Tag Archives: trip

JADI BACKPACKER GEMBEL

Aku dan Meina berniat camping di Pantai Gatra. Berhubung pagi hari berikutnya kami sudah reservasi akan ke Pantai Tiga Warna jam 7 pagi, daripada repot mending dari malam kami sudah menginap disana. Hasil googling dan blogwalking, katanya di Pantai Gatra bisa camping dan tersedia sewa tenda Rp 25.000/tenda dan sewa lahan juga Rp 25.000/tenda. Jadi cuma Rp 50.000 semalam untuk berdua. Murah banget!

Begitu tiba di parkiran mobil Pantai Gatra, hari sudah gelap. Sekitar jam 18.30. Untuk ke pos 1, kami harus naik ojek. Murah sih cuma Rp 5.000. Dari pos 1 yang kosong, kami jalan sedikit ke pos 2 dan mendaftarkan diri kami disitu. Dan kami pun mendapat kabar buruk, tenda yang biasa disewakan RUSAK SEMUA!

Jreng!!! Padahal kami sudah berencana mau hunting foto Milkyway disana gara-gara liat postingan foto Milkyway kak @amrazing yang kece-kece.

IMG-20160811-WA0000
Bikin mupeng nggak sih foto Milkyway nya?

Para petugas menyarankan kami untuk cari homestay di sekitar situ, tapi adanya di jalan utama dan harus keluar parkiran pula. Kami keukeuh mencari tenda atau apa saja yang bisa dipinjam, asalkan tetap di area pantai Gatra. Awalnya petugas-petugas nggak menyarankan kami kesana, selain karena kami nggak bawa tenda, juga karena kami hanya cewek berdua.

Tapi karena kami ngotot maunya di area pantai dan mau ngirit nggak mau homestay, akhirnya salah satu petugas bilang, ada sih warung disana yang dijaga ibu-ibu. Tapi warungnya terbuka gitu. Kalo emang kami mau tetap di area pantai, mungkin bisa disana. Tapi kami disuruh lihat dulu aja, kalo emang berani tidur di warung, ya silakan aja. Kalo nggak, ya nanti balik lagi dan cari homestay di luar.

IMG-20160811-WA0011
Pengecekan barang di pos 2

Berhubung jarak dari pos 2 ke warung lumayan jauh, melewati kebun-kebun dan TANPA penerangan sama sekali, para abang ojek yang tadi mengantar kami dari parkiran sampai pos 2, disuruh antar kami sampai warung. Dan bener dong, kami berjalan  gelap-gelapan sekitar 15 menit di tanah berbatu dan pasir dengan sisi kanan kiri kami pepohonan. Untungnya aku dan Meina bawa senter.

Setelah tiba di warung yang dimaksud dan melihat kondisinya, tanpa harus berdiskusi panjang lebar, aku dan Meina sepakat untuk : Hajar, bleh! Masih manusiawi kok bentuknya. Meskipun nggak ada tembok tapi masih ada atap dan ditemani oleh 2 ibu baik hati yang begitu mendengar cerita kami langsung mengijinkan kami menumpang tidur di warung berbentuk pendopo sederhana dari kayu dan bambu itu.

Haduh, maap ya Bu jadi merepotkan. Bu Yatmi dan Bu Pangestu jadi harus beberes sajadah dll yang ada di mushola berukuran 2 x 1 m yang malam itu akan jadi tempat tidur kami.

Oya, 2 abang ojek yang mengantarkan kami, sempat mengantar kami ke pantai Gatra yang berjarak sekitar 20 m dari warung. Ceritanya kami tetap mau ambil foto Milkyway. Kan tujuan utamanya itu. Ada sih Milkyway nya dan lumayan jelas terlihat. Tapi… Kami nggak bisa-bisa foto Milkyway-nya. Pakai smartphone, sama sekali nggak ketangkap. Pakai DSLR, nggak ngerti setting-nya padahal udah coba macam-macam. Maklum, Meina sudah lama nggak pakai DSLR itu. Dan jarang pula dibuat foto di gelap-gelapan untuk nangkap objek cahaya kecil-kecil yang jaraknya ribuan mil gitu.

Dan hanya 5 menit di Pantai Gatra, awan pun datang. Halah… Tertutup lah semua titik-titik kecil cahaya bintang. Padahal kami belum berhasil dapat foto Milkyway. Jadi, misi kami memfoto Milkyway gagal total!

Balik lah kami ke warung. Dan setelah kami membayar ongkos ojek dan tip, 2 abang ojek kembali ke pos 1 dengan berjalan kaki tanpa senter! Katanya, bulan aja yang jadi penerang. Haha… Sok puitis!

Saat itu untung kami bawa kain Bali yang bisa dijadikan alas tidur. Handuk juga kami sampirkan di dinding pendopo yang terbuat dari papan kayu berjejer dengan sela sekitar 1-2 cm di antara setiap kayunya dan tingginya nggak sampai semeter. Untuk menahan angin yang berembus dari sela-sela kayu. Trus selimutan pakai selimut hasil pinjam teman.Ransel jadi bantal.

Baru jam 8 malam sih. Kami sudah siap tidur, sambil sesekali mengobrol. Bu Yatmi dan Bu Pangestu pun sudah menggelar kasur yang memang mereka gunakan untuk istirahat setiap malam.

IMG-20160811-WA0006
Bu Yatmi dan warungnya, kami bobo di pojok kanan (photo by Meina)

Oya, warung itu berjarak 3 meter dari deretan toilet yang hanya ada disitu di kawasan 5 pantai termasuk Gatra dan Tiga Warna. Untunglah, mau ke toilet nggak usah jauh-jauh. Tapi…

Lama-lama berasa nggak enak-nya berada dekat toilet. Aroma tak sedap segera menyerang hidung. Meskipun semua toilet dalam kondisi kosong. Meina langsung minta parfum untuk disemprot ke badan dan selimut, untuk menghalau aroma toilet. Tapi hanya bertahan 10 menit paling lama. Aku pun punya ide, tisu basah ditempel di hidung. At least aroma tisu basah akan lebih kuat daripada toilet.

Lalu… Tak lama kemudian, gerimis mulai turun dan makin lama makin deras, disertai hembusan angin pula. Kami pun kena tampias air hujan. Plus angin membawa aroma toilet semakin kencang. Dan suara kresek-kresek di belakang warung, kata Bu Yatmi, “Palingan tikus.” Haduh… Semoga tuh tikus nggak sampai merambat di ‘tempat tidur’ kami.

Aku pun mulai tak betah. Pakai selimut gerah, buka selimut kena tampias hujan dan digigitin nyamuk. Punggung juga pegal karena langsung berhadapan dengan kayu. Haduh… Sepanjang malam tidur nggak pulas dan sedikit-sedikit bangun. Hingga pagi pun tiba. Akhirnya…

Pagi hari kami berkeliling area 5 pantai di sekitar. Ditemani seorang guide, Pak Darman, kegembelan kami pun bertambah. Kami menyusuri area 5 pantai dengan nyeker. Awalnya sih pakai sandal jepit, tapi karena habis hujan semalam jadi tanah lengket dan menempel di sandal kami, membentuk sandal jepit kami seperti wedges berlapis tanah. Daripada sedikit-sedikit bersihin tanah, dan harus super hati-hati karena lebih licin, Pak Darman menyarankan kami untuk nyeker seperti beliau. Ya sudahlah ya.

IMG-20160811-WA0012
Tebak kaki siapa ini?

IMG-20160811-WA0002

IMG-20160811-WA0009

Selesai menyusuri 5 pantai, beliau pun berbagi bekal makan siangnya dengan kami yang sudah tampak kelaparan kelelahan. Jadi bekal yang disiapkan istrinya, nasi jagung dengan lauk ayam kecap, dituang di daun pisang untuk dimakan bertiga. Masih kurang gembel, sis?

IMG-20160811-WA0007

IMG-20160811-WA0015

IMG-20160811-WA0003

Menjelang siang kami mandi dan beberes di warung untuk kembali ke Malang. Kami pun pamitan dengan kedua ibu yang sudah rela memberikan tempatnya untuk kami jajah semalam, dan juga Pak Darman. Dan tahu nggak, kami benar-benar nggak bayar lho tidur di warung itu. Kami cuma bayar pemakaian toilet berapa kali bolak-balik dan sarapan serta jajan-jajan yang lumayan banyak.

Terimakasih Bu Yatmi dan Bu Pangestu, sudah mengijinkan kami merasakan jadi backpacker gembel semalam. Terimakasih Pak Darman, sudah membantu menambah tingkat kegembelan kami. 😀😁😂

IMG-20160811-WA0005

IMG-20160811-WA0014

All photos credit to Meina. Berhubung kesalahan teknis waktu mindahin foto dari handphone-ku, nyaris semua foto di handphone hilang. Jadi, pakai foto-foto yang diambil Meina deh. 😅

Note : Kalau mau camping di Pantai Gatra, lebih baik bawa tenda sendiri. Atau, kalau nggak punya tenda, bisa memesan tenda saat pesan tempat di Pantai Tiga Warna, supaya disiapkan tenda yang masih berfungsi oleh petugas. Jangan sampai kayak kami ya, terpaksa ngegembel semalaman. 😅😁

SI CANTIK DARI LAMPUNG : PAHAWANG

Waktu bilang mau ke Lampung, kebanyakan orang tanya, “emang di Lampung ada apa?” Aku sendiri pun belum tau ada apa saja di Lampung. Tapi mulai sering dengar kalau Lampung itu indah. Salah satu yang kini sudah terkenal : Pahawang.

Traveling ke Pahawang kali ini ramai-ramai dengan teman kantor plus teman-teman lainnya. Awalnya sih mau rombongan teman-teman kantor, tapi karena kurang kuota dan banyak yang batal mendadak, akhirnya jadilah open trip dengan teman-teman lainnya. My fellow traveler, Meina, yang 2 bulan sebelumnya berpetualang bersamaku ke Bromo, Ijen, dan Malang, ikut juga setelah aku mengeluarkan jurus rayuan pulau kelapa, padahal sebelumnya sempat galau menerima ajakanku atau tidak.

Trip kali ini ala backpacker dan tidak menggunakan jasa agen manapun. Itinerary, budgeting, dan nego-nego semua diurus oleh teman kantorku, Jessieca. Kami hanya mengeluarkan uang Rp 400.000 all in dari Bakauheni dengan peserta 16 orang. Jadi tinggal mengeluarkan biaya dari dan ke Merak dan fery Merak – Bakauheni pp aja. Sesampai di Bakauheni, kami sudah dijemput oleh mobil sewaan, diantar ke dermaga Ketapang, dan ditunggu oleh kapal nelayan sewaan yang akan mengantar kami keliling Pahawang dan sekitarnya selama 2 hari, juga homestay dan makan 5 x.

