Tag Archives: travel

#Jadibisa mudah traveling berkat Traveloka

Traveloka saat ini sudah jadi salah satu pilihan utama banyak orang dalam mencari tiket, hotel, paket aktivitas dan lainnya yang berhubungan dengan traveling. Termasuk aku. Sejak beberapa tahun lalu. Tapi, kenapa sih Traveloka bisa jadi salah satu market leader di bidangnya?

Let me take you back a few years. Aku mau cerita pengalamanku pribadi, yang sedikit memalukan tapi jadi pelajaran penting dalam hal hidup dan traveling.

Jadi, dulu aku buta banget soal traveling. Boro-boro traveling, jalan-jalan ke destinasi sekitar aja jarang. Paling jauh pulang kampung ke rumah nenek di Surabaya.

Lalu, setelah kerja selama beberapa tahun dan mengalami kebosanan, ya aku nggak nolak waktu salah satu temanku mengajak ke Bali. Why not? Pikirku waktu itu. Temanku cuma bilang, tiketnya murah cuma 600.000 dan temannya ada yang batal berangkat jadi ada slot buatku.

Aku langsung mengiyakan tawarannya tanpa pikir panjang. Little that I know, aku pakai tiket yang nggak jadi dipakai temannya temanku yang batal berangkat itu. Yes, tiket promo salah satu budget airline, atas nama dia dan nggak bisa ganti nama. Tapi aku tinggal bawa KTP nya, begitu kata temanku. Hmm… Seems stupid, right? I was. Maklum, aku nggak pernah naik pesawat sebelumnya. Pulang kampung aja selalu naik kereta dan tiketnya diurus orang tua ku. Harap maklum ya aku agak sedikit padahal banyak bodoh soal urusan pertiketan.

Singkat cerita, si temannya temanku itu tiba-tiba nggak bersedia meminjamkan KTP nya ke aku. Jadi aku harus ribet mencetak KTP-KTPan demi bisa pakai tiketnya. Karena aku sudah bayar. Hahaha… *ketawamiris

Kebodohanku berlanjut. Saat pemeriksaan tiket dan identitas sebelum boarding, ketahuan lah aku bukan si pemilik tiket dan nggak diijinkan berangkat karena faktor keselamatan, asuransi, dan blablabla. Dan karena itu penerbangan terakhir, aku baru bisa beli tiket untuk penerbangan di hari berikut. Mau batal tapi situasi nggak memungkinkan karena satu dan lain hal (bakal kepanjangan kalau diceritain disini).

Akhirnya, aku berangkat dengan penerbangan paling pagi di hari berikutnya. Dan memulai liburan (bukan traveling) pertama di Bali yang berakhir dengan penyesalan. Penyesalan karena aku terpaksa beli tiket pp dobel dan si temannya temanku yang aku ‘gantikan’ nggak bersedia mengganti harga tiket atas namanya yang 600.000 itu. Dan penyesalan karena liburannya nggak asik, karena rombongan (temannya temanku yang lain) hobinya belanja dan menghabiskan waktu di Legian. Man, belanja mah nggak kudu ke Bali kali.

Setelah kebodohan dan kegagalan itu, aku berikhtiar untuk next time aku ke Bali harus seminggu dan sama teman jalan yang asik. Lesson learned lah ya.

Lalu tahun depannya, pas iseng-iseng cari tiket pesawat ke Bali, aku menemukan Traveloka. Tergoda dengan banner tiket ke Bali hanya beberapa ratus ribu (lupa harga persisnya). Dan ada kalender harga termurah pula untuk membantu memilih tanggal sesuai budget tiket. Wuih, lumayan juga, pikirku waktu itu.

Coba punya coba, website Traveloka ternyata cukup mudah dimengerti buatku yang saat itu masih awam. Dan biaya yang muncul sudah all in (kecuali airport tax, yang saat itu masih harus dibayar di bandara) dan ada detail rincian harga tiketnya. No hidden charges, istilahnya. Enak nih, jadi aku nggak bakal mengulangi kebodohan yang sama dengan sebelumnya. Aku pun langsung mengajak temanku untuk ke Bali. Dan ikhtiarku untuk minimal seminggu di Bali untuk perjalanan berikutnya pun menjadi nyata. Berkat pesan tiket yang ‘benar’ melalui Traveloka, aku pun menghabiskan 8 hari 7 malam untuk merasakan the real ‘traveling’ di Bali.

Sejak itu, Traveloka yang saat itu baru punya menu untuk pemesanan tiket pesawat, menjadi salah satu website langganan untuk mencari tiket. Dan semakin hari, Traveloka pun semakin berinovasi dengan adanya aplikasi di Playstore yang mempermudah pencarian tiket. Malah beberapa waktu terakhir ini, Traveloka semakin melengkapi diri dengan adanya price alert di aplikasi. Jadi tinggal pilih tujuan dan tanggal yang diinginkan, dan kalau merasa harga tiketnya belum sesuai, tinggal pasang price alert supaya ada notifikasi jika ada perubahan harga tiket. Asik kan?

Di luar menu baru seperti pencarian hotel, paket pesawat + hotel, aktivitas dan rekreasi, bahkan paket internet, Traveloka selalu jadi pilihan utama untuk aku mencari tiket. Untuk tipe backpacker seperti aku, fitur best price finder itu membantu banget sih. Jadi bisa pilih tanggal yang harga tiketnya pas di kantong. Hehehe…

So, thank you for existing dan improving, Traveloka! Aku #Jadibisa traveling lebih mudah.

Aplikasi Traveloka saat ini

Advertisements

JADI BACKPACKER GEMBEL

Aku dan Meina berniat camping di Pantai Gatra. Berhubung pagi hari berikutnya kami sudah reservasi akan ke Pantai Tiga Warna jam 7 pagi, daripada repot mending dari malam kami sudah menginap disana. Hasil googling dan blogwalking, katanya di Pantai Gatra bisa camping dan tersedia sewa tenda Rp 25.000/tenda dan sewa lahan juga Rp 25.000/tenda. Jadi cuma Rp 50.000 semalam untuk berdua. Murah banget!

Begitu tiba di parkiran mobil Pantai Gatra, hari sudah gelap. Sekitar jam 18.30. Untuk ke pos 1, kami harus naik ojek. Murah sih cuma Rp 5.000. Dari pos 1 yang kosong, kami jalan sedikit ke pos 2 dan mendaftarkan diri kami disitu. Dan kami pun mendapat kabar buruk, tenda yang biasa disewakan RUSAK SEMUA!

Jreng!!! Padahal kami sudah berencana mau hunting foto Milkyway disana gara-gara liat postingan foto Milkyway kak @amrazing yang kece-kece.

IMG-20160811-WA0000
Bikin mupeng nggak sih foto Milkyway nya?

Para petugas menyarankan kami untuk cari homestay di sekitar situ, tapi adanya di jalan utama dan harus keluar parkiran pula. Kami keukeuh mencari tenda atau apa saja yang bisa dipinjam, asalkan tetap di area pantai Gatra. Awalnya petugas-petugas nggak menyarankan kami kesana, selain karena kami nggak bawa tenda, juga karena kami hanya cewek berdua.

Tapi karena kami ngotot maunya di area pantai dan mau ngirit nggak mau homestay, akhirnya salah satu petugas bilang, ada sih warung disana yang dijaga ibu-ibu. Tapi warungnya terbuka gitu. Kalo emang kami mau tetap di area pantai, mungkin bisa disana. Tapi kami disuruh lihat dulu aja, kalo emang berani tidur di warung, ya silakan aja. Kalo nggak, ya nanti balik lagi dan cari homestay di luar.

