Tag Archives: Jakarta

Peduli Politik Indonesia

Sesekali nulis serius boleh lah ya. Nggak melulu soal traveling atau alam, tapi kali ini mau share soal politik Indonesia. Cie elah… Gaya beudh dah, ala-ala pengamat politik. Eh lupa, harus sok serius.

Nggak sih, postingan ini nggak mau berat-berat amat juga, dan nggak mau bergaya pengamat politik dadakan juga. I just want to share how much I love this beautiful country and all its diversities.

Alkisah, aku tumbuh di Indonesia yang sangat beragam dan didukung dengan semboyan yang keren abis : Bhinneka Tunggal Ika. Tapi keberagaman itu sempat ternoda di tahun 1998 saat kekacauan terjadi di seluruh Indonesia dan menjadi momen yang sangat menakutkan bagi sebagian orang, terutama warga negara Indonesia dengan etnis Tionghoa dan beragama Kristen/Katholik. Begitu banyak cerita yang aku dengar mengenai rumah dibakar, toko dijarah, orang diperkosa dan bahkan dibunuh. Bukan hanya di Jakarta, tapi hampir seluruh Indonesia. Dan nggak sedikit orang yang akhirnya memutuskan untuk lari keluar negeri dengan alasan keselamatan. Sedih.

Waktu itu aku masih abg labil yang belum ngerti apa-apa, cuma tau lagi heboh penjarahan dan sekolah-ku pun diliburkan selama beberapa hari. Nonton tivi pun aku hanya mengerti bahwa situasi negara lagi goyah karena ribuan mahasiswa berdemonstrasi dan menduduki gedung MPR/DPR dan menuntut mundurnya Presiden Soeharto yang sudah menjabat selama 32 tahun, padahal harusnya maksimal 2 periode alias 10 tahun.

Situasi bertambah kacau di kala ada mahasiswa yang menjadi korban penembakan aparat keamanan. Kabarnya anak salah satu tetangga di RT sebelah yang kuliah di Trisakti pun turut menjadi korban kekerasan aparat. Tapi aku sendiri nggak ingat apakah kabar itu terkonfirmasi, maklum aku masih buta urusan gituan. Yang aku ingat, selama beberapa malam, bapak-bapak di gang kami, termasuk papa-ku, sepakat ngeronda untuk menjaga keamanan, karena ada informasi bahwa toko di depan kompleks sudah ikut dijarah massa, setelah supermarket terdekat dari rumah, Ramayana dan Borobudur di Ciputat habis dibakar massa. Syukurlah sampai kondisi normal, kompleks kami aman.

Beberapa hari kemudian, Presiden Soeharto mundur dan digantikan sementara oleh Wakil Presiden saat itu, Bapak BJ Habibie. Namun, ekonomi negara sudah terlanjur hancur oleh kejadian-kejadian mengerikan selama beberapa hari, ditambah pula krisis moneter sedang melanda dunia.

Singkat cerita, hingga aku dewasa, aku nggak peduli sama sekali dengan negara maupun politik. Punya hak pilih di usia 17 tahun pun nggak berpengaruh karena aku nggak tertarik untuk memilih orang yang katanya akan menjadi wakil rakyat. Apalagi semakin lama, setelah era reformasi tahun 1998, kondisi politik negara semakin kacau. Gus Dur yang menjadi Presiden terpilih secara legal saja digulingkan oleh oknum-oknum politik. Sudah lah, mungkin memang nasib Indonesia hanya memiliki pejabat busuk dan korup di pemerintahan. Orang baik macam Gus Dur malah disingkirkan.

Apatis. Mungkin itu kata yang tepat buat-ku, dan mungkin buat sebagian besar orang yang juga cuek bebek dengan kondisi Indonesia yang sepertinya tanpa harapan. Gonta-ganti Presiden, hanya sekedar berganti penguasa, nggak ada manfaatnya buat rakyat jelata macam aku. Yang ada, kerabat dan golongan penguasa ikut berkuasa pula dan sibuk bagi-bagi dana pemerintahan untuk masuk kantong.

Hingga tiba saat itu. 2012. Aku yang sudah bekerja di Jakarta mendengar kabar-kabar tentang pemilihan Gubernur Jakarta. Konon ada calon yang punya latar belakang bagus, tapi aku nggak tahu siapa namanya. Setelah beberapa lama, barulah aku mendengar berita, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur itu no. 3, yang sebelumnya sukses menjadi kepala daerah di tempat lain. Setelah aku tahu orangnya, aku agak kaget, ternyata calon wakil gubernur nya orang keturunan Tionghoa dan beragama Kristen. Tumben amat.