P_20160625_081110_1

IMG-20160807-WA0018
Dermaga Ketapang

IMG-20160807-WA0019

Dari Dermaga Ketapang, kami langsung ke pulau Kelagian Kecil. Setelah itu snorkeling, mampir makan siang di Pahawang Kecil, snorkeling dua kali lagi, baru sore hari menuju homestay di pulau Tanjung Putus.

1466989773691
Pulau Kelagian Kecil (photo by Jessieca)
1466989764489
View dari Kelagian Kecil (photo by Jessieca)
IMG-20160807-WA0020
Suka banget foto ini!

IMG-20160807-WA0040

IMG-20160807-WA0041
Pahawang Kecil
IMG-20160807-WA0039
Cottage orang tuh
IMG-20160808-WA0010
Cottage milik orang Perancis di Pahawang Kecil (photo by Sasa)
IMG-20160807-WA0023
Sisi Pahawang Kecil
IMG-20160807-WA0008
Office mates

Hari pertama kami full snorkeling supaya di hari kedua sudah nggak basah-basahan lagi. Untunglah guide kami, Mas Yanto, orangnya asik. Saat snorkeling, dia banyak membantu kami yang nggak bisa berenang ataupun bisa berenang tapi takut-takut. Bahkan saat snorkeling di spot ke-3, doi lah yang setengah memaksa kami yang sudah lelah dan sebagian besar nggak bisa berenang untuk tetap masuk ke air demi berfoto dengan tulisan “Pulau Pahawang Wisataku” dibantu oleh doi. Dan aku pun memberanikan diri mengikuti sarannya, padahal aku nggak bisa berenang, snorkeling aja kadang galau, apalagi diving ataupun freedive. Maklum, waktu kecil aku pernah 2 kali tenggelam : di empang dan sungai, jadi agak sedikit ngeri berada di dalam air. Tapi berkat dorongan doi lah, aku bisa mengalahkan ‘takut tenggelam’ dan ternyata di dalam air nggak semenakutkan bayanganku. Maklum, waktu kecil aku pernah 2 kali tenggelam : di empang dan sungai, jadi agak sedikit ngeri berada di dalam air. Malah asik juga rasanya masuk ke dalam air, and without doing anything I can still come to the surface.

20160625_113401

20160625_152548

IMG-20160807-WA0038

IMG-20160807-WA0043

IMG-20160807-WA0011

1466989934476

IMG-20160807-WA0030

IMG-20160807-WA0015

Malam hari kami makan ikan bakar yang ditangkap sendiri oleh guide kedua kami, Mas Dani. Hebat tuh orang, di tengah-tengah kami snorkeling, doi ditinggal di tengah laut untuk spear fishing dan melanjutkan berenang ke Tanjung Putus. Mungkin sekitar 3-4 jam doi berenang dari lokasi ditinggal di laut sampai tiba di homestay kami dengan membawa ikan-ikan hasil tangkapan yang jumlahnya nggak sedikit.

P_20160625_174835
Menikmati sunset
IMG-20160807-WA0007-1
Ikan bakar endeuz…

Esok pagi, kami island hopping ke beberapa pulau sebelum kembali ke dermaga Ketapang. Tapi karena air sedang tinggi, kami hanya bisa mampir ke 1 pulau dari rencana 3 pulau. Itupun kapal nggak bisa merapat ke pantai karena sebagian besar pantai sudah terendam air. Tapi, karena pantai di pulau Balak itu BAGUS BANGET, kami jadi sedikit berbasahan lagi demi bisa mengambil foto di situ.

IMG-20160807-WA0016
Menanti sunrise
IMG-20160807-WA0010
Ternyata matahari tertutup awan

IMG-20160807-WA0026

IMG-20160807-WA0033

IMG-20160807-WA0048
Pulau Balak dari jauh

IMG-20160808-WA0008

IMG-20160807-WA0034

P_20160626_092147_HDR
Ini bukan floating lho

IMG-20160807-WA0005

IMG-20160807-WA0014

Setelah itu kami hanya bisa melewati pulau Lunik yang nyaris seluruh pantainya terendam air, dan kembali ke dermaga Ketapang. Sepanjang perjalanan, aku melihat pulau-pulau yang kami lewati sebagian besar terendam air sampai tinggi, bahkan sebagian pohon di pantai ikut terendam.

IMG-20160808-WA0001
Pulau Lunik yang hanya dilèwati
IMG-20160808-WA0004
Pantainya lenyap terendam air

Padahal pas kemarin kami lewati dalam perjalanan menuju spot snorkeling ataupun homestay, pulau-pulau itu masih terlihat pantainya. Well, air memang lagi tinggi-tingginya. Makanya kemarin kami juga nggak bisa mampir ke beberapa spot snorkeling dan gosong (pasir timbul). Untunglah pantai-pantai yang masih sempat kami kunjungi pun bagusnya nggak kira-kira, jadi terbayarlah semua perjuangan ala backpacker kami menemukan salah satu serpihan surga di Lampung.

See you next time, Pahawang! We’re happy having you here in Indonesia!

IMG-20160808-WA0000

IMG-20160807-WA0006

Jalan-jalan ke Jogja (End)

Menurut salah satu blog yang aku baca, kalau mau ke Bukit Punthuk Setumbu, sebuah bukit yang kini jadi tambah terkenal setelah jadi salah satu lokasi syuting AADC 2, sebaiknya jam 3 pagi sudah jalan. Karena lokasinya sekitar 2 jam perjalanan dari kota Yogyakarta, tepatnya di dekat Candi Borobudur, kota Magelang. Ya, paling nggak jam 5 pagi kami sudah sampai parkiran Bukit Punthuk Setumbu supaya bisa naik dengan santai dan tiba di puncak bukit tepat waktu untuk menyaksikan pemandangan sunrise yang menakjubkan.

Apa daya? Meskipun kami sudah mandi di malam hari sebelum tidur supaya pagi nggak telat berangkat karena mandi, kami baru bangun jam 03.00. Mengumpulkan nyawa, cuci muka, gosok gigi, dan siap-siap lainnya. Jadinya jam 3.30 kami baru berangkat.

Jam 5.40 kami tiba di persimpangan Borobudur. Banyak ojek yang menawarkan diri mengantar kami ke Punthuk Setumbu, begitu melihat arah belokan kami. Harga yang ditawarkan dari 100.000, turun jadi 75.000 beberapa menit kemudian, hingga waktu kami meneruskan jalan, seorang bapak ojek memberi harga 40.000 saja. Karena kami sudah nggak punya waktu untuk nyasar, meskipun pakai GPS, kami memakai jasa bapak itu. Maklum, GPS kan kadang suka kasi petunjuk arah yang ‘ajaib’.

Ternyata arah yang ditunjukkan si bapak sama persis dengan GPS. Rugi deh. Ya, at least kami nggak perlu berhenti karena ragu sama arahan GPS. 10 menit kemudian kami tiba di parkiran. Jam 05.50. Sudah lumayan terang.

Kami pun bergegas membayar bapak ojek, berjalan menuju loket pembayaran tiket masuk. Rp 15.000/orang. Dan bersegera mungkin menaiki tangga ke puncak. Sudah jam 05.55.

Baru menapaki anak tangga pertama menuju puncak, seorang ibu yang berjualan disitu bilang, “Cepat mbak, sudah terbit matahari-nya.”

Kami pun jadi sedikit panik. Sudah jauh-jauh, malah telat sampe pula. Halah…

Tapi, semangat kami berjalan ngebut bahkan setengah berlari hanya bertahan kurang dari 5 menit. Kami bukan hanya menaiki tangga yang jaraknya lebar dan tinggi, tapi juga mendaki bukit. Napas kami cepat habis dan kami sesekali berhenti sejenak untuk mengambil napas. Perjalanan menuju puncak nggak lama sih, 15 menit saja. Tapi tetap saja menguras tenaga.

Hampir tiba di puncak, kami berpapasan dengan beberapa orang yang turun. Lah, kami belum sampai, mereka udah pada turun. Ya karena itu sudah jam 06.10. Matahari sudah terbit dari tadi.

Setiba di puncak yang cukup ramai, kami langsung mencari spot agak kosong yang asik untuk melihat magis-nya pemandangan sunrise dari Bukit Punthuk Setumbu. Meskipun hanya kebagian sisa-sisa pesona magis-nya aja.

Sudah lah, emang kami kesiangan. Kami santai-santai aja, yang penting dapat view-nya dengan lensa mata dan kamera. Juga beberapa foto yang proper. Hehehe…

DSCN1134

 

DSCN1158

20150606_060806

DSCN1151

IMG-20150607-WA0020

IMG-20150607-WA0009

IMG-20150607-WA0011

Setelah agak sepi, kami pun turun dan mencari sarapan. Lapar bo. Pagi-pagi berlari mendaki bukit dengan perut kosong. Alhasil, sarapan kami agak membabi buta. Mie instan (lagi) dengan gorengan dan kopi panas. Nikmat!

Sambil makan lesehan, kami ngobrol dengan suami istri pemilik warung. Mereka kaget begitu tahu grup kami (cewek semua) jalan bertiga tanpa cowok dan guide. “Hati-hati ya, Mbak” begitu pesan si bapak pada saat kami akan meninggalkan warungnya.

Menuju Candi Borobudur, hanya 15 menit saja dari Bukit Punthuk Setumbu. Dan kami langsung diserbu para pedagang di parkiran, dari pedagang minuman, topi, sampai souvenir, yang dagangannya kami tolak dengan halus.

Ternyata hari itu, Borobudur penuh banget. Belakangan kami baru ingat, itu hari Sabtu. Pantas saja banyak bus membawa rombongan anak sekolah. Fiuhhh…

Kami memutuskan untuk naik sampai puncak Borobudur. Tapi melihat tangga Borobudur yang tinggi-tinggi, kami menghela napas. Naik lagi, setelah tadi pagi berjuang naik bukit. Haha…

IMG-20150607-WA0046

IMG-20150607-WA0058

IMG-20150607-WA0057

IMG-20150607-WA0049

IMG-20150607-WA0037

IMG-20150607-WA0052

Candi Borobudur dikelilingi pemandangan asri. Membuat kami betah berkeliling sembari menaikinya. Biar nggak terlalu lelah mendaki terus, kami pun menjelajahi sudut-sudut Borobudur yang agak sepi.

Selepas dari Borobudur, kami kembali ke kota Yogyakarta. Tujuan kami beli bakpia terenak seantero Yogyakarta, versi-ku. Melipir di salah 1 cabang, bakpia yang tersedia hanya isi kacang hijau. Sedangkan kami mau-nya rasa keju dan coklat. Akhirnya kami disarankan untuk ke cabang utama nya, dan hasilnya sama. Pun di cabang toko terakhir yang hanya berjarak 30 m dari toko utama. Katanya 2 jam lagi baru akan datang stok dari pabrik.