IMG-20160811-WA0011
Pengecekan barang di pos 2

Berhubung jarak dari pos 2 ke warung lumayan jauh, melewati kebun-kebun dan TANPA penerangan sama sekali, para abang ojek yang tadi mengantar kami dari parkiran sampai pos 2, disuruh antar kami sampai warung. Dan bener dong, kami berjalan  gelap-gelapan sekitar 15 menit di tanah berbatu dan pasir dengan sisi kanan kiri kami pepohonan. Untungnya aku dan Meina bawa senter.

Setelah tiba di warung yang dimaksud dan melihat kondisinya, tanpa harus berdiskusi panjang lebar, aku dan Meina sepakat untuk : Hajar, bleh! Masih manusiawi kok bentuknya. Meskipun nggak ada tembok tapi masih ada atap dan ditemani oleh 2 ibu baik hati yang begitu mendengar cerita kami langsung mengijinkan kami menumpang tidur di warung berbentuk pendopo sederhana dari kayu dan bambu itu.

Haduh, maap ya Bu jadi merepotkan. Bu Yatmi dan Bu Pangestu jadi harus beberes sajadah dll yang ada di mushola berukuran 2 x 1 m yang malam itu akan jadi tempat tidur kami.

Oya, 2 abang ojek yang mengantarkan kami, sempat mengantar kami ke pantai Gatra yang berjarak sekitar 20 m dari warung. Ceritanya kami tetap mau ambil foto Milkyway. Kan tujuan utamanya itu. Ada sih Milkyway nya dan lumayan jelas terlihat. Tapi… Kami nggak bisa-bisa foto Milkyway-nya. Pakai smartphone, sama sekali nggak ketangkap. Pakai DSLR, nggak ngerti setting-nya padahal udah coba macam-macam. Maklum, Meina sudah lama nggak pakai DSLR itu. Dan jarang pula dibuat foto di gelap-gelapan untuk nangkap objek cahaya kecil-kecil yang jaraknya ribuan mil gitu.

Dan hanya 5 menit di Pantai Gatra, awan pun datang. Halah… Tertutup lah semua titik-titik kecil cahaya bintang. Padahal kami belum berhasil dapat foto Milkyway. Jadi, misi kami memfoto Milkyway gagal total!

Balik lah kami ke warung. Dan setelah kami membayar ongkos ojek dan tip, 2 abang ojek kembali ke pos 1 dengan berjalan kaki tanpa senter! Katanya, bulan aja yang jadi penerang. Haha… Sok puitis!

Saat itu untung kami bawa kain Bali yang bisa dijadikan alas tidur. Handuk juga kami sampirkan di dinding pendopo yang terbuat dari papan kayu berjejer dengan sela sekitar 1-2 cm di antara setiap kayunya dan tingginya nggak sampai semeter. Untuk menahan angin yang berembus dari sela-sela kayu. Trus selimutan pakai selimut hasil pinjam teman.Ransel jadi bantal.

Baru jam 8 malam sih. Kami sudah siap tidur, sambil sesekali mengobrol. Bu Yatmi dan Bu Pangestu pun sudah menggelar kasur yang memang mereka gunakan untuk istirahat setiap malam.

IMG-20160811-WA0006
Bu Yatmi dan warungnya, kami bobo di pojok kanan (photo by Meina)

Oya, warung itu berjarak 3 meter dari deretan toilet yang hanya ada disitu di kawasan 5 pantai termasuk Gatra dan Tiga Warna. Untunglah, mau ke toilet nggak usah jauh-jauh. Tapi…

Lama-lama berasa nggak enak-nya berada dekat toilet. Aroma tak sedap segera menyerang hidung. Meskipun semua toilet dalam kondisi kosong. Meina langsung minta parfum untuk disemprot ke badan dan selimut, untuk menghalau aroma toilet. Tapi hanya bertahan 10 menit paling lama. Aku pun punya ide, tisu basah ditempel di hidung. At least aroma tisu basah akan lebih kuat daripada toilet.

Lalu… Tak lama kemudian, gerimis mulai turun dan makin lama makin deras, disertai hembusan angin pula. Kami pun kena tampias air hujan. Plus angin membawa aroma toilet semakin kencang. Dan suara kresek-kresek di belakang warung, kata Bu Yatmi, “Palingan tikus.” Haduh… Semoga tuh tikus nggak sampai merambat di ‘tempat tidur’ kami.

Aku pun mulai tak betah. Pakai selimut gerah, buka selimut kena tampias hujan dan digigitin nyamuk. Punggung juga pegal karena langsung berhadapan dengan kayu. Haduh… Sepanjang malam tidur nggak pulas dan sedikit-sedikit bangun. Hingga pagi pun tiba. Akhirnya…

Pagi hari kami berkeliling area 5 pantai di sekitar. Ditemani seorang guide, Pak Darman, kegembelan kami pun bertambah. Kami menyusuri area 5 pantai dengan nyeker. Awalnya sih pakai sandal jepit, tapi karena habis hujan semalam jadi tanah lengket dan menempel di sandal kami, membentuk sandal jepit kami seperti wedges berlapis tanah. Daripada sedikit-sedikit bersihin tanah, dan harus super hati-hati karena lebih licin, Pak Darman menyarankan kami untuk nyeker seperti beliau. Ya sudahlah ya.

IMG-20160811-WA0012
Tebak kaki siapa ini?

IMG-20160811-WA0002

IMG-20160811-WA0009

Selesai menyusuri 5 pantai, beliau pun berbagi bekal makan siangnya dengan kami yang sudah tampak kelaparan kelelahan. Jadi bekal yang disiapkan istrinya, nasi jagung dengan lauk ayam kecap, dituang di daun pisang untuk dimakan bertiga. Masih kurang gembel, sis?

IMG-20160811-WA0007

IMG-20160811-WA0015

IMG-20160811-WA0003

Menjelang siang kami mandi dan beberes di warung untuk kembali ke Malang. Kami pun pamitan dengan kedua ibu yang sudah rela memberikan tempatnya untuk kami jajah semalam, dan juga Pak Darman. Dan tahu nggak, kami benar-benar nggak bayar lho tidur di warung itu. Kami cuma bayar pemakaian toilet berapa kali bolak-balik dan sarapan serta jajan-jajan yang lumayan banyak.

Terimakasih Bu Yatmi dan Bu Pangestu, sudah mengijinkan kami merasakan jadi backpacker gembel semalam. Terimakasih Pak Darman, sudah membantu menambah tingkat kegembelan kami. 😀😁😂

IMG-20160811-WA0005

IMG-20160811-WA0014

All photos credit to Meina. Berhubung kesalahan teknis waktu mindahin foto dari handphone-ku, nyaris semua foto di handphone hilang. Jadi, pakai foto-foto yang diambil Meina deh. 😅

Note : Kalau mau camping di Pantai Gatra, lebih baik bawa tenda sendiri. Atau, kalau nggak punya tenda, bisa memesan tenda saat pesan tempat di Pantai Tiga Warna, supaya disiapkan tenda yang masih berfungsi oleh petugas. Jangan sampai kayak kami ya, terpaksa ngegembel semalaman. 😅😁

SI CANTIK DARI LAMPUNG : PAHAWANG

Waktu bilang mau ke Lampung, kebanyakan orang tanya, “emang di Lampung ada apa?” Aku sendiri pun belum tau ada apa saja di Lampung. Tapi mulai sering dengar kalau Lampung itu indah. Salah satu yang kini sudah terkenal : Pahawang.

