Tag Archives: Backpacker

Drama Low Cost Airlines

Ku bukan superstar kaya dan terkenal, ku bukan saudagar yang punya banyak kapal, lirik lagu Project Pop. Nah, berhubung aku cuma karyawan swasta biasa yang harus rela irit-irit demi bisa traveling, so low cost airlines has became my best friend.

Kalo traveling dalam negeri sih, sudah pasti naik low cost airline yang warna putih merah itu. Karena aku juga member, jadi langganan deh. Traveling ke luar negeri agak variatif maskapainya, meskipun mostly low cost airlines juga. Terakhir aku Jakarta Macau pp dengan maskapai putih merah dan berjalan lancar jaya.

Kali ini, aku pun beli tiket one way Jakarta – Seoul dari maskapai putih merah pas lagi travel fair. Harga tiket nya terjangkau, meski belum termasuk bagasi dan makanan. Kenapa nggak beli tiket pp? Soalnya rencananya aku pulang di tanggal setelah travel period yang ditawarin di travel fair. Jadi, aku berencana cari tiket pulang ke Jakarta belakangan aja.

Aku ambil flight tanggal 17 November 2017 jam 20.30, transit di KL jam 23.30 sampai 01.00 dan lanjut KL – Seoul dan akan sampai di Seoul 18 November 2017 jam 08.20. Oke juga kan waktunya? Tanggal 18 November aku landing pagi jadi bakal bisa langsung mulai eksplor Seoul.

Beberapa bulan setelah beli tiket, aku dapat email reschedule flight Jakarta – Kuala Lumpur. Cuma mundur 5/10 menit sih. Cincay lah.

Tapi… Beberapa bulan sebelum berangkat, aku ditelepon pihak maskapai dari Malaysia (flight lanjutan dari Jakarta). Katanya flight dari KL – Seoul di-reschedule jadi jam 07.00 (mundur 6 jam) dan aku dikasi option untuk terima reschedule atau cancel flight dan uang masuk deposit. Karena malas hunting tiket murah lagi dan urus uang yang harus masuk deposit, aku terima aja reschedule nya. Meski harus ngubah itinerary.

Untuk pulang dari Seoul ke Jakarta, aku pun hunting tiket lagi, mulai dari low cost airlines sampai full service airlines. Dan akhirnya nemu tiket termurah dari low cost airline Filipina yang warnanya dominan kuning. Penerbangan Seoul – Manila tanggal 1 Desember jam 21.35 tiba di Manila jam 12.40 dan flight Manila – Jakarta jam 20.35 tiba di Jakarta 23.55 (bukan penerbangan transit, jadi harus keluar imigrasi Filipina).

Lumayan lah, sampai Jakarta hari minggu dinihari jadi masih bisa istirahat 1 hari sebelum Senin masuk kerja lagi. Tapi…

Beberapa bulan sebelum berangkat, aku terima email dari maskapai kuning kalo flight Seoul – Manila diundur eh di-reschedule jadi jam 02.30 tanggal 2 Desember 2017 dan tiba di Manila jam 05.50. Ya nggak papa lah, toh aku emang harus transit di Manila sampai malam juga. Lalu…

Beberapa minggu setelah kabar reschedule penerbangan Seoul – Manila, dapatlah email lagi kalo flight Manila – Jakarta di-reschedule ke … Hari berikutnya!

Kalo cuma diundur beberapa jam sih aku nggak masalah. Lah, ini diundur persis 24 jam. Ku kudu gimana?

Sama dengan maskapai putih merah, maskapai kuning ini kasi option untuk tetap berangkat dengan jadwal yang di-reschedule atau cancel dan refund dana ke deposit. Beuh.

Setelah cari-cari tiket lain dari Manila – Jakarta di tanggal 2 Desember 2017 dan harganya nggak ada yang cocok, terpaksa aku terima reschedule nya dan menginap semalam di Manila. Soalnya males juga untuk urus refund dan deposit.

Ya udah lah ya. Namanya juga low cost ya. Hehehe…

Apakah setelah semua reschedule itu, semua penerbangan lancar? Nggak juga sodara-sodara. Flight dari Jakarta – KL delay sekitar 1 jam. Flight dari Seoul – Manila juga delay kurang lebih 1 jam. Flight dari Manila – Jakarta pun delay entah berapa lama, mungkin 1 jam-an juga karena landing lewat 1 jam lebih dari yang seharusnya.

Nah, di Korea aku ada pindah-pindah lokasi dari Seoul – Jeju dan Jeju – Busan. Pakai pesawat lah ya. Ya iya, masa pakai getek? So, aku pakai low cost airlines juga dunk, yang warnanya putih orange. Seoul – Jeju tanggal 21 November jam 19.05 dan Jeju – Busan tanggal 25 November jam 08.45. Kedua flight itu aman sih, nggak ada reschedule, cuma delay aja. Hahaha… Yup, flight dari Seoul – Jeju delay sekitar 1 jam-an. Dari Jeju – Busan sih on time, karena masih pagi juga.