Sambil menunggu, kami mampir ke museum 3D yang sedang ‘in‘, De Mata Trick Eye Museum yang lokasinya nggak jauh dari toko bakpia itu. Sesampai disana, Meina dan Ike asik foto-foto sambil mengikuti petunjuk posisi supaya hasilnya maksimal. Aku, karena nggak terlalu suka difoto dan perutku sedang tak enak, hanya ambil beberapa foto dan selebihnya keliling-keliling.

IMG-20150607-WA0059

IMG-20150607-WA0043

Mendekati jam 15.30 sore, yang kata pegawai toko bakpia adalah jam datang stok bakpia, kami kembali ke toko bakpia. Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, datanglah stok bakpia yang ditunggu-tunggu. Dan langsung aku mendekati pegawai yang mencatat orderan, berseru-seru demi mengalahkan suara para ibu-ibu yang sudah ramai menyebutkan orderan masing-masing. Perjuangan banget nggak sih, cuma demi beberapa kotak bakpia aja? Haha…

Setelah perjuangan panjang untuk bakpia, kami menuju ke Keraton. Niat hati mau wisata keraton, tapi gagal karena lupa cek jam buka wisata keraton. Waktu kami tiba, jam wisata keraton sudah habis. Karena udah tanggung sampai plus bayar parkir (nggak resmi) termahal sepanjang perjalanan, kami mengiyakan tawaran bapak pengemudi becak untuk berkeliling di area abdi dalem keraton. Naik bentor.

IMG-20150607-WA0083

Mampir di 2 toko batik milik siapa-nya Sultan gitu, lalu ke galeri lukisan abdi dalem. Di galeri lukisan itu lah kami menghabiskan banyak waktu. Selain melihat-lihat lukisan jadi dan setengah jadi, ngobrol dengan si pelukis yang juga abdi dalem keraton, plus tawar-menawar lukisan yang akan dibawa pulang Meina. Jadilah sore udah gelap dan kami langsung kembali ke mobil.

IMG-20150607-WA0089

IMG-20150607-WA0068

Sebelum kembali ke penginapan, kami mampir di toko gelato yang direkomendasikan seorang teman. Konsep toko nya cozy and cute, dan harga gelato dan snack yang dijual pun cukup bersahabat dengan dompet.

IMG-20150607-WA0116

IMG-20150607-WA0105

IMG-20150607-WA0108

IMG-20150607-WA0111

IMG-20150607-WA0093

IMG-20150607-WA0092

IMG-20150607-WA0041

Selesai menikmati gelato kami menuju Malioboro. Kan katanya belum ke Jogja kalo belum ke Malioboro. Aku pun penasaran, kayak apa sih Malioboro yang jadi pusat daerah touristy di Jogja. Dan karena itu malam minggu, jalan menuju Malioboro pun macet lah. Pun sulit cari parkiran.

Hasratku berkeliling lenyap sudah melihat padatnya Malioboro. Entahlah, aku nggak menemukan sesuatu yang menarik untuk dikunjungi. Yang kulihat hanyalah orang, bus, mobil, motor, becak, delman, yang lalu lalang. Pusing eike cyin…

Akhirnya aku hanya masuk di beberapa toko batik, menemani Ike yang mencari entah oleh-oleh atau titipan teman. Sampai tokonya hampir tutup, dan akhirnya pindah toko. Setelah belanja, kami langsung kembali ke mobil. Meina dan aku sudah ngantuk luar biasa.

Kembali ke penginapan, makan malam di kedai nasi kucing depan penginapan, beres-beres bawaan, lalu tidur. Besok pagi kami harus berangkat jam 06.30 menuju stasiun Lempuyangan. Mengembalikan mobil dan sarapan juga akan kami lakukan disana.

07.00 kami tiba di stasiun Lempuyangan. Langsung lemas melihat kedai nasi brongkos yang kami idamkan untuk sarapan ternyata tutup pada hari Minggu. Yahhh… Jadilah kami sarapan yang lain. Dan langsung bersiap-siap menunggu kereta ke Jakarta.

Bye, Jogja. See you again next time.

Para Penambang di Kawah Ijen

Badannya coklat kehitaman. Cukup berotot. Tapi di belakang pundak kiri dan kanannya terdapat memar kehitaman, hampir menyerupai kapalan.

Dia berhenti. Beberapa detik. Ternyata ada yang mengambil foto dirinya. Ia berjalan lagi, menaiki bebatuan di depannya. Beberapa menit kemudian, dia berhenti lagi.

“Kalau capek, istirahat aja, Mbak,” katanya sambil menoleh pada kami dan meletakkan bawaan di pundaknya. Sepertinya dia yang lebih capek daripada kami.

Kami pun ikut berhenti dan beristirahat. Beberapa menit. Kemudian berjalan lagi mengikuti pergerakannya, si bapak yang saat itu tampak begitu fotogenik bagi para turis asing yang melihatnya. Buktinya, beberapa kali dia harus berhenti untuk difoto. Bukan, bukan berpose. Gerakan alaminya sudah melebihi pose model profesional.

2 keranjang kayu berukuran sedang, diikat dan disatukan dengan kayu panjang, dipikul di pundaknya. Sambil terus berjalan menaiki bebatuan yang sudah menjadi jalan bagi dia dan teman-temannya para penambang.

Rupanya kayu yang dipikulnya itulah yang meninggalkan bekas di bagian belakang pundaknya. Tidak, kayu dan keranjang itu tidak berat. Isi di atasnya lah yang berat. Bongkahan belerang.

Kira- kira 75 kilo, kata Pak Subeno, salah satu dari sekian banyak penambang belerang di Kawah Ijen, yang pagi itu merangkap menjadi guide kami menuruni dan menaiki Kawah Ijen.

75 kg? Hampir 1,5 berat badanku. Setiap hari beban seberat itu dipikul di pundaknya yang agak membungkuk. Eh bukan. Dalam sehari, Pak Subeno 2 kali mengangkut, jadi kurang lebih 150 kg belerang yang dipikul. Wow!

Berapa sih harga belerang itu?

“Murah, Mbak,” jawab Pak Subeno singkat tanpa memberikan angka persis. Sepertinya segan menyebutkan nominal.

“Bapak bawa turun belerangnya pakai troli?”

“Nggak, Mbak. Saya belum punya troli. Mahal.”

“Emang berapa harganya, Pak?”

“1 juta-an, Mbak. 1.500.000.”

Jadi, karena belum punya troli itulah, Pak Subeno harus 2 kali bolak- balik mengangkut belerang. Naik ke puncak 2 km, turun ke kawah 800 m, naik dari kawah 800 m, turun ke parkiran 2 km. Hampir 6 km yang harus ditempuh untuk sekali angkut.

Rute harian para penambang
Rute harian para penambang
Perjalanan yang harus ditempuh dari kawah ke puncak
Perjalanan yang harus ditempuh dari kawah ke puncak
Baru setengah perjalanan menuju puncak
Baru setengah perjalanan menuju puncak
Sebagian penambang di puncak
Sebagian penambang di puncak

“Kok bapak kuat sih?”

“Kekuatan saya datangnya dari Yang Maha Kuasa, Mbak.”

Speechless. Bukan kalimat pesimis yang keluar dari mulutnya. Bukan pula keluhan. That words, I called it FAITH.

Untuk menghidupi istri dan kedua anaknya yang bersekolah tingkat SD, Pak Subeno melakukan pekerjaan berat nan beresiko tinggi itu. Setiap hari memacu motor dari rumahnya di Banyuwangi ke Paltuding, titik masuk Gunung Ijen. Naik ke puncak Ijen dan menuruni bebatuan terjal menuju kawah berasap penuh bau belerang adalah rute sehari-hari sebagai penambang belerang.

Rp 1.025 sekilo. Begitu kata penambang belerang lain yang kami temui pada saat perjalanan turun.

Hah? Hanya Rp 1.025? Untuk perjalanan sejauh itu, waktu sebanyak itu, pekerjaan seberat itu dan resiko hingga menantang maut, yang diperoleh hanya nominal itu?

Pak Subeno hanya membawa pulang sekitar Rp 153.750 per hari. Padahal pekerjaan yang dilakukan sedemikian sulit dan menguras tenaga.

Lalu, bagaimana dengan penambang lain yang sudah lebih tua? Yang fisiknya sudah tidak sekuat Pak Subeno yang sanggup membawa beban 75 kg sekali angkut? Yang harus lebih sering istirahat karena nafas sudah lebih pendek? Yang tidak mampu menempuh 2 perjalanan bolak- balik setiap hari?

IMG-20160501-WA0002

Bandingkan dengan kita. Mungkin Rp 150.000 adalah uang jajan yang kita keluarkan sekali nongkrong. Harga troli Rp 1.500.000 mungkin hanya sepersekian harga gadget canggih yang kita miliki. Itupun terkadang kita masih mengeluhkan keadaan.

Salut dengan Pak Subeno, dan para penambang lain. Bertemu dengan banyak penambang, tidak sekalipun kami mendengar keluh kesah mereka. Sebaliknya, mereka yang melihat kami lelah mendaki, terus mendorong dan menyemangati kami.

“2 belokan lagi,” begitu kata para penambang yang menemani perjalanan kami naik Gunung Ijen. Dari pendakian dimulai hingga pos terakhir sebelum puncak, kalimat itu terus yang mereka ucapkan.

Benar juga, hanya ada 2 belokan, ke kanan dan ke kiri. Hanya butuh 2 belokan untuk tiba di puncak.

Hari itu, aku belajar banyak dari para penambang belerang di Ijen. Iman, mengucap syukur, tidak mudah mengeluh, pantang menyerah. Dan untuk mencapai puncak, hanya butuh 2 belokan.

Terimakasih, para bapak yang luar biasa!

Ctrl+C
Kami dan Pak Subeno

Journey to Jerusalem

Sebagai penganut agama Kristen, salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah Yerusalem, or what we called “The Promise Land”. Sama halnya dengan umat muslim dengan Mekkah sebagai tujuan wajibnya.

Tapi, buat aku, Yerusalem bukanlah tempat untuk dikunjungi seperti wisata pada umumnya. Bukan pula sekedar ziarah rohani, mengunjungi situs-situs yang pernah dikunjungi Yesus. Bagiku, perlu ada ‘panggilan’ untuk datang ke tempat tersebut. Makanya aku sebut perjalanan rohani, bukan ziarah rohani. Karena di dalam perjalanan, pasti akan menemukan sesuatu yang baru, berbeda dengan ziarah yang hanya mengenang masa lalu.

Dan akhirnya ‘panggilan’ itu datang di tahun 2015. Komunitas-ku kembali mengadakan perjalanan ke Yerusalem untuk ke-3 kalinya. Kali pertama dan kedua, aku biasa-biasa saja. Tapi waktu diumumkan perjalanan kali ketiga ini, entah mengapa ada suatu dorongan yang kuat di dalam diriku. “I have to be there!”