Traveling ke Pahawang kali ini ramai-ramai dengan teman kantor plus teman-teman lainnya. Awalnya sih mau rombongan teman-teman kantor, tapi karena kurang kuota dan banyak yang batal mendadak, akhirnya jadilah open trip dengan teman-teman lainnya. My fellow traveler, Meina, yang 2 bulan sebelumnya berpetualang bersamaku ke Bromo, Ijen, dan Malang, ikut juga setelah aku mengeluarkan jurus rayuan pulau kelapa, padahal sebelumnya sempat galau menerima ajakanku atau tidak.

Trip kali ini ala backpacker dan tidak menggunakan jasa agen manapun. Itinerary, budgeting, dan nego-nego semua diurus oleh teman kantorku, Jessieca. Kami hanya mengeluarkan uang Rp 400.000 all in dari Bakauheni dengan peserta 16 orang. Jadi tinggal mengeluarkan biaya dari dan ke Merak dan fery Merak – Bakauheni pp aja. Sesampai di Bakauheni, kami sudah dijemput oleh mobil sewaan, diantar ke dermaga Ketapang, dan ditunggu oleh kapal nelayan sewaan yang akan mengantar kami keliling Pahawang dan sekitarnya selama 2 hari, juga homestay dan makan 5 x.

P_20160625_081110_1

IMG-20160807-WA0018
Dermaga Ketapang

IMG-20160807-WA0019

Dari Dermaga Ketapang, kami langsung ke pulau Kelagian Kecil. Setelah itu snorkeling, mampir makan siang di Pahawang Kecil, snorkeling dua kali lagi, baru sore hari menuju homestay di pulau Tanjung Putus.

1466989773691
Pulau Kelagian Kecil (photo by Jessieca)
1466989764489
View dari Kelagian Kecil (photo by Jessieca)
IMG-20160807-WA0020
Suka banget foto ini!

IMG-20160807-WA0040

IMG-20160807-WA0041
Pahawang Kecil
IMG-20160807-WA0039
Cottage orang tuh
IMG-20160808-WA0010
Cottage milik orang Perancis di Pahawang Kecil (photo by Sasa)
IMG-20160807-WA0023
Sisi Pahawang Kecil
IMG-20160807-WA0008
Office mates

Hari pertama kami full snorkeling supaya di hari kedua sudah nggak basah-basahan lagi. Untunglah guide kami, Mas Yanto, orangnya asik. Saat snorkeling, dia banyak membantu kami yang nggak bisa berenang ataupun bisa berenang tapi takut-takut. Bahkan saat snorkeling di spot ke-3, doi lah yang setengah memaksa kami yang sudah lelah dan sebagian besar nggak bisa berenang untuk tetap masuk ke air demi berfoto dengan tulisan “Pulau Pahawang Wisataku” dibantu oleh doi. Dan aku pun memberanikan diri mengikuti sarannya, padahal aku nggak bisa berenang, snorkeling aja kadang galau, apalagi diving ataupun freedive. Maklum, waktu kecil aku pernah 2 kali tenggelam : di empang dan sungai, jadi agak sedikit ngeri berada di dalam air. Tapi berkat dorongan doi lah, aku bisa mengalahkan ‘takut tenggelam’ dan ternyata di dalam air nggak semenakutkan bayanganku. Maklum, waktu kecil aku pernah 2 kali tenggelam : di empang dan sungai, jadi agak sedikit ngeri berada di dalam air. Malah asik juga rasanya masuk ke dalam air, and without doing anything I can still come to the surface.

20160625_113401

20160625_152548

IMG-20160807-WA0038

IMG-20160807-WA0043

IMG-20160807-WA0011

1466989934476

IMG-20160807-WA0030

IMG-20160807-WA0015

Malam hari kami makan ikan bakar yang ditangkap sendiri oleh guide kedua kami, Mas Dani. Hebat tuh orang, di tengah-tengah kami snorkeling, doi ditinggal di tengah laut untuk spear fishing dan melanjutkan berenang ke Tanjung Putus. Mungkin sekitar 3-4 jam doi berenang dari lokasi ditinggal di laut sampai tiba di homestay kami dengan membawa ikan-ikan hasil tangkapan yang jumlahnya nggak sedikit.

P_20160625_174835
Menikmati sunset
IMG-20160807-WA0007-1
Ikan bakar endeuz…

Esok pagi, kami island hopping ke beberapa pulau sebelum kembali ke dermaga Ketapang. Tapi karena air sedang tinggi, kami hanya bisa mampir ke 1 pulau dari rencana 3 pulau. Itupun kapal nggak bisa merapat ke pantai karena sebagian besar pantai sudah terendam air. Tapi, karena pantai di pulau Balak itu BAGUS BANGET, kami jadi sedikit berbasahan lagi demi bisa mengambil foto di situ.

IMG-20160807-WA0016
Menanti sunrise
IMG-20160807-WA0010
Ternyata matahari tertutup awan

IMG-20160807-WA0026

IMG-20160807-WA0033

IMG-20160807-WA0048
Pulau Balak dari jauh

IMG-20160808-WA0008

IMG-20160807-WA0034

P_20160626_092147_HDR
Ini bukan floating lho

IMG-20160807-WA0005

IMG-20160807-WA0014

Setelah itu kami hanya bisa melewati pulau Lunik yang nyaris seluruh pantainya terendam air, dan kembali ke dermaga Ketapang. Sepanjang perjalanan, aku melihat pulau-pulau yang kami lewati sebagian besar terendam air sampai tinggi, bahkan sebagian pohon di pantai ikut terendam.

IMG-20160808-WA0001
Pulau Lunik yang hanya dilèwati
IMG-20160808-WA0004
Pantainya lenyap terendam air

Padahal pas kemarin kami lewati dalam perjalanan menuju spot snorkeling ataupun homestay, pulau-pulau itu masih terlihat pantainya. Well, air memang lagi tinggi-tingginya. Makanya kemarin kami juga nggak bisa mampir ke beberapa spot snorkeling dan gosong (pasir timbul). Untunglah pantai-pantai yang masih sempat kami kunjungi pun bagusnya nggak kira-kira, jadi terbayarlah semua perjuangan ala backpacker kami menemukan salah satu serpihan surga di Lampung.

See you next time, Pahawang! We’re happy having you here in Indonesia!

IMG-20160808-WA0000

IMG-20160807-WA0006

Jalan-jalan ke Jogja (End)

Menurut salah satu blog yang aku baca, kalau mau ke Bukit Punthuk Setumbu, sebuah bukit yang kini jadi tambah terkenal setelah jadi salah satu lokasi syuting AADC 2, sebaiknya jam 3 pagi sudah jalan. Karena lokasinya sekitar 2 jam perjalanan dari kota Yogyakarta, tepatnya di dekat Candi Borobudur, kota Magelang. Ya, paling nggak jam 5 pagi kami sudah sampai parkiran Bukit Punthuk Setumbu supaya bisa naik dengan santai dan tiba di puncak bukit tepat waktu untuk menyaksikan pemandangan sunrise yang menakjubkan.

Apa daya? Meskipun kami sudah mandi di malam hari sebelum tidur supaya pagi nggak telat berangkat karena mandi, kami baru bangun jam 03.00. Mengumpulkan nyawa, cuci muka, gosok gigi, dan siap-siap lainnya. Jadinya jam 3.30 kami baru berangkat.