Dan semakin mendekati hari H pemilihan, semakin banyak berita tentang mereka, pasangan no. 3, Jokowi dan Ahok. Ditambah lagi, banyak pula seniman yang berkreasi untuk mendukung kampanye Jokowi – Ahok. Mulai dari buat video klip, hingga penyebaran berita latar belakang dan prestasi mereka di media sosial. Akhirnya aku mengikuti perkembangan kabar Jokowi – Ahok dan mulai melihat sesuatu yang sudah lama nggak aku lihat. Harapan.

Singkatnya, setelah berjuang selama 2 putaran dan mempopulerkan baju kotak-kotak ke seantero Jakarta, pasangan Jokowi – Ahok pun menang. Dan kemenangan itu pun terasa spesial, karena banyaknya orang yang selama ini apatis ikut berubah pandangan dan turun gunung memlih pasangan ini. Aku yakin mereka melihat apa yang aku lihat juga.

Setelah dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI yang sah, rasanya Jakarta lebih cerah. Bukan karena mereka bisa menyulap Jakarta menjadi nggak banjir dan nggak macet, toh mengatasi banjir dan macet perlu proses tahunan. Tapi ada warna dan aroma baru yang mereka bawa ke arena pemerintahan dan perpolitikan di Jakarta dan Indonesia.

Aku mulai berpikir, ternyata di Indonesia masih ada juga pejabat bersih dan niat membangun bangsa. Mungkin selama ini mereka tertutup oleh banyaknya pejabat-pejabat ngaco dan ignorant di penjuru tanah air. Ternyata, Indonesia masih punya harapan! Itulah yang menyebabkan kini aku peduli untuk mengikuti perkembangan di dunia pemerintahan dan politik Indonesia. Karena aku yakin, harapan ada dan akan terus ada hingga mengubah wajah Indonesia.

Dan terbukti, setelah fenomena kemunculan Jokowi – Ahok di Jakarta, daerah-daerah lain pun mulai menampilkan putra-putri terbaiknya, seperti Ibu Risma di Surabaya, Pak Ganjar di Jawa Tengah, Pak Ridwan Kamil di Bandung.

Kemudian, tahun 2014 Jokowi berhasil memenangkan pertarungan menjadi RI 1 dengan mengalahkan Prabowo Subianto. Lalu muncullah sosok Ibu Susi Pudjiastuti yang fenomenal, menteri lulusan SD dan bertato yang mendobrak stigma pejabat, dan membawa sistem kelautan dan perikanan Indonesia naik level dengan keberaniannya melawan kapal-kapal asing yang selama ini “menjajah” wilayah kelautan Indonesia.

Kini yang terbaru, ada Kang Dedy Mulyadi, Bupati Purwakarta yang merubah wajah daerahnya hingga mulai dikenal dan membuatku penasaran mau kesana. #hasratjalanjalanmuncul

Nggak salah kalau aku bilang Jokowi – Ahok adalah fenomena. Mereka bukan pejabat pada umumnya, buat-ku mereka adalah brand. Brand dari sebuah harapan.

Dan saat ini, beberapa hari setelah demo besar untuk memproses hukum Ahok yang katanya menista agama, aku hanya berdoa buat Indonesia supaya nggak kalah oleh tekanan kelompok-kelompok tertentu yang memaksakan kehendaknya. Indonesia tetap Indonesia. Yang akan terjadi atas Indonesia bukanlah kehendak golongan tertentu, tetapi apa yang sudah digariskan oleh Dia yang disebut pada sila pertama Pancasila. Dia-lah yang berdaulat atas bumi Indonesia. So, keep calm aja deh. Mau jungkir balik kayak apapun, kehendak Dia-lah yang akan terjadi. Manusia mah apalah apalah, cuma butiran debu.

Penutup, tiba-tiba mau nyanyi lagu nasional. Ini dia :

Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau
Sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia
Indonesia tanah air-ku, aku berjanji padamu
Menjunjung tanah air-ku, tanah air-ku Indonesia
Selamat Hari Pahlawan!
Salam Bhinneka Tunggal Ika!
Advertisements