Singkat cerita, aku nekat mendaftar dan berangkat. Dengan segala keterbatasan dari seorang part time traveler and mostly backpacker. You know what I mean, right?

Karena keberangkatan dengan komunitas, jadi kami menggunakan jasa tur, dimana semua sudah disediakan dan kami hanya tinggal menyiapkan paspor dan tentu saja dana sebesar 2.700 USD. Mahal? Yes. Karena waktu keberangkatan kami adalah peak season, di saat musim perayaan tahun baru di Israel, juga masa Idul Adha bagi umat muslim.

Perjalanan rohani kali ini memakan waktu 10 hari, termasuk di perjalanan. Dan keberangkatan kami dimulai dinihari jam 01.30 menuju Abu Dhabi, transit beberapa jam untuk kemudian melanjutkan penerbangan ke Amman. Tiba di Amman, kami akan menuju Yerusalem lewat jalan darat dengan melalui lembah Yordan.

IMG-20160410-WA0043

Kota Amman, Yordania
Kota Amman, Yordania
Lembah Yordan
Lembah Yordan

IMG-20160410-WA0042

Sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya aku bersyukur pada Tuhan. Karena akhirnya mataku bisa melihat langsung tempat-tempat yang sering kubaca dan kudengar di Alkitab. Menginjakkan kaki di tempat yang disebut tanah perjanjian bukanlah hal yang sepele buatku. Thank you, Lord.

Perjalanan pergi memakan waktu hampir 22 jam. Berangkat 01.30 dan tiba sekitar 19.00 (waktu di Yerusalem 4 jam lebih lama dari waktu di Jakarta). What a day kan? Dan malam itu setelah makan malam, kami langsung mengadakan ibadah. Begitu pula dengan keesokan pagi dan malamnya. Setiap pagi dan malam kami mengadakan ibadah, betapapun capek dan ngantuknya kami. Yup, that’s part of the journey.

Kemana saja kami? Seperti rombongan tur pada umumnya, kami mengunjungi lokasi touristy, but with a purpose. Kami mengunjungi sungai Yordan dan sebagian besar dari kami merasakan dibaptis di sungai tersebut. Kami juga menyaksikan fenomena Blood Moon terakhir dari rangkaian tetrad (google aja ya, kalo dijelasin bakal panjanggg…). Kami juga ke Kana, tempat mujizat pertama yang dilakukan Yesus di sebuah pernikahan. Juga kami mampir ke Succat Haleel, rumah doa di Yerusalem, dimana tim kami diundang untuk mengisi 1 sesi doa disana. Lalu ke Danau Galilea, Kapernaum, Bukit Tabor, Lembah Karmel, Padang Gembala, City of David, Haifa (this city is a total beauty), Garden Tomb (kubur Yesus), Qumran, Jericho, Holocaust Museum, Upper Room, Old City of Jerusalem, Wailing Wall.

Yardenit, The Baptismal Site
Yardenit, The Baptismal Site

IMG-20160410-WA0048

The Blood Moon
The Blood Moon
Menanti Blood Moon
Menanti Blood Moon
Our team at Succat Haleel
Our team at Succat Haleel
Salah satu sudut Gereja Kana
Salah satu sudut Gereja Kana
Danau Galilea
Danau Galilea
Di atas perahu menyeberangi Danau Galilea
Di atas perahu menyeberangi Danau Galilea
Kapernaum
Kapernaum
Lembah Karmel
Lembah Karmel
The beautiful Haifa
The beautiful Haifa
Qumran, near Dead Sea
Qumran, near Dead Sea
Mount Temptation
Mount Temptation
Old City of Jerusalem
Old City of Jerusalem

IMG-20160410-WA0035

Keramaian di sekitar Wailing Wall
Keramaian di sekitar Wailing Wall

IMG-20160410-WA0034

Persis di tanggal 1 Oktober, kami mengikuti parade yang diadakan di jalan-jalan utama Yerusalem. Parade tersebut diikuti oleh rombongan dari bangsa-bangsa di seluruh dunia yang datang ke Yerusalem. Starting point hingga finish point berjarak sekitar 5 km, dan karena parade dilakukan dengan berjalan kaki, jarak tersebut ditempuh dalam 3 jam. Dan selama parade, kami membagikan souvenir yang kami bawa dari Indonesia kepada warga yang menonton parade. Mulai dari membagi ke anak-anak kecil di sekeliling kami, hingga melemparkan ke arah warga yang berdiri menyaksikan parade dari balkon rumahnya. Juga sepanjang 3 jam, rombongan kami terus bernyanyi penuh semangat dan tanpa henti, hingga keriuhan tim kami mengalahkan rombongan negara lain yang bawa speaker. And a new song came out that time, membuat orang-orang di pinggir jalan maupun rombongan lain mengikuti nyanyian kami yang cuma terdiri dari 4 kata diulang-ulang. Seru abis!

Siap untuk parade
Siap untuk parade

IMG-20160410-WA0050

Keramaian di parade
Keramaian di parade

Seminggu kami di Yerusalem, menginap 2 malam di Tiberias, dekat Danau Galilea, dan 4 malam di Bethlehem. Malam berikutnya kami menginap di Dubai, karena perjalanan pulang kami singgah di Dubai dan Abu Dhabi untuk sightseeing dan ‘main’ di Ferrari World.

Burj Al Arab
Burj Al Arab
Burj Khalifa
Burj Khalifa
The Atlantis Hotel
The Atlantis Hotel

IMG-20160410-WA0010

This is Rossa Coaster, 240 km/jam
This is Rossa Coaster, 240 km/jam

Heading home, penerbangan dari Abu Dhabi menuju Jakarta memakan waktu 8,5 jam. Aku yang sudah sangat lelah langsung tertidur sesaat setelah pesawat take off.

Eh, yang nggak kalah seru dari perjalanan kali ini adalah… Aku bertemu seorang teman SMP-ku disana! Pas lagi belanja di suatu toko, tiba-tiba ada seorang dari rombongan lain yang menyebut namaku waktu papasan. Lah, ternyata temanku yang sudah lama banget nggak ketemu. Dia bersama istri dan rombongan gereja-nya juga mengambil rute yang hampir sama dengan kami. Makanya disana aku beberapa kali bertemu dengan temanku itu. Haha… Siapa sangka bertemu teman lama di tempat yang jaraknya ribuan kilometer.

Perjalanan rohani-ku ke Yerusalem memang sudah berlalu. Tapi, perjalanan rohani-ku sebagai makhluk ciptaan Tuhan belum berakhir. Semua pencerahan dan pewahyuan yang kudapat selama perjalanan itu, menjadi bekal untuk aku terus menjalani hidup sebagai manusia yang mengandalkan Tuhan dalam segala hal.

Jalan-jalan Ke Jogja : Serba Irit

Semalam kami sudah bertekad akan bangun sekitar jam 5 supaya bisa melihat sunrise. Apa mau dikata, kami baru bangun jam 5.45 dan di luar sudah mulai terang. Buru-buru lah kami bersiap-siap. Semoga masih keburu.

Mobil pun kami bawa ke dekat karang besar di pinggir pantai. Kami berniat menyaksikan sunrise dari situ karena posisi nya agak tinggi. Tapi karena sudah jam 6 pagi, matahari sudah menyembul di sebelah timur. Kami berjalan menaiki tangga bambu yang disusun untuk menaiki karang besar itu. Berjalan terus menuju puncak, kayak theme song AFI.

Tangga menuju puncak 😃
Tangga menuju puncak 😃

Perlahan tapi pasti, matahari muncul di balik perbukitan. Sinar matahari pagi memantul di atas laut selatan yang selalu berombak, meskipun pagi hari itu ombak tidak seganas kemarin sore.

IMG-20150605-WA0049

IMG-20160206-WA0004

IMG-20160206-WA0000

IMG-20160206-WA0005

20150605_062540

IMG-20160206-WA0007

Setelah menyaksikan prosesi sunrise sampai matahari bulat benar-benar bersinar, kami turun dari karang tersebut dan menjelajahi daerah sekitar. Di dekat situ ada sebuah bukit yang sepertinya bisa dinaiki. Sebenarnya dari kemarin aku sudah pengen kesana, tapi karena sudah sore dan masih harus cari penginapan, urung deh. Pagi ini, akhirnya kami memutuskan kesana, kalau memang bukit itu bisa dinaiki.

IMG-20160206-WA0015

IMG-20160206-WA0014

Sampai di kaki bukit, mobil kami parkir. Bukitnya nggak terlalu tinggi sih sebenarnya, dan sudah dibuatkan jalan untuk ke atas, tapi masih ditutup. Mungkin belum selesai jalan nya. Kami pun berjalan kaki ke atas, menapaki jalan dari semen yang sudah disiapkan.

Namanya Bukit Giri Sarangan. Sepanjang perjalanan menanjak, kami bisa melihat sisi-sisi lain di sekitar pantai Krakal. Ombak memecah di bawah bukit batu di sebelah kanan kami. Di kiri kami pantai Krakal.

Tiba di puncak, ternyata dibuat berbentuk lingkaran dan rata. Jadi kami bisa ambil view panorama 360°. Meina malah bikin video sambil berputar-putar menunjukkan view sekeliling kami.

20150605_071449

20150605_071200

IMG-20160206-WA0012

IMG-20150605-WA0072

Sekitar 15 menit saja di puncak, dan kami harus turun lagi. Maklum sudah jam 7 lewat, dan kami belum sarapan dan mandi. Turun bukit, kami langsung memesan mie instan di warung yang ada persis di kaki bukit. Mie instan lagi? Iya. Kan persediaan uang kami sangat terbatas 😁 (baca : Jalan-jalan Jogja : Oh Paradiso).

Kami makan lama juga, sambil ngobrol ngalor ngidul. Eh baru saja kami mau pergi, seorang anak laki-laki kecil menghampiri kami dan menyalami kami “Salim, salim,” begitu katanya dengan senyum sumringah. Ternyata anak itu cucu dari pemilik warung. Saking ramahnya anak tadi, kami mengurungkan niat untuk pergi dan mengikuti anak tadi masuk ke dalam.

Namanya Ihsan. Senyum lebar terkembang di wajahnya. Bahkan dia menyapa kami, orang asing yang belum pernah dilihat dan mencairkan suasana. Akhirnya kami ngobrol sebentar dengan ibu tua pemilik warung dan anaknya (ibu-nya Ihsan yang terlihat masih sangat muda), dan seorang pengunjung warung yang sepertinya teman si ibu tua. Dan nggak lupa sebelum pulang, kami mengabadikan momen tersebut. What a lovely kid they have.

IMG-20160206-WA0009

Setelah ber-dadah-dadah ria dengan Ihsan dan keluarga nya, kami kembali ke penginapan. Harus ngebut mandi dan siap-siap, karena kami akan ke beberapa lokasi lagi sebelum kembali ke kota.