Jam 5.40 kami tiba di persimpangan Borobudur. Banyak ojek yang menawarkan diri mengantar kami ke Punthuk Setumbu, begitu melihat arah belokan kami. Harga yang ditawarkan dari 100.000, turun jadi 75.000 beberapa menit kemudian, hingga waktu kami meneruskan jalan, seorang bapak ojek memberi harga 40.000 saja. Karena kami sudah nggak punya waktu untuk nyasar, meskipun pakai GPS, kami memakai jasa bapak itu. Maklum, GPS kan kadang suka kasi petunjuk arah yang ‘ajaib’.

Ternyata arah yang ditunjukkan si bapak sama persis dengan GPS. Rugi deh. Ya, at least kami nggak perlu berhenti karena ragu sama arahan GPS. 10 menit kemudian kami tiba di parkiran. Jam 05.50. Sudah lumayan terang.

Kami pun bergegas membayar bapak ojek, berjalan menuju loket pembayaran tiket masuk. Rp 15.000/orang. Dan bersegera mungkin menaiki tangga ke puncak. Sudah jam 05.55.

Baru menapaki anak tangga pertama menuju puncak, seorang ibu yang berjualan disitu bilang, “Cepat mbak, sudah terbit matahari-nya.”

Kami pun jadi sedikit panik. Sudah jauh-jauh, malah telat sampe pula. Halah…

Tapi, semangat kami berjalan ngebut bahkan setengah berlari hanya bertahan kurang dari 5 menit. Kami bukan hanya menaiki tangga yang jaraknya lebar dan tinggi, tapi juga mendaki bukit. Napas kami cepat habis dan kami sesekali berhenti sejenak untuk mengambil napas. Perjalanan menuju puncak nggak lama sih, 15 menit saja. Tapi tetap saja menguras tenaga.

Hampir tiba di puncak, kami berpapasan dengan beberapa orang yang turun. Lah, kami belum sampai, mereka udah pada turun. Ya karena itu sudah jam 06.10. Matahari sudah terbit dari tadi.

Setiba di puncak yang cukup ramai, kami langsung mencari spot agak kosong yang asik untuk melihat magis-nya pemandangan sunrise dari Bukit Punthuk Setumbu. Meskipun hanya kebagian sisa-sisa pesona magis-nya aja.

Sudah lah, emang kami kesiangan. Kami santai-santai aja, yang penting dapat view-nya dengan lensa mata dan kamera. Juga beberapa foto yang proper. Hehehe…

DSCN1134

 

DSCN1158

20150606_060806

DSCN1151

IMG-20150607-WA0020

IMG-20150607-WA0009

IMG-20150607-WA0011

Setelah agak sepi, kami pun turun dan mencari sarapan. Lapar bo. Pagi-pagi berlari mendaki bukit dengan perut kosong. Alhasil, sarapan kami agak membabi buta. Mie instan (lagi) dengan gorengan dan kopi panas. Nikmat!

Sambil makan lesehan, kami ngobrol dengan suami istri pemilik warung. Mereka kaget begitu tahu grup kami (cewek semua) jalan bertiga tanpa cowok dan guide. “Hati-hati ya, Mbak” begitu pesan si bapak pada saat kami akan meninggalkan warungnya.

Menuju Candi Borobudur, hanya 15 menit saja dari Bukit Punthuk Setumbu. Dan kami langsung diserbu para pedagang di parkiran, dari pedagang minuman, topi, sampai souvenir, yang dagangannya kami tolak dengan halus.

Ternyata hari itu, Borobudur penuh banget. Belakangan kami baru ingat, itu hari Sabtu. Pantas saja banyak bus membawa rombongan anak sekolah. Fiuhhh…

Kami memutuskan untuk naik sampai puncak Borobudur. Tapi melihat tangga Borobudur yang tinggi-tinggi, kami menghela napas. Naik lagi, setelah tadi pagi berjuang naik bukit. Haha…

IMG-20150607-WA0046

IMG-20150607-WA0058

IMG-20150607-WA0057

IMG-20150607-WA0049

IMG-20150607-WA0037

IMG-20150607-WA0052

Candi Borobudur dikelilingi pemandangan asri. Membuat kami betah berkeliling sembari menaikinya. Biar nggak terlalu lelah mendaki terus, kami pun menjelajahi sudut-sudut Borobudur yang agak sepi.

Selepas dari Borobudur, kami kembali ke kota Yogyakarta. Tujuan kami beli bakpia terenak seantero Yogyakarta, versi-ku. Melipir di salah 1 cabang, bakpia yang tersedia hanya isi kacang hijau. Sedangkan kami mau-nya rasa keju dan coklat. Akhirnya kami disarankan untuk ke cabang utama nya, dan hasilnya sama. Pun di cabang toko terakhir yang hanya berjarak 30 m dari toko utama. Katanya 2 jam lagi baru akan datang stok dari pabrik.

Sambil menunggu, kami mampir ke museum 3D yang sedang ‘in‘, De Mata Trick Eye Museum yang lokasinya nggak jauh dari toko bakpia itu. Sesampai disana, Meina dan Ike asik foto-foto sambil mengikuti petunjuk posisi supaya hasilnya maksimal. Aku, karena nggak terlalu suka difoto dan perutku sedang tak enak, hanya ambil beberapa foto dan selebihnya keliling-keliling.

IMG-20150607-WA0059

IMG-20150607-WA0043

Mendekati jam 15.30 sore, yang kata pegawai toko bakpia adalah jam datang stok bakpia, kami kembali ke toko bakpia. Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, datanglah stok bakpia yang ditunggu-tunggu. Dan langsung aku mendekati pegawai yang mencatat orderan, berseru-seru demi mengalahkan suara para ibu-ibu yang sudah ramai menyebutkan orderan masing-masing. Perjuangan banget nggak sih, cuma demi beberapa kotak bakpia aja? Haha…

Setelah perjuangan panjang untuk bakpia, kami menuju ke Keraton. Niat hati mau wisata keraton, tapi gagal karena lupa cek jam buka wisata keraton. Waktu kami tiba, jam wisata keraton sudah habis. Karena udah tanggung sampai plus bayar parkir (nggak resmi) termahal sepanjang perjalanan, kami mengiyakan tawaran bapak pengemudi becak untuk berkeliling di area abdi dalem keraton. Naik bentor.

IMG-20150607-WA0083

Mampir di 2 toko batik milik siapa-nya Sultan gitu, lalu ke galeri lukisan abdi dalem. Di galeri lukisan itu lah kami menghabiskan banyak waktu. Selain melihat-lihat lukisan jadi dan setengah jadi, ngobrol dengan si pelukis yang juga abdi dalem keraton, plus tawar-menawar lukisan yang akan dibawa pulang Meina. Jadilah sore udah gelap dan kami langsung kembali ke mobil.

IMG-20150607-WA0089

IMG-20150607-WA0068

Sebelum kembali ke penginapan, kami mampir di toko gelato yang direkomendasikan seorang teman. Konsep toko nya cozy and cute, dan harga gelato dan snack yang dijual pun cukup bersahabat dengan dompet.