Ya begitulah kira-kira drama low cost airlines yang aku alami. 5 of 6 flights were delayed if not rescheduled. Ya nasib…

Bener kata pepatah, ada harga ada rupa. Tiket harga mahal aja bisa delay, apalagi harga murah kan. So just deal with it, backpackers. 😁😁

Advertisements

JADI BACKPACKER GEMBEL

Aku dan Meina berniat camping di Pantai Gatra. Berhubung pagi hari berikutnya kami sudah reservasi akan ke Pantai Tiga Warna jam 7 pagi, daripada repot mending dari malam kami sudah menginap disana. Hasil googling dan blogwalking, katanya di Pantai Gatra bisa camping dan tersedia sewa tenda Rp 25.000/tenda dan sewa lahan juga Rp 25.000/tenda. Jadi cuma Rp 50.000 semalam untuk berdua. Murah banget!

Begitu tiba di parkiran mobil Pantai Gatra, hari sudah gelap. Sekitar jam 18.30. Untuk ke pos 1, kami harus naik ojek. Murah sih cuma Rp 5.000. Dari pos 1 yang kosong, kami jalan sedikit ke pos 2 dan mendaftarkan diri kami disitu. Dan kami pun mendapat kabar buruk, tenda yang biasa disewakan RUSAK SEMUA!

Jreng!!! Padahal kami sudah berencana mau hunting foto Milkyway disana gara-gara liat postingan foto Milkyway kak @amrazing yang kece-kece.

IMG-20160811-WA0000
Bikin mupeng nggak sih foto Milkyway nya?

Para petugas menyarankan kami untuk cari homestay di sekitar situ, tapi adanya di jalan utama dan harus keluar parkiran pula. Kami keukeuh mencari tenda atau apa saja yang bisa dipinjam, asalkan tetap di area pantai Gatra. Awalnya petugas-petugas nggak menyarankan kami kesana, selain karena kami nggak bawa tenda, juga karena kami hanya cewek berdua.

Tapi karena kami ngotot maunya di area pantai dan mau ngirit nggak mau homestay, akhirnya salah satu petugas bilang, ada sih warung disana yang dijaga ibu-ibu. Tapi warungnya terbuka gitu. Kalo emang kami mau tetap di area pantai, mungkin bisa disana. Tapi kami disuruh lihat dulu aja, kalo emang berani tidur di warung, ya silakan aja. Kalo nggak, ya nanti balik lagi dan cari homestay di luar.

IMG-20160811-WA0011
Pengecekan barang di pos 2

Berhubung jarak dari pos 2 ke warung lumayan jauh, melewati kebun-kebun dan TANPA penerangan sama sekali, para abang ojek yang tadi mengantar kami dari parkiran sampai pos 2, disuruh antar kami sampai warung. Dan bener dong, kami berjalan  gelap-gelapan sekitar 15 menit di tanah berbatu dan pasir dengan sisi kanan kiri kami pepohonan. Untungnya aku dan Meina bawa senter.

Setelah tiba di warung yang dimaksud dan melihat kondisinya, tanpa harus berdiskusi panjang lebar, aku dan Meina sepakat untuk : Hajar, bleh! Masih manusiawi kok bentuknya. Meskipun nggak ada tembok tapi masih ada atap dan ditemani oleh 2 ibu baik hati yang begitu mendengar cerita kami langsung mengijinkan kami menumpang tidur di warung berbentuk pendopo sederhana dari kayu dan bambu itu.

Haduh, maap ya Bu jadi merepotkan. Bu Yatmi dan Bu Pangestu jadi harus beberes sajadah dll yang ada di mushola berukuran 2 x 1 m yang malam itu akan jadi tempat tidur kami.

Oya, 2 abang ojek yang mengantarkan kami, sempat mengantar kami ke pantai Gatra yang berjarak sekitar 20 m dari warung. Ceritanya kami tetap mau ambil foto Milkyway. Kan tujuan utamanya itu. Ada sih Milkyway nya dan lumayan jelas terlihat. Tapi… Kami nggak bisa-bisa foto Milkyway-nya. Pakai smartphone, sama sekali nggak ketangkap. Pakai DSLR, nggak ngerti setting-nya padahal udah coba macam-macam. Maklum, Meina sudah lama nggak pakai DSLR itu. Dan jarang pula dibuat foto di gelap-gelapan untuk nangkap objek cahaya kecil-kecil yang jaraknya ribuan mil gitu.

Dan hanya 5 menit di Pantai Gatra, awan pun datang. Halah… Tertutup lah semua titik-titik kecil cahaya bintang. Padahal kami belum berhasil dapat foto Milkyway. Jadi, misi kami memfoto Milkyway gagal total!