Penginapan kami dan si ibu penjaga
Penginapan kami dan si ibu penjaga

Jam 10 kami meluncur pergi setelah menyelesaikan urusan bayar-membayar. Tujuan kami berikutnya : pantai Siung dan pantai Jogan.

Keluar area pantai Krakal, kami memacu mobil ke arah kanan. Pemandangan di jalan hampir sama dengan kemarin. Dan kami melewati beberapa pantai, salah satunya pantai Indrayanti yang paling ramai dan terkenal di daerah Gunungkidul, hingga disebut Kuta-nya Yogyakarta. Juga pantai Nglambor yang ruame banget pas kami lewat, yang ternyata pantai buat snorkeling selain Sadranan.

Nggak sampai setengah jam, aku melihat plang pantai Jogan. Kami baru akan belok menuju pantai Jogan, dan kami melihat petugas berseragam berdiri. Bayar biaya masuk Rp 5.000/orang. Beuh! Spontan kami ingat uang kami yang sudah sangat tiris itu. “Di dalam bayar lagi nggak, Pak?” Ike udah mulai jutek. Ya iya lah, untuk bayar parkir aja harus mengais dompet dan kantung, juga selipan-selipan di tas atau apapun.

“Nggak kok, mbak. Paling parkir aja.”

Dengan berat hati aku menyerahkan 3 lembar Rp 5.000. Semoga benar kata si bapak, nggak ada bayar apa-apa lagi nanti.

Memasuki area pantai Jogan, jalanan sempit berbatu dan menurun, hanya cukup untuk 1 mobil. Untunglah Meina cukup jago menyetir dan parkir meski di area sempit begitu.

Sekitar 50 m dari tempat parkir, sudah terlihat pantai Jogan. Tidak seperti pantai berpasir, pantai Jogan ini pantai bertebing batu dan posisi kami di atas tebing batu.

Yang unik dari pantai Jogan ini adalah ada ‘air terjun’ di pantai nya. Jadi dari atas tebing batu mengalir air ke bawah seperti air terjun mini. Meskipun nggak besar, pemandangan seperti itu cukup menjadi identitas sendiri untuk pantai Jogan.

DSCN1081

DSCN1073

20150605_110214

20150605_110317

Setelah 30 menit menghabiskan waktu di pantai Jogan, kami meluncur lagi. Kali ini menuju pantai Siung, yang pernah dikunjungi tim My Trip My Adventure.

Pantai Siung punya area berpasir yang sangat luas. Lebarnya mungkin beberapa ratus meter. Dan di sisi nya terdapat area tebing-tebing yang bisa digunakan untuk turun tebing, atau istilahnya rappelling, yang pernah dilakukan di salah satu sudut Pantai Siung oleh Denny Sumargo, host senior My Trip My Adventure sekaligus host favorit saya. Oke, lupakan yang terakhir. Personal bias. Hehehe…

Karena kami memang nggak punya banyak waktu untuk dihabiskan, dan aku pun baru sembuh dari keseleo, nggak mungkin kami main ke area tebing-tebingan. Jadilah kami hanya main di sekitar pasir dan batu-batu di pinggir pantai.

Dan Meina datang dengan sebuah ide. Bikin video lari di pantai. Tapi dari tengah ke salah satu pinggir. Kalo dari ujung ke ujung kayaknya kami bakal kehabisan napas sebelum sampai. Yah, maklumlah, kami kan karyawan kurang olahraga. 😁

IMG-20150607-WA0135

IMG-20150607-WA0141

IMG-20150607-WA0132

IMG-20150607-WA0134

Setelah main sebentar di tengah batu-batuan di pinggir, kami pun meluncur lagi. Kami harus keluar area Gunungkidul dan menuju daerah Bantul, sebelum kembali ke kota Yogyakarta.

Di tengah jalan, aku melihat ATM. Langsung kami hentikan mobil dan tarik dana dari ATM. Akhirnya nggak lagi harus mengais dompet demi mencari lembar demi lembar rupiah.

Pas pula di sebelah ATM ada warung jadi kami langsung beli minuman dingin. Sedari tadi berangkat dari hotel kami belum minum yang lain selain air putih sebotol bertiga. Iya, tadi kami emang ngirit banget. 😂

Setelah mengamankan dompet, kami jadi lega. Bisa makan dengan tenang. Dan mengisi perut sebelum kami menuju ke air terjun Sri Panjung di Kabupaten Bantul yang jaraknya lumayan jauh.

Mengandalkan GPS demi mencari air terjun Sri Panjung, ternyata belum ada lokasi nya di Google Map. Akhirnya tujuan kami ganti jadi nama desa nya, selebihnya manual, nanya orang.

Sesampai di desa Jatimulyo, mulailah bingung menentukan arah. Dan setelah bertanya sana-sini, kami menemukan juga jalan menuju air terjun. Sempit. Dan makin lama makin sempit. Sampai kami tanya orang naik motor, eh ternyata dia juga lagi nyari lokasi yang sama. Akhirnya ibu-ibu penduduk lokal mengarahkan kami ke jalan yang hanya selebar 1 mobil pas, bahkan kalo papasan sama motor nggak bisa lewat. Tapi itulah satu-satunya jalan menuju Sri Panjung. Katanya sekitar 1 km lah jalan itu.

Dengan ragu-ragu kami lewati jalan kecil nan sempit itu. Ibu-ibu penduduk lokal tadi naik motor di belakang kami, sepertinya menuju arah yang sama. Dengan sabar beliau memacu motornya mengikuti mobil yang bergerak perlahan. Maklum, jalannya cuma disemen, berkelak-kelok, agak menurun, dan tanpa penunjuk jalan.

Akhirnya tibalah kami di tanah agak lapang dan terlihat beberapa mobil dan motor diparkir. Juga warung kecil yang menjual minuman dan gorengan. Dan ternyata kami sudah tiba. Tapi untuk mencapai air terjun, kami masih harus menyusuri jalan dan tangga yang sudah dibangun. Sekitar 15 menit berjalan, barulah kami akan sampai di air terjun.

Air Terjun Sri Panjung sendiri berada di kawasan Hutan Lindung Bantul. Pemandangan dari parkiran aja sudah menyejukkan mata. Sejauh mata memandang terlihat pepohonan hijau dan aliran sungai kehijauan. So refreshing!

IMG-20150607-WA0147

IMG-20150607-WA0146

IMG-20150607-WA0151

IMG-20150607-WA0152

Setelah menyusuri tangga menurun dan jalan dari semen di depannya, jalan pun terpecah dua, tangga menurun lagi ke bawah atau lurus tapi di depannya jalan tanah. Kami terus ke depan mengikuti jalan tanah yang makin lama makin sempit dan tak jelas bentuknya. Kan biasanya makin susah medannya, makin worth it yang ditemukan. Sampai di suatu titik, jalan di depan semakin tak terlihat karena ranting pohon dan rerumputan menutupi jalan yang makin sempit dan bersisa lebar 30 cm dan sisi kiri langsung jurang. Secara kami cuma pakai sandal jepit, celana pendek, jalan setapak licin pula sampai kami harus berpegangan tangan supaya nggak jatuh. Kami memutuskan untuk nggak lanjut, karena terlalu beresiko dengan kondisi kami yang kurang persiapan dan kakiku yang belum bisa dipakai di medan yang tak jelas. Padahal di depan kami tadi ada 3 pria menyusuri jalan yang sama dan entah udah dimana saking cepatnya mereka jalan. Coba tadi mereka nggak terlalu cepat, at least kami bisa tahu arah di depan kan. Mungkin mereka udah sering kesini kali, pikirku.

IMG-20150607-WA0155

IMG-20150607-WA0160

IMG-20150607-WA0156

Akhirnya, kami berhenti di situ. Melihat air terjun Sri Panjung dari seberang. Lalu berbalik, dan mencoba mengambil tangga menurun yang tadi kami lewati. Dari arah bawah terdengar banyak suara orang yang tertawa. Dan di saat itu, meski aku nggak terlalu suka keramaian di alam, suara tawa orang-orang jadi semacam pencerahan kalau kami nggak nyasar.

Kami pun menuruni tangga sampai ujung dan berakhir di sungai. Dan disana nggak ada orang lain selain kami bertiga. Lalu, suara tawa ramai itu dari mana datangnya? Tenang aja, ini bukan cerita horor. Ternyata sekitar 50 meter dari titik kami berdiri, ada rombongan yang lagi main di air terjun Sri Gethuk yang tersohor dan emang lokasinya berdekatan dengan Sri Panjung. Mereka naik semacam kapal gitu, seperti yang pernah aku baca di blog orang. Karena kami anti mainstream, makanya kami pilih mengunjungi Sri Panjung bukan Sri Gethuk, tanpa tahu kalau lokasinya segitu dekat. Tahu gitu…

IMG-20150607-WA0174

IMG-20150607-WA0163

IMG-20150607-WA0162

IMG-20150607-WA0166

IMG-20150607-WA0121

Karena hari sudah sore dan kami harus keluar dari lokasi sebelum gelap, jam 5 kami sudahi bermain di sungai berbatu-batu itu. Naik ke titik awal kami sampai tadi benar-benar peer banget. Antar anak tangga nya tinggi dan jarak ke parkiran lumayan bikin ngos-ngosan. Terpaksa kami jajan di warung dekat parkiran demi mengganjal perut.

Akhirnya sebelum hari benar-benar gelap kami meluncur lagi. Melewati lagi jalan sempit selebar 1 mobil tadi. Dan langsung memasang lokasi pada GPS. Kembali ke kota Yogyakarta.

Jalan masuk dan keluar area Sri Panjung
Jalan masuk dan keluar area Sri Panjung

IMG-20160214-WA0000

Menepi sebentar demi foto dari tempat tinggi
Menepi sebentar demi foto dari tempat tinggi

Sempat tersasar waktu mencari penginapan yang sudah kami booking dan bayar, karena GPS malah menunjukkan lokasi lain. Tiba di penginapan, langsung bongkar muatan. Tadinya mau makan ke Malioboro atau tempat makan terkenal dekat situ, tapi batal karena kami sudah males dan nggak mau tidur terlalu malam. Besok kami harus berangkat jam 4 subuh. Dan kami pun hanya makan nasi kucing di depan penginapan.

JALAN-JALAN KE JOGJA – Oh Paradiso

Karena kerjaan lagi hectic banget, tambah menjadi-jadi deh sakau traveling-ku. Banyak harpitnas pula. Cari-cari tiket, tapi masih mahal. Sampai iseng-iseng cari tiket kereta murah ke Jogja. Kata orang sih bisa puluhan ribu aja.