IMG-20150607-WA0116

IMG-20150607-WA0105

IMG-20150607-WA0108

IMG-20150607-WA0111

IMG-20150607-WA0093

IMG-20150607-WA0092

IMG-20150607-WA0041

Selesai menikmati gelato kami menuju Malioboro. Kan katanya belum ke Jogja kalo belum ke Malioboro. Aku pun penasaran, kayak apa sih Malioboro yang jadi pusat daerah touristy di Jogja. Dan karena itu malam minggu, jalan menuju Malioboro pun macet lah. Pun sulit cari parkiran.

Hasratku berkeliling lenyap sudah melihat padatnya Malioboro. Entahlah, aku nggak menemukan sesuatu yang menarik untuk dikunjungi. Yang kulihat hanyalah orang, bus, mobil, motor, becak, delman, yang lalu lalang. Pusing eike cyin…

Akhirnya aku hanya masuk di beberapa toko batik, menemani Ike yang mencari entah oleh-oleh atau titipan teman. Sampai tokonya hampir tutup, dan akhirnya pindah toko. Setelah belanja, kami langsung kembali ke mobil. Meina dan aku sudah ngantuk luar biasa.

Kembali ke penginapan, makan malam di kedai nasi kucing depan penginapan, beres-beres bawaan, lalu tidur. Besok pagi kami harus berangkat jam 06.30 menuju stasiun Lempuyangan. Mengembalikan mobil dan sarapan juga akan kami lakukan disana.

07.00 kami tiba di stasiun Lempuyangan. Langsung lemas melihat kedai nasi brongkos yang kami idamkan untuk sarapan ternyata tutup pada hari Minggu. Yahhh… Jadilah kami sarapan yang lain. Dan langsung bersiap-siap menunggu kereta ke Jakarta.

Bye, Jogja. See you again next time.

Para Penambang di Kawah Ijen

Badannya coklat kehitaman. Cukup berotot. Tapi di belakang pundak kiri dan kanannya terdapat memar kehitaman, hampir menyerupai kapalan.

Dia berhenti. Beberapa detik. Ternyata ada yang mengambil foto dirinya. Ia berjalan lagi, menaiki bebatuan di depannya. Beberapa menit kemudian, dia berhenti lagi.

“Kalau capek, istirahat aja, Mbak,” katanya sambil menoleh pada kami dan meletakkan bawaan di pundaknya. Sepertinya dia yang lebih capek daripada kami.

Kami pun ikut berhenti dan beristirahat. Beberapa menit. Kemudian berjalan lagi mengikuti pergerakannya, si bapak yang saat itu tampak begitu fotogenik bagi para turis asing yang melihatnya. Buktinya, beberapa kali dia harus berhenti untuk difoto. Bukan, bukan berpose. Gerakan alaminya sudah melebihi pose model profesional.

2 keranjang kayu berukuran sedang, diikat dan disatukan dengan kayu panjang, dipikul di pundaknya. Sambil terus berjalan menaiki bebatuan yang sudah menjadi jalan bagi dia dan teman-temannya para penambang.

Rupanya kayu yang dipikulnya itulah yang meninggalkan bekas di bagian belakang pundaknya. Tidak, kayu dan keranjang itu tidak berat. Isi di atasnya lah yang berat. Bongkahan belerang.

Kira- kira 75 kilo, kata Pak Subeno, salah satu dari sekian banyak penambang belerang di Kawah Ijen, yang pagi itu merangkap menjadi guide kami menuruni dan menaiki Kawah Ijen.

75 kg? Hampir 1,5 berat badanku. Setiap hari beban seberat itu dipikul di pundaknya yang agak membungkuk. Eh bukan. Dalam sehari, Pak Subeno 2 kali mengangkut, jadi kurang lebih 150 kg belerang yang dipikul. Wow!

Berapa sih harga belerang itu?

“Murah, Mbak,” jawab Pak Subeno singkat tanpa memberikan angka persis. Sepertinya segan menyebutkan nominal.

“Bapak bawa turun belerangnya pakai troli?”

“Nggak, Mbak. Saya belum punya troli. Mahal.”

“Emang berapa harganya, Pak?”

“1 juta-an, Mbak. 1.500.000.”

Jadi, karena belum punya troli itulah, Pak Subeno harus 2 kali bolak- balik mengangkut belerang. Naik ke puncak 2 km, turun ke kawah 800 m, naik dari kawah 800 m, turun ke parkiran 2 km. Hampir 6 km yang harus ditempuh untuk sekali angkut.

Rute harian para penambang
Rute harian para penambang
Perjalanan yang harus ditempuh dari kawah ke puncak
Perjalanan yang harus ditempuh dari kawah ke puncak
Baru setengah perjalanan menuju puncak
Baru setengah perjalanan menuju puncak
Sebagian penambang di puncak
Sebagian penambang di puncak

“Kok bapak kuat sih?”

“Kekuatan saya datangnya dari Yang Maha Kuasa, Mbak.”

Speechless. Bukan kalimat pesimis yang keluar dari mulutnya. Bukan pula keluhan. That words, I called it FAITH.

Untuk menghidupi istri dan kedua anaknya yang bersekolah tingkat SD, Pak Subeno melakukan pekerjaan berat nan beresiko tinggi itu. Setiap hari memacu motor dari rumahnya di Banyuwangi ke Paltuding, titik masuk Gunung Ijen. Naik ke puncak Ijen dan menuruni bebatuan terjal menuju kawah berasap penuh bau belerang adalah rute sehari-hari sebagai penambang belerang.

Rp 1.025 sekilo. Begitu kata penambang belerang lain yang kami temui pada saat perjalanan turun.

Hah? Hanya Rp 1.025? Untuk perjalanan sejauh itu, waktu sebanyak itu, pekerjaan seberat itu dan resiko hingga menantang maut, yang diperoleh hanya nominal itu?

Pak Subeno hanya membawa pulang sekitar Rp 153.750 per hari. Padahal pekerjaan yang dilakukan sedemikian sulit dan menguras tenaga.

Lalu, bagaimana dengan penambang lain yang sudah lebih tua? Yang fisiknya sudah tidak sekuat Pak Subeno yang sanggup membawa beban 75 kg sekali angkut? Yang harus lebih sering istirahat karena nafas sudah lebih pendek? Yang tidak mampu menempuh 2 perjalanan bolak- balik setiap hari?

IMG-20160501-WA0002

Bandingkan dengan kita. Mungkin Rp 150.000 adalah uang jajan yang kita keluarkan sekali nongkrong. Harga troli Rp 1.500.000 mungkin hanya sepersekian harga gadget canggih yang kita miliki. Itupun terkadang kita masih mengeluhkan keadaan.

Salut dengan Pak Subeno, dan para penambang lain. Bertemu dengan banyak penambang, tidak sekalipun kami mendengar keluh kesah mereka. Sebaliknya, mereka yang melihat kami lelah mendaki, terus mendorong dan menyemangati kami.

“2 belokan lagi,” begitu kata para penambang yang menemani perjalanan kami naik Gunung Ijen. Dari pendakian dimulai hingga pos terakhir sebelum puncak, kalimat itu terus yang mereka ucapkan.

Benar juga, hanya ada 2 belokan, ke kanan dan ke kiri. Hanya butuh 2 belokan untuk tiba di puncak.

Hari itu, aku belajar banyak dari para penambang belerang di Ijen. Iman, mengucap syukur, tidak mudah mengeluh, pantang menyerah. Dan untuk mencapai puncak, hanya butuh 2 belokan.

Terimakasih, para bapak yang luar biasa!

