Category Archives: Uncategorized

Peduli Politik Indonesia

Sesekali nulis serius boleh lah ya. Nggak melulu soal traveling atau alam, tapi kali ini mau share soal politik Indonesia. Cie elah… Gaya beudh dah, ala-ala pengamat politik. Eh lupa, harus sok serius.

Nggak sih, postingan ini nggak mau berat-berat amat juga, dan nggak mau bergaya pengamat politik dadakan juga. I just want to share how much I love this beautiful country and all its diversities.

Alkisah, aku tumbuh di Indonesia yang sangat beragam dan didukung dengan semboyan yang keren abis : Bhinneka Tunggal Ika. Tapi keberagaman itu sempat ternoda di tahun 1998 saat kekacauan terjadi di seluruh Indonesia dan menjadi momen yang sangat menakutkan bagi sebagian orang, terutama warga negara Indonesia dengan etnis Tionghoa dan beragama Kristen/Katholik. Begitu banyak cerita yang aku dengar mengenai rumah dibakar, toko dijarah, orang diperkosa dan bahkan dibunuh. Bukan hanya di Jakarta, tapi hampir seluruh Indonesia. Dan nggak sedikit orang yang akhirnya memutuskan untuk lari keluar negeri dengan alasan keselamatan. Sedih.

Waktu itu aku masih abg labil yang belum ngerti apa-apa, cuma tau lagi heboh penjarahan dan sekolah-ku pun diliburkan selama beberapa hari. Nonton tivi pun aku hanya mengerti bahwa situasi negara lagi goyah karena ribuan mahasiswa berdemonstrasi dan menduduki gedung MPR/DPR dan menuntut mundurnya Presiden Soeharto yang sudah menjabat selama 32 tahun, padahal harusnya maksimal 2 periode alias 10 tahun.

Situasi bertambah kacau di kala ada mahasiswa yang menjadi korban penembakan aparat keamanan. Kabarnya anak salah satu tetangga di RT sebelah yang kuliah di Trisakti pun turut menjadi korban kekerasan aparat. Tapi aku sendiri nggak ingat apakah kabar itu terkonfirmasi, maklum aku masih buta urusan gituan. Yang aku ingat, selama beberapa malam, bapak-bapak di gang kami, termasuk papa-ku, sepakat ngeronda untuk menjaga keamanan, karena ada informasi bahwa toko di depan kompleks sudah ikut dijarah massa, setelah supermarket terdekat dari rumah, Ramayana dan Borobudur di Ciputat habis dibakar massa. Syukurlah sampai kondisi normal, kompleks kami aman.

Beberapa hari kemudian, Presiden Soeharto mundur dan digantikan sementara oleh Wakil Presiden saat itu, Bapak BJ Habibie. Namun, ekonomi negara sudah terlanjur hancur oleh kejadian-kejadian mengerikan selama beberapa hari, ditambah pula krisis moneter sedang melanda dunia.

Singkat cerita, hingga aku dewasa, aku nggak peduli sama sekali dengan negara maupun politik. Punya hak pilih di usia 17 tahun pun nggak berpengaruh karena aku nggak tertarik untuk memilih orang yang katanya akan menjadi wakil rakyat. Apalagi semakin lama, setelah era reformasi tahun 1998, kondisi politik negara semakin kacau. Gus Dur yang menjadi Presiden terpilih secara legal saja digulingkan oleh oknum-oknum politik. Sudah lah, mungkin memang nasib Indonesia hanya memiliki pejabat busuk dan korup di pemerintahan. Orang baik macam Gus Dur malah disingkirkan.

Apatis. Mungkin itu kata yang tepat buat-ku, dan mungkin buat sebagian besar orang yang juga cuek bebek dengan kondisi Indonesia yang sepertinya tanpa harapan. Gonta-ganti Presiden, hanya sekedar berganti penguasa, nggak ada manfaatnya buat rakyat jelata macam aku. Yang ada, kerabat dan golongan penguasa ikut berkuasa pula dan sibuk bagi-bagi dana pemerintahan untuk masuk kantong.

Hingga tiba saat itu. 2012. Aku yang sudah bekerja di Jakarta mendengar kabar-kabar tentang pemilihan Gubernur Jakarta. Konon ada calon yang punya latar belakang bagus, tapi aku nggak tahu siapa namanya. Setelah beberapa lama, barulah aku mendengar berita, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur itu no. 3, yang sebelumnya sukses menjadi kepala daerah di tempat lain. Setelah aku tahu orangnya, aku agak kaget, ternyata calon wakil gubernur nya orang keturunan Tionghoa dan beragama Kristen. Tumben amat.

Dan semakin mendekati hari H pemilihan, semakin banyak berita tentang mereka, pasangan no. 3, Jokowi dan Ahok. Ditambah lagi, banyak pula seniman yang berkreasi untuk mendukung kampanye Jokowi – Ahok. Mulai dari buat video klip, hingga penyebaran berita latar belakang dan prestasi mereka di media sosial. Akhirnya aku mengikuti perkembangan kabar Jokowi – Ahok dan mulai melihat sesuatu yang sudah lama nggak aku lihat. Harapan.

Singkatnya, setelah berjuang selama 2 putaran dan mempopulerkan baju kotak-kotak ke seantero Jakarta, pasangan Jokowi – Ahok pun menang. Dan kemenangan itu pun terasa spesial, karena banyaknya orang yang selama ini apatis ikut berubah pandangan dan turun gunung memlih pasangan ini. Aku yakin mereka melihat apa yang aku lihat juga.

Setelah dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI yang sah, rasanya Jakarta lebih cerah. Bukan karena mereka bisa menyulap Jakarta menjadi nggak banjir dan nggak macet, toh mengatasi banjir dan macet perlu proses tahunan. Tapi ada warna dan aroma baru yang mereka bawa ke arena pemerintahan dan perpolitikan di Jakarta dan Indonesia.

Aku mulai berpikir, ternyata di Indonesia masih ada juga pejabat bersih dan niat membangun bangsa. Mungkin selama ini mereka tertutup oleh banyaknya pejabat-pejabat ngaco dan ignorant di penjuru tanah air. Ternyata, Indonesia masih punya harapan! Itulah yang menyebabkan kini aku peduli untuk mengikuti perkembangan di dunia pemerintahan dan politik Indonesia. Karena aku yakin, harapan ada dan akan terus ada hingga mengubah wajah Indonesia.

Dan terbukti, setelah fenomena kemunculan Jokowi – Ahok di Jakarta, daerah-daerah lain pun mulai menampilkan putra-putri terbaiknya, seperti Ibu Risma di Surabaya, Pak Ganjar di Jawa Tengah, Pak Ridwan Kamil di Bandung.

Kemudian, tahun 2014 Jokowi berhasil memenangkan pertarungan menjadi RI 1 dengan mengalahkan Prabowo Subianto. Lalu muncullah sosok Ibu Susi Pudjiastuti yang fenomenal, menteri lulusan SD dan bertato yang mendobrak stigma pejabat, dan membawa sistem kelautan dan perikanan Indonesia naik level dengan keberaniannya melawan kapal-kapal asing yang selama ini “menjajah” wilayah kelautan Indonesia.

Kini yang terbaru, ada Kang Dedy Mulyadi, Bupati Purwakarta yang merubah wajah daerahnya hingga mulai dikenal dan membuatku penasaran mau kesana. #hasratjalanjalanmuncul

Nggak salah kalau aku bilang Jokowi – Ahok adalah fenomena. Mereka bukan pejabat pada umumnya, buat-ku mereka adalah brand. Brand dari sebuah harapan.

Dan saat ini, beberapa hari setelah demo besar untuk memproses hukum Ahok yang katanya menista agama, aku hanya berdoa buat Indonesia supaya nggak kalah oleh tekanan kelompok-kelompok tertentu yang memaksakan kehendaknya. Indonesia tetap Indonesia. Yang akan terjadi atas Indonesia bukanlah kehendak golongan tertentu, tetapi apa yang sudah digariskan oleh Dia yang disebut pada sila pertama Pancasila. Dia-lah yang berdaulat atas bumi Indonesia. So, keep calm aja deh. Mau jungkir balik kayak apapun, kehendak Dia-lah yang akan terjadi. Manusia mah apalah apalah, cuma butiran debu.

Penutup, tiba-tiba mau nyanyi lagu nasional. Ini dia :

Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau
Sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia
Indonesia tanah air-ku, aku berjanji padamu
Menjunjung tanah air-ku, tanah air-ku Indonesia
Selamat Hari Pahlawan!
Salam Bhinneka Tunggal Ika!

Para Penambang di Kawah Ijen

Badannya coklat kehitaman. Cukup berotot. Tapi di belakang pundak kiri dan kanannya terdapat memar kehitaman, hampir menyerupai kapalan.

Dia berhenti. Beberapa detik. Ternyata ada yang mengambil foto dirinya. Ia berjalan lagi, menaiki bebatuan di depannya. Beberapa menit kemudian, dia berhenti lagi.

“Kalau capek, istirahat aja, Mbak,” katanya sambil menoleh pada kami dan meletakkan bawaan di pundaknya. Sepertinya dia yang lebih capek daripada kami.

Kami pun ikut berhenti dan beristirahat. Beberapa menit. Kemudian berjalan lagi mengikuti pergerakannya, si bapak yang saat itu tampak begitu fotogenik bagi para turis asing yang melihatnya. Buktinya, beberapa kali dia harus berhenti untuk difoto. Bukan, bukan berpose. Gerakan alaminya sudah melebihi pose model profesional.

2 keranjang kayu berukuran sedang, diikat dan disatukan dengan kayu panjang, dipikul di pundaknya. Sambil terus berjalan menaiki bebatuan yang sudah menjadi jalan bagi dia dan teman-temannya para penambang.

Rupanya kayu yang dipikulnya itulah yang meninggalkan bekas di bagian belakang pundaknya. Tidak, kayu dan keranjang itu tidak berat. Isi di atasnya lah yang berat. Bongkahan belerang.

Kira- kira 75 kilo, kata Pak Subeno, salah satu dari sekian banyak penambang belerang di Kawah Ijen, yang pagi itu merangkap menjadi guide kami menuruni dan menaiki Kawah Ijen.

75 kg? Hampir 1,5 berat badanku. Setiap hari beban seberat itu dipikul di pundaknya yang agak membungkuk. Eh bukan. Dalam sehari, Pak Subeno 2 kali mengangkut, jadi kurang lebih 150 kg belerang yang dipikul. Wow!

Berapa sih harga belerang itu?

“Murah, Mbak,” jawab Pak Subeno singkat tanpa memberikan angka persis. Sepertinya segan menyebutkan nominal.

“Bapak bawa turun belerangnya pakai troli?”

“Nggak, Mbak. Saya belum punya troli. Mahal.”

“Emang berapa harganya, Pak?”

“1 juta-an, Mbak. 1.500.000.”

Jadi, karena belum punya troli itulah, Pak Subeno harus 2 kali bolak- balik mengangkut belerang. Naik ke puncak 2 km, turun ke kawah 800 m, naik dari kawah 800 m, turun ke parkiran 2 km. Hampir 6 km yang harus ditempuh untuk sekali angkut.

Rute harian para penambang
Rute harian para penambang
Perjalanan yang harus ditempuh dari kawah ke puncak
Perjalanan yang harus ditempuh dari kawah ke puncak
Baru setengah perjalanan menuju puncak
Baru setengah perjalanan menuju puncak
Sebagian penambang di puncak
Sebagian penambang di puncak

“Kok bapak kuat sih?”

“Kekuatan saya datangnya dari Yang Maha Kuasa, Mbak.”

Speechless. Bukan kalimat pesimis yang keluar dari mulutnya. Bukan pula keluhan. That words, I called it FAITH.

Untuk menghidupi istri dan kedua anaknya yang bersekolah tingkat SD, Pak Subeno melakukan pekerjaan berat nan beresiko tinggi itu. Setiap hari memacu motor dari rumahnya di Banyuwangi ke Paltuding, titik masuk Gunung Ijen. Naik ke puncak Ijen dan menuruni bebatuan terjal menuju kawah berasap penuh bau belerang adalah rute sehari-hari sebagai penambang belerang.

Rp 1.025 sekilo. Begitu kata penambang belerang lain yang kami temui pada saat perjalanan turun.

Hah? Hanya Rp 1.025? Untuk perjalanan sejauh itu, waktu sebanyak itu, pekerjaan seberat itu dan resiko hingga menantang maut, yang diperoleh hanya nominal itu?

Pak Subeno hanya membawa pulang sekitar Rp 153.750 per hari. Padahal pekerjaan yang dilakukan sedemikian sulit dan menguras tenaga.

Lalu, bagaimana dengan penambang lain yang sudah lebih tua? Yang fisiknya sudah tidak sekuat Pak Subeno yang sanggup membawa beban 75 kg sekali angkut? Yang harus lebih sering istirahat karena nafas sudah lebih pendek? Yang tidak mampu menempuh 2 perjalanan bolak- balik setiap hari?