Bener sih, ada yang 75.000 sama 80.000 untuk kelas Ekonomi, tapi mendekati harpitnas, tiket harga segitu sold out. Akhirnya dapat tiket KA Progo Jakarta – Jogja 75.000 di hari kerja. Cingcay lah. Ike (my nekat traveler partner) pun setuju kami beli tiket Rabu malam, jadi kami cuti 2 hari untuk bisa liburan sampai hari Minggu di Jogja. Done.

Beberapa minggu sebelum berangkat, kami cerita sama salah satu sahabat di komunitas kami, Meina. Dan dia langsung minta ikutan. Singkat cerita, Meina pun beli tiket berangkat yang sama, meskipun nomor kursi beda, ngarep bisa minta tukar sama orang nanti. Hehe…

Tiket pulang kami beli belakangan, barengan sama Meina, jadi dapat kursi berhadapan. Sayangnya tiket pulang nggak dapat yang harga 75.000 maupun 80.000, keburu habis. Jadilah kami beli tiket KA Bogowonto Jogja – Jakarta 220.000.

Tiket berangkat
Tiket berangkat

The day has come. 3 Juni 2015, sepulang kerja kami kumpul di rumah Meina dulu untuk numpang mandi. Eh, karena jalanan macetnya ampun-ampun, sampai rumah Meina udah lewat dari jadwal, jadi nggak sempat mandi. Cuma numpang makan, trus langsung capcus ke Stasiun Senen.

Ternyata Stasiun Senen penuh buanget, sodara-sodara. Untungnya pemeriksaan tiket cukup tertib jadi meskipun penuh dan antrian panjang, nggak makan waktu terlalu lama. And surprisingly, kereta berangkat TEPAT jam 22.30. Wow! Ternyata KA lebih baik daripada maskapai Singa soal jam keberangkatan. Ehehe…

Duduklah kami bertiga bareng, karena Meina berhasil tukeran tempat duduk sama orang di depan kami. Tapi sayangnya, sebelahnya Meina ibu-ibu berbadan subur yang kurang toleran duduknya. Ya udah tahu bodinya besar, tas doi taruh di kursi pula, jadi Meina duduk mentok ujung banget. Mana tuh ibu kayaknya udah gape naik kereta itu, jadi nyantai aja sama kursi tegak lurus kereta ekonomi, malah pas tidur kakinya nyelip dimana aja, kadang di antara kakiku dan kaki Ike, kadang di antara kedua kaki-ku, kadang antara dinding dan kaki Ike. Asli, tuh ibu bisa cari kesempatan dalam kesempitan untuk selonjorin kakinya. Temen si ibu di kursi seberang malah sampai tidur di lantai padahal jelas-jelas ada larangan tidur di lantai. Ampunnn….

Semalaman di kereta dengan kursi tegak lurus gitu emang pegel abis. Udah bawa bantal leher, nggak terlalu ngaruh juga karena punggung tetap nggak istirahat. Jadilah aku cuma tidur-tidur ayam, senasib sama Meina yang lebih susah tidur karena space duduknya yang sempit. Ike lumayan bisa tidur lah, karena dia bisa senderan dinding kereta. Akhirnya subuh-subuh, Ike tukeran tempat duduk sama Meina, supaya Meina bisa tidur. Karena Meina yang bakalan nyetir selama di Jogja nanti. Kalo Meina nggak tidur, kan ngeri juga. Hehe…

Setelah pindah kursi, Meina langsung bisa tidur. Bagus lah, kasihan juga kalo sama sekali nggak tidur dan harus langsung nyetir jarak jauh. Dan tepat jam 7 pagi, kami sampai di stasiun Lempuyangan. Wuih, on time lagi. Keren nih PT KAI.

Pagi-pagi tiba di stasiun Lempuyangan
Pagi-pagi tiba di stasiun Lempuyangan

Karena kami janjian sama penyewaan mobil jam 8, jadi kami bisa santai dulu cari makan pagi. Di depan stasiun berjejer warung-warung makan kecil. Lihat-lihat sebentar, lalu aku tertarik sama warung nasi brongkos. Setelah intip dan tanya nasi brongkos itu apa, aku memilih makan itu saja. Meina pilih nasi kucing. Ike joinan aja makannya sama aku, belum terlalu selera makan kayaknya.

Begitu nasi brongkos yang terdiri dari nasi + 2 potong tahu + telur bulat tersaji, langsung aja kusuap. Dan ternyata… Enak bangetttttttttt!!!!!!

Cicip-ciciplah Ike dan Meina begitu kubilang “enak banget” dan mereka setuju. Akhirnya Meina pesan nasi brongkos juga setengah tanpa telur (karena sudah makan nasi kucing) dan Ike pesan 1 lagi. Kami setuju, nasi brongkos ini enak banget dan harganya murah banget, seporsi lengkap dengan telur HANYA Rp 6.000 aja, sodara-sodara.

Nasi bronkos yang uennakkk buanggettt ituh
Nasi brongkos yang uennakkk buanggettt ituh

Sekitar setengah jam kami makan sambil menunggu mobil sewaan kami datang. Selama kami makan, banyak yang menawarkan jasa, mulai dari mobil sewaan, hotel, becak antar keliling Jogja, dll. Tapi kami tolak dengan halus, karena kami memang sudah sewa mobil dan rute hari itu ke Gunungkidul. Tapi ditolak pun mereka tetap senyum. Awalnya sih agak terganggu dengan banyaknya tawaran, ya dari yang punya warung, tukang-tukang becak yang mangkal di depan warung, belum lagi para marketing mobil sewaan yang berjejer di depan stasiun. Tapi beberapa waktu kemudian aku baru sadar, ini Jogja, yang orang-orangnya terkenal ramah, bukan Jakarta yang mayoritas warga-nya cuek bebek. Ditolak dengan alasan ke Gunungkidul pun mereka malah dengan semangat menjelaskan tentang Gunungkidul. Jadi tersentuh sama keramahan orang-orang Jogja.

Setelah orang yang mengantarkan mobil konfirmasi kalau dia sudah sampai di depan Stasiun Lempuyangan, kami langsung beranjak dan membayar. 2 ½ nasi brongkos, 1 nasi kucing, 3 tempe goreng, 2 teh susu, CUMA habis Rp 21.000. Murahhh!!! Padahal sampe kuenyanggg.

Hepi dengan makan pagi kami, dengan senyum lebar kami menuju mobil sewaan. Agya Matic putih. Setelah cek dan ricek kondisi mobil, isi kwitansi, membayar, yang semua kami lakukan di dalam mobil supaya aman. Kami pun meluncur menuju… pom bensin. Iya, bensinnya cuma 1 strip. Ngeri nya tuh bensin keburu habis sebelum kami sampai pom. Haha…

Mari berpetualang!
Mari berpetualang!

Setelah sempat mutar-mutar, akhirnya kami nemu juga pom bensin. Setelah isi, baru deh meluncur ke destinasi pertama kami : pantai di Gunungkidul dan langsung ke hotel, karena kami pengen taruh barang-barang biar nggak ribet. Sebenarnya kami belum dapat hotel disana, meskipun sudah booking by phone. Soalnya cari-cari info di internet, semua penginapan di sekitar pantai Gunungkidul nggak ada gambarnya. Daripada beli kucing dalam karung, kami berencana lihat langsung baru memutuskan mau nginap dimana.

Perjalanan dari kota menuju Gunungkidul lumayan jauh. Karena kami semua turis, tentu saja kami hanya mengandalkan GPS untuk rute ke Gunungkidul. Eh di tengah jalan, kami melewati salah satu tujuan wisata kami, Gua Pindul. Akhirnya kami memutuskan merubah itinerary, dan langsung menuju Gua Pindul untuk cave tubing disana.

Mobil kami diarahkan dengan motor oleh seorang bapak yang pakai badge “Marketing”. Katanya nggak begitu jauh. Tapi kami mengikuti di belakang dan rasanya nggak jauh nya itu kok kayaknya lebih dari 10 km ya? Mana jalanannya masuk ke dalam jalanan yang kecil.

Ada kali setengah jam kami mengekor si bapak hingga akhirnya sampai di tujuan. Cukup ramai (kata pengelola sih itu termasuk sepi), tapi nggak seramai waktu hari libur di awal Mei lalu, pas foto Gua Pindul yang beredar di media sosial terlihat lautan orang sampai air nya nggak kelihatan. Katanya 2.000 orang datang ke Gua Pindul waktu itu. Gilingan daging itu mah.

Karena kasihan sama si bapak yang mengantar kami demikian jauh, kami kasih tip Rp 20.000. Later we know, yang antar dapat tip juga dari pengelola, Rp 10.000/orang. Ya sudahlah, amal nggak ada salahnya. Lagipula si bapak dengan sabar nungguin kami yang ribet bongkar tas, berganti baju, pakai sunblock, dll sebelum memilih paket. Maklum lah, dadakan dan barang kami semua masih di dalam tas ransel yang melembung.

Akhirnya kami memilih 2 paket, cave tubing di Gua Pindul dan body rafting di Sungai Oyo. Ada 1 paket lagi ke gua kering, tapi kami nggak ambil karena mau agak ngirit. Hahaha… Ya iya dong, masa baru beberapa jam sampai mau langsung boros-borosan, kalo nanti uang nggak cukup gimenong cyin?

Setelah menitipkan tas dan bawaan di meeting point, kami langsung ambil rompi pelampung dan ban, lalu menuju starting point. Jadi masuk ke dalam gua-nya dibikin grup 8-12 orang yang disuruh saling pegang ban orang di sebelah kanan supaya nggak lepas dan akan di-lead oleh 1 orang guide.

IMG-20150605-WA0013

IMG-20150605-WA0007

IMG-20150605-WA0006

Setelah semua anggota grup saling memegang ban, guide mulai berjalan sambil menarik kami sambil menjelaskan mengenai Gua Pindul, dari sejarah, bagian-bagiannya dan apa saja yang terdapat di dalamnya. Si guide kami orangnya cukup kocak, dan sering membuat kami tertawa karena di sela-sela penjelasan serius, dia nyelipin guyon. Gayung bersambut sama Ike. Makin diajak bercanda sama Ike, dan aku juga Meina jadi ikutan. Sampai-sampai tuh guide lebih sering beredar di dekat kami bertiga.

Mendekati ujung gua, ada spot yang bisa untuk loncat ke dalam sungai. Karena penasaran, Meina dan Ike langsung turun dari ban, dan naik ke atas batu yang jadi jumping point. Dan si guide kami beri tugas, megangin handphone Meina untuk ambil foto atau video loncatan kami. Plus, kepalanya jadi penitipan sementara topi kami bertiga. Hehe…

IMG-20150605-WA0016

Di dalam gua, cahaya matahari menyusup dari lubang di sisi lain gua
Di dalam gua, cahaya matahari menyusup dari lubang di sisi lain gua
Lubang matahari
Lubang untuk cahaya matahari

IMG-20150605-WA0026

Meina udah siap loncat di atas, sedangkan aku baru berusaha turun dari ban. Maklum, nggak bisa berenang. Dan daerah sungai sekitar situ cukup berbatu, jadi kaki harus berhati-hati melangkah, supaya nggak menginjak ataupun menabrak batu.