Ctrl+C
Kami dan Pak Subeno

Journey to Jerusalem

Sebagai penganut agama Kristen, salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah Yerusalem, or what we called “The Promise Land”. Sama halnya dengan umat muslim dengan Mekkah sebagai tujuan wajibnya.

Tapi, buat aku, Yerusalem bukanlah tempat untuk dikunjungi seperti wisata pada umumnya. Bukan pula sekedar ziarah rohani, mengunjungi situs-situs yang pernah dikunjungi Yesus. Bagiku, perlu ada ‘panggilan’ untuk datang ke tempat tersebut. Makanya aku sebut perjalanan rohani, bukan ziarah rohani. Karena di dalam perjalanan, pasti akan menemukan sesuatu yang baru, berbeda dengan ziarah yang hanya mengenang masa lalu.

Dan akhirnya ‘panggilan’ itu datang di tahun 2015. Komunitas-ku kembali mengadakan perjalanan ke Yerusalem untuk ke-3 kalinya. Kali pertama dan kedua, aku biasa-biasa saja. Tapi waktu diumumkan perjalanan kali ketiga ini, entah mengapa ada suatu dorongan yang kuat di dalam diriku. “I have to be there!”

Singkat cerita, aku nekat mendaftar dan berangkat. Dengan segala keterbatasan dari seorang part time traveler and mostly backpacker. You know what I mean, right?

Karena keberangkatan dengan komunitas, jadi kami menggunakan jasa tur, dimana semua sudah disediakan dan kami hanya tinggal menyiapkan paspor dan tentu saja dana sebesar 2.700 USD. Mahal? Yes. Karena waktu keberangkatan kami adalah peak season, di saat musim perayaan tahun baru di Israel, juga masa Idul Adha bagi umat muslim.

Perjalanan rohani kali ini memakan waktu 10 hari, termasuk di perjalanan. Dan keberangkatan kami dimulai dinihari jam 01.30 menuju Abu Dhabi, transit beberapa jam untuk kemudian melanjutkan penerbangan ke Amman. Tiba di Amman, kami akan menuju Yerusalem lewat jalan darat dengan melalui lembah Yordan.

IMG-20160410-WA0043

Kota Amman, Yordania
Kota Amman, Yordania
Lembah Yordan
Lembah Yordan

IMG-20160410-WA0042

Sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya aku bersyukur pada Tuhan. Karena akhirnya mataku bisa melihat langsung tempat-tempat yang sering kubaca dan kudengar di Alkitab. Menginjakkan kaki di tempat yang disebut tanah perjanjian bukanlah hal yang sepele buatku. Thank you, Lord.

Perjalanan pergi memakan waktu hampir 22 jam. Berangkat 01.30 dan tiba sekitar 19.00 (waktu di Yerusalem 4 jam lebih lama dari waktu di Jakarta). What a day kan? Dan malam itu setelah makan malam, kami langsung mengadakan ibadah. Begitu pula dengan keesokan pagi dan malamnya. Setiap pagi dan malam kami mengadakan ibadah, betapapun capek dan ngantuknya kami. Yup, that’s part of the journey.

Kemana saja kami? Seperti rombongan tur pada umumnya, kami mengunjungi lokasi touristy, but with a purpose. Kami mengunjungi sungai Yordan dan sebagian besar dari kami merasakan dibaptis di sungai tersebut. Kami juga menyaksikan fenomena Blood Moon terakhir dari rangkaian tetrad (google aja ya, kalo dijelasin bakal panjanggg…). Kami juga ke Kana, tempat mujizat pertama yang dilakukan Yesus di sebuah pernikahan. Juga kami mampir ke Succat Haleel, rumah doa di Yerusalem, dimana tim kami diundang untuk mengisi 1 sesi doa disana. Lalu ke Danau Galilea, Kapernaum, Bukit Tabor, Lembah Karmel, Padang Gembala, City of David, Haifa (this city is a total beauty), Garden Tomb (kubur Yesus), Qumran, Jericho, Holocaust Museum, Upper Room, Old City of Jerusalem, Wailing Wall.

Yardenit, The Baptismal Site
Yardenit, The Baptismal Site

IMG-20160410-WA0048

The Blood Moon
The Blood Moon
Menanti Blood Moon
Menanti Blood Moon
Our team at Succat Haleel
Our team at Succat Haleel
Salah satu sudut Gereja Kana
Salah satu sudut Gereja Kana
Danau Galilea
Danau Galilea
Di atas perahu menyeberangi Danau Galilea
Di atas perahu menyeberangi Danau Galilea
Kapernaum
Kapernaum
Lembah Karmel
Lembah Karmel
The beautiful Haifa
The beautiful Haifa
Qumran, near Dead Sea
Qumran, near Dead Sea
Mount Temptation
Mount Temptation
Old City of Jerusalem
Old City of Jerusalem

IMG-20160410-WA0035

Keramaian di sekitar Wailing Wall
Keramaian di sekitar Wailing Wall

IMG-20160410-WA0034

Persis di tanggal 1 Oktober, kami mengikuti parade yang diadakan di jalan-jalan utama Yerusalem. Parade tersebut diikuti oleh rombongan dari bangsa-bangsa di seluruh dunia yang datang ke Yerusalem. Starting point hingga finish point berjarak sekitar 5 km, dan karena parade dilakukan dengan berjalan kaki, jarak tersebut ditempuh dalam 3 jam. Dan selama parade, kami membagikan souvenir yang kami bawa dari Indonesia kepada warga yang menonton parade. Mulai dari membagi ke anak-anak kecil di sekeliling kami, hingga melemparkan ke arah warga yang berdiri menyaksikan parade dari balkon rumahnya. Juga sepanjang 3 jam, rombongan kami terus bernyanyi penuh semangat dan tanpa henti, hingga keriuhan tim kami mengalahkan rombongan negara lain yang bawa speaker. And a new song came out that time, membuat orang-orang di pinggir jalan maupun rombongan lain mengikuti nyanyian kami yang cuma terdiri dari 4 kata diulang-ulang. Seru abis!

Siap untuk parade
Siap untuk parade

IMG-20160410-WA0050

Keramaian di parade
Keramaian di parade

Seminggu kami di Yerusalem, menginap 2 malam di Tiberias, dekat Danau Galilea, dan 4 malam di Bethlehem. Malam berikutnya kami menginap di Dubai, karena perjalanan pulang kami singgah di Dubai dan Abu Dhabi untuk sightseeing dan ‘main’ di Ferrari World.

Burj Al Arab
Burj Al Arab
Burj Khalifa
Burj Khalifa
The Atlantis Hotel
The Atlantis Hotel

IMG-20160410-WA0010

This is Rossa Coaster, 240 km/jam
This is Rossa Coaster, 240 km/jam

Heading home, penerbangan dari Abu Dhabi menuju Jakarta memakan waktu 8,5 jam. Aku yang sudah sangat lelah langsung tertidur sesaat setelah pesawat take off.

Eh, yang nggak kalah seru dari perjalanan kali ini adalah… Aku bertemu seorang teman SMP-ku disana! Pas lagi belanja di suatu toko, tiba-tiba ada seorang dari rombongan lain yang menyebut namaku waktu papasan. Lah, ternyata temanku yang sudah lama banget nggak ketemu. Dia bersama istri dan rombongan gereja-nya juga mengambil rute yang hampir sama dengan kami. Makanya disana aku beberapa kali bertemu dengan temanku itu. Haha… Siapa sangka bertemu teman lama di tempat yang jaraknya ribuan kilometer.