IMG-20160501-WA0002

Bandingkan dengan kita. Mungkin Rp 150.000 adalah uang jajan yang kita keluarkan sekali nongkrong. Harga troli Rp 1.500.000 mungkin hanya sepersekian harga gadget canggih yang kita miliki. Itupun terkadang kita masih mengeluhkan keadaan.

Salut dengan Pak Subeno, dan para penambang lain. Bertemu dengan banyak penambang, tidak sekalipun kami mendengar keluh kesah mereka. Sebaliknya, mereka yang melihat kami lelah mendaki, terus mendorong dan menyemangati kami.

“2 belokan lagi,” begitu kata para penambang yang menemani perjalanan kami naik Gunung Ijen. Dari pendakian dimulai hingga pos terakhir sebelum puncak, kalimat itu terus yang mereka ucapkan.

Benar juga, hanya ada 2 belokan, ke kanan dan ke kiri. Hanya butuh 2 belokan untuk tiba di puncak.

Hari itu, aku belajar banyak dari para penambang belerang di Ijen. Iman, mengucap syukur, tidak mudah mengeluh, pantang menyerah. Dan untuk mencapai puncak, hanya butuh 2 belokan.

Terimakasih, para bapak yang luar biasa!

Ctrl+C
Kami dan Pak Subeno

Journey to Jerusalem

Sebagai penganut agama Kristen, salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah Yerusalem, or what we called “The Promise Land”. Sama halnya dengan umat muslim dengan Mekkah sebagai tujuan wajibnya.

Tapi, buat aku, Yerusalem bukanlah tempat untuk dikunjungi seperti wisata pada umumnya. Bukan pula sekedar ziarah rohani, mengunjungi situs-situs yang pernah dikunjungi Yesus. Bagiku, perlu ada ‘panggilan’ untuk datang ke tempat tersebut. Makanya aku sebut perjalanan rohani, bukan ziarah rohani. Karena di dalam perjalanan, pasti akan menemukan sesuatu yang baru, berbeda dengan ziarah yang hanya mengenang masa lalu.

Dan akhirnya ‘panggilan’ itu datang di tahun 2015. Komunitas-ku kembali mengadakan perjalanan ke Yerusalem untuk ke-3 kalinya. Kali pertama dan kedua, aku biasa-biasa saja. Tapi waktu diumumkan perjalanan kali ketiga ini, entah mengapa ada suatu dorongan yang kuat di dalam diriku. “I have to be there!”

Singkat cerita, aku nekat mendaftar dan berangkat. Dengan segala keterbatasan dari seorang part time traveler and mostly backpacker. You know what I mean, right?

Karena keberangkatan dengan komunitas, jadi kami menggunakan jasa tur, dimana semua sudah disediakan dan kami hanya tinggal menyiapkan paspor dan tentu saja dana sebesar 2.700 USD. Mahal? Yes. Karena waktu keberangkatan kami adalah peak season, di saat musim perayaan tahun baru di Israel, juga masa Idul Adha bagi umat muslim.

Perjalanan rohani kali ini memakan waktu 10 hari, termasuk di perjalanan. Dan keberangkatan kami dimulai dinihari jam 01.30 menuju Abu Dhabi, transit beberapa jam untuk kemudian melanjutkan penerbangan ke Amman. Tiba di Amman, kami akan menuju Yerusalem lewat jalan darat dengan melalui lembah Yordan.

IMG-20160410-WA0043

Kota Amman, Yordania
Kota Amman, Yordania
Lembah Yordan
Lembah Yordan

IMG-20160410-WA0042

Sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya aku bersyukur pada Tuhan. Karena akhirnya mataku bisa melihat langsung tempat-tempat yang sering kubaca dan kudengar di Alkitab. Menginjakkan kaki di tempat yang disebut tanah perjanjian bukanlah hal yang sepele buatku. Thank you, Lord.

Perjalanan pergi memakan waktu hampir 22 jam. Berangkat 01.30 dan tiba sekitar 19.00 (waktu di Yerusalem 4 jam lebih lama dari waktu di Jakarta). What a day kan? Dan malam itu setelah makan malam, kami langsung mengadakan ibadah. Begitu pula dengan keesokan pagi dan malamnya. Setiap pagi dan malam kami mengadakan ibadah, betapapun capek dan ngantuknya kami. Yup, that’s part of the journey.

Kemana saja kami? Seperti rombongan tur pada umumnya, kami mengunjungi lokasi touristy, but with a purpose. Kami mengunjungi sungai Yordan dan sebagian besar dari kami merasakan dibaptis di sungai tersebut. Kami juga menyaksikan fenomena Blood Moon terakhir dari rangkaian tetrad (google aja ya, kalo dijelasin bakal panjanggg…). Kami juga ke Kana, tempat mujizat pertama yang dilakukan Yesus di sebuah pernikahan. Juga kami mampir ke Succat Haleel, rumah doa di Yerusalem, dimana tim kami diundang untuk mengisi 1 sesi doa disana. Lalu ke Danau Galilea, Kapernaum, Bukit Tabor, Lembah Karmel, Padang Gembala, City of David, Haifa (this city is a total beauty), Garden Tomb (kubur Yesus), Qumran, Jericho, Holocaust Museum, Upper Room, Old City of Jerusalem, Wailing Wall.

Yardenit, The Baptismal Site
Yardenit, The Baptismal Site

IMG-20160410-WA0048

The Blood Moon
The Blood Moon
Menanti Blood Moon
Menanti Blood Moon
Our team at Succat Haleel
Our team at Succat Haleel
Salah satu sudut Gereja Kana
Salah satu sudut Gereja Kana
Danau Galilea
Danau Galilea
Di atas perahu menyeberangi Danau Galilea
Di atas perahu menyeberangi Danau Galilea
Kapernaum
Kapernaum
Lembah Karmel
Lembah Karmel
The beautiful Haifa
The beautiful Haifa
Qumran, near Dead Sea
Qumran, near Dead Sea
Mount Temptation
Mount Temptation
Old City of Jerusalem
Old City of Jerusalem

IMG-20160410-WA0035

Keramaian di sekitar Wailing Wall
Keramaian di sekitar Wailing Wall

IMG-20160410-WA0034

Persis di tanggal 1 Oktober, kami mengikuti parade yang diadakan di jalan-jalan utama Yerusalem. Parade tersebut diikuti oleh rombongan dari bangsa-bangsa di seluruh dunia yang datang ke Yerusalem. Starting point hingga finish point berjarak sekitar 5 km, dan karena parade dilakukan dengan berjalan kaki, jarak tersebut ditempuh dalam 3 jam. Dan selama parade, kami membagikan souvenir yang kami bawa dari Indonesia kepada warga yang menonton parade. Mulai dari membagi ke anak-anak kecil di sekeliling kami, hingga melemparkan ke arah warga yang berdiri menyaksikan parade dari balkon rumahnya. Juga sepanjang 3 jam, rombongan kami terus bernyanyi penuh semangat dan tanpa henti, hingga keriuhan tim kami mengalahkan rombongan negara lain yang bawa speaker. And a new song came out that time, membuat orang-orang di pinggir jalan maupun rombongan lain mengikuti nyanyian kami yang cuma terdiri dari 4 kata diulang-ulang. Seru abis!

Siap untuk parade
Siap untuk parade

IMG-20160410-WA0050

Keramaian di parade
Keramaian di parade

Seminggu kami di Yerusalem, menginap 2 malam di Tiberias, dekat Danau Galilea, dan 4 malam di Bethlehem. Malam berikutnya kami menginap di Dubai, karena perjalanan pulang kami singgah di Dubai dan Abu Dhabi untuk sightseeing dan ‘main’ di Ferrari World.

Burj Al Arab
Burj Al Arab
Burj Khalifa
Burj Khalifa
The Atlantis Hotel
The Atlantis Hotel

IMG-20160410-WA0010

This is Rossa Coaster, 240 km/jam
This is Rossa Coaster, 240 km/jam

Heading home, penerbangan dari Abu Dhabi menuju Jakarta memakan waktu 8,5 jam. Aku yang sudah sangat lelah langsung tertidur sesaat setelah pesawat take off.

Eh, yang nggak kalah seru dari perjalanan kali ini adalah… Aku bertemu seorang teman SMP-ku disana! Pas lagi belanja di suatu toko, tiba-tiba ada seorang dari rombongan lain yang menyebut namaku waktu papasan. Lah, ternyata temanku yang sudah lama banget nggak ketemu. Dia bersama istri dan rombongan gereja-nya juga mengambil rute yang hampir sama dengan kami. Makanya disana aku beberapa kali bertemu dengan temanku itu. Haha… Siapa sangka bertemu teman lama di tempat yang jaraknya ribuan kilometer.

Perjalanan rohani-ku ke Yerusalem memang sudah berlalu. Tapi, perjalanan rohani-ku sebagai makhluk ciptaan Tuhan belum berakhir. Semua pencerahan dan pewahyuan yang kudapat selama perjalanan itu, menjadi bekal untuk aku terus menjalani hidup sebagai manusia yang mengandalkan Tuhan dalam segala hal.

Jalan-jalan Ke Jogja : Serba Irit

Semalam kami sudah bertekad akan bangun sekitar jam 5 supaya bisa melihat sunrise. Apa mau dikata, kami baru bangun jam 5.45 dan di luar sudah mulai terang. Buru-buru lah kami bersiap-siap. Semoga masih keburu.

Mobil pun kami bawa ke dekat karang besar di pinggir pantai. Kami berniat menyaksikan sunrise dari situ karena posisi nya agak tinggi. Tapi karena sudah jam 6 pagi, matahari sudah menyembul di sebelah timur. Kami berjalan menaiki tangga bambu yang disusun untuk menaiki karang besar itu. Berjalan terus menuju puncak, kayak theme song AFI.

Tangga menuju puncak 😃
Tangga menuju puncak 😃

Perlahan tapi pasti, matahari muncul di balik perbukitan. Sinar matahari pagi memantul di atas laut selatan yang selalu berombak, meskipun pagi hari itu ombak tidak seganas kemarin sore.

IMG-20150605-WA0049

IMG-20160206-WA0004

IMG-20160206-WA0000

IMG-20160206-WA0005

20150605_062540

IMG-20160206-WA0007

Setelah menyaksikan prosesi sunrise sampai matahari bulat benar-benar bersinar, kami turun dari karang tersebut dan menjelajahi daerah sekitar. Di dekat situ ada sebuah bukit yang sepertinya bisa dinaiki. Sebenarnya dari kemarin aku sudah pengen kesana, tapi karena sudah sore dan masih harus cari penginapan, urung deh. Pagi ini, akhirnya kami memutuskan kesana, kalau memang bukit itu bisa dinaiki.

IMG-20160206-WA0015

IMG-20160206-WA0014

Sampai di kaki bukit, mobil kami parkir. Bukitnya nggak terlalu tinggi sih sebenarnya, dan sudah dibuatkan jalan untuk ke atas, tapi masih ditutup. Mungkin belum selesai jalan nya. Kami pun berjalan kaki ke atas, menapaki jalan dari semen yang sudah disiapkan.

Namanya Bukit Giri Sarangan. Sepanjang perjalanan menanjak, kami bisa melihat sisi-sisi lain di sekitar pantai Krakal. Ombak memecah di bawah bukit batu di sebelah kanan kami. Di kiri kami pantai Krakal.

Tiba di puncak, ternyata dibuat berbentuk lingkaran dan rata. Jadi kami bisa ambil view panorama 360°. Meina malah bikin video sambil berputar-putar menunjukkan view sekeliling kami.

20150605_071449

20150605_071200

IMG-20160206-WA0012

IMG-20150605-WA0072

Sekitar 15 menit saja di puncak, dan kami harus turun lagi. Maklum sudah jam 7 lewat, dan kami belum sarapan dan mandi. Turun bukit, kami langsung memesan mie instan di warung yang ada persis di kaki bukit. Mie instan lagi? Iya. Kan persediaan uang kami sangat terbatas 😁 (baca : Jalan-jalan Jogja : Oh Paradiso).

Kami makan lama juga, sambil ngobrol ngalor ngidul. Eh baru saja kami mau pergi, seorang anak laki-laki kecil menghampiri kami dan menyalami kami “Salim, salim,” begitu katanya dengan senyum sumringah. Ternyata anak itu cucu dari pemilik warung. Saking ramahnya anak tadi, kami mengurungkan niat untuk pergi dan mengikuti anak tadi masuk ke dalam.

Namanya Ihsan. Senyum lebar terkembang di wajahnya. Bahkan dia menyapa kami, orang asing yang belum pernah dilihat dan mencairkan suasana. Akhirnya kami ngobrol sebentar dengan ibu tua pemilik warung dan anaknya (ibu-nya Ihsan yang terlihat masih sangat muda), dan seorang pengunjung warung yang sepertinya teman si ibu tua. Dan nggak lupa sebelum pulang, kami mengabadikan momen tersebut. What a lovely kid they have.

IMG-20160206-WA0009

Setelah ber-dadah-dadah ria dengan Ihsan dan keluarga nya, kami kembali ke penginapan. Harus ngebut mandi dan siap-siap, karena kami akan ke beberapa lokasi lagi sebelum kembali ke kota.