Meina yang bisa berenang aja ragu-ragu mau loncat. Sampai datang grup berikut yang malah rame-rame menghitung mundur untuk menyemangati Meina untuk loncat. Bukannya semangat, malah jadi ragu-ragu dia. Setelah mikir dan ragu beberapa waktu, Meina pun loncat. Byurrr!!!

Nggak sampai sedetik kemudian, Meina muncul di permukaan air. Asik kak, gitu katanya. Sementara Ike masih menguatkan diri untuk loncat, Meina sudah manjat batu lagi untuk loncat kedua kali. Dan nggak lama setelah loncat ke air, Ike pun langsung naik ke jumping point untuk loncat lagi. Luar biasa! Dan aku cuma bisa memandangi mereka sambil berusaha mengumpulkan nyali. Pengen loncat juga, tapi aku nggak bisa berenang dan takut tinggi.

Melihat beberapa orang lain juga bergantian loncat, aku jadi penasaran. Udah deh, coba aja. Tapi… Sampai di atas jumping point, nyali-ku langsung ciut. Itu airnya dalam nggak ya, kena batu nggak ya, nanti kemasukan air nggak ya pas sampai di air, dll dsb pertanyaan di dalam pikiran. Dan aku pun maju mundur selama 5 menit. Hampir saja turun lagi, tapi ternyata turun dari batu lebih susah daripada naiknya. Lebih gampang loncat daripada turun biasa. Hadehhh…

Setelah membiarkan beberapa orang lain loncat mendului aku, akhirnya aku pun memantapkan diri untuk loncat. Meskipun takut. Sempat maju mundur lagi sebentar, sampai akhirnya aku capek dengan diri sendiri. Ribet bener mau loncat aja. Padahal cuma beberapa detik aja. Akhirnya setelah memastikan di spot loncat nggak kena batu dan airnya nggak terlalu cetek, dan meminta Meina stand by dekat situ (tetap aja rempong ya? Haha…), aku loncat juga.

Bergumul untuk loncat 😃
Bergumul untuk loncat 😃

Byurrr!!! Done! Finally I can face my fear!

Setalah acara loncat-meloncat kelar, kami pun beranjak dari jumping spot pertama. Persis di depan pintu keluar gua, ada jumping spot kedua yang lebih tinggi. Beberapa orang berloncatan disitu. Kami berenang sampai ke pinggir dan langsung naik ke daratan. Secara, grup kami yang tadi belasan orang sudah bubar jalan entah kapan. Yang tersisa hanya guide, kami bertiga dan sepasang cewek cowok yang loncat-loncatan juga tadi.

Setelah berbasah-basah ria di Gua Pindul
Setelah berbasah-basah ria di Gua Pindul
Exit area cave tubing Gua Pindul
Exit area cave tubing Gua Pindul

Selesai dari Gua Pindul, kami langsung menuju mobil bak yang akan membawa kami ke area body rafting di Sungai Oyo. Ngakak banget waktu Meina nyeletuk kami udah kayak kambing diangkut pakai mobil gituan.

Di mobil udah tersedia ban-ban seperti yang tadi kami pakai cave tubing dan langsung dikembalikan. Guide untuk body rafting pun beda dengan guide di Gua Pindul. Setelah kumpul yang akan body rafting, yang ternyata hanya kami yang emang dari tadi sibuk loncat-loncatan, mobil berangkat.

Di atas mobil pengangkut kambing
Di atas mobil pengangkut kambing

20150604_115521

Perjalanan nggak lama, cuma 5 menit aja. Melewati jalan aspal sedikit, lalu area tanah lapang berumput tinggi dengan jalan berbatu untuk kendaraan. Turun dari mobil, kami jalan sedikit menuju sungai yang dimaksud. Selama si bapak guide menyiapkan perabotan kami, foto-foto lah kami. Dan ternyata cuma kami berlima aja yang ambil paket rafting, jadi di sungai nggak ada orang selain kami. Puas deh.

IMG-20150605-WA0030

IMG-20150605-WA0043

IMG-20150605-WA0032

IMG-20150605-WA0031

IMG-20150605-WA0046

Sungai Oyo ini hijau agak gelap, di sisi kanan kami airnya tenang banget dan dari depan ke kiri mulai berarus, layaknya sungai untuk rafting. Ternyata untuk body rafting ini, dilakukan berdua-dua. Jadi 2 ban diikatkan baru meluncur sama-sama. Si pasangan cewek-cowok itu duluan. Lalu Meina dan Ike diikatkan bersama. Aku? Sama si bapak? Eh ternyata nggak, aku dibiarkan meluncur sendirian. Buset deh.

Nggak ada helm maupun alat pengaman apapun, nggak ada teman pula. Huaaa… Aku meluncur sendiri menuju arus deras sambil berharap nggak kenapa-kenapa. Dan memang aman-aman saja karena arus deras nya cuma sedikit banget, sekitar 50 meter saja sisanya air tenang lagi.

Dan memasuki wilayah air tenang, aku terkagum-kagum dengan batuan di sekeliling sungai. Entah batuan apa, bentuknya lucu dan unik, minta difoto banget deh. Dan saking tenangnya air, si pasangan yang meluncur duluan malah mandek di tempat dan aku salip.

IMG-20150605-WA0004

IMG-20150605-WA0005

DSCN0844

Ternyata body rafting nya benar-benar singkat, jeram nya ya segitu aja tadi. Sisanya sungai tenang banget dan membuat kami harus sambil dayung-dayung pakai tangan dikit kalau mau maju. Sekitar 300 meter setelah jeram, ada air terjun yang namanya Air Terjun Pengantin, tapi bukan yang di film nya Tamara Blezynski lho.

Sebelum air terjun, ada jumping spot lagi. Kali ini tinggi nya sekitar 8 meter. Ike sama Meina mau coba loncat. Aku? No! Nggak berani cyin, daripada setengah jam nungguin aku perang batin antara loncat atau nggak, mending nggak usah.

Jadi di saat mereka berdua manjat ke atas dan berdiskusi gimana loncat-nya, aku duduk-duduk aja di batu. Tapi duduk di batu aja aku kepanasan banget karena waktu sekitar jam 1 siang dan matahari terik abis.

Berhubung Ike dan Meina masih diskusi dan mempertimbangkan safety loncat ke bapak guide, aku berjalan ke air terjun aja. Dan main-main air sambil mandi plus keramas di air terjun, maksudnya berasa mandi plus keramas. Hehe…

DSCN0860

Dan datanglah rombongan lain yang jumlahnya lebih banyak daripada kami. Sebagian menuju jumping spot juga. Dan dua orang langsung loncat. Ike sama Meina? Masih asik diskusi. Hehe…

Menimbang-nimbang, mau loncat nggak ya?
Menimbang-nimbang, mau loncat nggak ya?

Entah mengapa akhirnya mereka berdua memutuskan untuk turun alias nggak jadi loncat. Mungkin merasa nggak yakin. Apalagi setelah itu mereka bilang satu dari 2 orang yang loncat tadi malah mual-mual. Tambah bikin mereka mundur. Mungkin tuh orang keminum banyak air sungai pas nyebur kali. Dan akhirnya Ike sama Meina pun main-main di air terjun. Nggak lama sih sekitar 10 menit aja. Karena sudah ada rombongan lain juga, jadi kami melanjutkan perjalanan kami.

DSCN0871

DSCN0872

DSCN0848-1

DSCN0847

Sisa perjalanan kami hanya sungai berarus tenang seperti tadi, hanya di kanan- kiri sudah nggak berbatu-batu seperti sebelumnya. Hanya pohon-pohon saja. Dan 300 meter di depan juga sudah pick up point kami.

Kami main di Sungai Oyo sekitar 1,5 jam. Di tengah panas matahari terik. Kayaknya begitu naik sekitar jam 2-an tingkat kehitaman kulit sudah meningkat 20 %. Hehe…

Kembali lagi ke area penitipan barang di dekat Gua Pindul. Kami mengambil barang-barang kami, juga beberapa barang di mobil. Kami sekalian langsung mandi dan berganti baju disana. Setelah itu langsung makan in**mie kuah pakai telor. Nyammm… Badan langsung terasa hangat.

Nggak bisa berlama-lama disitu karena kami masih harus menuju area pantai di Gunung Kidul dan mencari hotel, berhubung kami belum dapat hotel yang pasti untuk menginap. Sekitar jam 2.30 kami meluncur dari Gua Pindul.

Tujuan kami : Pantai Krakal. Dari hasil googling, kayaknya asik nginep di Pantai Krakal. View nya bagus. Meskipun kami belum menemukan hotel untuk diinapi di sekitar situ, tapi bisa nanti on the spot aja lah.

Jalan menuju Pantai Krakal lumayan jauh, berkelok-kelok, dan banyak pepohonan serta perbukitan di sekeliling. Lihat dari lingkungan sekitarnya, nggak bakal nyangka kalau daerah situ dekat pantai. Wong sekeliling serba hijau gitu. Dan kebanyakan area pantai tersembunyi di balik bukit.

Jalanan di Gunungkidul menuju Pantai Krakal
Jalanan di Gunungkidul menuju Pantai Krakal

Pun begitu dengan tujuan kami pantai Krakal. Mengikuti papan petunjuk jalan, kami belok kanan di dekat arena balap motor offroad yang lagi ramai di sisi sebuah bukit. Setelah belok kanan, tinggal lurus sekitar 150 meter dan kami memasuki area pantai.

Pantai Krakal ini bagusss… Batu karang besar yang berdiri kokoh di sisi laut membuat eksotik pantai ini. Dan di sisi kanan terdapat beberapa bukit yang tidak terlalu tinggi, mungkin nanti kami bisa hiking kesana.

Kami pun menyusuri pantai pakai mobil. Agak jauh di kanan, kami memarkir mobil. Ceritanya mau menikmati angin pantai sambil santai sejenak setelah menempuh perjalanan jauh. Baru turun mobil, rambut kami sudah beterbangan kemana-mana. Anginnya dashyat bo!

Sibuk megangin rambut supaya nggak berantakan diterpa angin 😃
Megangin rambut supaya nggak berantakan diterpa angin 😃

IMG-20150605-WA0082

IMG-20150605-WA0080

Santai sejenak dan mengambil beberapa foto, sekitar 15 menit saja, dan kami harus kembali ke mobil. Ya, kami harus segera mencari penginapan. Di pantai ini tadi kami lihat bangunan kecil bertuliskan hostel, tapi karena bentuknya nggak meyakinkan, kami nggak niat untuk bermalam disitu.

