Tag Archives: malang

JADI BACKPACKER GEMBEL

Aku dan Meina berniat camping di Pantai Gatra. Berhubung pagi hari berikutnya kami sudah reservasi akan ke Pantai Tiga Warna jam 7 pagi, daripada repot mending dari malam kami sudah menginap disana. Hasil googling dan blogwalking, katanya di Pantai Gatra bisa camping dan tersedia sewa tenda Rp 25.000/tenda dan sewa lahan juga Rp 25.000/tenda. Jadi cuma Rp 50.000 semalam untuk berdua. Murah banget!

Begitu tiba di parkiran mobil Pantai Gatra, hari sudah gelap. Sekitar jam 18.30. Untuk ke pos 1, kami harus naik ojek. Murah sih cuma Rp 5.000. Dari pos 1 yang kosong, kami jalan sedikit ke pos 2 dan mendaftarkan diri kami disitu. Dan kami pun mendapat kabar buruk, tenda yang biasa disewakan RUSAK SEMUA!

Jreng!!! Padahal kami sudah berencana mau hunting foto Milkyway disana gara-gara liat postingan foto Milkyway kak @amrazing yang kece-kece.

IMG-20160811-WA0000
Bikin mupeng nggak sih foto Milkyway nya?

Para petugas menyarankan kami untuk cari homestay di sekitar situ, tapi adanya di jalan utama dan harus keluar parkiran pula. Kami keukeuh mencari tenda atau apa saja yang bisa dipinjam, asalkan tetap di area pantai Gatra. Awalnya petugas-petugas nggak menyarankan kami kesana, selain karena kami nggak bawa tenda, juga karena kami hanya cewek berdua.

Tapi karena kami ngotot maunya di area pantai dan mau ngirit nggak mau homestay, akhirnya salah satu petugas bilang, ada sih warung disana yang dijaga ibu-ibu. Tapi warungnya terbuka gitu. Kalo emang kami mau tetap di area pantai, mungkin bisa disana. Tapi kami disuruh lihat dulu aja, kalo emang berani tidur di warung, ya silakan aja. Kalo nggak, ya nanti balik lagi dan cari homestay di luar.

IMG-20160811-WA0011
Pengecekan barang di pos 2

Berhubung jarak dari pos 2 ke warung lumayan jauh, melewati kebun-kebun dan TANPA penerangan sama sekali, para abang ojek yang tadi mengantar kami dari parkiran sampai pos 2, disuruh antar kami sampai warung. Dan bener dong, kami berjalan  gelap-gelapan sekitar 15 menit di tanah berbatu dan pasir dengan sisi kanan kiri kami pepohonan. Untungnya aku dan Meina bawa senter.

Setelah tiba di warung yang dimaksud dan melihat kondisinya, tanpa harus berdiskusi panjang lebar, aku dan Meina sepakat untuk : Hajar, bleh! Masih manusiawi kok bentuknya. Meskipun nggak ada tembok tapi masih ada atap dan ditemani oleh 2 ibu baik hati yang begitu mendengar cerita kami langsung mengijinkan kami menumpang tidur di warung berbentuk pendopo sederhana dari kayu dan bambu itu.

Haduh, maap ya Bu jadi merepotkan. Bu Yatmi dan Bu Pangestu jadi harus beberes sajadah dll yang ada di mushola berukuran 2 x 1 m yang malam itu akan jadi tempat tidur kami.

Oya, 2 abang ojek yang mengantarkan kami, sempat mengantar kami ke pantai Gatra yang berjarak sekitar 20 m dari warung. Ceritanya kami tetap mau ambil foto Milkyway. Kan tujuan utamanya itu. Ada sih Milkyway nya dan lumayan jelas terlihat. Tapi… Kami nggak bisa-bisa foto Milkyway-nya. Pakai smartphone, sama sekali nggak ketangkap. Pakai DSLR, nggak ngerti setting-nya padahal udah coba macam-macam. Maklum, Meina sudah lama nggak pakai DSLR itu. Dan jarang pula dibuat foto di gelap-gelapan untuk nangkap objek cahaya kecil-kecil yang jaraknya ribuan mil gitu.

Dan hanya 5 menit di Pantai Gatra, awan pun datang. Halah… Tertutup lah semua titik-titik kecil cahaya bintang. Padahal kami belum berhasil dapat foto Milkyway. Jadi, misi kami memfoto Milkyway gagal total!

Balik lah kami ke warung. Dan setelah kami membayar ongkos ojek dan tip, 2 abang ojek kembali ke pos 1 dengan berjalan kaki tanpa senter! Katanya, bulan aja yang jadi penerang. Haha… Sok puitis!

Saat itu untung kami bawa kain Bali yang bisa dijadikan alas tidur. Handuk juga kami sampirkan di dinding pendopo yang terbuat dari papan kayu berjejer dengan sela sekitar 1-2 cm di antara setiap kayunya dan tingginya nggak sampai semeter. Untuk menahan angin yang berembus dari sela-sela kayu. Trus selimutan pakai selimut hasil pinjam teman.Ransel jadi bantal.