Penginapan kami dan si ibu penjaga
Penginapan kami dan si ibu penjaga

Jam 10 kami meluncur pergi setelah menyelesaikan urusan bayar-membayar. Tujuan kami berikutnya : pantai Siung dan pantai Jogan.

Keluar area pantai Krakal, kami memacu mobil ke arah kanan. Pemandangan di jalan hampir sama dengan kemarin. Dan kami melewati beberapa pantai, salah satunya pantai Indrayanti yang paling ramai dan terkenal di daerah Gunungkidul, hingga disebut Kuta-nya Yogyakarta. Juga pantai Nglambor yang ruame banget pas kami lewat, yang ternyata pantai buat snorkeling selain Sadranan.

Nggak sampai setengah jam, aku melihat plang pantai Jogan. Kami baru akan belok menuju pantai Jogan, dan kami melihat petugas berseragam berdiri. Bayar biaya masuk Rp 5.000/orang. Beuh! Spontan kami ingat uang kami yang sudah sangat tiris itu. “Di dalam bayar lagi nggak, Pak?” Ike udah mulai jutek. Ya iya lah, untuk bayar parkir aja harus mengais dompet dan kantung, juga selipan-selipan di tas atau apapun.

“Nggak kok, mbak. Paling parkir aja.”

Dengan berat hati aku menyerahkan 3 lembar Rp 5.000. Semoga benar kata si bapak, nggak ada bayar apa-apa lagi nanti.

Memasuki area pantai Jogan, jalanan sempit berbatu dan menurun, hanya cukup untuk 1 mobil. Untunglah Meina cukup jago menyetir dan parkir meski di area sempit begitu.

Sekitar 50 m dari tempat parkir, sudah terlihat pantai Jogan. Tidak seperti pantai berpasir, pantai Jogan ini pantai bertebing batu dan posisi kami di atas tebing batu.

Yang unik dari pantai Jogan ini adalah ada ‘air terjun’ di pantai nya. Jadi dari atas tebing batu mengalir air ke bawah seperti air terjun mini. Meskipun nggak besar, pemandangan seperti itu cukup menjadi identitas sendiri untuk pantai Jogan.

DSCN1081

DSCN1073

20150605_110214

20150605_110317

Setelah 30 menit menghabiskan waktu di pantai Jogan, kami meluncur lagi. Kali ini menuju pantai Siung, yang pernah dikunjungi tim My Trip My Adventure.

Pantai Siung punya area berpasir yang sangat luas. Lebarnya mungkin beberapa ratus meter. Dan di sisi nya terdapat area tebing-tebing yang bisa digunakan untuk turun tebing, atau istilahnya rappelling, yang pernah dilakukan di salah satu sudut Pantai Siung oleh Denny Sumargo, host senior My Trip My Adventure sekaligus host favorit saya. Oke, lupakan yang terakhir. Personal bias. Hehehe…

Karena kami memang nggak punya banyak waktu untuk dihabiskan, dan aku pun baru sembuh dari keseleo, nggak mungkin kami main ke area tebing-tebingan. Jadilah kami hanya main di sekitar pasir dan batu-batu di pinggir pantai.

Dan Meina datang dengan sebuah ide. Bikin video lari di pantai. Tapi dari tengah ke salah satu pinggir. Kalo dari ujung ke ujung kayaknya kami bakal kehabisan napas sebelum sampai. Yah, maklumlah, kami kan karyawan kurang olahraga. 😁

IMG-20150607-WA0135

IMG-20150607-WA0141

IMG-20150607-WA0132

IMG-20150607-WA0134

Setelah main sebentar di tengah batu-batuan di pinggir, kami pun meluncur lagi. Kami harus keluar area Gunungkidul dan menuju daerah Bantul, sebelum kembali ke kota Yogyakarta.

Di tengah jalan, aku melihat ATM. Langsung kami hentikan mobil dan tarik dana dari ATM. Akhirnya nggak lagi harus mengais dompet demi mencari lembar demi lembar rupiah.

Pas pula di sebelah ATM ada warung jadi kami langsung beli minuman dingin. Sedari tadi berangkat dari hotel kami belum minum yang lain selain air putih sebotol bertiga. Iya, tadi kami emang ngirit banget. 😂

Setelah mengamankan dompet, kami jadi lega. Bisa makan dengan tenang. Dan mengisi perut sebelum kami menuju ke air terjun Sri Panjung di Kabupaten Bantul yang jaraknya lumayan jauh.

Mengandalkan GPS demi mencari air terjun Sri Panjung, ternyata belum ada lokasi nya di Google Map. Akhirnya tujuan kami ganti jadi nama desa nya, selebihnya manual, nanya orang.

Sesampai di desa Jatimulyo, mulailah bingung menentukan arah. Dan setelah bertanya sana-sini, kami menemukan juga jalan menuju air terjun. Sempit. Dan makin lama makin sempit. Sampai kami tanya orang naik motor, eh ternyata dia juga lagi nyari lokasi yang sama. Akhirnya ibu-ibu penduduk lokal mengarahkan kami ke jalan yang hanya selebar 1 mobil pas, bahkan kalo papasan sama motor nggak bisa lewat. Tapi itulah satu-satunya jalan menuju Sri Panjung. Katanya sekitar 1 km lah jalan itu.

Dengan ragu-ragu kami lewati jalan kecil nan sempit itu. Ibu-ibu penduduk lokal tadi naik motor di belakang kami, sepertinya menuju arah yang sama. Dengan sabar beliau memacu motornya mengikuti mobil yang bergerak perlahan. Maklum, jalannya cuma disemen, berkelak-kelok, agak menurun, dan tanpa penunjuk jalan.

Akhirnya tibalah kami di tanah agak lapang dan terlihat beberapa mobil dan motor diparkir. Juga warung kecil yang menjual minuman dan gorengan. Dan ternyata kami sudah tiba. Tapi untuk mencapai air terjun, kami masih harus menyusuri jalan dan tangga yang sudah dibangun. Sekitar 15 menit berjalan, barulah kami akan sampai di air terjun.

Air Terjun Sri Panjung sendiri berada di kawasan Hutan Lindung Bantul. Pemandangan dari parkiran aja sudah menyejukkan mata. Sejauh mata memandang terlihat pepohonan hijau dan aliran sungai kehijauan. So refreshing!

IMG-20150607-WA0147

IMG-20150607-WA0146

IMG-20150607-WA0151

IMG-20150607-WA0152

Setelah menyusuri tangga menurun dan jalan dari semen di depannya, jalan pun terpecah dua, tangga menurun lagi ke bawah atau lurus tapi di depannya jalan tanah. Kami terus ke depan mengikuti jalan tanah yang makin lama makin sempit dan tak jelas bentuknya. Kan biasanya makin susah medannya, makin worth it yang ditemukan. Sampai di suatu titik, jalan di depan semakin tak terlihat karena ranting pohon dan rerumputan menutupi jalan yang makin sempit dan bersisa lebar 30 cm dan sisi kiri langsung jurang. Secara kami cuma pakai sandal jepit, celana pendek, jalan setapak licin pula sampai kami harus berpegangan tangan supaya nggak jatuh. Kami memutuskan untuk nggak lanjut, karena terlalu beresiko dengan kondisi kami yang kurang persiapan dan kakiku yang belum bisa dipakai di medan yang tak jelas. Padahal di depan kami tadi ada 3 pria menyusuri jalan yang sama dan entah udah dimana saking cepatnya mereka jalan. Coba tadi mereka nggak terlalu cepat, at least kami bisa tahu arah di depan kan. Mungkin mereka udah sering kesini kali, pikirku.

IMG-20150607-WA0155

IMG-20150607-WA0160

IMG-20150607-WA0156

Akhirnya, kami berhenti di situ. Melihat air terjun Sri Panjung dari seberang. Lalu berbalik, dan mencoba mengambil tangga menurun yang tadi kami lewati. Dari arah bawah terdengar banyak suara orang yang tertawa. Dan di saat itu, meski aku nggak terlalu suka keramaian di alam, suara tawa orang-orang jadi semacam pencerahan kalau kami nggak nyasar.

Kami pun menuruni tangga sampai ujung dan berakhir di sungai. Dan disana nggak ada orang lain selain kami bertiga. Lalu, suara tawa ramai itu dari mana datangnya? Tenang aja, ini bukan cerita horor. Ternyata sekitar 50 meter dari titik kami berdiri, ada rombongan yang lagi main di air terjun Sri Gethuk yang tersohor dan emang lokasinya berdekatan dengan Sri Panjung. Mereka naik semacam kapal gitu, seperti yang pernah aku baca di blog orang. Karena kami anti mainstream, makanya kami pilih mengunjungi Sri Panjung bukan Sri Gethuk, tanpa tahu kalau lokasinya segitu dekat. Tahu gitu…

IMG-20150607-WA0174

IMG-20150607-WA0163

IMG-20150607-WA0162

IMG-20150607-WA0166

IMG-20150607-WA0121

Karena hari sudah sore dan kami harus keluar dari lokasi sebelum gelap, jam 5 kami sudahi bermain di sungai berbatu-batu itu. Naik ke titik awal kami sampai tadi benar-benar peer banget. Antar anak tangga nya tinggi dan jarak ke parkiran lumayan bikin ngos-ngosan. Terpaksa kami jajan di warung dekat parkiran demi mengganjal perut.

Akhirnya sebelum hari benar-benar gelap kami meluncur lagi. Melewati lagi jalan sempit selebar 1 mobil tadi. Dan langsung memasang lokasi pada GPS. Kembali ke kota Yogyakarta.

Jalan masuk dan keluar area Sri Panjung
Jalan masuk dan keluar area Sri Panjung

IMG-20160214-WA0000

Menepi sebentar demi foto dari tempat tinggi
Menepi sebentar demi foto dari tempat tinggi

Sempat tersasar waktu mencari penginapan yang sudah kami booking dan bayar, karena GPS malah menunjukkan lokasi lain. Tiba di penginapan, langsung bongkar muatan. Tadinya mau makan ke Malioboro atau tempat makan terkenal dekat situ, tapi batal karena kami sudah males dan nggak mau tidur terlalu malam. Besok kami harus berangkat jam 4 subuh. Dan kami pun hanya makan nasi kucing di depan penginapan.

JALAN-JALAN KE JOGJA – Oh Paradiso

Karena kerjaan lagi hectic banget, tambah menjadi-jadi deh sakau traveling-ku. Banyak harpitnas pula. Cari-cari tiket, tapi masih mahal. Sampai iseng-iseng cari tiket kereta murah ke Jogja. Kata orang sih bisa puluhan ribu aja.

Bener sih, ada yang 75.000 sama 80.000 untuk kelas Ekonomi, tapi mendekati harpitnas, tiket harga segitu sold out. Akhirnya dapat tiket KA Progo Jakarta – Jogja 75.000 di hari kerja. Cingcay lah. Ike (my nekat traveler partner) pun setuju kami beli tiket Rabu malam, jadi kami cuti 2 hari untuk bisa liburan sampai hari Minggu di Jogja. Done.

Beberapa minggu sebelum berangkat, kami cerita sama salah satu sahabat di komunitas kami, Meina. Dan dia langsung minta ikutan. Singkat cerita, Meina pun beli tiket berangkat yang sama, meskipun nomor kursi beda, ngarep bisa minta tukar sama orang nanti. Hehe…

Tiket pulang kami beli belakangan, barengan sama Meina, jadi dapat kursi berhadapan. Sayangnya tiket pulang nggak dapat yang harga 75.000 maupun 80.000, keburu habis. Jadilah kami beli tiket KA Bogowonto Jogja – Jakarta 220.000.

Tiket berangkat
Tiket berangkat

The day has come. 3 Juni 2015, sepulang kerja kami kumpul di rumah Meina dulu untuk numpang mandi. Eh, karena jalanan macetnya ampun-ampun, sampai rumah Meina udah lewat dari jadwal, jadi nggak sempat mandi. Cuma numpang makan, trus langsung capcus ke Stasiun Senen.

Ternyata Stasiun Senen penuh buanget, sodara-sodara. Untungnya pemeriksaan tiket cukup tertib jadi meskipun penuh dan antrian panjang, nggak makan waktu terlalu lama. And surprisingly, kereta berangkat TEPAT jam 22.30. Wow! Ternyata KA lebih baik daripada maskapai Singa soal jam keberangkatan. Ehehe…

Duduklah kami bertiga bareng, karena Meina berhasil tukeran tempat duduk sama orang di depan kami. Tapi sayangnya, sebelahnya Meina ibu-ibu berbadan subur yang kurang toleran duduknya. Ya udah tahu bodinya besar, tas doi taruh di kursi pula, jadi Meina duduk mentok ujung banget. Mana tuh ibu kayaknya udah gape naik kereta itu, jadi nyantai aja sama kursi tegak lurus kereta ekonomi, malah pas tidur kakinya nyelip dimana aja, kadang di antara kakiku dan kaki Ike, kadang di antara kedua kaki-ku, kadang antara dinding dan kaki Ike. Asli, tuh ibu bisa cari kesempatan dalam kesempitan untuk selonjorin kakinya. Temen si ibu di kursi seberang malah sampai tidur di lantai padahal jelas-jelas ada larangan tidur di lantai. Ampunnn….