Perjalanan rohani-ku ke Yerusalem memang sudah berlalu. Tapi, perjalanan rohani-ku sebagai makhluk ciptaan Tuhan belum berakhir. Semua pencerahan dan pewahyuan yang kudapat selama perjalanan itu, menjadi bekal untuk aku terus menjalani hidup sebagai manusia yang mengandalkan Tuhan dalam segala hal.

Jalan-jalan Ke Jogja : Serba Irit

Semalam kami sudah bertekad akan bangun sekitar jam 5 supaya bisa melihat sunrise. Apa mau dikata, kami baru bangun jam 5.45 dan di luar sudah mulai terang. Buru-buru lah kami bersiap-siap. Semoga masih keburu.

Mobil pun kami bawa ke dekat karang besar di pinggir pantai. Kami berniat menyaksikan sunrise dari situ karena posisi nya agak tinggi. Tapi karena sudah jam 6 pagi, matahari sudah menyembul di sebelah timur. Kami berjalan menaiki tangga bambu yang disusun untuk menaiki karang besar itu. Berjalan terus menuju puncak, kayak theme song AFI.

Tangga menuju puncak 😃
Tangga menuju puncak 😃

Perlahan tapi pasti, matahari muncul di balik perbukitan. Sinar matahari pagi memantul di atas laut selatan yang selalu berombak, meskipun pagi hari itu ombak tidak seganas kemarin sore.

IMG-20150605-WA0049

IMG-20160206-WA0004

IMG-20160206-WA0000

IMG-20160206-WA0005

20150605_062540

IMG-20160206-WA0007

Setelah menyaksikan prosesi sunrise sampai matahari bulat benar-benar bersinar, kami turun dari karang tersebut dan menjelajahi daerah sekitar. Di dekat situ ada sebuah bukit yang sepertinya bisa dinaiki. Sebenarnya dari kemarin aku sudah pengen kesana, tapi karena sudah sore dan masih harus cari penginapan, urung deh. Pagi ini, akhirnya kami memutuskan kesana, kalau memang bukit itu bisa dinaiki.

IMG-20160206-WA0015

IMG-20160206-WA0014

Sampai di kaki bukit, mobil kami parkir. Bukitnya nggak terlalu tinggi sih sebenarnya, dan sudah dibuatkan jalan untuk ke atas, tapi masih ditutup. Mungkin belum selesai jalan nya. Kami pun berjalan kaki ke atas, menapaki jalan dari semen yang sudah disiapkan.

Namanya Bukit Giri Sarangan. Sepanjang perjalanan menanjak, kami bisa melihat sisi-sisi lain di sekitar pantai Krakal. Ombak memecah di bawah bukit batu di sebelah kanan kami. Di kiri kami pantai Krakal.

Tiba di puncak, ternyata dibuat berbentuk lingkaran dan rata. Jadi kami bisa ambil view panorama 360°. Meina malah bikin video sambil berputar-putar menunjukkan view sekeliling kami.

20150605_071449

20150605_071200

IMG-20160206-WA0012

IMG-20150605-WA0072

Sekitar 15 menit saja di puncak, dan kami harus turun lagi. Maklum sudah jam 7 lewat, dan kami belum sarapan dan mandi. Turun bukit, kami langsung memesan mie instan di warung yang ada persis di kaki bukit. Mie instan lagi? Iya. Kan persediaan uang kami sangat terbatas 😁 (baca : Jalan-jalan Jogja : Oh Paradiso).

Kami makan lama juga, sambil ngobrol ngalor ngidul. Eh baru saja kami mau pergi, seorang anak laki-laki kecil menghampiri kami dan menyalami kami “Salim, salim,” begitu katanya dengan senyum sumringah. Ternyata anak itu cucu dari pemilik warung. Saking ramahnya anak tadi, kami mengurungkan niat untuk pergi dan mengikuti anak tadi masuk ke dalam.

Namanya Ihsan. Senyum lebar terkembang di wajahnya. Bahkan dia menyapa kami, orang asing yang belum pernah dilihat dan mencairkan suasana. Akhirnya kami ngobrol sebentar dengan ibu tua pemilik warung dan anaknya (ibu-nya Ihsan yang terlihat masih sangat muda), dan seorang pengunjung warung yang sepertinya teman si ibu tua. Dan nggak lupa sebelum pulang, kami mengabadikan momen tersebut. What a lovely kid they have.

IMG-20160206-WA0009

Setelah ber-dadah-dadah ria dengan Ihsan dan keluarga nya, kami kembali ke penginapan. Harus ngebut mandi dan siap-siap, karena kami akan ke beberapa lokasi lagi sebelum kembali ke kota.

Penginapan kami dan si ibu penjaga
Penginapan kami dan si ibu penjaga

Jam 10 kami meluncur pergi setelah menyelesaikan urusan bayar-membayar. Tujuan kami berikutnya : pantai Siung dan pantai Jogan.

Keluar area pantai Krakal, kami memacu mobil ke arah kanan. Pemandangan di jalan hampir sama dengan kemarin. Dan kami melewati beberapa pantai, salah satunya pantai Indrayanti yang paling ramai dan terkenal di daerah Gunungkidul, hingga disebut Kuta-nya Yogyakarta. Juga pantai Nglambor yang ruame banget pas kami lewat, yang ternyata pantai buat snorkeling selain Sadranan.

Nggak sampai setengah jam, aku melihat plang pantai Jogan. Kami baru akan belok menuju pantai Jogan, dan kami melihat petugas berseragam berdiri. Bayar biaya masuk Rp 5.000/orang. Beuh! Spontan kami ingat uang kami yang sudah sangat tiris itu. “Di dalam bayar lagi nggak, Pak?” Ike udah mulai jutek. Ya iya lah, untuk bayar parkir aja harus mengais dompet dan kantung, juga selipan-selipan di tas atau apapun.

“Nggak kok, mbak. Paling parkir aja.”

Dengan berat hati aku menyerahkan 3 lembar Rp 5.000. Semoga benar kata si bapak, nggak ada bayar apa-apa lagi nanti.

Memasuki area pantai Jogan, jalanan sempit berbatu dan menurun, hanya cukup untuk 1 mobil. Untunglah Meina cukup jago menyetir dan parkir meski di area sempit begitu.

Sekitar 50 m dari tempat parkir, sudah terlihat pantai Jogan. Tidak seperti pantai berpasir, pantai Jogan ini pantai bertebing batu dan posisi kami di atas tebing batu.

Yang unik dari pantai Jogan ini adalah ada ‘air terjun’ di pantai nya. Jadi dari atas tebing batu mengalir air ke bawah seperti air terjun mini. Meskipun nggak besar, pemandangan seperti itu cukup menjadi identitas sendiri untuk pantai Jogan.

DSCN1081

DSCN1073

20150605_110214

20150605_110317

Setelah 30 menit menghabiskan waktu di pantai Jogan, kami meluncur lagi. Kali ini menuju pantai Siung, yang pernah dikunjungi tim My Trip My Adventure.

Pantai Siung punya area berpasir yang sangat luas. Lebarnya mungkin beberapa ratus meter. Dan di sisi nya terdapat area tebing-tebing yang bisa digunakan untuk turun tebing, atau istilahnya rappelling, yang pernah dilakukan di salah satu sudut Pantai Siung oleh Denny Sumargo, host senior My Trip My Adventure sekaligus host favorit saya. Oke, lupakan yang terakhir. Personal bias. Hehehe…

Karena kami memang nggak punya banyak waktu untuk dihabiskan, dan aku pun baru sembuh dari keseleo, nggak mungkin kami main ke area tebing-tebingan. Jadilah kami hanya main di sekitar pasir dan batu-batu di pinggir pantai.

