depan penginapan, beres-beres bawaan, lalu tidur. Besok pagi kami harus berangkat jam 06.30 menuju stasiun Lempuyangan. Mengembalikan mobil dan sarapan juga akan kami lakukan disana.

07.00 kami tiba di stasiun Lempuyangan. Langsung lemas melihat kedai nasi brongkos yang kami idamkan untuk sarapan ternyata tutup pada hari Minggu. Yahhh… Jadilah kami sarapan yang lain. Dan langsung bersiap-siap menunggu kereta ke Jakarta.

Bye, Jogja. See you again next time.