Semalaman di kereta dengan kursi tegak lurus gitu emang pegel abis. Udah bawa bantal leher, nggak terlalu ngaruh juga karena punggung tetap nggak istirahat. Jadilah aku cuma tidur-tidur ayam, senasib sama Meina yang lebih susah tidur karena space duduknya yang sempit. Ike lumayan bisa tidur lah, karena dia bisa senderan dinding kereta. Akhirnya subuh-subuh, Ike tukeran tempat duduk sama Meina, supaya Meina bisa tidur. Karena Meina yang bakalan nyetir selama di Jogja nanti. Kalo Meina nggak tidur, kan ngeri juga. Hehe…

Setelah pindah kursi, Meina langsung bisa tidur. Bagus lah, kasihan juga kalo sama sekali nggak tidur dan harus langsung nyetir jarak jauh. Dan tepat jam 7 pagi, kami sampai di stasiun Lempuyangan. Wuih, on time lagi. Keren nih PT KAI.

Pagi-pagi tiba di stasiun Lempuyangan
Pagi-pagi tiba di stasiun Lempuyangan

Karena kami janjian sama penyewaan mobil jam 8, jadi kami bisa santai dulu cari makan pagi. Di depan stasiun berjejer warung-warung makan kecil. Lihat-lihat sebentar, lalu aku tertarik sama warung nasi brongkos. Setelah intip dan tanya nasi brongkos itu apa, aku memilih makan itu saja. Meina pilih nasi kucing. Ike joinan aja makannya sama aku, belum terlalu selera makan kayaknya.

Begitu nasi brongkos yang terdiri dari nasi + 2 potong tahu + telur bulat tersaji, langsung aja kusuap. Dan ternyata… Enak bangetttttttttt!!!!!!

Cicip-ciciplah Ike dan Meina begitu kubilang “enak banget” dan mereka setuju. Akhirnya Meina pesan nasi brongkos juga setengah tanpa telur (karena sudah makan nasi kucing) dan Ike pesan 1 lagi. Kami setuju, nasi brongkos ini enak banget dan harganya murah banget, seporsi lengkap dengan telur HANYA Rp 6.000 aja, sodara-sodara.

Nasi bronkos yang uennakkk buanggettt ituh
Nasi brongkos yang uennakkk buanggettt ituh

Sekitar setengah jam kami makan sambil menunggu mobil sewaan kami datang. Selama kami makan, banyak yang menawarkan jasa, mulai dari mobil sewaan, hotel, becak antar keliling Jogja, dll. Tapi kami tolak dengan halus, karena kami memang sudah sewa mobil dan rute hari itu ke Gunungkidul. Tapi ditolak pun mereka tetap senyum. Awalnya sih agak terganggu dengan banyaknya tawaran, ya dari yang punya warung, tukang-tukang becak yang mangkal di depan warung, belum lagi para marketing mobil sewaan yang berjejer di depan stasiun. Tapi beberapa waktu kemudian aku baru sadar, ini Jogja, yang orang-orangnya terkenal ramah, bukan Jakarta yang mayoritas warga-nya cuek bebek. Ditolak dengan alasan ke Gunungkidul pun mereka malah dengan semangat menjelaskan tentang Gunungkidul. Jadi tersentuh sama keramahan orang-orang Jogja.

Setelah orang yang mengantarkan mobil konfirmasi kalau dia sudah sampai di depan Stasiun Lempuyangan, kami langsung beranjak dan membayar. 2 ½ nasi brongkos, 1 nasi kucing, 3 tempe goreng, 2 teh susu, CUMA habis Rp 21.000. Murahhh!!! Padahal sampe kuenyanggg.

Hepi dengan makan pagi kami, dengan senyum lebar kami menuju mobil sewaan. Agya Matic putih. Setelah cek dan ricek kondisi mobil, isi kwitansi, membayar, yang semua kami lakukan di dalam mobil supaya aman. Kami pun meluncur menuju… pom bensin. Iya, bensinnya cuma 1 strip. Ngeri nya tuh bensin keburu habis sebelum kami sampai pom. Haha…

Mari berpetualang!
Mari berpetualang!

Setelah sempat mutar-mutar, akhirnya kami nemu juga pom bensin. Setelah isi, baru deh meluncur ke destinasi pertama kami : pantai di Gunungkidul dan langsung ke hotel, karena kami pengen taruh barang-barang biar nggak ribet. Sebenarnya kami belum dapat hotel disana, meskipun sudah booking by phone. Soalnya cari-cari info di internet, semua penginapan di sekitar pantai Gunungkidul nggak ada gambarnya. Daripada beli kucing dalam karung, kami berencana lihat langsung baru memutuskan mau nginap dimana.

Perjalanan dari kota menuju Gunungkidul lumayan jauh. Karena kami semua turis, tentu saja kami hanya mengandalkan GPS untuk rute ke Gunungkidul. Eh di tengah jalan, kami melewati salah satu tujuan wisata kami, Gua Pindul. Akhirnya kami memutuskan merubah itinerary, dan langsung menuju Gua Pindul untuk cave tubing disana.

Mobil kami diarahkan dengan motor oleh seorang bapak yang pakai badge “Marketing”. Katanya nggak begitu jauh. Tapi kami mengikuti di belakang dan rasanya nggak jauh nya itu kok kayaknya lebih dari 10 km ya? Mana jalanannya masuk ke dalam jalanan yang kecil.

Ada kali setengah jam kami mengekor si bapak hingga akhirnya sampai di tujuan. Cukup ramai (kata pengelola sih itu termasuk sepi), tapi nggak seramai waktu hari libur di awal Mei lalu, pas foto Gua Pindul yang beredar di media sosial terlihat lautan orang sampai air nya nggak kelihatan. Katanya 2.000 orang datang ke Gua Pindul waktu itu. Gilingan daging itu mah.

Karena kasihan sama si bapak yang mengantar kami demikian jauh, kami kasih tip Rp 20.000. Later we know, yang antar dapat tip juga dari pengelola, Rp 10.000/orang. Ya sudahlah, amal nggak ada salahnya. Lagipula si bapak dengan sabar nungguin kami yang ribet bongkar tas, berganti baju, pakai sunblock, dll sebelum memilih paket. Maklum lah, dadakan dan barang kami semua masih di dalam tas ransel yang melembung.

Akhirnya kami memilih 2 paket, cave tubing di Gua Pindul dan body rafting di Sungai Oyo. Ada 1 paket lagi ke gua kering, tapi kami nggak ambil karena mau agak ngirit. Hahaha… Ya iya dong, masa baru beberapa jam sampai mau langsung boros-borosan, kalo nanti uang nggak cukup gimenong cyin?

Setelah menitipkan tas dan bawaan di meeting point, kami langsung ambil rompi pelampung dan ban, lalu menuju starting point. Jadi masuk ke dalam gua-nya dibikin grup 8-12 orang yang disuruh saling pegang ban orang di sebelah kanan supaya nggak lepas dan akan di-lead oleh 1 orang guide.

IMG-20150605-WA0013

IMG-20150605-WA0007

IMG-20150605-WA0006

Setelah semua anggota grup saling memegang ban, guide mulai berjalan sambil menarik kami sambil menjelaskan mengenai Gua Pindul, dari sejarah, bagian-bagiannya dan apa saja yang terdapat di dalamnya. Si guide kami orangnya cukup kocak, dan sering membuat kami tertawa karena di sela-sela penjelasan serius, dia nyelipin guyon. Gayung bersambut sama Ike. Makin diajak bercanda sama Ike, dan aku juga Meina jadi ikutan. Sampai-sampai tuh guide lebih sering beredar di dekat kami bertiga.

Mendekati ujung gua, ada spot yang bisa untuk loncat ke dalam sungai. Karena penasaran, Meina dan Ike langsung turun dari ban, dan naik ke atas batu yang jadi jumping point. Dan si guide kami beri tugas, megangin handphone Meina untuk ambil foto atau video loncatan kami. Plus, kepalanya jadi penitipan sementara topi kami bertiga. Hehe…

IMG-20150605-WA0016

Di dalam gua, cahaya matahari menyusup dari lubang di sisi lain gua
Di dalam gua, cahaya matahari menyusup dari lubang di sisi lain gua
Lubang matahari
Lubang untuk cahaya matahari

IMG-20150605-WA0026

Meina udah siap loncat di atas, sedangkan aku baru berusaha turun dari ban. Maklum, nggak bisa berenang. Dan daerah sungai sekitar situ cukup berbatu, jadi kaki harus berhati-hati melangkah, supaya nggak menginjak ataupun menabrak batu.

Meina yang bisa berenang aja ragu-ragu mau loncat. Sampai datang grup berikut yang malah rame-rame menghitung mundur untuk menyemangati Meina untuk loncat. Bukannya semangat, malah jadi ragu-ragu dia. Setelah mikir dan ragu beberapa waktu, Meina pun loncat. Byurrr!!!

Nggak sampai sedetik kemudian, Meina muncul di permukaan air. Asik kak, gitu katanya. Sementara Ike masih menguatkan diri untuk loncat, Meina sudah manjat batu lagi untuk loncat kedua kali. Dan nggak lama setelah loncat ke air, Ike pun langsung naik ke jumping point untuk loncat lagi. Luar biasa! Dan aku cuma bisa memandangi mereka sambil berusaha mengumpulkan nyali. Pengen loncat juga, tapi aku nggak bisa berenang dan takut tinggi.

Melihat beberapa orang lain juga bergantian loncat, aku jadi penasaran. Udah deh, coba aja. Tapi… Sampai di atas jumping point, nyali-ku langsung ciut. Itu airnya dalam nggak ya, kena batu nggak ya, nanti kemasukan air nggak ya pas sampai di air, dll dsb pertanyaan di dalam pikiran. Dan aku pun maju mundur selama 5 menit. Hampir saja turun lagi, tapi ternyata turun dari batu lebih susah daripada naiknya. Lebih gampang loncat daripada turun biasa. Hadehhh…

Setelah membiarkan beberapa orang lain loncat mendului aku, akhirnya aku pun memantapkan diri untuk loncat. Meskipun takut. Sempat maju mundur lagi sebentar, sampai akhirnya aku capek dengan diri sendiri. Ribet bener mau loncat aja. Padahal cuma beberapa detik aja. Akhirnya setelah memastikan di spot loncat nggak kena batu dan airnya nggak terlalu cetek, dan meminta Meina stand by dekat situ (tetap aja rempong ya? Haha…), aku loncat juga.

Bergumul untuk loncat 😃
Bergumul untuk loncat 😃

Byurrr!!! Done! Finally I can face my fear!

Setalah acara loncat-meloncat kelar, kami pun beranjak dari jumping spot pertama. Persis di depan pintu keluar gua, ada jumping spot kedua yang lebih tinggi. Beberapa orang berloncatan disitu. Kami berenang sampai ke pinggir dan langsung naik ke daratan. Secara, grup kami yang tadi belasan orang sudah bubar jalan entah kapan. Yang tersisa hanya guide, kami bertiga dan sepasang cewek cowok yang loncat-loncatan juga tadi.

Setelah berbasah-basah ria di Gua Pindul
Setelah berbasah-basah ria di Gua Pindul
Exit area cave tubing Gua Pindul
Exit area cave tubing Gua Pindul

Selesai dari Gua Pindul, kami langsung menuju mobil bak yang akan membawa kami ke area body rafting di Sungai Oyo. Ngakak banget waktu Meina nyeletuk kami udah kayak kambing diangkut pakai mobil gituan.

Di mobil udah tersedia ban-ban seperti yang tadi kami pakai cave tubing dan langsung dikembalikan. Guide untuk body rafting pun beda dengan guide di Gua Pindul. Setelah kumpul yang akan body rafting, yang ternyata hanya kami yang emang dari tadi sibuk loncat-loncatan, mobil berangkat.

Di atas mobil pengangkut kambing
Di atas mobil pengangkut kambing

20150604_115521

Perjalanan nggak lama, cuma 5 menit aja. Melewati jalan aspal sedikit, lalu area tanah lapang berumput tinggi dengan jalan berbatu untuk kendaraan. Turun dari mobil, kami jalan sedikit menuju sungai yang dimaksud. Selama si bapak guide menyiapkan perabotan kami, foto-foto lah kami. Dan ternyata cuma kami berlima aja yang ambil paket rafting, jadi di sungai nggak ada orang selain kami. Puas deh.

IMG-20150605-WA0030

IMG-20150605-WA0043

IMG-20150605-WA0032

IMG-20150605-WA0031

IMG-20150605-WA0046

Sungai Oyo ini hijau agak gelap, di sisi kanan kami airnya tenang banget dan dari depan ke kiri mulai berarus, layaknya sungai untuk rafting. Ternyata untuk body rafting ini, dilakukan berdua-dua. Jadi 2 ban diikatkan baru meluncur sama-sama. Si pasangan cewek-cowok itu duluan. Lalu Meina dan Ike diikatkan bersama. Aku? Sama si bapak? Eh ternyata nggak, aku dibiarkan meluncur sendirian. Buset deh.