Tadi sebelum parkir, kami melihat semacam vila agak tinggi gitu posisinya. Mungkin aja ada kamar yang disewakan. Kami datangi lah tempat tersebut, dan bertemu seorang ibu yang menjaga tempat tersebut. Tanya-tanya, ternyata itu semacam hall yang disewakan, biasa buat rombongan dan sekalian tidur juga di aula yang sama dengan tempat tidur yang nanti disediakan. Tarifnya 2,5 juta kalo nggak salah. Beuh, sama sekali bukan yang kami butuhkan. Si ibu sih bilang, ada kamar yang disewakan seharga Rp 300.000 non AC, tapi…

Hall nya di belakang kami tuh
Hall nya di belakang kami tuh

Uhm… Waktu menuju kawasan 12 pantai Gunungkidul, kami lupa ambil uang di ATM. Dengan pikiran, nanti ambil ATM di dekat hotel aja. Eh ternyata, kata bapak penjaga pintu masuk kawasan 12 pantai, dia area situ nggak ada ATM, adanya sana jauh di kota. Indom***t? Pikir kami kan bisa tarik tunai juga kalau belanja disitu. Udah lewat, Indom***t nya 5 km di belakang kami. Ya ampiun… nggak mungkin kami putar balik jauh demi ambil uang kan. Ya udah, nanti cari hotel yang bisa bayar dengan gesek credit or debit card aja. Lagian hari gini, masa iya hotel nggak bisa pake kartu bayarnya? Begitu logika kami, meskipun akhirnya ragu-ragu juga, secara ATM aja nggak ada, masa’ ada mesin EDC?

Dan ternyata benar, penginapan yang ditawarkan ibu tadi seharga Rp 300.000, nggak bisa bayar pake kartu, harus cash. Lha wong bayarnya ke si ibu yang udah berumur paling sedikit 50 tahun itu, masa iya dia punya mesin EDC sendiri? Mundur lah kami. Nggak punya cash, lagipula harga segitu jauh di luar budget kami.

Meluncur lagi. Kami coba cari hotel yang sudah kami hubungi kemarin. Bukan di area pantai Krakal, tapi nggak jauh dari situ. Tanya-tanya orang, 2 hotel yang kami cari lokasi nya nggak sampai 5 menit naik mobil kok. Malah kami sempat ditawarkan menginap oleh warga di salah satu bangunan bertingkat semacam ruko yang posisinya di pojokan alias hook. Tapi karena namanya cuma “penginapan” kami nggak langsung mengiyakan, tapi jadi alternatif kalau 2 hotel yang kami tuju nggak oke.

Hotel pertama yang jadi tujuan kami : Hotel Paradiso. Kata bapak yang tadi kami tanya, begitu keluar area pantai Krakal, dari jalan utama menanjak, nanti di atas pas ada tanah datar langsung masuk ke kiri. Mengikuti petunjuk si bapak, kami menemukan tanah datar dan jalan masuk ke sebelah kiri. Jalan masuknya penuh pohon di kanan kiri nya. A bit spooky.

Tapi kami tetap masuk juga, meskipun dalam hati ragu-ragu banget. Begitu terlihat bangunan, ada seorang ibu-ibu disitu. Langsung kami buka jendela dan tanya, “Bu, ini hotel Paradiso?”

“Iya,” jawab si ibu singkat. Dan terlintas di pikiranku, si ibu itu beneran manusia bukan ya? Mengingat lokasi yang suram.

“Ada kamar, bu? Harga berapa?” Meina lanjut bertanya.

“Ada. Harga 60-80 ribu. Lihat dulu aja.”

Murah sih. Tapi… Ya udah, kami parkir dulu di sudut yang lumayan sempit dan agak curam. Lalu turun dan mengikuti si ibu tadi yang ternyata manusia beneran. 😃

Si ibu membuka salah 1 kamar. “Ini yang harga nya 60 ribu.” Kamarnya kecil, dengan 2 tempat tidur kecil dan kamar mandi yang berbau pengap. Hmm… Nggak mungkin buat bertiga sih.

Lalu, si ibu menunjukkan lagi 1 kamar lain dari total 8 kamar disitu yang seluruh bangunannya terbuat dari kayu. Kamar yang 80 ribu, tempat tidurnya besar, bisa sih bertiga. Tapi gelap dan suram. “Bu, ini bisa dinyalain nggak lampunya?” Meina tanya dan kami bertiga kaget pas nengok si ibu nggak ada disitu. Udah mau merinding, tapi tiba-tiba lampu menyala dan si ibu muncul dari luar, ternyata dia habis nyalain lampu dari bangunan sebelah. Bujug, nyalain lampu aja jauh bener.

Pas si ibu tanya, kami cuma bisa bilang, “Kita lihat dulu ya Bu. Masih mau lihat 1 tempat lagi. Kalo disana nggak oke, kita balik kesini.” Si ibu hanya mengiyakan.

Kami kembali ke mobil dan langsung mengambil keputusan. Ogah ah nginep disitu. Serasa di tempat syuting film horor. Mana nggak ada tamu yang nginep pula. Dan mendadak aku ingat judul film Hollywood “Cabin In The Woods”. Bangunan kayu di tengah hutan, ya meskipun itu bukan hutan tapi banyak pepohonan rindang yang bikin suasana tambah seram. Paradiso, namanya nggak sesuai sama bentuknya. Dan hotel itu benar-benar jadi highlight di perjalanan kami kali ini.

Kami menuju hotel berikutnya. Lupa nama hotelnya, tapi letaknya persis di pinggir pantai Sadranan. Dan hotel itu sudah kami booking lewat sms, untuk 3 orang. Beberapa menit saja sudah sampai. Pantai Sadranan ini ramai, jauh dibandingkan pantak Krakal yang tergolong sepi. Dan kami langsung minta ditunjukkan kamar seharga 150 ribu untuk bertiga.

Kamarnya berjejer dan berhadapan dengan jejeran kamar lain yang dipisahkan tanah kosong dengan lebar sekitar 6 meter. Kami diperlihatkan salah satu kamar yang masih kosong. Kamarnya bernuansa kayu, lebih luas sih daripada kamar di Paradiso tadi. Tapi suasana nya agak suram, ditambah lampu kamar nya bukan neon, tapi lampu kuning.

Memang hotel itu dekat pantai sih, berjalan ke dalam sedikit dan melewati beberapa pondokan kayu, tibalah kami di pantai Sadranan. Disitu ramai karena bisa dipakai untuk snorkeling. Jadi dari pantai, ada area yang seperti dipagari bebatuan sehingga airnya tidak langsung terkena hempasan ombak besar dari laut lepas, sehingga bisa digunakan untuk snorkeling.

Setelah melihat area pantai sebentar, kami berjalan kembali ke mobil. Dan memutuskan, kami nggak nginap disitu juga. Nggak sreg, apalagi pas penjaga nya bilang hotel itu masih 1 grup sama Paradiso yang tadi kami datangi. Hehe…

Akhirnya kami kembali ke pantai Krakal. Dan memutuskan menginap di penginapan yang di hook tadi. At least disana area terbuka langsung pantai, nggak suram atau sepi.

Begitu masuk area pantai Krakal lagi, langsung juga ketemu penginapan tadi. Mayasari namanya. Berharap dapat kamar yang ujung karena langsung menghadap laut. Dan setelah bilang sama ibu penjaga penginapan, kami langsung diantar melihat kamar. Yang ujung. Persis keinginan kami. Kamarnya nggak terlalu besar, tapi tempat tidurnya queen size, bisa untuk bertiga. Kamar mandi nya juga lumayan bersih, nggak pengap. Dan ada TV, yang nggak tersedia di 2 hotel tadi.

Tanpa pikir panjang, kami langsung ambil. Harganya 200 ribu/malam. Dan setelah nego dapat 150 ribu. Tapi… “Bu, bayarnya bisa debet nggak? Atau transfer rekening?”

“Yah, nggak bisa mbak. Saya kan cuma jaga aja.”

Lalu kami menceritakan garis besar keadaan kami yang nyaris nggak pegang uang cash. Lalu si ibu bilang, ada kok ATM di area pantai, 7 km dari situ. Kalo mau, besok kami diantar ambil uang ke ATM, tinggal bayar ongkos ojek aja. Deal.

Setelah mengangkut barang-barang kami dari mobil ke kamar dan sedikit berberes santai, kami turun dan cari makan malam. Maklum aja, kami baru masuk kamar mendekati jam 6 sore. Rencana untuk mencari sunset spot gagal karena langit mendung dan matahari sudah nggak kelihatan. Dan sekitar jam 6.45 kami berkeliling mencari rumah makan.

Ternyata, kalau malam begitu area situ gelap banget. Tetap sih ada warung dan rumah makan yang buka, tapi sepi dan gelap. Untung saja penginapan kami ada di area paling depan dan ramai. Coba kayak tadi di Paradiso. Mau cari makan aja jauh, baliknya gelap. Hiii…

Setelah berkeliling dan tanya beberapa ibu penjaga, kami memutuskan makan di salah satu rumah makan sederhana yang jaraknya hanya beberapa meter dari penginapan. Selang beberapa ruko aja. Kami memesan paket ikan bakar seharga 60 ribu, yang terdiri dari 5 ekor ikan bakar dan goreng, kangkung cah, dan cumi saus padang. Minum teh tawar hangat udah paling pas.

Makan malam kami pun datang, setelah nunggu lamaaaaa… Nasi sebakul, dan lauk-lauk yang disebutkan tadi. 5 ekor ikan yang kami kira bakal kecil-kecil, ternyata lumayan besar, seperti ikan mujair berukuran sedang. Dan sebanyak itu untuk kami bertiga aja. Dan rasanya… Juara! Ikan bakar, ikan goreng, kangkung, cumi, bahkan sambal, semuanya enak. Kami sampai nambah nasi saking lahapnya. Kebayar deh nunggu makanan hampir 1 jam. Enak banget!!!

Makan malam kami yang dashyat
Makan malam kami yang dashyat

Setelah kenyang dan puas dengan makan malam kami, juga leha-leha sampai makanan turun semua ke perut, tibalah waktu membayar. Berikut minum trh tawar hangat hanya 66 ribu aja untuk bertiga. Padahal makan sampai perut penuh, cuma bayar 22 ribu masing-masing. Kalau di DC**t, 66 ribu mungkin untuk 1 orang aja dan belum tentu rasanya seenak dan ikannya sesegar yang kami makan. Haha…

Puas banget dengan makan malam, kami pun kembali ke kamar untuk segera tidur. Berhubung semalam tidur kami nggak jelas di kereta, dan besok pun kami harus bangun pagi untuk mengejar sunrise, juga akan menempuh perjalanan jauh lagi kembali ke kota Jogjakarta, maka kami pengen cepat tidur saja. Jam 8.30 kami sudah siap tidur, ngobrol-ngobrol sebentar lalu tidur. Zzzz…. Btw, nggak kebayang kalo kami nginap di Paradiso, bakalan bisa tidur nggak ya? Hehe…