Baru jam 8 malam sih. Kami sudah siap tidur, sambil sesekali mengobrol. Bu Yatmi dan Bu Pangestu pun sudah menggelar kasur yang memang mereka gunakan untuk istirahat setiap malam.

IMG-20160811-WA0006
Bu Yatmi dan warungnya, kami bobo di pojok kanan (photo by Meina)

Oya, warung itu berjarak 3 meter dari deretan toilet yang hanya ada disitu di kawasan 5 pantai termasuk Gatra dan Tiga Warna. Untunglah, mau ke toilet nggak usah jauh-jauh. Tapi…

Lama-lama berasa nggak enak-nya berada dekat toilet. Aroma tak sedap segera menyerang hidung. Meskipun semua toilet dalam kondisi kosong. Meina langsung minta parfum untuk disemprot ke badan dan selimut, untuk menghalau aroma toilet. Tapi hanya bertahan 10 menit paling lama. Aku pun punya ide, tisu basah ditempel di hidung. At least aroma tisu basah akan lebih kuat daripada toilet.

Lalu… Tak lama kemudian, gerimis mulai turun dan makin lama makin deras, disertai hembusan angin pula. Kami pun kena tampias air hujan. Plus angin membawa aroma toilet semakin kencang. Dan suara kresek-kresek di belakang warung, kata Bu Yatmi, “Palingan tikus.” Haduh… Semoga tuh tikus nggak sampai merambat di ‘tempat tidur’ kami.

Aku pun mulai tak betah. Pakai selimut gerah, buka selimut kena tampias hujan dan digigitin nyamuk. Punggung juga pegal karena langsung berhadapan dengan kayu. Haduh… Sepanjang malam tidur nggak pulas dan sedikit-sedikit bangun. Hingga pagi pun tiba. Akhirnya…

Pagi hari kami berkeliling area 5 pantai di sekitar. Ditemani seorang guide, Pak Darman, kegembelan kami pun bertambah. Kami menyusuri area 5 pantai dengan nyeker. Awalnya sih pakai sandal jepit, tapi karena habis hujan semalam jadi tanah lengket dan menempel di sandal kami, membentuk sandal jepit kami seperti wedges berlapis tanah. Daripada sedikit-sedikit bersihin tanah, dan harus super hati-hati karena lebih licin, Pak Darman menyarankan kami untuk nyeker seperti beliau. Ya sudahlah ya.

IMG-20160811-WA0012
Tebak kaki siapa ini?

IMG-20160811-WA0002

IMG-20160811-WA0009

Selesai menyusuri 5 pantai, beliau pun berbagi bekal makan siangnya dengan kami yang sudah tampak kelaparan kelelahan. Jadi bekal yang disiapkan istrinya, nasi jagung dengan lauk ayam kecap, dituang di daun pisang untuk dimakan bertiga. Masih kurang gembel, sis?

IMG-20160811-WA0007

IMG-20160811-WA0015

IMG-20160811-WA0003

Menjelang siang kami mandi dan beberes di warung untuk kembali ke Malang. Kami pun pamitan dengan kedua ibu yang sudah rela memberikan tempatnya untuk kami jajah semalam, dan juga Pak Darman. Dan tahu nggak, kami benar-benar nggak bayar lho tidur di warung itu. Kami cuma bayar pemakaian toilet berapa kali bolak-balik dan sarapan serta jajan-jajan yang lumayan banyak.

Terimakasih Bu Yatmi dan Bu Pangestu, sudah mengijinkan kami merasakan jadi backpacker gembel semalam. Terimakasih Pak Darman, sudah membantu menambah tingkat kegembelan kami. 😀😁😂

IMG-20160811-WA0005

IMG-20160811-WA0014

All photos credit to Meina. Berhubung kesalahan teknis waktu mindahin foto dari handphone-ku, nyaris semua foto di handphone hilang. Jadi, pakai foto-foto yang diambil Meina deh. 😅

Note : Kalau mau camping di Pantai Gatra, lebih baik bawa tenda sendiri. Atau, kalau nggak punya tenda, bisa memesan tenda saat pesan tempat di Pantai Tiga Warna, supaya disiapkan tenda yang masih berfungsi oleh petugas. Jangan sampai kayak kami ya, terpaksa ngegembel semalaman. 😅😁

Mendadak Traveler ?

Yang baca blog aku pasti tahu sejak kapan aku jatuh cinta dengan travelling. Tapi belakangan aku merenung, sebenarnya sejak kapan sih aku benar-benar doyan travelling? Aku memutar memori.