Nggak ada helm maupun alat pengaman apapun, nggak ada teman pula. Huaaa… Aku meluncur sendiri menuju arus deras sambil berharap nggak kenapa-kenapa. Dan memang aman-aman saja karena arus deras nya cuma sedikit banget, sekitar 50 meter saja sisanya air tenang lagi.

Dan memasuki wilayah air tenang, aku terkagum-kagum dengan batuan di sekeliling sungai. Entah batuan apa, bentuknya lucu dan unik, minta difoto banget deh. Dan saking tenangnya air, si pasangan yang meluncur duluan malah mandek di tempat dan aku salip.

IMG-20150605-WA0004

IMG-20150605-WA0005

DSCN0844

Ternyata body rafting nya benar-benar singkat, jeram nya ya segitu aja tadi. Sisanya sungai tenang banget dan membuat kami harus sambil dayung-dayung pakai tangan dikit kalau mau maju. Sekitar 300 meter setelah jeram, ada air terjun yang namanya Air Terjun Pengantin, tapi bukan yang di film nya Tamara Blezynski lho.

Sebelum air terjun, ada jumping spot lagi. Kali ini tinggi nya sekitar 8 meter. Ike sama Meina mau coba loncat. Aku? No! Nggak berani cyin, daripada setengah jam nungguin aku perang batin antara loncat atau nggak, mending nggak usah.

Jadi di saat mereka berdua manjat ke atas dan berdiskusi gimana loncat-nya, aku duduk-duduk aja di batu. Tapi duduk di batu aja aku kepanasan banget karena waktu sekitar jam 1 siang dan matahari terik abis.

Berhubung Ike dan Meina masih diskusi dan mempertimbangkan safety loncat ke bapak guide, aku berjalan ke air terjun aja. Dan main-main air sambil mandi plus keramas di air terjun, maksudnya berasa mandi plus keramas. Hehe…

DSCN0860

Dan datanglah rombongan lain yang jumlahnya lebih banyak daripada kami. Sebagian menuju jumping spot juga. Dan dua orang langsung loncat. Ike sama Meina? Masih asik diskusi. Hehe…

Menimbang-nimbang, mau loncat nggak ya?
Menimbang-nimbang, mau loncat nggak ya?

Entah mengapa akhirnya mereka berdua memutuskan untuk turun alias nggak jadi loncat. Mungkin merasa nggak yakin. Apalagi setelah itu mereka bilang satu dari 2 orang yang loncat tadi malah mual-mual. Tambah bikin mereka mundur. Mungkin tuh orang keminum banyak air sungai pas nyebur kali. Dan akhirnya Ike sama Meina pun main-main di air terjun. Nggak lama sih sekitar 10 menit aja. Karena sudah ada rombongan lain juga, jadi kami melanjutkan perjalanan kami.

DSCN0871

DSCN0872

DSCN0848-1

DSCN0847

Sisa perjalanan kami hanya sungai berarus tenang seperti tadi, hanya di kanan- kiri sudah nggak berbatu-batu seperti sebelumnya. Hanya pohon-pohon saja. Dan 300 meter di depan juga sudah pick up point kami.

Kami main di Sungai Oyo sekitar 1,5 jam. Di tengah panas matahari terik. Kayaknya begitu naik sekitar jam 2-an tingkat kehitaman kulit sudah meningkat 20 %. Hehe…

Kembali lagi ke area penitipan barang di dekat Gua Pindul. Kami mengambil barang-barang kami, juga beberapa barang di mobil. Kami sekalian langsung mandi dan berganti baju disana. Setelah itu langsung makan in**mie kuah pakai telor. Nyammm… Badan langsung terasa hangat.

Nggak bisa berlama-lama disitu karena kami masih harus menuju area pantai di Gunung Kidul dan mencari hotel, berhubung kami belum dapat hotel yang pasti untuk menginap. Sekitar jam 2.30 kami meluncur dari Gua Pindul.

Tujuan kami : Pantai Krakal. Dari hasil googling, kayaknya asik nginep di Pantai Krakal. View nya bagus. Meskipun kami belum menemukan hotel untuk diinapi di sekitar situ, tapi bisa nanti on the spot aja lah.

Jalan menuju Pantai Krakal lumayan jauh, berkelok-kelok, dan banyak pepohonan serta perbukitan di sekeliling. Lihat dari lingkungan sekitarnya, nggak bakal nyangka kalau daerah situ dekat pantai. Wong sekeliling serba hijau gitu. Dan kebanyakan area pantai tersembunyi di balik bukit.

Jalanan di Gunungkidul menuju Pantai Krakal
Jalanan di Gunungkidul menuju Pantai Krakal

Pun begitu dengan tujuan kami pantai Krakal. Mengikuti papan petunjuk jalan, kami belok kanan di dekat arena balap motor offroad yang lagi ramai di sisi sebuah bukit. Setelah belok kanan, tinggal lurus sekitar 150 meter dan kami memasuki area pantai.

Pantai Krakal ini bagusss… Batu karang besar yang berdiri kokoh di sisi laut membuat eksotik pantai ini. Dan di sisi kanan terdapat beberapa bukit yang tidak terlalu tinggi, mungkin nanti kami bisa hiking kesana.

Kami pun menyusuri pantai pakai mobil. Agak jauh di kanan, kami memarkir mobil. Ceritanya mau menikmati angin pantai sambil santai sejenak setelah menempuh perjalanan jauh. Baru turun mobil, rambut kami sudah beterbangan kemana-mana. Anginnya dashyat bo!

Sibuk megangin rambut supaya nggak berantakan diterpa angin 😃
Megangin rambut supaya nggak berantakan diterpa angin 😃

IMG-20150605-WA0082

IMG-20150605-WA0080

Santai sejenak dan mengambil beberapa foto, sekitar 15 menit saja, dan kami harus kembali ke mobil. Ya, kami harus segera mencari penginapan. Di pantai ini tadi kami lihat bangunan kecil bertuliskan hostel, tapi karena bentuknya nggak meyakinkan, kami nggak niat untuk bermalam disitu.

Tadi sebelum parkir, kami melihat semacam vila agak tinggi gitu posisinya. Mungkin aja ada kamar yang disewakan. Kami datangi lah tempat tersebut, dan bertemu seorang ibu yang menjaga tempat tersebut. Tanya-tanya, ternyata itu semacam hall yang disewakan, biasa buat rombongan dan sekalian tidur juga di aula yang sama dengan tempat tidur yang nanti disediakan. Tarifnya 2,5 juta kalo nggak salah. Beuh, sama sekali bukan yang kami butuhkan. Si ibu sih bilang, ada kamar yang disewakan seharga Rp 300.000 non AC, tapi…

Hall nya di belakang kami tuh
Hall nya di belakang kami tuh

Uhm… Waktu menuju kawasan 12 pantai Gunungkidul, kami lupa ambil uang di ATM. Dengan pikiran, nanti ambil ATM di dekat hotel aja. Eh ternyata, kata bapak penjaga pintu masuk kawasan 12 pantai, dia area situ nggak ada ATM, adanya sana jauh di kota. Indom***t? Pikir kami kan bisa tarik tunai juga kalau belanja disitu. Udah lewat, Indom***t nya 5 km di belakang kami. Ya ampiun… nggak mungkin kami putar balik jauh demi ambil uang kan. Ya udah, nanti cari hotel yang bisa bayar dengan gesek credit or debit card aja. Lagian hari gini, masa iya hotel nggak bisa pake kartu bayarnya? Begitu logika kami, meskipun akhirnya ragu-ragu juga, secara ATM aja nggak ada, masa’ ada mesin EDC?

Dan ternyata benar, penginapan yang ditawarkan ibu tadi seharga Rp 300.000, nggak bisa bayar pake kartu, harus cash. Lha wong bayarnya ke si ibu yang udah berumur paling sedikit 50 tahun itu, masa iya dia punya mesin EDC sendiri? Mundur lah kami. Nggak punya cash, lagipula harga segitu jauh di luar budget kami.

Meluncur lagi. Kami coba cari hotel yang sudah kami hubungi kemarin. Bukan di area pantai Krakal, tapi nggak jauh dari situ. Tanya-tanya orang, 2 hotel yang kami cari lokasi nya nggak sampai 5 menit naik mobil kok. Malah kami sempat ditawarkan menginap oleh warga di salah satu bangunan bertingkat semacam ruko yang posisinya di pojokan alias hook. Tapi karena namanya cuma “penginapan” kami nggak langsung mengiyakan, tapi jadi alternatif kalau 2 hotel yang kami tuju nggak oke.

Hotel pertama yang jadi tujuan kami : Hotel Paradiso. Kata bapak yang tadi kami tanya, begitu keluar area pantai Krakal, dari jalan utama menanjak, nanti di atas pas ada tanah datar langsung masuk ke kiri. Mengikuti petunjuk si bapak, kami menemukan tanah datar dan jalan masuk ke sebelah kiri. Jalan masuknya penuh pohon di kanan kiri nya. A bit spooky.

Tapi kami tetap masuk juga, meskipun dalam hati ragu-ragu banget. Begitu terlihat bangunan, ada seorang ibu-ibu disitu. Langsung kami buka jendela dan tanya, “Bu, ini hotel Paradiso?”

“Iya,” jawab si ibu singkat. Dan terlintas di pikiranku, si ibu itu beneran manusia bukan ya? Mengingat lokasi yang suram.

“Ada kamar, bu? Harga berapa?” Meina lanjut bertanya.

“Ada. Harga 60-80 ribu. Lihat dulu aja.”

Murah sih. Tapi… Ya udah, kami parkir dulu di sudut yang lumayan sempit dan agak curam. Lalu turun dan mengikuti si ibu tadi yang ternyata manusia beneran. 😃

Si ibu membuka salah 1 kamar. “Ini yang harga nya 60 ribu.” Kamarnya kecil, dengan 2 tempat tidur kecil dan kamar mandi yang berbau pengap. Hmm… Nggak mungkin buat bertiga sih.

Lalu, si ibu menunjukkan lagi 1 kamar lain dari total 8 kamar disitu yang seluruh bangunannya terbuat dari kayu. Kamar yang 80 ribu, tempat tidurnya besar, bisa sih bertiga. Tapi gelap dan suram. “Bu, ini bisa dinyalain nggak lampunya?” Meina tanya dan kami bertiga kaget pas nengok si ibu nggak ada disitu. Udah mau merinding, tapi tiba-tiba lampu menyala dan si ibu muncul dari luar, ternyata dia habis nyalain lampu dari bangunan sebelah. Bujug, nyalain lampu aja jauh bener.

Pas si ibu tanya, kami cuma bisa bilang, “Kita lihat dulu ya Bu. Masih mau lihat 1 tempat lagi. Kalo disana nggak oke, kita balik kesini.” Si ibu hanya mengiyakan.

Kami kembali ke mobil dan langsung mengambil keputusan. Ogah ah nginep disitu. Serasa di tempat syuting film horor. Mana nggak ada tamu yang nginep pula. Dan mendadak aku ingat judul film Hollywood “Cabin In The Woods”. Bangunan kayu di tengah hutan, ya meskipun itu bukan hutan tapi banyak pepohonan rindang yang bikin suasana tambah seram. Paradiso, namanya nggak sesuai sama bentuknya. Dan hotel itu benar-benar jadi highlight di perjalanan kami kali ini.

Kami menuju hotel berikutnya. Lupa nama hotelnya, tapi letaknya persis di pinggir pantai Sadranan. Dan hotel itu sudah kami booking lewat sms, untuk 3 orang. Beberapa menit saja sudah sampai. Pantai Sadranan ini ramai, jauh dibandingkan pantak Krakal yang tergolong sepi. Dan kami langsung minta ditunjukkan kamar seharga 150 ribu untuk bertiga.

Kamarnya berjejer dan berhadapan dengan jejeran kamar lain yang dipisahkan tanah kosong dengan lebar sekitar 6 meter. Kami diperlihatkan salah satu kamar yang masih kosong. Kamarnya bernuansa kayu, lebih luas sih daripada kamar di Paradiso tadi. Tapi suasana nya agak suram, ditambah lampu kamar nya bukan neon, tapi lampu kuning.

Memang hotel itu dekat pantai sih, berjalan ke dalam sedikit dan melewati beberapa pondokan kayu, tibalah kami di pantai Sadranan. Disitu ramai karena bisa dipakai untuk snorkeling. Jadi dari pantai, ada area yang seperti dipagari bebatuan sehingga airnya tidak langsung terkena hempasan ombak besar dari laut lepas, sehingga bisa digunakan untuk snorkeling.

Setelah melihat area pantai sebentar, kami berjalan kembali ke mobil. Dan memutuskan, kami nggak nginap disitu juga. Nggak sreg, apalagi pas penjaga nya bilang hotel itu masih 1 grup sama Paradiso yang tadi kami datangi. Hehe…

Akhirnya kami kembali ke pantai Krakal. Dan memutuskan menginap di penginapan yang di hook tadi. At least disana area terbuka langsung pantai, nggak suram atau sepi.