Dan Meina datang dengan sebuah ide. Bikin video lari di pantai. Tapi dari tengah ke salah satu pinggir. Kalo dari ujung ke ujung kayaknya kami bakal kehabisan napas sebelum sampai. Yah, maklumlah, kami kan karyawan kurang olahraga. 😁

IMG-20150607-WA0135

IMG-20150607-WA0141

IMG-20150607-WA0132

IMG-20150607-WA0134

Setelah main sebentar di tengah batu-batuan di pinggir, kami pun meluncur lagi. Kami harus keluar area Gunungkidul dan menuju daerah Bantul, sebelum kembali ke kota Yogyakarta.

Di tengah jalan, aku melihat ATM. Langsung kami hentikan mobil dan tarik dana dari ATM. Akhirnya nggak lagi harus mengais dompet demi mencari lembar demi lembar rupiah.

Pas pula di sebelah ATM ada warung jadi kami langsung beli minuman dingin. Sedari tadi berangkat dari hotel kami belum minum yang lain selain air putih sebotol bertiga. Iya, tadi kami emang ngirit banget. 😂

Setelah mengamankan dompet, kami jadi lega. Bisa makan dengan tenang. Dan mengisi perut sebelum kami menuju ke air terjun Sri Panjung di Kabupaten Bantul yang jaraknya lumayan jauh.

Mengandalkan GPS demi mencari air terjun Sri Panjung, ternyata belum ada lokasi nya di Google Map. Akhirnya tujuan kami ganti jadi nama desa nya, selebihnya manual, nanya orang.

Sesampai di desa Jatimulyo, mulailah bingung menentukan arah. Dan setelah bertanya sana-sini, kami menemukan juga jalan menuju air terjun. Sempit. Dan makin lama makin sempit. Sampai kami tanya orang naik motor, eh ternyata dia juga lagi nyari lokasi yang sama. Akhirnya ibu-ibu penduduk lokal mengarahkan kami ke jalan yang hanya selebar 1 mobil pas, bahkan kalo papasan sama motor nggak bisa lewat. Tapi itulah satu-satunya jalan menuju Sri Panjung. Katanya sekitar 1 km lah jalan itu.

Dengan ragu-ragu kami lewati jalan kecil nan sempit itu. Ibu-ibu penduduk lokal tadi naik motor di belakang kami, sepertinya menuju arah yang sama. Dengan sabar beliau memacu motornya mengikuti mobil yang bergerak perlahan. Maklum, jalannya cuma disemen, berkelak-kelok, agak menurun, dan tanpa penunjuk jalan.

Akhirnya tibalah kami di tanah agak lapang dan terlihat beberapa mobil dan motor diparkir. Juga warung kecil yang menjual minuman dan gorengan. Dan ternyata kami sudah tiba. Tapi untuk mencapai air terjun, kami masih harus menyusuri jalan dan tangga yang sudah dibangun. Sekitar 15 menit berjalan, barulah kami akan sampai di air terjun.

Air Terjun Sri Panjung sendiri berada di kawasan Hutan Lindung Bantul. Pemandangan dari parkiran aja sudah menyejukkan mata. Sejauh mata memandang terlihat pepohonan hijau dan aliran sungai kehijauan. So refreshing!

IMG-20150607-WA0147

IMG-20150607-WA0146

IMG-20150607-WA0151

IMG-20150607-WA0152

Setelah menyusuri tangga menurun dan jalan dari semen di depannya, jalan pun terpecah dua, tangga menurun lagi ke bawah atau lurus tapi di depannya jalan tanah. Kami terus ke depan mengikuti jalan tanah yang makin lama makin sempit dan tak jelas bentuknya. Kan biasanya makin susah medannya, makin worth it yang ditemukan. Sampai di suatu titik, jalan di depan semakin tak terlihat karena ranting pohon dan rerumputan menutupi jalan yang makin sempit dan bersisa lebar 30 cm dan sisi kiri langsung jurang. Secara kami cuma pakai sandal jepit, celana pendek, jalan setapak licin pula sampai kami harus berpegangan tangan supaya nggak jatuh. Kami memutuskan untuk nggak lanjut, karena terlalu beresiko dengan kondisi kami yang kurang persiapan dan kakiku yang belum bisa dipakai di medan yang tak jelas. Padahal di depan kami tadi ada 3 pria menyusuri jalan yang sama dan entah udah dimana saking cepatnya mereka jalan. Coba tadi mereka nggak terlalu cepat, at least kami bisa tahu arah di depan kan. Mungkin mereka udah sering kesini kali, pikirku.

IMG-20150607-WA0155

IMG-20150607-WA0160

IMG-20150607-WA0156

Akhirnya, kami berhenti di situ. Melihat air terjun Sri Panjung dari seberang. Lalu berbalik, dan mencoba mengambil tangga menurun yang tadi kami lewati. Dari arah bawah terdengar banyak suara orang yang tertawa. Dan di saat itu, meski aku nggak terlalu suka keramaian di alam, suara tawa orang-orang jadi semacam pencerahan kalau kami nggak nyasar.

Kami pun menuruni tangga sampai ujung dan berakhir di sungai. Dan disana nggak ada orang lain selain kami bertiga. Lalu, suara tawa ramai itu dari mana datangnya? Tenang aja, ini bukan cerita horor. Ternyata sekitar 50 meter dari titik kami berdiri, ada rombongan yang lagi main di air terjun Sri Gethuk yang tersohor dan emang lokasinya berdekatan dengan Sri Panjung. Mereka naik semacam kapal gitu, seperti yang pernah aku baca di blog orang. Karena kami anti mainstream, makanya kami pilih mengunjungi Sri Panjung bukan Sri Gethuk, tanpa tahu kalau lokasinya segitu dekat. Tahu gitu…

IMG-20150607-WA0174

IMG-20150607-WA0163

IMG-20150607-WA0162

IMG-20150607-WA0166

IMG-20150607-WA0121

Karena hari sudah sore dan kami harus keluar dari lokasi sebelum gelap, jam 5 kami sudahi bermain di sungai berbatu-batu itu. Naik ke titik awal kami sampai tadi benar-benar peer banget. Antar anak tangga nya tinggi dan jarak ke parkiran lumayan bikin ngos-ngosan. Terpaksa kami jajan di warung dekat parkiran demi mengganjal perut.

Akhirnya sebelum hari benar-benar gelap kami meluncur lagi. Melewati lagi jalan sempit selebar 1 mobil tadi. Dan langsung memasang lokasi pada GPS. Kembali ke kota Yogyakarta.

Jalan masuk dan keluar area Sri Panjung
Jalan masuk dan keluar area Sri Panjung

IMG-20160214-WA0000

Menepi sebentar demi foto dari tempat tinggi
Menepi sebentar demi foto dari tempat tinggi

Sempat tersasar waktu mencari penginapan yang sudah kami booking dan bayar, karena GPS malah menunjukkan lokasi lain. Tiba di penginapan, langsung bongkar muatan. Tadinya mau makan ke Malioboro atau tempat makan terkenal dekat situ, tapi batal karena kami sudah males dan nggak mau tidur terlalu malam. Besok kami harus berangkat jam 4 subuh. Dan kami pun hanya makan nasi kucing di depan penginapan.