Tahun 2013, sebelum perjalanan bersejarah-ku ke Bali, aku pernah berlibur di Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu dan snorkeling untuk pertama kalinya disana. Dan pernah juga 2 minggu ke Batu, Malang untuk urusan pekerjaan, tapi boro-boro bisa main atau keliling, lha wong kerjaan aja dibawa pulang ke hotel dan makan malam setiap hari di alun-alun. Aku sempat merayu teman-temanku untuk ke Bromo pada weekend, cuma waktunya nggak memungkinkan. Tapi… Tiap perjalanan dari hotel ke kantor selama 5 menit naik mobil, aku selalu memandang deretan gunung dengan mupeng : pengen naik gunung!

Di salah 1 pulau tak berpenghuni di Kepulauan Seribu
Di salah 1 pulau tak berpenghuni di Kepulauan Seribu
Bayi-bayi penyu di penangkaran penyu Pulau Pramuka
Bayi-bayi penyu di penangkaran penyu Pulau Pramuka
Sunrise view dari menara di hotel di Batu, Malang
Sunrise view dari menara di hotel di Batu, Malang

Tahun 2012, aku pertama kali ke Bali dan membawa pulang kesan buruk. Tapi kalau dipikir-pikir, justru karena kejadian nggak enak di Bali tahun 2012 itulah yang membawa aku kembali ke Bali tahun 2013.

Bebek tepi sawah resto, pura and my rented villa
Bebek tepi sawah resto, pura and my rented villa
Outside Hardrock Cafe and somewhere in Tanah Lot
Outside Hardrock Cafe and somewhere in Tanah Lot

Tahun 2011, aku ke Bandung sama rombongan kantor tapi cuma sempat ke Kawah Ratu sebentar trus sisanya ngabisin waktu di vila. Lalu seminggu kemudian aku ke pantai Anyer sama beberapa teman gereja. Cuma numpang nginep karena sampai sana udah hampir tengah malam dan besok siangnya udah harus pulang ke Jakarta. Sempat main banana boat sekali dan langsung kapok karena badan ketindihan sama teman yang badannya jauh lebih gede dan kepala kejedug kencang, plus pelampung (yang satu-satunya penolong manusia nggak bisa berenang macam aku) hampir lepas karena jepitnya udah kendor dan 2 dari 3 jepit sudah terlepas. Hii…

Kawah Ratu, Bandung
Kawah Ratu, Bandung

Tahun 2007, aku liburan ke Bandung Selatan, entah apa nama tempatnya lupa. Cuma di vila, tapi dekat sungai yang lumayan asik buat main. Jadilah main air di sekitaran sungai. Dan disitulah aku menemukan bakat foto. Hahaha… Lebai sih kalo dibilang ‘bakat foto’ tapi memang hasil jepretan-ku lebih bagus dari semua teman-teman yang ikut lho. 😀

Tahun 2006, aku dan teman-teman sekelas di kampus menginap di vila di Puncak, sekitaran Gunung Mas. Besok pagi-nya kami hiking. Sudah jalan cukup jauh, aku melihat bukit di depan mata, dan mupeng lah aku pengen naik sampai ke puncak. Udah semangat tingkat tinggi, eh teman-temanku nggak ada satu pun yang mau diajak naik, baik cewek maupun cowok. Jiahhh… Daripada aku nekat naik sendiri dan nggak bisa pulang, aku mengurungkan niat.

Lalu tahun-tahun lainnya? I’m pretty much a stay at home girl. Rutinitas cuma rumah – kantor – gereja, sesekali ke mall. Jalan-jalan paling kalau ada acara retreat dari gereja. Itu pun salah satu acara paling kutunggu adalah sesi bebas, jadi bisa main ke sungai atau lihat-lihat alam sekitar.

Salah 1 retreat, di Gadog
Salah 1 retreat, di Gadog

Eh, tapi… Aku pernah beberapa kali ikut ibadah padang (ibadah di luar gereja) di Cibodas. Karena cuma rumpur-rumput aja, tiap kesana bawaannya aku pengen jalan ke air terjun, tapi nggak pernah berhasil. Pernah juga waktu masih sekolah diajak jalan-jalan sama almarhum nenek-ku ke Danau Situ Patenggang di Bandung, danau yang pinggirnya pasir. Dan aku langsung minta naik perahu ke tengah danau, dan kesampaian meskipun ngeri-ngeri sedap juga naik perahu kecil yang bergoyang-goyang di tengah danau luas.

Kalau dipikir-pikir, berarti aku memang dari dulu udah doyan alam. Tanpa sadar, bibit traveler itu udah ada dalam diri-ku, cuma belum terlihat jelas aja. So, I’m not a ‘mendadak’ traveler after all. 😉

Somewhere near Lake and Mount Batur, Bali
Somewhere near Lake and Mount Batur, Bali

Note : harap maklum kalo foto ada yang nggak tajam, sebagian pake kamera blackberry yang 2MP, dan itu juga sisa-sisa foto yang ter-back up sebelum memory card rusak.