Begitu masuk area pantai Krakal lagi, langsung juga ketemu penginapan tadi. Mayasari namanya. Berharap dapat kamar yang ujung karena langsung menghadap laut. Dan setelah bilang sama ibu penjaga penginapan, kami langsung diantar melihat kamar. Yang ujung. Persis keinginan kami. Kamarnya nggak terlalu besar, tapi tempat tidurnya queen size, bisa untuk bertiga. Kamar mandi nya juga lumayan bersih, nggak pengap. Dan ada TV, yang nggak tersedia di 2 hotel tadi.

Tanpa pikir panjang, kami langsung ambil. Harganya 200 ribu/malam. Dan setelah nego dapat 150 ribu. Tapi… “Bu, bayarnya bisa debet nggak? Atau transfer rekening?”

“Yah, nggak bisa mbak. Saya kan cuma jaga aja.”

Lalu kami menceritakan garis besar keadaan kami yang nyaris nggak pegang uang cash. Lalu si ibu bilang, ada kok ATM di area pantai, 7 km dari situ. Kalo mau, besok kami diantar ambil uang ke ATM, tinggal bayar ongkos ojek aja. Deal.

Setelah mengangkut barang-barang kami dari mobil ke kamar dan sedikit berberes santai, kami turun dan cari makan malam. Maklum aja, kami baru masuk kamar mendekati jam 6 sore. Rencana untuk mencari sunset spot gagal karena langit mendung dan matahari sudah nggak kelihatan. Dan sekitar jam 6.45 kami berkeliling mencari rumah makan.

Ternyata, kalau malam begitu area situ gelap banget. Tetap sih ada warung dan rumah makan yang buka, tapi sepi dan gelap. Untung saja penginapan kami ada di area paling depan dan ramai. Coba kayak tadi di Paradiso. Mau cari makan aja jauh, baliknya gelap. Hiii…

Setelah berkeliling dan tanya beberapa ibu penjaga, kami memutuskan makan di salah satu rumah makan sederhana yang jaraknya hanya beberapa meter dari penginapan. Selang beberapa ruko aja. Kami memesan paket ikan bakar seharga 60 ribu, yang terdiri dari 5 ekor ikan bakar dan goreng, kangkung cah, dan cumi saus padang. Minum teh tawar hangat udah paling pas.

Makan malam kami pun datang, setelah nunggu lamaaaaa… Nasi sebakul, dan lauk-lauk yang disebutkan tadi. 5 ekor ikan yang kami kira bakal kecil-kecil, ternyata lumayan besar, seperti ikan mujair berukuran sedang. Dan sebanyak itu untuk kami bertiga aja. Dan rasanya… Juara! Ikan bakar, ikan goreng, kangkung, cumi, bahkan sambal, semuanya enak. Kami sampai nambah nasi saking lahapnya. Kebayar deh nunggu makanan hampir 1 jam. Enak banget!!!

Makan malam kami yang dashyat
Makan malam kami yang dashyat

Setelah kenyang dan puas dengan makan malam kami, juga leha-leha sampai makanan turun semua ke perut, tibalah waktu membayar. Berikut minum trh tawar hangat hanya 66 ribu aja untuk bertiga. Padahal makan sampai perut penuh, cuma bayar 22 ribu masing-masing. Kalau di DC**t, 66 ribu mungkin untuk 1 orang aja dan belum tentu rasanya seenak dan ikannya sesegar yang kami makan. Haha…

Puas banget dengan makan malam, kami pun kembali ke kamar untuk segera tidur. Berhubung semalam tidur kami nggak jelas di kereta, dan besok pun kami harus bangun pagi untuk mengejar sunrise, juga akan menempuh perjalanan jauh lagi kembali ke kota Jogjakarta, maka kami pengen cepat tidur saja. Jam 8.30 kami sudah siap tidur, ngobrol-ngobrol sebentar lalu tidur. Zzzz…. Btw, nggak kebayang kalo kami nginap di Paradiso, bakalan bisa tidur nggak ya? Hehe…

HUJAN-HUJANAN DI PHUKET (3)

Pagi-pagi kami bangun dan langsung bersiap-siap tur ke Phiphi Island. Ngarep nggak hujan kayak kemarin, tapi ternyata hujan tetap turun. Dan sampai mobil penjemput kami tiba pun, kami menaiki mobil dengan buru-buru supaya nggak terlalu basah kena hujan.

Kali ini mobil kami diisi dengan sekeluarga orang Tiongkok, yang ngobrol dengan nyaringnya padahal orang yang diajak ngobrol di depan muka. Dan sepanjang perjalanan, kuping kami lumayan capek juga dengar beberapa obrolan bersuara nyaring dari beberapa sumber. Iya, tuh keluarga aja ada 5 orang, ayah ibu, 2 anak dan 1 pacar anaknya, jadi mereka bikin 2 grup obrolan yang sama-sama nyaring. Berikutnya naik juga rombongan keluarga dari Tiongkok, yang juga sama cara bicaranya, tapi mendingan karena ada anak kecil jadi mereka nggak selalu ngoceh ngegrup, tapi kadang harus ngurusin anak kecil itu.

Perjalanan ke dermaga memakan waktu sekitar 2 jam juga, seperti kemarin. Kali ini kami naik speed boat, jadi lebih ngebut. Di pinggir dermaga ada kapal seukuran big boat tapi lebih bagus. Karena orangnya lebih banyak daripada kemarin di big boat, kupikir speed boat nya itu, ukuran sebesar big boat tapi lebih cepat.

Eh ternyata aku tertipu, speed boat kami adanya di balik kapal yang besar dan bagus itu. Ukurannya kecil, seperempat big boat kemarin, padahal orangnya 3x lipat kemarin. Jadi di tengah tersedia beberapa puluh kursi, tapi di sekeliling pinggir juga tersedia tempat duduk menempel ke dinding kapal. Dan seluruh kursi full bahkan nggak muat, dan ada yang terpaksa berdiri. Weleh… Ini sih jauh dari bayanganku soal speed boat, kupikir kayak speed boat dari Sanur ke Nusa Lembongan Bali yang kursinya jelas, bukan kursi tambahan kayak begitu.

Ada turis Tiongkok, bapak-bapak berumur 50-an yang komplain karena dia dan pasangannya (entah istri atau pacar, hehehe…) yang masih muda nggak dapat kursi dan disuruh duduk di belakang kapal tapi wilayah belakang kapal nggak kebagian atap. Eh malah diocehin sama leader guide, kalo nggak suka ya nggak usah ikut, karena ikut tur di musim hujan gini, harusnya tahu resikonya. Tapi kalo nggak jadi ikut, uang nggak kembali karena bayarnya kan ke agen masing-masing. Dan seperti bisa diduga, mana ada yang mau rugi. Jadi, sambil ngedumel, tetap aja tuh bapak ikut, dan pasangannya akhirnya bisa duduk, entah siapa yang mengalah kasih kursi.

Bagian belakang speed boat full sampai ada yang berdiri
Bagian belakang speed boat full sampai ada yang berdiri

Lalu speed boat pun berangkat. Dalam kondisi hujan deras. Lagi. Jadi hampir seisi kapal pakai jas hujan. Dan kami kebagian duduk di pinggir, jadilah kena cipratan air hujan dan air laut sepanjang perjalanan.

Sebelumnya, leader guide umumin kalau cuaca hujan begini, ombak bakal besar dan perjalanan selama sekitar 2,5 jam untuk mencapai spot pertama bakal tergoncang-goncang, jadi kalau ada yang mual dan butuh obat anti mabuk dan kantung plastik untuk you-know-what, sudah disediain sama mereka.

Dan benar aja, guncangan kapal lumayan kencang sampai aku dan temanku yang merasa duduknya nggak safe, jadi harus saling pegangan tangan. Karena nggak ada lagi yang bisa dipegang, tiang kapal pun jauh dari jangkauan kami.

Terguncang-guncang keras di satu jam pertama, aku dan temanku malah ketawa-ketawa. Seru aja. Lagian aku udah beberapa kali naik speed boat jadi nggak kaget dengan guncangannya. Temanku juga nggak mual-an. Tapi, penumpang lain yang mayoritas nini-nini dari Tiongkok yang duduk di area tengah kapal, sudah pada pucat. Ada yang memaksakan diri untuk tidur, ada yang sudah sibuk oles-oles minyak angin di sekitaran leher, ada yang sudah minta kantung plastik. Dan begitu satu menggunakan kantung plastik, menular lah ke yang lain. Hadehhh…

Karena sudah mulai bosan, aku berusaha untuk tidur. Tapi nggak berhasil. 2,5 jam cuy tergoncang-goncang dengan pemandangan orang pada mabuk laut. Duhhh…

Akhirnya speed boat menurunkan kecepatan, kami tiba di Viking Cave. Berhenti sekitar 5 menit disitu, kata guide sih buat ambil foto. Berhubung kapal sangat penuh dan hampir semua orang sudah ambil spot di sebelah kiri kapal untuk foto-foto, aku dan temanku nggak sempat ambil foto sampai kapal bergerak meninggalkan spot itu. Cedihhh…

Lalu, leader guide mengumumkan bahwa hari itu kami nggak bisa mampir ke Maya Beach, yang dipakai untuk syuting film The Beach-nya Leonardo Dicaprio waktu masih abege, yang sebenarnya spot utama di paket hari itu. Karena hujan deras banget, jadi air naik dan menutupi Maya Beach. Kami cuma diperlihatkan posisi Maya Beach yang cuma bisa kami lewati aja. Cedihhh lagi.

CANON IXUS Theo 619

Akhirnya kami menepi di Monkey Beach. Dinamakan Monkey Beach karena banyak monyet disitu. Leader guide mewanti-wanti kami semua, kalo kasih makan monyet, jangan terlalu dekat sama monyet-nya karena kadang suka nyakar. Oke sip!

CANON IXUS Theo 626

CANON IXUS Theo 627

Karena Monkey Beach nggak terlalu luas dan kapal kami banyak orang, jadi berasa sempit. Ditambah dengan puluhan monyet yang berkeliaran. Dan di sela-sela keramaian, tiba-tiba terdengar teriakan. Seorang cewek ketakutan karena tiba-tiba dikelilingi beberapa monyet dalam jarak sangat dekat. Padahal udah dibilangi sama guide, kasih makan monyet jangan terlalu dekat. Beuhhh… Entah siapa yang akhirnya ngebantuin tuh cewek, aku nggak perhatiin lagi.

Di Monkey Beach hanya sekitar 15 menit, dan aku pun bosan. There’s nothing much to do. Dan kami pun kembali ke kapal. Setelah semua penumpang yang turun (ada juga penumpang yang malas turun lho) kembali naik kapal, leader guide mengumumkan bahwa setelah ini kami akan snorkeling yang lokasinya hanya sekitar 10 menit dari situ. Lanjuttt…

Dan tiba-lah kami di dekat spot snorkeling. Ditawarin paket diving lengkap oleh guide, tapi kudu bayar ekstra (lupa persisnya berapa THB) dan migrasi ke kapal lain yang kayaknya kerjasama dengan kapal kami. Karena nggak ada yang mau diving, kapal dibawa sedikit menjauh dari kapal untuk diving tadi.

Spot snorkeling. Semua dipersilahkan turun. Yang mau berenang, snorkeling, bebas. Asal perabotannya diperhatiin aja. Berhubung aku udah pinjam fin seharga 100 THB tadi, rugi kan kalo nggak dipake, ya sudah turun aja. Temanku sih santai aja nggak sewa fin, jago renang doi. Ngiri.

Dan turunlah kami ke laut. Byur… Dan di laut sudah pada berenang bergerombol nini-nini dari Tiongkok itu. Hebat juga tuh para nini, berani nyemplung di laut padahal abis mabok berjemaah. Hehe…

Waktu snorkeling, aku berpisah sama temanku. Karena dia nggak pakai fin, jadi lebih gampang turunnya. Ditambah lagi, sekitaran situ ramai banget sama orang, jadi aku nggak tau temanku yang mana. Ya kali, bisa nemuin doi di antara seratusan orang yang mengambang di sekitar kapal.

Aku berenang-renang sedikit. Snorkeling pun nggak jelas apa yang dilihat. Nggak kelihatan coral, ikan pun sedikit. Air juga nggak jernih. Yang kelihatan malah kaki-kaki rombongan nini-nini yang bergerombol. Aku pun berenang sendiri mengitari kapal, sambil mencari temanku. Nggak ketemu juga sampai di dekat tangga naik, jadi aku memutuskan untuk naik saja. Nggak menikmati snorkeling-nya.

Begitu mau naik, eh ternyata temanku sudah nungguin di dekat tangga naik. Rupanya dia sudah naik duluan dan nungguin aku disitu. Ya sudahlah aku naik saja. Tapi di depanku ada yang lagi naik juga, sesama orang Indo yang nggak asik (baca di : Turis-turis Lain). Dan pas aku naik di tangga, tali kapal menjepit kaki-ku. Sudah aku usahakan tarik, malah makin kencang terjepit. Rupanya tali itu ditarik salah satu penumpang yang lagi snorkeling, sampai aku dan orang lain teriak-teriak pun tuh orang nggak dengar karena telinganya di bawah air.