Balik lah kami ke warung. Dan setelah kami membayar ongkos ojek dan tip, 2 abang ojek kembali ke pos 1 dengan berjalan kaki tanpa senter! Katanya, bulan aja yang jadi penerang. Haha… Sok puitis!

Saat itu untung kami bawa kain Bali yang bisa dijadikan alas tidur. Handuk juga kami sampirkan di dinding pendopo yang terbuat dari papan kayu berjejer dengan sela sekitar 1-2 cm di antara setiap kayunya dan tingginya nggak sampai semeter. Untuk menahan angin yang berembus dari sela-sela kayu. Trus selimutan pakai selimut hasil pinjam teman.Ransel jadi bantal.

Baru jam 8 malam sih. Kami sudah siap tidur, sambil sesekali mengobrol. Bu Yatmi dan Bu Pangestu pun sudah menggelar kasur yang memang mereka gunakan untuk istirahat setiap malam.

IMG-20160811-WA0006
Bu Yatmi dan warungnya, kami bobo di pojok kanan (photo by Meina)

Oya, warung itu berjarak 3 meter dari deretan toilet yang hanya ada disitu di kawasan 5 pantai termasuk Gatra dan Tiga Warna. Untunglah, mau ke toilet nggak usah jauh-jauh. Tapi…

Lama-lama berasa nggak enak-nya berada dekat toilet. Aroma tak sedap segera menyerang hidung. Meskipun semua toilet dalam kondisi kosong. Meina langsung minta parfum untuk disemprot ke badan dan selimut, untuk menghalau aroma toilet. Tapi hanya bertahan 10 menit paling lama. Aku pun punya ide, tisu basah ditempel di hidung. At least aroma tisu basah akan lebih kuat daripada toilet.

Lalu… Tak lama kemudian, gerimis mulai turun dan makin lama makin deras, disertai hembusan angin pula. Kami pun kena tampias air hujan. Plus angin membawa aroma toilet semakin kencang. Dan suara kresek-kresek di belakang warung, kata Bu Yatmi, “Palingan tikus.” Haduh… Semoga tuh tikus nggak sampai merambat di ‘tempat tidur’ kami.

Aku pun mulai tak betah. Pakai selimut gerah, buka selimut kena tampias hujan dan digigitin nyamuk. Punggung juga pegal karena langsung berhadapan dengan kayu. Haduh… Sepanjang malam tidur nggak pulas dan sedikit-sedikit bangun. Hingga pagi pun tiba. Akhirnya…

Pagi hari kami berkeliling area 5 pantai di sekitar. Ditemani seorang guide, Pak Darman, kegembelan kami pun bertambah. Kami menyusuri area 5 pantai dengan nyeker. Awalnya sih pakai sandal jepit, tapi karena habis hujan semalam jadi tanah lengket dan menempel di sandal kami, membentuk sandal jepit kami seperti wedges berlapis tanah. Daripada sedikit-sedikit bersihin tanah, dan harus super hati-hati karena lebih licin, Pak Darman menyarankan kami untuk nyeker seperti beliau. Ya sudahlah ya.

IMG-20160811-WA0012
Tebak kaki siapa ini?

IMG-20160811-WA0002

IMG-20160811-WA0009

Selesai menyusuri 5 pantai, beliau pun berbagi bekal makan siangnya dengan kami yang sudah tampak kelaparan kelelahan. Jadi bekal yang disiapkan istrinya, nasi jagung dengan lauk ayam kecap, dituang di daun pisang untuk dimakan bertiga. Masih kurang gembel, sis?

IMG-20160811-WA0007

IMG-20160811-WA0015

IMG-20160811-WA0003

Menjelang siang kami mandi dan beberes di warung untuk kembali ke Malang. Kami pun pamitan dengan kedua ibu yang sudah rela memberikan tempatnya untuk kami jajah semalam, dan juga Pak Darman. Dan tahu nggak, kami benar-benar nggak bayar lho tidur di warung itu. Kami cuma bayar pemakaian toilet berapa kali bolak-balik dan sarapan serta jajan-jajan yang lumayan banyak.

Terimakasih Bu Yatmi dan Bu Pangestu, sudah mengijinkan kami merasakan jadi backpacker gembel semalam. Terimakasih Pak Darman, sudah membantu menambah tingkat kegembelan kami. 😀😁😂

IMG-20160811-WA0005

IMG-20160811-WA0014

All photos credit to Meina. Berhubung kesalahan teknis waktu mindahin foto dari handphone-ku, nyaris semua foto di handphone hilang. Jadi, pakai foto-foto yang diambil Meina deh. 😅

Note : Kalau mau camping di Pantai Gatra, lebih baik bawa tenda sendiri. Atau, kalau nggak punya tenda, bisa memesan tenda saat pesan tempat di Pantai Tiga Warna, supaya disiapkan tenda yang masih berfungsi oleh petugas. Jangan sampai kayak kami ya, terpaksa ngegembel semalaman. 😅😁