Setelah berusaha narik tali itu sambil teriak-teriak, tali pun mengendur. Dilepas sama orang yang lagi snorkeling tadi. Buru-buru lah aku naik sebelum terjepit lagi. Cuma agak malu aja karena beberapa orang yang sudah naik jadi ngeliatin aku karena teriakan-ku tadi. Ehmm…

Setelah naik, aku langsung pake cardigan. Biar nggak terlalu dingin. Dan temanku bilang, tau nggak siapa yang tadi snorkeling sambil narik tali kapal? Si gempal, temannya si manis, sesama orang Indo yang nggak asik tadi. Setelah sadar diteriakin dan lepas tali pun, mukanya lempeng aja. Duhhh… Heran juga, orang Indonesia sekarang udah nggak kayak dulu yang terkenal ramah tamah.

Selesai ber-snorkeling ria sekitar 30 menit (cuma dikasi waktu segitu sama guide), dan semua penumpang sudah naik, kapal meluncur lagi. Kali ini kami menepi di pulau Phi Phi Don, yang sudah ada bangunannya karena disitu digunakan untuk makan siang kami.

Sambil menuju Phi Phi Don, leader guide menjelaskan, karena ombak makin tinggi, jadi untuk kembali ke Phuket, penumpang diberi 2 pilihan : ikut sama doi naik big boat yang nanti akan mampir ke Phi Phi Don atau tetap naik speed boat bersama kru yang lain dengan kondisi ombak akan lebih besar dan goyangan kapal bakal lebih yahud, diperkirakan ombak sampai 10 meter. Sebagai pembanding, waktu kami berangkat tafi ombak sampai 6 meter aja udah terbantong-banting di kapal.

Aku dan temanku berdiskusi dan memilih big boat, sama seperti kebanyakan penumpang. Sisa beberapa orang saja, termasuk para bule, yang memilih tetap di speed boat untuk perjalanan pulang ke Phuket.

Setelah makan siang yang cukup mengenyangkan sekitar jam 12.50, kami berkumpul di dermaga. Leader guide mengumumkan perubahan lagi. Tetap 2 pilihan : pulang ke Phuket naik big boat dijemput sekitar jam 2 tapi doi nggak jadi ikut disitu nemenin penumpangnya yang migrasi, atau ikut speed boat cabut sekarang dan mampir dulu di Khai Island bersama doi. Spontan aku dan temanku berubah pilihan, ada yang mampir pulau lain dulu, ya tentu aja kami memilih itu. Sudah bayar mahal-mahal untuk ikut tur tapi karena cuaca buruk jadi banyak yang ‘hilang’, masa kami pulang begitu saja? Nggak mau rugi, dan kami pun nggak masalah tergoncang-goncang di speed boat, kami memilih option 2.

Our lunch at Phi Phi Don
Our lunch at Phi Phi Don
Lokasi makan siang di Phi Phi Don
Lokasi makan siang di Phi Phi Don

Nggak lama setelah rombongan terbagi 2, kami yang memilih speed boat langsung berangkat. Ternyata yang akhirnya memilih speed boat lumayan banyak juga, sekitar 30 orang.

Perjalanan menuju pulau Khai tetap penuh guncangan. Tapi cuaca sudah nggak hujan, malah matahari bersinar terang benderang. Dan kali ini lebih bisa menikmati karena kapal nggak sepadat tadi pagi dan nggak sibuk mengalihkan pandangan dari para mabok-ers. Hehe…

Karena aku dan temanku tetap duduk di pinggir dan nggak ada pegangan, sedangkan kapal terus berguncang keras, temanku berpegangan (ijin dulu lho 😄) pada pundak salah satu turis asing yang ramah di sebelahnya. Dia ngerti lah kondisi duduk kami.

Perjalanan ke pulau Khai hanya sekitar 1 jam. Dan cuaca tetap cerah ceria. Finally. Kami nggak perlu tampak aneh pakai jas hujan di pantai. Hahaha…

Pulau Khai pas kami datang sepi banget. Hanya ada 1 speed boat lain selain kapal kami. Kata leader guide kami beruntung bisa dapat pulau Khai yang sepi begitu karena biasanya ada ribuan orang disitu. Bujug dah.

Di pantai sudah berjejer puluhan kursi malas dengan payung warna-warni yang bisa disewa. Harga sewa nya150 THB untuk 2 kursi. Awalnya kami malas untuk sewa (tepatnya sayang ngeluarin uang 😃) tapi karena kami perlu tempat untuk taruh barang dan sedikit duduk santai ya terpaksa kami sewa juga. Tapi kami memutuskan nggak beli apa-apa karena semua mahal di pulau itu. Maklum aja, kata leader guide, pulau Khai ini sebenarnya tidak berpenghuni, tapi sejak jadi tempat wisata pulau itu dibangun restoran dll dan jadi sumber pendapatan untuk penduduk pulau sekitar.

Kami punya waktu 2,5 jam untuk dihabiskan di pulau Khai. Asyik… Setengah jam pertama kami habiskan dengan duduk-duduk santai dan ngemil. Kami juga ngobrol sedikit dengan 2 orang turis asal London yang salah satu nya jadi tempat pegangan waktu di kapal tadi. Mereka ramah banget. Dan mereka senang banget bisa jalan-jalan di Phuket, yang menurut mereka indah banget. Hmm… Aku jadi gatal mau promosi Indonesia yang nggak kalah (bahkan menurutku lebih) indah. Kami menyebut Bali dan mereka kayak nggak pernah dengar gitu. Hah? Hari gini nggak tau Bali? Sayang aku nggak bawa tablet-ku yang kupakai untuk menyimpan foto-foto traveling-ku. Kalo aku bawa, langsung aku perlihatkan betapa cantiknya Indonesia-ku.

Setelah santai-santai, 2 bule tadi ber-snorkeling ria. Dan kami hanya jalan-jalan santai sambil foto-foto. Pulau Khai ini pasirnya putih dan airnya tosca hingga biru muda. Di ujung-ujung terdapat batu-batuan dan pepohonan. Tapi pulau ini nggak terlalu luas, sebentar saja kami sudah mentok dari ujung ke ujung. Untungnya sepi jadi kami bisa jalan sambil ambil foto dengan slow motion, nggak takut mengganggu atau diganggu banyak orang. Baru berasa istilah ‘santai kayak di pantai, selow kayak di pulau’. Hehe…

CANON IXUS Theo 672

CANON IXUS Theo 679

CANON IXUS Theo 645

CANON IXUS Theo 658

CANON IXUS Theo 668

CANON IXUS Theo 674

IMG-20141104-WA0014

CANON IXUS Theo 684

Sekitar jam 16.30 kami sudah diteriakin leader guide untuk kembali ke kapal. Dan setelah semua penumpang kembali ke kapal, leader guide baru kasitau, ternyata dari pulau Khai untuk kembali ke Phuket hanya butuh waktu 10 menit saja, sodara-sodara. Betapa rugi nya rombongan yang ikut big boat. Apalagi kedua kapal sampai di dermaga di waktu yang bersamaan. Beruntung lah kami nggak salah pilih jadi nggak terlalu rugi.

Setelah semua penumpang yang kembali ke Phuket, baik yang naik speed boat maupun big boat, sudah kumpul semua, langsung dijemput oleh driver mobil yang mengantar tadi pagi. Kami kembali menaiki mobil yang sama untuk diantar ke hotel.

Karena sampai hotel sudah agak malam, kami hanya beres-beres dan mandi sebentar. Malam terakhir mau kami habiskan dengan hunting makanan dan sate barbeque. Haha…

Hasil googling, katanya kalo malam ada pasar jajanan di dekat Jungceylon mall. Jadilah kami kesana berniat ngemil-ngemil jajanan khas Thailand. Setelah menelusuri jalan, Jungceylon nya ketemu, tapi pasar yang dimaksud nggak ketemu. Tanya orang malah bilang pasar nya udah ditutup. Haduhhh…

Jungceylon Mall
Jungceylon Mall

Nggak putus asa dan penasaran, karena yakin di sekitar situ ada pasar, dan kayaknya orang yang kami tanya nggak ngerti maksud kami, jadi kami susurin sekitaran Jungceylon mall. Di salah satu sisi nya, seberang nya ada semacam komplek pertokoan yang mirip pasar. Terang pula. Mungkin itu pasar. Coba kesana deh.

Menyeberang jalanan yang agak berantakan karena ada galian di pinggir jalan dekat pertigaan, kami sampai di tempat yang kami maksud. Benar saja, bentuknya kayak pasar yang sudah pada tutup. Tapi di area parkiran banyak kios-kios jajanan. Ini dia nih! We found it!

Langsung hunting yang kami cari. Ada 1 stand sate barbeque tapi udah ludes. Melipir terus sampai ke dalam, stand sate barbeque yang kami cari nggak ada lagi. Hix… Akhirnya kami jajan yang lain aja, sambil celingak-celinguk mungkin ada stand sate barbeque nyempil. Hehe…

CANON IXUS Theo 698

CANON IXUS Theo 697

Setelah keliling sekitar selama setengah jam dan nggak menemukan tujuan utama kami padahal udah disusuri dari ujung ke ujung, kami memutuskan untuk pindah lokasi. Masuk sebentar ke Jungceylon mall, dan ternyata ada pertunjukan dancing fountain sebentar lagi. Yah, nunggu 20 menit cingcay lah.

Setelah menunggu dancing fountain mulai dan menonton sekitar 15 menit, kami pun beranjak dari situ. Mengarah kembali ke hotel, sambil berharap menemukan yang kami cari di tengah jalan.

The dancing fountain
The dancing fountain

CANON IXUS Theo 692

IMG-20150406-WA0030

Benar saja, di jalan kami menemukan kedai mie yang di samping nya juga menyediakan sate barbeque. Karena kami lapar, kami pesan makan berat dulu, setelah itu kami berniat ngemil sate barbeque. Tapi… Sayangnya kami nggak berhasil juga menyantap sate barbeque karena sesuatu hal (baca juga di Turis-turis Lain).

Selesai makan, sekitar jam 10.20, kami pun pulang ke hotel. Besok pagi kami akan dijemput jam 8 oleh Mr. Aek untuk city tour selama setengah hari sebelum  kembali ke Jakarta.

PULAU HARAPAN YANG TIDAK SESUAI HARAPAN

Cerita dimulai dari ide liburan ke Dieng, pas ada long weekend di tgl 1 – 3 Mei 2015. Sudah hitung budget, kumpulin orang, tapi karena banyak yang nggak bisa, akhirnya cancel dan ganti tujuan. Yang gampang aja dari Jakarta deh. Kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Harapan.

Menghubungi tour guide yang dulu pernah mengurus kami di Pulau Pramuka, sudah deal harga, eh tiba-tiba orangnya nggak bisa dihubungi, ya lewat BBM maupun telepon. Mungkin handphone-nya kecemplung di laut kali ya. Daripada batal, cari lagi deh paket dari tur lain di internet. Akhirnya deal untuk 2 hari 1 malam dan tinggal berangkat. Cuz!

Kami berangkat 11 orang. 10 orang termasuk aku adalah teman sekantor dan satu divisi. Ditambah Ike, my ‘nekat traveler’ partner yang H-2 mendadak minta ikut. 😀

Tanggal 1 Mei kami diminta sampai di dermaga Muara Angke jam 5.30. Bujug pagi banget, padahal kapal baru bakal berangkat jam 7. Karena katanya bakal rame banget jadi kami diminta ready jam segitu. Ya udahlah ikutin aja.

Sesampai di Muara Angke, emang bener sih puenuuuhhh buangettt… Lautan orang banget itu sih, ya turis, guide, pedagang, semua tumplek blek. Dan setelah kumpul semua anggota rombongan kami, langsung menuju kapal Harapan Angke (namanya nggak enak banget didengar yak :P) yang perlu perjuangan melewati (baca : meloncati dan memanjat) beberapa kapal sebelum sampai.

Di dalam sudah lumayan penuh dan kami dapat spot lumayan sempit tapi masih muat di lantai atas. Di bawah masih kosong sih, tapi kami nggak minat karena di bawah bau mesin dan goncangan kapal bakalan lebih berasa.

Perjalanan menuju Pulau Harapan ditempuh selama 3 jam. Pulau Harapan termasuk Kepulauan Seribu bagian utara, jadi cukup makan waktu untuk kesana.

3 jam di kapal merupakan perjuangan. Ya untuk duduk maupun tidur dengan posisi benar aja susah, apalagi pas mau ke toilet, harus berjuang melewati tas, kaki, badan, sampai kepala orang. Fiuhhh…

Duduk umplek-umplekan di atas kapal
Duduk umplek-umplekan di atas kapal

Dan aku kesal banget, beberapa orang dari rombongan yang duduk di jendela seberang kami merokok dengan santainya. Nggak sadar diri banget sih, udah tahu di sekeliling penuh orang yang cuma dapat udara dari jendela, mereka cuek aja kasi polusi asap. Hih! Merokok sih hak situ, tapi ya lihat sikon juga donk. Kalau nyuruh puluhan orang menghirup buangan nafas situ sih namanya cupu!

1 jam terakhir, duduk semakin nggak benar bentuknya. Entah gimana, di dekat kami duduk orang-orang lain yang nggak tahu datang dari mana. Boro-boro selonjoran, kaki bersila aja nggak muat. Pegel, bo!

Setelah sampai di tujuan, penderitaan turun kapal nggak kalah rempong dari naik kapal. Sampai di dermaga, kami mencari guide kami, yang ternyata bukan guide yang kami hubungi. Pas pulang baru kami tahu, guide yang kami hubungi ternyata cuma calo karena dia guide Pulau Tidung bukan Pulau Harapan, jadilah kami dilempar ke guide yang Pulau Harapan. Hhh…

Lalu, untuk menuju homestay, kami seharusnya naik perahu kecil. Katanya cuma 3 menit aja. Selama perahu disiapin, kami nunggu di pos sekitar 10 menit. Dan sesudah di atas perahu, eh mesin perahu-nya nggak nyala-nyala. Mana knek perahu-nya agak nggak nyambung pas disuruh ngarahin perahu. Hadehhh…

Capek panas-panasan tanpa hasil sekitar 10 menit (lagi) dan belum ada tanda-tanda perahu akan jalan, kami minta jalan kaki aja ke homestay. 15 menit jalan kaki sih katanya. Ya kalo jalan kaki dari tadi, kami sudah sampai harusnya.

Sesampai di homestay yang ternyata terletak di Pulau Kelapa, bukan Pulau Harapan (bagian belakang Pulau Harapan disebut Pulau Kelapa), kejutan belum selesai. Kami hanya mendapat 1 kamar dengan spring bed Queen size. Lah kami kan 11 orang, mana mungkin tumpuk-tumpukan di 1 kamar?

Untungnya rumah yang kami tempati boleh dijajah selain kamar-kamar yang dikunci. Rumahnya sih lumayan besar, tapi hanya ada 1 spring bed dan busa tipis untuk tidur-tiduran di ruang tv. Tentu aja kami minta extra bed, yang katanya nanti akan disediakan.

Selesai jam makan siang, kami berangkat snorkeling. Dengan perahu bermasalah tadi, yang katanya udah nggak bermasalah. Haduhhh…

Berangkat snorkeling yukkk...
Berangkat snorkeling yukkk…

Akhirnya perahu bisa nyala juga meskipun dengan perjuangan. Dan setelah menempuh perjalanan dan melewati pulau-pulau di sekitar selama hampir 1 jam, kami sampai lokasi snorkeling pertama. Ternyata nggak dalam, di bawah hanya pasir dan karang-karang mati. Jadi disitu untuk latihan dulu. Tapi jalan aja susah karena karangnya tajam-tajam.

Yang lain udah berenang-renang kemana-mana tanpa pelampung, aku jalan pelan-pelan dan pakai pelampung. Aku memang nggak bisa berenang. Dan mau latihan snorkeling juga susah karena terlalu cetek airnya, takut kaki kena karang kayak sebelumnya. Akhirnya aku jalan-jalan aja sambil meringis sesekali waktu kena karang tajam.

Eh temanku yang asik berenang ngejar ikan tiba-tiba mendekati karang yang ada bulu babi-nya. Langsung guide yang di sebelahku buru-buru narik temanku yang kaget berat. Dia nggak sadar ada bulu babi karena keasikan perhatiin ikan lucu. Untung nggak sampai kena bulu babi.

IMG-20150503-WA0111

Setelah bosan di spot yang nggak bisa buat ngapa-ngapain itu, kami cabut ke spot berikut yang memang lokasi snorkeling. Ternyata arusnya lumayan kencang. Plus banyak banget bulu babi. Hiii…

Akhirnya kapal digeser ke spot yang nggak ada bulu babi. Tapi sebenarnya karang-karangnya lebih bagus yang banyak bulu babi-nya. Aku sih tetap berencana nyemplung ke air. Sayang kan udah jauh-jauh masa nggak nyemplung.

Salah satu temanku memutuskan untuk nggak nyebur karena arusnya kencang. Aku turun terakhir sih, tapi tetap dengan niat penuh untuk snorkeling melawan arus kencang. Nekat mode on.

Tapi… Begitu nyemplung, I suddenly changed my mind. Peralatan yang kupakai nggak safe rasanya. Pelampung nya kegedean banget, jadi rasanya kepalaku hampir masuk air. Trus snorkel-nya juga nggak rapat, jadi sekalinya kepalaku masuk air, hidungku langsung kemasukan air juga. Karena aku nggak bisa berenang, pasti panik begitu hidung kemasukan air. Apalagi arus juga lebih kuat dari dugaanku. Daripada udah keburu jauh dari kapal dan panik pas nggak ada orang di sekitar kan.

Aku langsung memutuskan untuk naik ke kapal. Niat snorkeling mendadak luntur karena merasa safety nggak terjamin. Naik kapal pun penuh perjuangan karena nggak disediain tangga, tapi cuma ban yang digantung di sisi kapal. Ampunnn…

Setelah aku naik, yang lain satu per satu ikut naik. Dan kami pun bertolak ke gosong, pulau pasir di dekat situ. Ya udah yang aman aja lah.

Di gosong kami habiskan dengan foto-foto dan main pasir sebentar. Gosong nya juga penuh orang. Cari spot untuk foto pun harus pintar-pintar supaya nggak ada figuran lewat. Hehehe…

IMG-20150503-WA0112 IMG-20150503-WA0118 IMG-20150503-WA0088 IMG-20150503-WA0097 IMG-20150503-WA0068

Setelah dipanggil untuk balik ke kapal, aku dan Ike minta difotoin berdua dulu karena dari tadi foto rame-rame atau sendiri-sendiri. Eh ternyata, temanku yang dimintain tolong untuk foto melihat ikan pari kecil di pasir. Entah masih hidup atau nggak, aku nggak berani sentuh karena takut menyengat atau gelepak-gelepak. Kecil banget sih, panjang badan sama ekornya paling 10 cm.

Ikan pari mini
Ikan pari mini

Kami langsung kembali ke kapal. Dan ternyata agak jauh dari pantai, banyak bulu babi juga. Astaga… Seharian itu aku melihat ratusan bulu babi saking banyaknya. Untung knek yang agak ‘kurang connect’ itu pakai sandal pas narik kapal, jadi nggak kena bulu babi.

Yang hitam-hitam adalah para bulu babi
Yang hitam-hitam adalah para bulu babi

Perjalanan balik ke pulau lumayan panjang. Dan matahari sudah mau tenggelam. Niat mau ambil foto-foto di kapal pun hampir gagal. Laut lumayan berombak jadi kapal cukup terombang-ambing dan aku yang duduk di depan, kecipratan air terus-terusan sampai mata perih dan mulut asin. Serasa rafting deh. Akhirnya aku pindah duduk sedikit demi bisa ambil foto sunset di tengah laut.

IMG-20150503-WA0054

IMG-20150503-WA0058

Sampai di dermaga persis pas sunset. Badan udah lemas dan capek banget. Dan lapar tentunya. Begitu sampai homestay, sambil menunggu giliran mandi, semua stok makanan dan cemilan dikeluarin dan ludes seketika.

Sesudah 11 orang selesai bergantian mandi di satu-satunya kamar mandi di homestay, kami makan malam. Dan kami dapat info kalau angin  di luar kencang, jadi dikasi option mau tetap barbeque-an dengan angin kencang atau dibakarin dan nanti dibawain ke homestay. Kami memilih option 2, dibakarin aja dan tunggu dibawain.

Karena nggak ada acara lagi, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke pinggir pantai. Satu-satunya jalan yang kami temukan adalah ke dermaga tempat kapal kecil kami merapat tadi. Tapi disitu gelap dan nggak ada apa-apa. Alhasil, kami cuma jalan santai sambil ngobrol-ngobrol aja.

Foto ala Meteor Garden :D
Foto ala Meteor Garden 😀

Kembali ke homestay, aku langsung tepar. Waktu diajak makan barbeque yang diantar jam 10.30 malam (kata teman-teman), aku sudah nggak sanggup bangun. Hehehe…

Keesokan hari, aku dan Ike bangun pagi-pagi. Rencananya kami mau mengejar sunrise, sebelum melanjutkan kegiatan island hopping ke beberapa pulau sekitar setelah mandi. Apa daya kami baru bangun jam 5.45 dan hari sudah lumayan terang.

Buru-buru kami bangun dan berangkat. 2 orang teman kami ikut, sedangkan yang lain masih tidur nyenyak.

Kami mencoba mencari jalan yang belum kami lewati semalam. Soalnya waktu perjalanan menuju homestay pertama kali, aku melihat taman di pinggir laut dan deretan mangrove nggak jauh dari situ. Spot itu lah yang kami tuju.

Pucuk dicinta ulam tiba. Kami melihat deretan mangrove dari jauh. Kami susuri terus jalan itu sampai kami menemukan apa yang dicari. Taman kecil, lalu ada jalan menuju dermaga kecil, di sekitarnya air laut berwarna hijau muda membentang dengan beberapa pulau di sekitar. Di sisi jalan ada beberapa pondok kecil yang bisa digunakan untuk duduk-duduk.

IMG-20150503-WA0030

Kami susuri terus sampai ujung. Sambil mengambil foto sunrise, meskipun matahari-nya tertutup awan dan hanya pendar sinar oranye menyembul dari balik awan yang bisa kami foto.

IMG-20150503-WA0041 IMG-20150503-WA0037 IMG-20150503-WA0017 IMG-20150504-WA0002 IMG-20150504-WA0001

Pagi itu langit sangat berawan. Angin pun lumayan kencang. Lama-kelamaan awan abu-abu datang. Mendung. Kami pun segera kembali ke homestay, sudah jam 7 juga. Perkiraan jam 8 kami sudah berangkat island hopping.

Sesampai di homestay, sarapan sudah tersedia dan sebagian teman sudah mandi dan sedang bergiliran mandi. Lalu guide kami datang dengan berita buruk : karena cuaca kurang baik dan angin kencang, kapal ke Jakarta yang di jadwal berangkat jam 12, dimajukan jadi jam 10 pagi. Jreng!

Praktis, kami nggak bisa island hopping. Guide bilang, kami bisa ke penangkaran penyu di pulau dekat situ, sekalian bawa barang-barang kami, lalu langsung ke kapal ke Jakarta. Secara itu sudah jam 7.45 dan separuh dari kami belum mandi, akhirnya setelah berdiskusi kami tidak berangkat ke penangkaran penyu.

Karena guide bilang pulau-nya hanya berjarak 3 menit naik kapal dan berada di seberang dermaga, kami berubah pikiran. Tapi… Acara mandi baru selesai jam 8.30, nggak keburu ke penangkaran penyu. Jadi kami langsung ke dermaga, supaya bisa naik kapal duluan dan dapat tempat yang enak. Ya sudah lah.

Sesampai di dermaga, kapal belum datang. Kami menunggu sambil duduk dan mengobrol sampai jajan-jajan. Jam 10.30 baru kapalnya datang. Dan setelah kami naik, dengan penuh perjuangan lagi, termasuk melawan arus penumpang turun, kapal ternyata sudah lumayan penuh juga.

Kami dapat tempat lumayan deh, dekat pintu depan dan jendela. Nggak pengap-pengap amat. Tapi… lama-lama sempit juga dengan masuknya penumpang lain. Sampai penuh-nuh… Dan sisi pinggir dan luar kapal pun dipenuhi orang. Bahkan di atap! OMG!

Kapal baru berangkat mendekati jam 12 (buang waktu 3 jam hanya untuk nunggu kapal). Selama 3 jam perjalanan kembali ke Jakarta aku mikir, trip kali ini bisa dibilang gagal. Semua nggak sesuai harapan. Dari mulai ganti guide karena yang kami hubungi ternyata calo, jadwal yang berubah semua, kapal kecil yang kami pakai bermasalah mesinnya, homestay ala kadar, makanan kurang oke, snorkeling nggak di spot yang bagus dan cuma 1 spot, nggak ke pulau lain kecuali gosong (pulau pasir), transportasi yang bikin kapok karena selain umpel-umpelan juga nggak ada jaminan keselamatan, wong life jacket aja cuma setumpuk (paling 10 buah) di dekat tangga.

Sampai akhirnya kami bertekad, next trip kalau ke pulau, mendingan naik speed boat. Biar deh biaya 2x lipat, yang penting aman, nyaman, cepat, dan nggak buang waktu tunggu-menunggu. Toh, dengan tambah biaya sekitar 300.000 pp, kami mengirit waktu 5 jam perjalanan pp, dan 3-5 jam waktu menunggu kapal. Total 8-10 jam bisa kami save, jadi bisa untuk kegiatan lain seperti snorkeling atau island hopping kan.

So, lesson learned. 

1. Kalau mau trip pulau, mending hubungi guide lokal.

2. Demi keamanan, kenyamanan dan irit waktu, speedboat is much better.

3. Bikin rundown sendiri dulu, jadi bisa kasi patokan buat guide.

4. Negosiasi paket harus berani agak galak, tapi tetap friendly.

5. Jangan ambil tanggal merah, membludak orang dimana-mana

Trip ke Pulau Harapan ini memang nggak sesuai ekspektasi. But, traveling is not just about going somewhere, it’s about the journey, right? So, here it is, my journey to Hope Island that’s not as hopeful as the name. 

IMG-20150503-WA0005